Mengenal Koleksi Benda Seni Kenegaraan (Bag-1)

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 3 Februari 2015
Kategori: Opini
Dibaca: 119.388 Kali

Oleh: Kukuh Pamuji, Widyaiswara Sekretariat Negara

Foto. 1.  Perkawinan Adat Rusia, Konstantin Egorovick Makowsky (1881) (Sumber: Bagian Pengelolaan  Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Foto. 1. Perkawinan Adat Rusia, Konstantin Egorovick Makowsky (1881)
(Sumber: Bagian Pengelolaan Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Istana Kepresidenan menyimpan berbagai macam koleksi benda seni yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Koleksi benda seni yang keberadaannya tersebar di Istana-istana Kepresidenan selanjutnya kita sebut sebagai ”koleksi benda seni kenegaraan”.  Untuk dapat dikatakan sebagai ”koleksi negara” sebuah koleksi harus memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya adalah:

(1)      Dibeli dengan Anggaran Belanja Negara, melalui kementerian atau instansi apapun termasuk yang dibeli MPR, DPR, atau lembaga negara, termasuk karya-karya yang dibeli museum dan galeri ”negeri”;

(2)      Yang dibeli atau dibuat oleh perseorangan dan kemudian disumbangkan kepada negara, baik untuk diletakkan di museum, galeri, kantor milik negara, ataupun kediaman resmi pejabat negara;

(3)      Yang diterima sebagai hadiah oleh pimpinan negara, namun oleh pemimpin yang bersangkutan diserahkan kepada negara.

Dengan batasan tersebut, maka koleksi yang berada di Istana Kepresidenan Republik Indonesia dapat disebut sebagai koleksi negara.

Koleksi yang jumlahnya mencapai  angka 15.911 buah (hasil pendataan per 31 Desember 2010 yang dilakukan oleh bagian Museum dan sanggar Seni) saat ini dikelola oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) Republik Indonesia. Pengoleksian benda-benda seni dimulai ketika Pemerintah Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta. Bertempat di Pendopo belakang Gedung Agung, Bung Karno sering mengundang para pelukis dan seniman untuk berdiskusi seputar masalah “Seni”. Dari sinilah kemudian banyak lukisan mereka yang  diberikan sebagai hadiah kepada Bung Karno, maupun dibeli oleh Bung Karno.

Ketika mulai menghuni Istana Merdeka pada akhir 1949, Bung Karno semakin bergairah mengisi dinding-dinding kosong bangunan Istana Merdeka dan Istana Negara. Beliau kemudian mengangkat Dullah, Lee Man Fong, dan Lim Wasim menjadi pelukis Istana, yang bertugas mengatur letak lukisan sekaligus merawatnya.

Perjalanan yang cukup sering dilakukan Bung Karno ke luar negeri ikut memperkaya koleksi benda seni Istana. Seiring dengan perjalanan Pemerintahan Republik Indonesia, koleksi tersebut semakin bertambah dan umumnya diperoleh dari persembahan pimpinan atau kepala negara yang berkunjung ke Indonesia, atau sebaliknya yang dikunjungi oleh Presiden Indonesia.

Untuk mengenal lebih dekat koleksi benda seni kenegaraan seperti yang telah diurakan di atas, pada bagian pertama ini kami tampilkan koleksi lukisan yang tersimpan di Istana Kepresidenan Bogor, yaitu 2 buah lukisan karya pelukis Rusia bernama Konstantin Egorovick Makowsky.

Lukisan yang pertama berjudul Perkawinan Adat Rusia (PRIBITE NEVESTI). Lukisan ini berbahan cat minyak di atas kanvas berukuran 295 X 454 cm dan dibuat pada tahun 1881. Berdasarkan penilaian aset yang dilakukan pada tahun 2011 Lukisan yang terpasang di Gedung Induk (Ruang Kerja Presiden) Istana Bogor ini, bernilai 18.000.000.000,00 (2.000.000 dollar AS).

Perkawinan Adat Rusia merupakan koleksi yang diberikan sebagai hadiah untuk Presiden Soekarno ketika beliau melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia. Pada awalnya lukisan ini tersimpan di Istana Kremlin, kemudian di lepas dari bingkai dan spandramnya untuk dibawa ke Jakarta. Sesuai dengan judulnya lukisan ini menggambarkan suasana upacara perkawinan yang dilaksanakan disebuah tempat di Rusia.

Beberapa keistimewaan dari koleksi lukisan ini antara lain adalah merupakan koleksi lukisan yang sangat  langka. Makowsky hanya pernah membuat tiga lukisan berukuran besar. Dua buah lukisan kemudian diperoleh Bung Karno dan menjadi koleksi benda seni kenegaraan milik Indonesia, dan satu buah lagi menjadi koleksi milik Inggris.  Keistimewaan yang lain adalah ketika lampu di ruangan dimana lukisan ini disimpan (R. Kerja Presiden) dinyalakan, kemudian lampu tersebut dimatikan maka lampu yang terdapat pada lukisan ini terlihat menyala. Kesan ini ditimbulkan oleh efek 3 dimensi yang menjadikan lukisan menjadi hidup dan memancarkan suasana yang elegan serta menimbulkan suasana sacral sebuah pernikahan.

