Mengenal Koleksi Benda Seni Kenegaraan (Bag-8)

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 24 Juni 2015
Kategori: Opini
Dibaca: 19.977 Kali
Foto: Perkampungan di Bali, Lee Man Fong

Foto: Perkampungan di Bali, Lee Man Fong

Oleh: Kukuh Pamuji

Pada kesempatan ini kita akan mengenal koleksi lukisan Lee Man Fong, salah satu pelukis istana yang diangkat oleh Bung Karno untuk menggantikan Dullah yang mengundurkan diri pada tahun 1960. Lee Man Fong lahir di Guangzhou, China, pada 14 November 1913. Ayahnya Lee Ling Khai adalah seorang pedagang tulen yang sama sekali tidak mengenal dunia seni. Hal inilah yang menyebabkan bakat menggambar Lee Man Fong pada masa kecil tidak mendapat dukungan yang memadai.

Lee Man Fong sempat mengenyam pendidikan di Anglo-Chinese School dan belajar melukis pada gurunya yang bernama Lingnan. Pada saat belajar di Sekolah Dasar Yeung Cheng School, bakat melukisknya ditempa oleh kepala sekolahnya yang bernama Mei Yutian. Pada usia 16 tahun Man Fong mendapat guru gambar yang kuat, Huang Qingquan dan sudah mampu melukis dengan media cat minyak.

Foto: Menyisir Rambung, Lee Man Fong

Foto: Menyisir Rambung, Lee Man Fong

Sang ayah yang aktif dalam dunia politik akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit. Bisnis yang dijalaninya bangkrut dan akhirnya pada tahun 1929 ia meninggal dunia karena sakit. Karena terlilit kesulitan hidup di Singapura, pada Tahun 1932 Man Fong memutuskan hijrah ke Batavia. Kemampuan Fong dimanfaatkan oleh rekannya untuk membuat mingguan bernama Shin Po. Setelah mingguan ini bangkrut Man Fong pindah ke perusahaan Kolf & Co yang bergerak di bidang percetakan, penerbitan, dan dagang di jalan Harmoni Jakarta.

Disela-sela kerja pada perusahaan tersebut, Man Fong tetap melukis   Dengan kemampuan seni yang dimilikinya, Man Fong banyak mengangkat tema-tema sederhana untuk lukisannya, mulai dari binatang hingga pemandangan alam. Lukisannya bersifat orisinil dengan figur-figur realistik dan penerapan warna yang matang. Ia berhasil menggabungkan antara gaya lukis Barat dan gaya Chinese art. Kerja melukis Man Fong akhirnya terdengar oleh Direktur Dutch Indies Art Association yang juga merupakan dosen Bung Karno, Prof. Wolff Schoemaker dan memasukkan lukisan Man Fong dalam pameran yang diadakan di gedung Kolf & Co.

Foto: Sepasang Ayam Kapas, Lee Man Fong (1950)

Foto: Sepasang Ayam Kapas, Lee Man Fong (1950)

Setelah pameran ia keluar dari tempat bekerjanya dan mendirikan biro reklame sendiri bernama Linto. Sampai tahun 1940 biro reklame ini menjadi salah satu yang terbesar di Jakarta. Pada tahun 1941 Man Fong meninggalkan secara total pekerjaan di biro reklame dan fokus pada kegiatan melukis. Ia memulai mengunjungi Bali, terinspirasi para pelukis asing yang tinggal disana. Ketika berada di Bali, ditemani Chia Chun Kui ia menghasilkan puluhan lukisan yang selanjutnya dipamerkan di Batavia. Karena para peminat lukisannya begitu banyak, pamerannya dilanjutkan di Hotel Savoi Homan  Bandung, tepatnya pada bulan Juli 1941.

Nama Man Fong mulai terdengar oleh Bung Karno sejak tahun 1946 ketika ia berpameran tunggal di Jakarta. Bahkan Bung Karno mengetahui bahwa Man Fong memperoleh beasiswa dari Belanda. Pasca kemerdekaan, selama tiga tahun Man Fong berkesempatan ke Eropa untuk belajar dan mengunjungi museum bersama isterinya yang disponsori oleh Molino Scholarship dan dimediasi oleh Dr. van Mook. Pada tahun 1949 di Belanda ia berpameran tunggal di Arti et Amiciatic, Amsterdam. Karya-karyanya cukup mempengaruhi masyarakat disana sehingga mendapat kesempatan berpameran di dua tempat terhormat: Societe Nationale des Beaux Arts dan Salon des Independants, Paris pada tahun 1950.

