Mengenal Koleksi Benda Seni Kenegaraan (Bag-4)

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 April 2015
Kategori: Opini
Dibaca: 69.506 Kali

Oleh: Kukuh Pamuji

Foto.1.: Jika Tuhan Murka, Basoeki Abdullah (1950),  200 x 300 cm  (Sumber: Bagian Pengelolaan  Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Foto.1.: Jika Tuhan Murka, Basoeki Abdullah (1950), 200 x 300 cm
(Sumber: Bagian Pengelolaan Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Pada bagian ke -4 kita akan mengenal lebih dekat koleksi Benda Seni Kenegaraan Karya Maestro Lukis Indonesia yang memiliki kemampuan melukis cukup lengkap dalam mengolah berbagai bentuk objek yang menjadi karya lukisnya setelah era Raden Saleh. Sang maestro yang dimaksud adalah Basoeki Abdullah. Kelengkapan sebagai seorang pelukis dapat dilihat dari tema lukisan yang dibuatnya, disamping bentuk objek yang beraneka ragam, tema lukisannya tidak terbatas pada lukisan pemandangan , tetapi juga menghadirkan tema-tema yang lain, seperti tema:  perjuangan, flora dan fauna, mitologi, potret, sosial dan kemanusiaan, dan sebagainya.

Basoeki Abdullah lahir di Solo, 27 Januari 1915. Bapaknya bernama Abdullah Surio Subroto, seorang pelukis pemandangan ternama. Ibunya R.A. Sukarsih, pembatik kraton. Kakeknya merupakan tokoh nasionalis yang juga merupakan pahlawan nasional, Dr. Wahidin Sudirohusodo. Berdasarkan catatan yang ada, lukisan Basoeki Abdullah yang tersimpan di Istana Kepresidenan jumlahnya tidak kurang dari 86 buah.

Lukisan Jika Tuhan Murka menggambarkan manusia yang sedang dalam kondisi panik dimana bumi tempat berpijaknya dikelilingi kobaran api dan gumpalan asap, sementara yang lainnya terpanggang. Lukisan yang menghadirkan aura mengerikan ini ditampilkan dengan gaya surealisme dengan tema dongeng. Warna merah dengan gradasi oranye menuju putih, menggambarkan nyala api. Sementara itu asap digambarkan dengan warna hitam, abu-abu, putih dan sedikit campuran warna biru berhasil memberikan kesan yang dinamis, tidak monoton. Gumpalan asap putih menjadi point of interest dan terlihat dominan.

Lukisan yang menggambarkan kehancuran pada saat kiamat ini ditandai dengan bumi yang runtuh, api yang keluar dari dalam bumi, dan bebatuan gunung yang berhamburan dengan setting penggambaran sebuah tebing mengandung makna simbolis dari tiga lapisan dunia, yaitu dunia bawah yang mengeluarkan api membakar dunia tengah yang menjadi tempat tinggal manusia, serta dunia atas, alam supranatural yang mengalami petaka.

Lukisan ini menyampaikan pesan moral yang dapat menjadi contoh bagi manusia agar selalu menjaga keseimbangan lingkungannya, menghindari peperangan, dan konflik yang akan membawa bencana, serta mengajak setiap manusia untuk selalu melakukan introspeksi sehingga azab Tuhan tidak terjadi. Lukisan yang dpsimpan di Ruang Film Gedung Induk Istana Kepresidenan Bogor, berdasarkan penilaian asset yang dilakukan pada tahun 2011 bernilai Rp 4.550.000.000,-

Lukisan berikutnya berjudul Pertempuran Gatutkaca Lawan Antasena Memperebutkan Sembadra. Pembuatan lukisan ini diilhami dari cerita wayang lakon Sembadra Larung. Lukisan ini dibuat pada tahun 1933 saat Basoeki Abdullah masih berumur 17 tahun. Lukisan ini kemudian dibuat kembali pada tahun 1955 tanpa sosok Sembadra (seperti terlihat pada foto.3). Dalam lukisan ini hadir sosok keluarga Pandawa, dimana tiga orang anak Bima, yaitu Gatutkaca, penjaga kerajaan Amarta (Kerajaan Pandawa) dari Angkasa, Antareja penguasa tanah, dan Antasena yang mampu hidup di dalam air (penjaga Indraprastha).

