Outlook Perekonomian Indonesia Tahun 2023, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, 21 Desember 2022

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 21 Desember 2022
Kategori: Sambutan
Dibaca: 934 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Menko Perekonomian beserta para menteri yang hadir;
Yang saya hormati Gubernur Bank Indonesia, Ketua OJK, dan para direktur utama lembaga keuangan dan perbankan, para pimpinan organisasi dan asosiasi, hadir di sini Pak Ketua Kadin;
Para pimpinan redaksi;
Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati.

Situasi yang kita hadapi sekarang ini bukan situasi yang gampang. Situasinya sangat sulit diprediksi, sulit dihitung. Dan teori-teori standar semuanya sudah sulit untuk kita pakai lagi karena semuanya tidak, sekarang ini keluar, tidak berdasarkan pakem-pakem yang ada. Betul-betul situasi yang sangat sulit.

Dan kita tahu di 2014-2015, kita ini masih masuk dalam fragile five. Masih, kita masih dimasukkan dalam negara yang rentan untuk terpuruk bersama lima negara yang lain. Kalau kita ingat saat itu ada taper tantrum.  Dan yang, kalau kita lihat angka detail di situ di 2014-2015, defisit transaksi berjalan kita berada di angka 27,5 miliar US Dollar, di 2014, kemudian di 2015 berada di angka 17,5 miliar US Dollar. Kalau kita lihat lagi lebih detail, di 2014 neraca dagang kita masih defisit 2,2 miliar US Dollar.

Oleh sebab itu, saat itu saya sampaikan kepada para menteri, kita harus berani mengubah ini, mereformasi struktural kita agar hal-hal yang membahayakan ekonomi makro kita ini bisa kita lakukan, termasuk urusan SBN. SBN saat itu 38,5 persen itu dikuasai oleh asing, sekarang tinggal 14,8 persen yang dikuasai asing. Karena kalau masih dikuasai asing, begitu goyah sedikit makro kita, keluar berbondong-bondong, goyah pasti kurs kita. Ini upaya-upaya yang kita lakukan.

Coba kita lihat sekarang neraca transaksi berjalan kita. Di kuartal III-2022 sudah surplus 8,9 miliar US Dollar di Q3, ini 0,9 persen dari PDB kita. Artinya, perbaikan-perbaikan itu betul-betul nyata dan kelihatan dalam angka-angka. Saya selalu pasti meminta angka. “Pak sudah, ini sudah lebih baik,” “Ya angkanya berapa?” Bukan, “Ya”, “Ya”, “Ya”, angkanya pasti saya minta dari berapa kemudian sekarang berapa karena itu penting sekali. Kemudian kalau ada yang bertanya lagi, “Pak, ini defisit kita ini akan jatuh di angka berapa sih di 2022?” Hitungan terakhir kita 2,49 persen. Ini kan turun drastis dibanding saat pandemi. Inilah upaya-upaya yang kita lakukan agar ekonomi makro kita menjadi lebih baik dalam angka-angka.

Yang kedua juga perlu saya ingatkan mengenai gempuran adanya pandemi. Saat Delta masuk, kasus harian kita mencapai 56 ribu kasus. Saat itu saya ingat hampir 80 persen menteri menyarankan saya untuk lockdown, termasuk masyarakat juga menyampaikan hal yang sama. Kalau itu kita lakukan saat itu mungkin ceritanya akan lain sekarang ini. Muncul lagi Omicron, puncaknya mencapai 64 ribu kasus harian. Sehingga kita ingat saat itu ada APD kurang, oksigen enggak ada, pasien numpuk di rumah sakit. Untung kita saat itu masih tenang, tidak gugup, tidak gelagapan, sehingga situasi yang sangat sulit itu bisa kita kelola dengan baik. Dan hari ini, kemarin kasus harian kita berada di angka 1.200. Dan mungkin nanti akhir tahun kita akan menyatakan berhenti PSBB, PPKM kita. Perjalanan seperti itu harus kita ingat betapa sangat sulitnya.