Foto: Dua Ikan Mas Hitam, Lee Man Fong

Foto: Dua Ikan Mas Hitam, Lee Man Fong

Pada saat yang sama, tahun 1950 Bung Karno telah memiliki lukisan Man Fong yang berjudul Sepasang Ayam Kapas. Lukisan ini semula dipasang di rumah Pegangsaan Timur 56, lalu dipindahkan ke Istana Merdeka. Saat ini lukisan tersebut dipasang di Kantor Presiden. Berdasarkan penilaian aset yang dilakukan pada tahun 2011, lukisan Sepasang Ayam Kapas bernilai  Rp 1,397,000,000.

Selain Sepasang Ayam Kapas, terdapat koleksi yang lain seperti: “Wanita Menyisir Rambut”, saat ini terpasang di Istana Kepresidenan Bogor memiliki nilai aset Rp 3.351.000.000; “Perkampungan di Bali” terpasang di Perkantoran Istana Kepresidenan Jakarta (R. Kepala Biro Pengelolaan Istana) memiliki nilai aset Rp 5.185.000.000; “Dua Ikan Mas Hitam” terpasang di Istana Kepresidenan Bogor memiliki aset Rp 3.565.000.000,- dan “Membakar Sate” yang saat ini terpasang di Istana Kepresidenan Cipanas memiliki nilai aset Rp 3.225.000.000. Setidaknya ada 24 lukisan Lee Man Fong yang menjadi koleksi Istana Kepresidenan hingga saat ini. Jumlah ini sekaligus menjadi jumlah koleksi terbanyak yang dimiliki Istana Kepresidenan setelah Basoeki Abdullah.

Foto: Membakar Sate, Lee Man Fong

Foto: Membakar Sate, Lee Man Fong

Lukisan Lee Man Fong sangat disukai Presiden Soekarno karena dapat menjadi ventilasi ditengah sibuknya revolusi. Ia bekerja sebagai pelukis istana diusulkan oleh Dullah dan Bung Karno tidak keberatan. Dullah menyampaikan kepada Lee man Fong bahwa menjadi pelukis istana memiliki dilema, hidup penuh kebanggaan tetapi gaji kecil dan kurang memiliki kebebasan. Lee Man Fong sempat berpikir dan akhirnya memutuskan untuk menerimanya dengan syarat memiliki asisten. Untuk itu, dipilihlah Lim Wasim dan Bung Karno menyetujuinya.

Selama menjadi pelukis istana Lee man Fong jarang sekali ke istana, karena kesibukan melukisnya tidak bisa diganggu, tetapi di sisi lain ia tidak mau mengecewakan Bung Karno. Hal yang sangat penting untuk melihat kedekatan hubungan antara Bung Karno dan Lee Man Fong adalah ketika Lee Man Fong mendapatkan hadiah status kewarganegaraan menjadi orang Indonesia.

Lee Man Fong telah mencintai Indonesia sejak 1940, tetapi statusnya masih mengambang. Ia tidak mau kembali ke china dan juga tidak mau menetap di singapura. Tepat pada tahun 1961 ia resmi menjadi warga negara Indonesia. Ia bekerja sebagai pelukis istana pada tahun 1961 – 1965 dan mengundurkan diri setelah terjadinya peristiwa 30 September 1965.

Pada dasarnya Lee Man Fong bukanlah seorang yang senang dengan dunia politik, tetapi cap “Sukarnois” telah memberikan stigma yang berlebihan pada dirinya. Pada pasca peristiwa G 30 S/PKI, para “Sukarnois” dianggap berhaluan kiri, sehingga harus ditangkap dan dipenjara. Pada saat Soekarno turun, dan keadaan politik di Indonesia sangat kacau, tahun 1967 Lee man Fong akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di Singapura hingga tahun 1985, dan selanjutnya pelukis istana digantikan oleh Lim Wasim. Ketika kondisi Indonesia sudah mulai tenang, Lee man Fong kembali lagi ke Indonesia tahun 1986 dan meninggal di Indonesia pada 3 April 1988.

 

 

 

Opini Terbaru