Dikisahkan Dewi Sembadra di Istana Madukara, didatangi seorang tokoh Kurawa bernama Burisrawa yang sangat mencintai Dewi Sembadra. Karena Dewi Sembadra tidak menerima cintanya, maka akhirnya Dewi Sembadra dibunuh oleh Burisrawa. Ketika Arjuna datang ke Istana Madukara, dan mendapati istrinya telah meninggal, seluruh kerajaan Indraprastha geger. Para Pandawa mencari pembunuh Dewi Sembadra, maka Kresna sebagai penasehat para Pandawa menyarankan agar jenazah Dewi Sembadra dimasukkan ke dalam perahu dan dihanyutka ke sungai Gangga. Gatutkaca harus terbang di angkasa untuk mengawasinya, dan siapa saja manusia yang mendekati perahu jenazah Dewi Sembadra dianggap sebagai pembunuhnya. Ketika Antasena mengembara di sungai Gangga untuk mencari ayahnya, sambil menyelam ia mendekati perahu yang berisi jenazah Dewi Sembadra. Sementara itu Gatutkaca yang sedang terbang, melihat ksatria berkulit hijau dan bersisik mendekati perahu. Tanpa berpikir panjang ia segera menerjang Antasena karena dianggap sebagai pembunuh Dewi Sembadra.

Foto.2: Pertempuran Gatutkaca Lawan Antasena Memperebutkan Sembadra,  Basuki Abdullah (1933),  200 x 300 cm (Sumber: Bagian Pengelolaan  Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Foto.2: Pertempuran Gatutkaca Lawan Antasena Memperebutkan Sembadra,
Basuki Abdullah (1933), 200 x 300 cm
(Sumber: Bagian Pengelolaan Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Saat terjadi pertarungan itu datanglah para Pandawa dan Sri Kresna untuk melerai. Setelah semua persoalan jelas, maka diketahui bahwa pembunuh Dewi Sembadra adalah Burisrawa. Dengan kesaktian yang dimiliki Antasena, Dewi Sembadra berhasil dihidupkan kembali. Kemudian para Pandawa mengejar Burisrawa untuk mendapat hukuman.

Lukisan berikutnya seperti yang telah dijelaskan di atas, masih menggambarkan dua anak Bima yang bertarung mengadu kesaktiannya, tanpa tokoh Dewi Sembadra. Lukisan dengan gaya realis-ekspresionis ini menyuguhkan sosok tokoh wayang orang dengan anatomi tubuh dan gerakan yang diekspresikan dengan jelas sesuai dengan karakter masing-masing. Mereka berduel saling mencari kelemahan. Warna putih yang dilukis ekspresif mengesankan air yang bergerak ke arah atas, sedangkan merah dengan aksen oranye menyiratkan kemarahan digunakan pada Gatutkaca. Sementara Antasena yang lebih sering hidup dalam air dilukiskan dengan warna kebiru-biruan. Penempatan objek dan efek warna gelap terang didasarkan pada pertimbangan komposisi simetris.

Lukisan dengan gaya realis-ekspresionis ini menyuguhkan sosok tokoh wayang orang dengan anatomi tubuh dan gerakan yang diekspresikan dengan jelas sesuai dengan karakter masing-masing. Mereka berduel saling mencari kelemahan. Warna putih yang dilukis ekspresif mengesankan air yang bergerak ke arah atas, sedangkan merah dengan aksen oranye menyiratkan kemarahan digunakan pada Gatutkaca. Sementara Antasena yang lebih sering hidup dalam air dilukiskan dengan warna kebiru-biruan. Penempatan objek dan efek warna gelap terang didasarkan pada pertimbangan komposisi simetris. Lukisan yang terpasang di Ruang Film, Gedung Induk Istana Kepresidenan Bogor ini berdasarkan penilaian asset yang dilakukan pada tahun 2011 bernilai Rp  3. 985.000.000,-

Foto.3: Gatutkaca dan Antasena sedang Bertarung, Basuki Abdullah (1955),  200 x 300 cm  (Sumber: Bagian Pengelolaan  Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Foto.3: Gatutkaca dan Antasena sedang Bertarung, Basuki Abdullah (1955), 200 x 300 cm
(Sumber: Bagian Pengelolaan Seni Budaya dan Tata Graha, Sekretariat Presiden)

Dari kedua lukisan (Pertempuran Gatutkaca Lawan Antasena Memperebutkan Sembadra dan Gatutkaca dan Antasena sedang Bertarung) yang berlatar belakang cerita wayang yang sudah begitu melegenda di tanah Jawa ini terkandung suri tauladan yang dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya.

 

Opini Terbaru