Menhub: Penerbangan Sipil dan Militer Akan ‘Sharing’ Wilayah Selatan Pulau Jawa

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 Juli 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 30.603 Kali
Menhub Ignasius Jonan berbincang dengan Seskab Pramono Anung, sebelum menyampaikan keterangan pers, di kantor kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/7) sore. (Foto: JAY/Humas)

Menhub Ignasius Jonan berbincang dengan Seskab Pramono Anung, sebelum menyampaikan keterangan pers, di kantor kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/7) sore. (Foto: JAY/Humas)

Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan mengemukakan, ruang udara utara Pulau Jawa ini sudah sangat padat, yaitu nomor lima terpadat di dunia, terutama jalur dari Jakarta ke Surabaya. Karena itu, pemerintah akan mencoba memanfaatkan ruang udara di selatan Jawa.

“Jadi yang dikatakan Bapak Seskab, ini terlarang ini bahasa Inggrisnya restricted ya. Jadi bukan terlarang itu tidak boleh, tapi restricted ini biasanya ruang udara selatan Jawa hanya digunakan untuk penerbangan non sipil, atau penerbangan militer. Nah, sekarang akan digunakan secara sharing (bersama-sama),” kata Jonan kepada wartawan usai rapat terbatas, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/7) sore.

Pemerintah berharap bisa gantian waktunya dengan TNI-AU atau dengan penerbangan-penerbangan non sipil. Kalau itu bisa, sebut Jonan, maka untuk penerbangan misalnya ke Yogya, ke Solo misalnya, ke Banyuwangi atau ke Denpasar, itu waktunya bisa hemat kira-kira 10 menit, fuel-nya bisa 15% . “Kira-kira fuel konsumsi fuel dan harga tiket mestinya bisa turun kurang lebih 10%. Ya lumayan kan. Jadi ini kalau bisa dipakai, mengurangi kepadatan di ruang udara utara Jawa,” ujarnya.

Dengan pemanfaatan jalur Selatan Jawa itu, Menhub meyakini akan bisa menambah frekuensi penerbangan. Ia menyebutkan, sekarang ini menambah frekuensi penerbangan ke daerah misalnya Yogya, Solo, dan yang di bandara-bandara selatan seperti di Ngurah Rai, kalau yang dari Jakarta atau dari barat itu tidak mudah. “Slot-nya juga tidak banyak, kalau di jam-jam yang dikehendaki,” ungkapnya.

Menhub juga menyampaikan, bahwa Presiden telah mengarahkan untuk mencoba mulai melihat potensi pembangunan bandara baru di wilayah selatan Jawa Timur, khususnya yang berbatasan dengan Jawa Tengah, seperti Trenggalek, Blitar, Pacitan, Kediri, Ponorogo.

“Ini menurut saya penting sekali, bukan membuka terisolasian, bukan, ini enggak terisolasi, tapi untuk meningkatkan daya saing perekonomian di wilayah itu. Jadi kita akan pelajari lokasinya di mana, tanpa mengganggu pangkalan udara Iswahyudi di Madiun,” pungkas Jonan. (DND/JAY/ES)

 

Berita Terbaru