Meski Ditekan, Presiden Jokowi Tegaskan Tetap Tolak Beri Grasi Terpidana Narkoba

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 20 Januari 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 129.346 Kali
Presiden Jokowi menunaikan sholat Tahiyatul Masjid seusai meresmikan Masjid Raya Mujahidin, di Pontianak, Kalbar, Selasa (20/1)

Presiden Jokowi menunaikan sholat Tahiyatul Masjid seusai meresmikan Masjid Raya Mujahidin, di Pontianak, Kalbar, Selasa (20/1)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, negara kita saat ini dalam posisi darurat narkoba.  Setiap, hari ada sekitar 50 orang  meninggal karena narkoba. Artinya, dalam satu tahun kira-kira ada 18 ribu meninggal karena narkoba. Karena itu, Presiden menegaskan, ia akan menolak setiap permohonan grasi dari terpidana narkoba.

“Kenapa saya sampaikan darurat? Karena yang harus direhabilitasi sekarang ini ada hampir 4,5 juta generasi muda kita. Yang sudah tidah bisa direhabilitasi 1,2 juta,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada peresmian Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (20/1).

Presiden yang dalam kunjungan kali ini didampingi Ibu Negara Iriana menambahkan, yang meninggal, mati karena narkoba setiap hari kurang lebih ada 50 orang perhari. Berarti satu tahun kira-kira ada 18 ribu orang meninggal karena narkoba. Karena itu, Presiden Jokowi meminta agar masjid yang besar dan megah seperti Masjid Raya Mujahidin yang baru diresmikannya, digunakan untuk syiar, dan di dalam syiar itu, ia titip masalah narkoba.

“Perlu kita sadarkan semuanya lewat masjid-masjid, sampaikan bahaya narkoba,” pinta Jokowi.

Terkait dengan pelaksanaan eksekusi mati terhadap 6 (enam) terpidana narkoba, Presiden Jokowi menyebutkan, ada 64 yang sudah divonis hukuman oleh pengadilan. “Bukan oleh presiden lho ya. Hati-hati, yang memvonis adalah pengadilan,” ujarnya.

Para terpidana mati itu, lanjut Jokowi, meminta grasi kepadanya, tetapi semua ia tolak. “Meskipun banyak tekanan dari sana-sini, tapi sekali lagi, kita memang sudah dalam posisi darurat narkoba,” tegas Jokowi.

Menurut Kepala Negara, yang terkena masalah narkoba tidak hanya anak-anak muda. Tapi instansi-instansi, semuanya kemasukan. Tidak hanya di PNS, tidak hanya di Polri, semuanya kemasukan. “Terakhir universitas, pembantu rektor saja bisa terkena masalah ini,” terang Jokowi seraya menegaskan sikapnya akan tetap menolak grasi bagi terpidana narkoba.

Presiden menitipkan pesan kepada kyai-kyai, kepada ustadz agar menyampaikan betul masalah bahaya narkoba itu, karena betul-betul sangat merusak pondasi kita.

Solat Tahiyatul Masjid

Sebelumnya Presiden Jokowi menggunting pita menandai peresmian Masjid Raya Mujahidin, yang merupakan terbesar di Kalbar tersebut.

Didampingi Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana disambut tepung tawar, tradisi melayu setiba di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.

Usai sholat tahiyatul masjid di lantai dua, Presiden Jokowi membalas keinginan warga untuk bersalaman. Sekitar 1.700 orang masyarakat menyambut kedatangan Presiden di masjid ini.

Pembangunan Masjid Raya Mujahidin Pontianak, sudah mencapai tahap akhir. Masjid Raya Mujahidin ini mulai dibangun sejak peletakan batu pertama pada 18 November 2011. Bangunan megah Masjid Mujahidin terdiri dari 2 lantai. Yang masing masing seluas 3600 meter persegi yang dapat menampung 6000 jamaah. Di lantai 1 terdapat ruang serbaguna, perpustakaan, ruang imam, kesekretariatan dan lounge tamu VIP.

Dana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Kalbar tahun 2010, 2011, dan 2012 senilai Rp22 miliar. Kemudian APBD Pemerintah Kota Pontianak tahun 2010, dan 2012 senilai Rp9,9 miliar.

Tampak hadir dalam peresmian masjid tersebut antara lain Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang, Hidayat Nurwahid, Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin, dan Gubernur Kalbar Cornelis.

(humas setkab/wid/es)

Berita Terbaru