Mengenal Koleksi Benda Seni Kenegaraan (Bag-7)

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Mei 2015
Kategori: Opini
Dibaca: 29.676 Kali

Oleh: Kukuh Pamuji

Sujoyono-2Pada bagian ketujuh ini  kita akan mencoba untuk mengenal lebih dekat lukisan Sindudarmo Sudjojono, yang lebih dikenal dengan S.Sudjojono yang lahir di Kisaran, Sumatera Utara 1913. Sebagai seorang pelukis dan kritikus seni, S. Sudjojono merupakan penentang aliran Mooi Indie (hindia molek atau Indonesia jelita) yang dianggapnya tidak mengungkapkan alam dan jiwa masyarakat Indonesia sebenarnya yang pada saat itu di jajah oleh Belanda.

Mooi indie adalah cara pandang seorang seniman terhadap karya seni lukis yang menggambarkan keindahan alam yang ada di Hindia Belanda. Istilah ini muncul sekitar tahun 1920 – 1938-an. Pada awalnya istilah Mooi Indie dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel tahun 1930.

Istilah ini menjadi popular di Hindia Belanda sejak S. Sudjojono menggunakan istilah ini untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisan yang dibuatnya pada tahun 1939. Ia mengatakan bahwa lukisan pemandangan yang serba bagus, enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: Mooi Indie (Hindia Belanda yang Indah), padalah kenyataannya sangat berbeda 180 derajat yang pada saat itu terjadi penindasan oleh penjajah Belanda. Sebaliknya, Sudjojono lebih menekankan pada kejujuran melihat realitas kehidupan yang ada di sekitarnya, sehingga objek-objek yang kumuh pun dapat diangkat menjadi sebuah tema untuk mengungkapkan kebenaran. Masa kecilnya yang pahit, dan kehidupan dewasanya yang pekat dengan pergaulan dan dialog yang sangat intensif dengan para tokoh pergerakan nasional, memberi warna sosialisme dan kerakyatan pada setiap pemikiran-pemikirannya.

Sebagai seorang pelukis yang sangat berjasa dalam menjadikan seni sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, ia banyak menghasilkan karya yang menjadi penanda zaman ketika Indonesia sedang memulai hidupnya. Beberapa lukisannya menjadi bagian dari koleksi benda seni kenegaraan yang dimiliki oleh Istana Kepresidenan. Setidaknya ada 10 lukisan yang saat ini tersebar di Istana Kepresidenan Jakarta, Istana Kepresidenan Bogor, Istana Kepresidenan Cipanas, dan Istana Kepresidenan Yogyakarta. Dari l0 lukisan tersebut beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

 

Foto.1: Markas Laskar Rakyat di Bekas Gudang Beras Cikampek.

Foto: Lukisan Markas Laskar Rakyat di Bekas Gudang Beras Cikampek.

Lukisan Markas Laskar Rakyat di Bekas Gudang Beras Cikampek menggambarkan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Lukisan lainnya yang juga bertema perjuangan adalah Seko (Gerilya). Lukisan ini mengisahkan peristiwa pada saat terjadinya pergolakan Agresi Militer II di Yogyakarta, dimana dalam peristiwa ini ayah S. Sudjojono meninggal dunia karena tertembak peluru Belanda. Selanjutnya ada juga lukisan yang berjudul Kawan-Kawan Revolusi yang dibuat tahun 1947. Lukisan ini dibuat atas tantangan yang diberikan oleh Trisno Sumardjo yang diselesaikan Sudjojono dalam waktu kurang dari satu hari. Hal ini merupakan sebuah pembuktian atas kemampuan teknis melukis realisnya yang saat itu dianggap lambat.

Kawan-Kawan Revolusi seperti dituturkan oleh Mia Bustam (isteri pertama S.Sudjojono), dilatar belakangi oleh sikap heroik seorang pejuang yang bernama Bung Dullah yang berhasil mengebom 4 tank Belanda dengan sejumlah bom yang diikatkan dipinggangnya. Dalam lukisan ini, Bung Dullah berada di antara 19 wajah yang lain. Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam lukisan ini diantaranya: Tedja bayu, Mayor Sugiri, Basuki Resobowo, Surono, Trisno Sumarjo, Ramli, Suromo, Bung Dullah, Nindyo, Kasno, Oesman Effendi, Sudibio, Yudokusumo, dan Kartono Yudhokusumo.

Foto: Lukisan Kawan-Kawan Revolusi, S. Sudjojono (1947),

Foto: Lukisan Kawan-Kawan Revolusi, S. Sudjojono (1947),

Lukisan Kawan-Kawan Revolusi dibeli Bung Karno pada saat pameran Lukisan Seniman Indonesia Muda (SIM) yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal  25 Mei 1947 dengan cara menghutang dan baru terbayar dua tahun kemudian, tepatnya  tahun 1949 saat terjadi Agresi Militer II di Yogyakarta. Pada saat itu S. Sudjojono menemui Bung Karno untuk menagih hutang dengan mengenakan baju yang kumal. Ada perasaan kasihan pada diri Bung karno terhadap Sudjojono. Akhirnya dengan dialog singkat seperti yang dituturkan oleh Mia Bustam, Bung Karno kemudian menawarkan pakaian bekasnya yang masih bagus kepada S. Sudjojono. Di samping itu Ibu Fatmawati juga memberikan sejumlah uang, dan dengan uang tersebut S. Sudjojono sekeluarga kemudian berbelanja kebutuhan sandang pangan di Malioboro. Saat ini, ketiga lukisan yang disebutkan di atas, tersimpan di Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta

Seiring dengan makin merosotnya kondisi ekonomi serta fluktuasi yang terjadi pada pergerakan nasional, S. Sudjojono bersama teman-temannya di persagi menginginkan adanya perubahan pada struktur seni lukis yang mempunyai peran lebih besar bersama gerakan sosial lainnya untuk memperjuangkan kesadaran nasional di bidang kebudayaan. Untuk itu dia mencari dan menemukan struktur kesenian yang dapat menggambarkan realitas kehidupan dan nasionalisme dengan cara bersikap jujur dan tidak artifisial untuk melukis objek apa saja sebagai realitas kehidupan di sekitar mereka. Dengan kejujuran, mereka mencari teknik sendiri dalam mengungkapkan kepadatan hati mereka secara total tidak seperti yang biasa dilakukan oleh pelukis yang mengenyam teknik akademis.

Foto: Lukisan Di Depan Kelamboe Terboeka, S. Sudjojono,

Foto: Lukisan Di Depan Kelamboe Terboeka, S. Sudjojono,

Karya-karya yang secara tematik menggambarkan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan Indonesia diolah dengan variasi objek seperti kehidupan pelacur, seni pertunjukan rakyat, kehidupan pejuang gerilya, atau pun pengungsian rakyat pada masa perang kemerdekaan. Melalui lukisan Di Depan Kelamboe Terboeka, misalnya  kita dapat menangkap tema dan ekspresi yang mengungkapkan depresi ekonomi, kesedihan, gelora kehidupan masyarakat yang kalut. Goresan kuas yang kasar dan bebas menunjukkan luapan emosi yang begitu pekat, kekuatan warna yang ditampilkan menunjukkan sebuah karya yang mengarah pada lukisan bergaya ekspresionisme.

”Di Depan Kelambu Terbuka” menyiratkan ekspresi dingin dan mencengkeram. Duka nestapa sangat terlihat dalam raut muka wanita tersebut. Pandangan  matanya yang nanar dengan jelas merefleksikan kemiskinan yang kemudian memaksanya untuk menjadi PSK di Batavia. Lukisan tersebut juga menggambarkan latar sosial Hindia Belanda pada tahun 1930-an yang sedang dilanda krisis ekonomi.

Selama bertahun-tahun sosok wanita dalam lukisan “Di Depan Kelambu Terbuka” tersebut menjadi rahasia keluarga Sudjojono. Wanita yang akhirnya diketahui bernama Adesi dari Cirebon, melarikan diri dari orang tuanya karena dipaksa untuk menikah dengan pilihan mereka. Kala itu Sudjojono bertemu dengan Adesi yang berprofesi sebagai seorang penjaja tubuh di daerah Senen. Saat ini lukisan Adesi menjadi penghuni Istana Kepresidenan Bogor.

Foto: Lukisan Potret Seorang Tetangga, S. Sudjojono (1950),

Foto: Lukisan Potret Seorang Tetangga, S. Sudjojono (1950),

Lukisan Sudjojono yang lain, menggambarkan figur laki-laki yang berdiri di dalam rumah dilatarbelakangi sebuah kursi bambu tutul (lincak). Lukisan berjudul Potret Seorang Tetangga yang saat ini tersimpan di Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas, memperlihatkan perubahan pandangan Sudjojono ke arah realisme sosialis yang dipengaruhi oleh iklim politik Indonesia.  Pada saat itu Sudjojono berkarir dalam dunia politik dan tergabung dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kebudayaan di bawah PKI).

Pada saat itu Sudjojono berkarir dalam dunia politik dan tergabung dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kebudayaan di bawah PKI). Ia juga aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) dan menjadi salah seorang wakil partai itu di DPR(S). Ia keluar dari PKI dan Lekra pada tahun 1959 karena partai itu terlampau mencampuri urusan pribadinya. Di sisi lain PKI sangat marah kepada Sudjojono, karena ia diketahui menghasut masyarakat untuk benci terhadap D.N. Aidit sebagai pimpinan tertinggi PKI.

 

 

 

Opini Terbaru