Menteri Pertahanan: Pengadaan Alutsista Akan Disesuaikan Dengan Ancaman Negara

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 30 Desember 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 23.709 Kali
Menhan Ryarmirzad Ryacudu memberi keterangan kepada wartawan, di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (30/12)

Menhan Ryarmirzad Ryacudu memberi keterangan kepada wartawan, di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (30/12)

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryarmirzad Ryacudu mengemukakan, pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) harus dilakukan secara efektif dan efisien. . Untuk itu, pemerintah memandang penggunaan alutsista harus  berdasarkan hakekat ancaman.

“Ancaman apa, yaitu kita cari, apa untuk mengatasinya dan alat apa yang diperlukan,” kata Menhan kepada wartawan seusai mengikuti sidang kabinet yang membahas tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (30/12) siang.

Ryarmirzad menyebutkan,  ancaman itu ada yang nyata dan ada yang belum nyata atau sedikit sekali kemungkinan. Yang belum nyata itu, kata dia, adalah perang terbuka atau perang besar antara negara . Namun Menhan menilai, kemungkinan itu sangat kecil, mungkin tidak ada.

Ditegaskan Menhan, Indonesia bukan negara invasi, atau negara agresor. Karena itu, pemerintah memandang perang bagi Indonesia  adalah mempertahankan negara dan bangsa.

“Itu perang bagi kita, tidak ada perang selain itu. Artinya, perang yang kita laksanakan adalah pertahanan atau perang semesta. Jadi seluruh bangsa mempertahankan bangsa dan negara,” papar Ryarmirzad.

TNI dengan alutsistanya itu, dan rakyat dengan senjatanya ada moral dan wawasan kebangsaan, kata Menhan, adalah senjata utama kita mempertahankan negara atau perang semesta. Untuk itu, wawasan kebangsaan harus tinggi. “Kita sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pendiidkan dan Kebudayaan,” ujarnya.

Ancaman-Ancaman

Menurut Menhan, perang yang nyata yang mungkin terjadi,  dan dua bulan sebelumnya sudah bisa dinyatakan. Namun ia juga menyebutkan ada sejumlah ancaman yang juga perlu diperhatikan, seperti aksi teror, bencana alam,  pencurian ikan, pelanggaran wilayah dan perompakan di laut, dan penyebaran penyakit. Selain itu, lanjut Menhan, juga ada perang cyber, perang intelijen.

“Sekarang sudah berangsur, kita tidak terasa, padahal itu adalah perang. Kemarin, Amerika dengan Korea Utara. Tidak terasa tetapi itu berbahaya, sewaktu-waktu negara itu berantakan bisa jadi. Ini perlu saya kira waspadai,” tutur Menhan.

Berdasarkan ancaman-ancaman itu, lanjut Menhan, baru kita susun alat-alat apa yang kita beli, radar untuk deteksi dini, serta mungkin alat untuk mencari narkoba, dan alat angkut.

Untuk itu, lanjut Menhan, kita akan membeli alat zeni yang canggih tapi ringan. Sebagai alat angkutnya misalnya, menurut Menhan, kita akan membeli helikopter yang bisa mengangkut alat itu. “Jadi hakekat ancaman itu kita penuhi dengan alutsista yang akan digunakan,” pungkas Menhan.

(Humas Setkab/ES)

 

Berita Terbaru