Merdeka Run 2026 Diikuti 10.530 Peserta, Semangat Inklusivitas Menguat

Suasana pengambilan race pack Merdeka Run 2026 di Wisma Serbaguna Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Jumat, 28 Agustus 2026. (Foto: Humas Setkab/Azka)
Merdeka Run 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga untuk merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk mengambil bagian dalam semangat kemerdekaan. Hal itu tercermin dari antusiasme peserta penyandang disabilitas yang bersiap mengikuti ajang lari tersebut.
Salah satunya Wini Nur Kustiah, warga asal Cikarang, Jawa Barat, yang hadir menggunakan kursi roda saat mengambil race pack Merdeka Run 2026 di Wisma Serbaguna Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Dengan wajah ceria, Wini menyambut kesempatan untuk mengikuti Merdeka Run 2026 sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan.
“Karena ingin memeriahkan hari kemerdekaan,” ujar Wini.
Ia pun menitipkan pesan kepada seluruh peserta agar tetap semangat dan optimistis hingga mencapai garis finish.
“Semoga sukses terus dan semangat, optimis, dan finish,” pesannya.
Semangat serupa juga dibawa Anggi Wahyuda, seorang pelari dengan satu kaki yang akan menjadikan Merdeka Run 2026 sebagai bagian dari persiapannya menghadapi half marathon pada September mendatang.
Bagi Anggi, lari sejauh 8 kilometer di Merdeka Run menjadi kesempatan untuk membangun kesiapan fisik dan mental sebelum menghadapi tantangan yang lebih besar. Ia pun telah menjalani latihan rutin sebagai bagian dari persiapannya.
Anggi dikenal dengan julukan Kaki Seribu. Julukan tersebut, menurutnya, memiliki makna mendalam.
“Satu kaki seribu mimpi. Jadi walaupun saya memiliki keterbatasan hidup dengan satu kaki, tapi itu enggak membuat saya terbatas dalam hidup,” ujar Anggi.
Pada September 2026 mendatang, Anggi menargetkan untuk mengikuti half marathon dan berharap dapat menjadi finisher pertama dari Indonesia yang menyelesaikan jarak tersebut dengan satu kaki.
Kepada peserta lain, khususnya teman-teman penyandang disabilitas, Anggi mengingatkan pentingnya fokus pada kemampuan diri sendiri dan tidak memaksakan diri mengikuti kecepatan peserta lain.
“Yang penting adalah keselamatan sendiri. Karena yang paling penting dari pertandingan adalah finish dengan happy,” katanya.
Kehadiran Wini dan Anggi menjadi gambaran semangat inklusivitas dalam perayaan kemerdekaan tahun ini. Melalui Merdeka Run 2026, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat bersama-sama mengambil bagian dan merayakan kemerdekaan melalui olahraga.
“Merdeka Run, saatnya Indonesia inklusif,” ujar Anggi. (LYS/AIT)



