Menko Perekonomian: Sumber Kemiskinan Saat Ini Karena Perlambatan Ekonomi Global

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 17 Maret 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 19.306 Kali
Menko Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan keterangan pers, didampingi oleh Seskab (16/3). (Foto: Humas/ Jay)

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan keterangan pers, didampingi oleh Seskab Pramono Anung (16/3). (Foto: Humas/ Jay)

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution mengemukakan, penyebab sumber kemiskinan saat ini, yaitu karena perlambatan ekonomi global yang kemudian mempengaruhi perlambatan perdagangan global dan harga pangan.

“Dan itu kemudian memukul harga dari produk-produk pertambangan dan perkebunan kita. Dan itu membuat penghasilan banyak sekali penduduk kita yang kemudian terpukul karena harganya jatuh,” kata Darmin dalam keterangan pers usai mengikuti Rapat Terbatas yang membahas mengenai program pengentasan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi  di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (16/3) sore.

Dengan kondisi tersebut, menurut Menko Perekonomian,  Presiden menekankan untuk melindungi petani supaya harga yang mereka terima cukup baik tetapi juga tidak kalah pentingnya kepentingan konsumen juga harus dijaga. Saat ini ada sekitar 18% dari jumlah penduduk berprofesi sebagai petani padi.

Darmin menegaskan, pemerintah harus memperhatikan dari sisi produsen dan konsumen. Menurutnya akan tidak adil jika ingin mendukung petani dengan mendorong harga naik tapi di sisi lain merugikan konsumen.

“Sehingga harus dicari titik tengahya, titik temunya supaya tidak merugikan yang satu dan menguntungkan yang lain,” jelas Darmin.

Oleh karena itu, lanjut Menko Perekonomian, Presiden meminta setiap kementerian untuk  menjawab persoalan kemiskinan ini dengan mengutamakan memperhatikan dua faktor tersebut dan mengidentifikasi kelompok mana yang terpengaruh dalam situasi ini. Untuk lebih mengoptimalkan hasil yang ingin dicapai, Menko Perekonomian mengaku sudah berdiskusi dengan kementerian terkait dengan saling mendukung program-program pengentasan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi yang sudah ada.

“Nah itu yang tadi kita sampaikan laporan awalnya dan bahwa supaya lebih konkrit itu diperlukan adanya satu, suatu pilot project. Kira-kira begitu satu model nanti untuk bekerja bersama-sama bagaimana menurunkan  kemiskinan dan bagaimana memperbaiki kepincangan pendapatan secara bersama-sama,” sambungnya.

Brebes

Menko Perekonomian menyatakan bahwa Brebes akan dijadikan model dari pilot project ini. Alasannya, Brebes merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah di Indonesia. Namun petaninya tidak menikmati hasil, karena menurut Darmin, saat panen yang terjadi harga jatuh, sementara saat tidak musim produksi harga bawang merah naik. Darmin mengatakan kondisi tersebut tidak bagus baik bagi produsen maupun konsumen.

“Maka kita akan bekerja bersama-sama untuk menggabungkan berbagai kegiatan yang ada di setiap kementerian sehingga nanti hasilnya adalah ya harganya lebih baik. Jangan terlalu tinggi jangan terlalu rendah, tapi dia lebih stabil gitu, ” jelas Darmin.

Darmin mengatakan bahwa Presiden menyetujui pilot project yang diajukan. Darmin juga mengatakan bahwa Presiden meminta agar setiap kementerian saling bekerja sama. Mulai dari sertifikasi tanahnya, pemberian kredit usaha rakyatnya,  mobile banking dan e-money dari Bank Indonesia dan OJK.

“Kemudian Kementerian BUMN akan menugaskan satu BUMN untuk mengambil inisiatif utama untuk ekspor impor pada tahun-tahun awal,” jelas Darmin.

Lebih lanjut, Darmin menyampaikan akan berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan dan Menteri Kominfo, untuk e-commerce-nya dan sebagainya. sehingga hasil kerja sama itu akan menjadi model untuk diterapkan  pada sentra kerajinan, sentra petani padi, sentra pariwisata dan sebagainya.

“Dan setelah itu kalau sudah mulai kerja samanya bagus dan lancar, maka kita berharap upaya pengentasan kemiskinan itu akan berjalan lebih baik. Demikian juga upaya untuk memperbaiki gini rasio, memperbaiki tingkat ketimpangan di masyarakat kita,” kata Darmin seraya mengakhiri keterangan persnya. (FID/UN/ES)

Berita Terbaru