Lukisan ini sudah terpasang sejak Presiden Soekarno masih berkantor di Istana Kepresidenan Bogor dan hingga saat ini letak lukisan tersebut belum berubah, masih di tempat semula seperti sedia kala. Selain lukisan, koleksi benda seni kenegaraan yang lain yang tersimpan di R. Kerja Presiden ini  juga masih dipertahankan, seperti dapat dilihat dalam foto berikut.

Gedung Induk Ruang Kerja Presiden1

Lukisan kedua yang juga merupakan karya Makowsky adalah Lukisan yang berjudul Di Kayangan (Vakchanalia). Lukisan ini berbahan cat minyak di atas kanvas dengan ukuran 273 X 398 cm. Lukisan ini memiliki usia lebih muda 10 tahun dari lukisan Perkawinan Adat Rusia, karena lukisan ini baru dibuat pada tahun 1891. Selain lebih muda ukuran lukisan ini sedikit lebih kecil. Berdasarkan penilaian aset yang dilakukan pada tahun 2011, lukisan Pesta Anggur bernilai 18.000.000.000,00 (2.000.000 juta dollar AS).

Khayangan1

Lukisan ini memiliki keterkaitan yang erat dengan mitologi Yunani, dimana dalam lukisan tersebut menggambarkan tokoh yang dikenal dengan nama Satir (bahasa Yunani), yaitu makhluk penghuni hutan dan pegunungan dan memiliki hubungan yang dekat dengan Dewa Pan dan Dionosis. Biasanya mereka berjenis kelamin pria. Pemimpin mereka bernama Silenos, Dewa kecil yang mengatur kesuburan.

Karakter “Satir” dalam mitologi Yunani sering disamakan dengan “Faun” dalam mitologi Romawi. Mereka sering dilukiskan sebagai manusia bertanduk dan berkaki kambing, rambutnya keriting, hidungnya pesek, ekornya tebal dan panjang, telinganya meruncing atau kadang-kadang seperti telinga kuda. Satir yang masih bocah belum memiliki tanduk yang sempurna sedangkan Satir yang tua sudah memiliki tanduk kambing yang sempurna. Biasanya Satir yang sering muncul dalam dongeng-dongeng berjenis kelamin pria, namun kadang-kadang ada Satir betina.

Satir biasanya senang minum anggur, sehingga akrab dengan “Dewa Dionisos” yaitudewa anggur dan pesta. Dia adalah putra Zeus dan Semele, anak perempuan Kadmos dan Harmonia. Dia dikenal pula sebagai Bakkhos dan oleh bangsa Romawi biasa disebut Liber. Tanaman anggur dan ivy adalah kesukaan Dionisos. Hewan kesukaannya adalah lumba-lumba, ikan, dan kambing (karena dulu ia pernah diubah menjadi anak kambing).

Mereka juga senang bermain seruling, castanet, bagpipe, atau simbal dan tergila-gila untuk menari bersama para nimfa yang mereka kagumi dan mereka idolakan. Dalam mitologi Yunani, nimfa atau nimfeadalah salah satu jenis makhluk legendaris yang berwujud wanita dan diasosiasikan dengan lokasi atau tempat tertentu. Mereka diidentikkan dengan peri, atau bidadari yang tinggal di alam bebas.

Berbeda dengan dewa, nimfa biasanya dianggap sebagai roh alam yang merupakan perwujudan dari alam itu sendiri, dan biasanya digambarkan sebagai gadis cantik yang senang bernyanyi dan menari. Mereka dipercaya tinggal di hutan, sungai, mata air, lembah, pepohonan, dan gua. Mereka tidak dapat menua dan tidak dapat terkena penyakit. Selain itu, mereka juga dapat melahirkan dewa jika berhubungan seksual dengan dewa. Meskipun demikian, nimfa tidak sepenuhnya abadi, dan mereka dapat mati dengan berbagai cara.

Mereka memiliki tarian khusus yang mereka sebut Sikinis. Satir tidak hidup abadi sehingga terkena dampak usia tua seperti manusia. Satir jantan yang sudah tua berjenggot dan kepalanya botak. Perilakunya jelek dan tidak senonoh seperti yang digambarkan dalam mitologi Yunani.

Lukisan ini  pernah dikonservasi pada tahun 2004 oleh reservator yang didatangkan langsung dari Rusia bernama Vladimir N. Anisimov di Istana Bogor.Yang menarik dari lukisan pesta anggur ini antara lain adalah merupakan hadiah dari rakyat Rusia yang disampaikan melalui Presiden Nikita Kurchev. Dari hasil riset yang dilakukannya, Vladimir N. Anisimov mengatakan bahwa lukisan Makowsky di Rusia sudah sangat langka dan rata-rata berukuran kecil, sehingga lukisan Perkawinan Adat Rusia dan Di Kayangan merupakan benda seni yang sangat berharga. Beberapa pengamat berkesimpulan bahwa 2 buah karya Makowsky ini merupakan karya masterpiece.

Opini Terbaru