Oleh sebab itu, kemampuan domestik kita harus terus kita garap. Dan salah satu hal yang sangat berat adalah bahwa kita ini terlalu banyak membiarkan aset-aset negara menjadi aset-aset yang tidur dan aset-aset yang nganggur, tidak produktif. Diberi izin, kementerian memberikan izin pada swasta ataupun BUMN. Diberi izin konsesi, 20 tahun dibiarkan, enggak diapa-apain, 15 tahun enggak diapa-apain, 10 tahun enggak diapa-apain. Kalau saya, sudah, saya perintahkan kepada Menteri Investasi, Menteri ESDM, sudah dicabut saja konsesinya, berikan kepada yang memiliki kemampuan dan lahan itu menjadi lahan produktif, aset itu menjadi aset produktif. Sehingga, kemarin dicabut 2.078 konsensi-konsesi, baik hutan, konsesi hutan maupun konsesi tambang. Cabut dan berikan kepada yang memiliki kemampuan baik finansial, kemampuan SDM untuk menggarap aset-aset itu menjadi aset-aset yang produktif sehingga memberikan dampak yang positif pada ekonomi kita.

Dibangun gedung, dibiarkan nganggur, disewakan juga tidak, dipakai juga tidak. Hal-hal seperti ini harus kita hentikan, berhenti. Dibelikan peralatan, tidak dioperasionalkan, ditumpuk di gudang. Banyak itu. Coba cek di dinas-dinas, di BUMN-BUMN, banyak sekali. Dipikir saya enggak tahu. Tahu. Inilah hal-hal yang menyebabkan kita tidak produktif, hal-hal, dimulai dari hal-hal seperti ini. Atau membeli alat yang sebetulnya tidak diperlukan, juga banyak pembelanjaan hal-hal yang tidak produktif seperti ini.

Kembali lagi. Kemampuan domestik kita harus betul-betul kita garap. Dan, salah satu hal penting yang kita lakukan adalah hilirisasi. Setop ekspor bahan-bahan minerba kita, setop. Memang kita tidak lakukan drastis, setop semuanya, ndak, tapi satu per satu harus. Nikel sudah rampung, sehingga nilai tambah melompat. Kalau dulu ekspor bahan mentah nikel hanya menghasilkan 1,1 [miliar Dolar AS], ini tahun ini perkiraan saya sudah melebihi 30 miliar US Dollar tahun 2022. Dari 1,1 [miliar Dolar AS)) melompat ke 30 miliar US Dollar. Betapa lompatan nilai tambah itu yang kita dirugikan berpuluh-puluh tahun. Pajak enggak kita dapat. Kalau kita ikut memiliki, deviden enggak juga dapat, royalti juga enggak dapat, iya ekspor juga enggak dapat, pembukaan lapangan kerja kita juga enggak dapat, enggak dapat apa-apa. Inilah yang harus dihentikan.

Dan hari ini akan kita tambah lagi. Kalau kemarin setop nikel, hari ini nanti akan kita umumkan lagi satu komoditas yang kita miliki. Setelah dari sini saya akan umumkan lagi, “Setop ini,” sudah. Karena tidak bisa kita biarkan lagi ekspor bahan mentah itu, tidak. Tahun depan ada lagi entah satu, entah dua, setop lagi. Karena jelas, 1,1 miliar US Dollar kemudian melompat menjadi lebih dari 30 miliar [Dolar AS]. Dari Rp18 triliun melompat menjadi Rp460 triliun. Kalau kita teruskan rugi besar kita. Meskipun kita digugat, enggak apa-apa. Nikel digugat, ini nanti yang kita umumkan ini digugat lagi, enggak apa-apa. Suruh gugati terus. Yang kedua digugat, belum rampung, ketiga kita setop lagi, gugat lagi, enggak apa-apa.

