Meski Sempat Diancam Diledakkan Teroris, Seskab: Tidak Ada Penambahan Keamanan di Istana

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 Desember 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 24.478 Kali
Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjawab wartawan, di ruang kerjanya lantai 2 Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (13/12) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjawab pertanyaan wartawan, di ruang kerjanya lantai 2 Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (13/12) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Meski sempat diancam akan diledakkan melalui bom bunuh diri oleh kelompok teroris yang merupakan sel dari Bahrun Naim, di Raqqa, Suriah, Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung memastikan tidak ada penambahan keamanan secara khusus di lingkaran Istana Kepresidenan, Jakarta.

“Kami memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Polri, kepada Densus 88, dan juga kepada TNI berkaitan dengan bagaimana persoalan terorisme atau radikalisme ini bisa tertangani dengan baik,” kata Pramono kepada wartawan, di ruang kerjanya lantai 2 Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (13/12) siang.

Ditegas Seskab, pemerintah memberikan apresiasi kepada kerja Kepolisian yang berhasil menangkap para terduga teroris sebelum mereka melakukan aksinya dengan meledakkan bom bunuh di di Istana Negara, Jakarta.

“Ini menunjukkan bahwa Polisi sigap dalam persoalan terorisme, karena pada hari yang bersamaan (Sabtu, 10/8) aksi teror terjadi di beberapa negara, misalnya di Kairo (Mesir), di Turki, atau di negara-negara lain “Alhamdulillah Indonesia bisa tertangani secara baik,” ujar Pramono.

Sebelum berangkat melakukan kunjungan kerja ke India dan Iran, menurut Seskab, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah melaporkan kepada Presiden Joko Widodo secara menyeluruh tentang apa yang terjadi. “Intinya adalah pemerintah percaya sepenuhnya kepada Polri untuk menangani ini dan menindaklanjuti apa yang akan dilakukan,” tegas Seskab yang ikut mendampingi Presiden saat menerima laporan Kapolri.

Karena itu pula, lanjut Seskab, secara khusus Presiden juga memanggil Kapolri, Panglima TNI, Kapolda DKI, dan juga Pangdam Jaya tentang hal-hal yang ada termasuk keamanan selama Presiden meninggalkan Indonesia dari  11-15 Desember.

Percayakan ke Polri dan TNI
Menjawab wartawan mengenai apakah benar ancaman tersebut ditujukan ke Istana, Seskab Pramono Anung menegaskan, benar ancaman itu ke Istana. Ia menegaskan, pemerintah percaya sepenuhnya dengan apa yang sampaikan oleh Kapolri, dan tentunya data yang dimiliki oleh Polri adalah data yang sungguh-sungguh dan tidak main-main.

Seskab menilai, keberhasilan Polri mencegah terjadinya aksi terorisme itu sebenarnya juga peringatan bagi semuanya, karena biasanya kalau ada terjadi ledakan, pihak yang disalahkan pertama kali adalah Kapolri dan Polri, sementara kalau kemudian berhasil dicegah, ada sebagian masyarakat yang berprasangka.

“Menurut saya ini tentunya harus kita hilangkan bersama, berilah kepercayaan kepada Polri dan TNI untuk mereka bekerja dengan sungguh-sungguh. Sebab, kita juga berkeinginan agar Indonesia aman dalam menghadapi teror ataupun juga radikalisme ini,” tutur Pramono seraya menambahkan,  langkah-langkah tegas yang diambil memang diperlukan untuk itu, termasuk terhadap tindakan-tindakan intoleransi yang beberapa waktu lalu sempat berkembang.

Meski sempat ada ancaman peledakan bom bunuh diri yang akan dilakukan saat pergantian pasukan jaga Istana, menurut Seskab, ancaman ini tidak serta merta harus mengubah keinginan pemerintah agar pergantian pasukan jaga Istana bisa disaksikan secara terbuka oleh masyarakat.

Ia menegaskan, tetap akan dilakukan karena tradisi pergantian jaga supaya masyarakat juga bisa menikmati dan tahu proses yang dilakukan secara terbuka. Tapi tentunya dengan adanya ancaman itu kewaspadaan juga perlu untuk dilakukan.

Mengenai komunikasi dengan pihak di luar Indonesia oleh para terduga aksi terorisme, Seskab menjelaskan, yang jelas polisi sudah tahu komunikasi yang terjadi di dalam dan di luar terutama kepada kelompok-kelompok yang memberikan instruksi untuk melakukan tindakan teror di Indonesia itu.

Ia menunjuk contoh, peristiwa yang terjadi kemarin, misalnya yang di Bekasi itu karena adanya korespondensi, adanya pembicaraan secara tertutup langsung ataupun tidak langsung dengan kelompok Bahrun Naim yang di Raqqa, Suriah. “Nah, yang seperti-seperti ini tentunya terpantau oleh Kepolisian dan juga oleh BNPT dan oleh Densus 88, oleh TNI. Mudah-mudahan tentunya yang seperti ini juga perlu mendapatkan support dari masyarakat,” ujarnya. (FID/ES)

Berita Terbaru