Neraca Perdagangan Oktober Surplus 23,2 Juta Dollar AS, Inflasi 1,5%

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 1 Desember 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 29.596 Kali

sembako1Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (1/12), neraca perdagangan untuk bulan Oktober mengalami surplus sebesar 23,2 juta dollar AS. Sementara inflasi paska kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada November 2014 tercatat 1,5%.

Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, bahwa surplus neraca perdagangan pada Oktober 2014 diperoleh dari total ekspor 15,35 miliar dollar AS, dan impor 15,33 miliar dollar AS.

Adapun dari sisi volume, menurut Suryamin, neraca perdagangan Oktober juga surplus sebesar 30,7 juta ton. “Ini, diperoleh dari volume perdagangan ekspor sebanyak 43,84 juta ton dan impornya 13,18 juta ton,” ujarnya di kantor BPS, Jakarta.

Masih di periode yang sama, Suryamin menjelaskan, neraca perdagangan non migas surplus 1,131 miliar dollar AS. Sedangkan, neraca perdagangan migas defisit 1,1 miliar dollar AS.

Secara akumulatif neraca perdagangan akumulatif pada bulan Januari-Oktober 2014, mengalami defisit 1,645 miliar dollar AS, yang terdiri atas defisit neraca perdagangan migas yang defisit sebesar 10,725 miliar dollar AS, dan non migas surplus 9,08 miliar dollar AS.

“Ada defisit hasil minyak yang defisit 19,659 miliar dollar AS dan minyak mentah defisit 3,268 miliar dollar AS. Sedangkan gasnya surplus 12,202 miliar dollar AS,” tambah Suryamin.

Inflasi

Kepala BPS Suryamin juga melaporkan, bahwa tekanan inflasi pada November 2014 menembus level 1,5 persen, jauh lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,47 persen. Angka nflasi November relatif berbeda dengan tingkat inflasi saat kenaikan harga BBM subsidi pada Juni 2013 yang mencapai 3,2%. Hal ini, menunjukkan waktu yang tepat untuk mengambil kebijakan kenaikan harga BBM subsidi.

“Inflasi November 2014 ini sebesar 1,50 persen. Jadi ini agak berbeda waktu menaikkan harga BBM subsidi tahun lalu. Salah satunya menunjukkan timing menaikkan harga BBM subsidi itu penting diperhatikan. Karena bukan November memang biasanya cenderung rendah,” kata Suryamin.

Lebih lanjut Suryamin menyatakan, dari seluruh kota, semuanya mengalami inflasi karena dampak kenaikan harga BBM subsidi ini bersifat menyeluruh. Inflasi tertinggi terjadi di Padang sebesar 3,44 persen, dan terendah di Manokwari 0,07 persen.

“Kalau lihat menurut kelompok pengeluaran, inflasi November itu dari bahan makanan cukup tinggi, yakni 2,15 persen, dan tahun kalender 7,12 persen dan year on year hampir delapan persen. Jadi komoditas bahan makanan ini harus hati-hati juga,” ujarnya.

Untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, andil inflasinya sebesar 0,11 persen, dan tahun kalendernya 6,03 persen. Begitu pula dengan transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, andil inflasinya sebesar 0,80 persen, dan secara tahun kalender 6,25 persen.

“Transportasi ini termasuk tarif. Makanya inflasi transportasi dan komunikasi serta jasa keuangan di November mencapai 4,29 persen. Ini masih akan terus berlangsung ke depan, seperti ongkos angkutan, dan ini supaya dikontrol oleh pemerintah,” tutur Suryamin.

Dia mengatakan, untuk inflasi tahun kalender (Januari-November) 2014 ini sebesar 5,75 persen dan secara tahunan 6,23 persen (year on year). Kemudian inflasi inti pada November 2014 sebesar 0,40 persen, dan inflasi inti secara tahunan 4,21 persen.

Suryamin menambahkan, komponen inti masih terkendali di 0,4persen, tetapi harga yang diatur pemerintah 4,20 persen. Lalu kelompok komoditas pangan seperti beras dan cabai juga relatif tinggi, kemudian harga bergejolak sebesar 2,37 persen dan inflasi kelompok energi 6,27 persen.

“Kalau inflasi inti 2,41 persen ini masih di bawah inflasi umum yang sebesar 6,23 persen, maka menunjukkan keadaan ekonomi masih cukup bagus,” ungkap Suryamin. (WID/ES)

 

Berita Terbaru