Tugas kita adalah, sekali lagi, mencari nilai tambah yang sebesar-besarnya dan itu bisa terlihat, sudah saya sampaikan berkali-kali. Di Maluku Utara, pertumbuhan ekonomi setelah ada hilirisasi 27 persen, 27 persen. Coba dicek di provinsi mana di dunia yang ada pertumbuhan ekonomi 27 persen, tunjukkan kepada saya. Enggak ada. Di Sulawesi, secara umum di Sulawesi 8,24 persen growth-nya year on year (YoY), 8,24 persen. Lah ini kalau semua melakukan, semua provinsi melakukan hilirisasi, industrialisasi, inilah reformasi struktural riil yang ingin kita lakukan. Mengubah di hulu undang-undangnya, kemudian implementasikannya dalam pelaksanaan, yang sulit memang di sini. Dan terus ini akan kita lakukan.

Jadi fundamental kita ini harus betul-betul kita ubah, yang rentan kita ubah sehingga menjadi stabil. Sehingga sangat penting sinergi fiskal, moneter, dan sektor riil. Ini kalau enggak sambung bahaya ini. Moneter jalan sendiri ke sana, fiskalnya ke sana, sektor riil cari jalan sendiri ke sana, enggak bisa lagi kita lakukan itu. Dan saya sangat senang sekarang ini sinergi, koordinasi antara Bank Indonesia/Bank Sentral, OJK, LPS dengan Kementerian Keuangan, kemudian dengan pelaku-pelaku di Kadin, semuanya dalam visi yang sama, tujuan yang sama. Kalau ini terus diperkuat, momentum positif kita akan bisa kita perbaiki terus.

Kemudian, daya beli masyarakat harus dijaga terus. Yang di bawah saya kira kita terus lakukan bantuan sosial, [Kartu] Prakerja, dan lain-lain.

Yang ketiga, peningkatan ekspor. Kalau yang tadi hilirisasi tadi berhasil, ya ekspornya pasti kita akan naik. Dan kita tahu, sudah 31 bulan neraca perdagangan kita selalu surplus, enggak pernah sebelum-sebelumnya, tapi ini sudah 31 bulan.

Kemudian yang keempat, investasi, peningkatan investasi. Momentum trust/kepercayaan dunia kepada Indonesia ini harus betul-betul kita manfaatkan untuk menarik investasi masuk capital inflow sebanyak-banyaknya sehingga memperkuat fundamental kita.

Yang terakhir, tadi sudah saya sampaikan, hilirilisasi energi hijau ini menjadi kunci. Ke depan, saya sudah minta, strategi hilirisasi ini harus dibuat dalam sebuah ekosistem besar apa, didukung oleh energi hijau yang murah, ini akan menjadi produk premium yang kita akan bisa bersaing dengan negara-negara lain. Energi hijaunya harus murah, kuncinya di situ. Kalau muncul energi hijau kemudian harganya masih 12 sen, 8 sen ya untuk apa? Karena yang namanya hydropower mestinya, misalnya di Kayan, Sungai Kayan, Sungai Mamberamo misalnya, hitung-hitungan yang saya pakai, kalkulator yang saya pakai, enggak tahu mungkin berbeda dengan kalkulator Bapak-Ibu semuanya, bisa mencapai harga 2 sampai 4 sen yang jauh di bawah batu bara.  Yang kalau sungai-sungai yang lain juga kita lakukan hal yang sama, inilah sebetulnya kekuatan besar kita, dua hal tadi, hilirisasi kemudian didukung oleh energi hijau. Sulitnya adalah pelaksanaan.

Tapi yang pusing-pusing biasanya diberikan pada saya. Kalau yang masalah, yang problem, menteri-menteri itu mesti menghadap saya. Tapi kalau yang enak-enak, kayak kemarin nyanyi-nyanyi, makan-makan, tidak pernah mengajak saya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini.

Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru