Presiden Jokowi: Dalam Berbangsa dan Bernegara, Kesolidan dan Persatuan adalah Hal Penting

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 7 Februari 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 115 Kali

Presiden Jokowi dan Wapres berfoto bersama saat acara Pelantikan Pengurus DPP Partai Bulan Bintang Periode 2019-2024 di Hotel Aston Kartika, Provinsi DKI Jakarta, Kamis (6/2). (Foto: Humas/Jay)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa dalam berbangsa dan bernegara, kesolidan sebuah bangsa, persatuan sebuah bangsa itu juga sangat sangat penting.

“Merajut ukhuwah, baik itu ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, ukhuwah basariah, penting dalam kita membangun sebuah persatuan di negara besar seperti negara kita Indonesia ini,” ujar Presiden Jokowi saat acara Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang Periode 2019-2024 di Hotel Aston Kartika, Provinsi DKI Jakarta, Kamis (6/2).

Dalam dunia yang semakin terglobalisasi, menurut Presiden, dunia yang saling terkoneksi dan terinteraksi, ukhuwah itu juga semakin penting dan utama.

“Semua bangsa sekarang ini merasakan masalah di sebuah negara, merembet ke negara lain, perang dagang antara Tiongkok dan Amerika, kita kena imbasnya. Ada brexit di Inggris padahal jauh sekali, kita juga kena imbasnya,” tutur Kepala Negara.

Solusi pun, sambung Presiden, juga harus dilakukan sekarang antarnegara, tidak hanya satu negara, tidak bisa.

“Oleh karena itu, persaudaraan antar bangsa itu juga maha penting, apalagi persaudaraan antaranak bangsa, negara, dan sebangsa dan setanah air itu sangat sangat sangat penting,” kata Kepala Negara.

Interaksi, hubungan, konektivitas antarbangsa dan antarnegara, lanjut Presiden, itu sekarang begitu sangat cepatnya, sehingga menyebarnya sebuah penyakit juga begitu sangat cepatnya.

“Tapi alhamdulillah sampai saat ini negara kita saya belum mendapatkan laporan bahwa warga kita yang berada di tanah air ini ada yang terjangkit Virus Corona, meskipun ada satu, tapi posisi warga negara kita ada di Singapura,” jelas Presiden.

Untuk itu, Presiden menyampaikan bahwa secara cepat juga Pemerintah putuskan sebuah kebijakan untuk menghentikan penerbangan dari dan ke Tiongkok, juga pelarangan sementara impor hewan hidup dari Tiongkok.

“Kita mengatur ulang pemberian Visa, penerbitan Visa, karena apapun saya sampaikan kepentingan nasional ada tetap yang nomor satu,” jelas Presiden ke-7 RI.

Konsekuensinya, lanjut Presiden, memang tidak kecil, karena ekspor ke Tiongkok besar sekali dan turis dari Cina ke Indonesia juga tidak kecil. Ia menambahkan seperti sekarang di negara-negara tetangga betul-betul sangat sepi sekali.

“Masih beruntung alhamdulillah kita tidak tergantung pada turis dari 1, 2, 3 negara. Turis kita berasal dari hampir seluruh negara, sehingga kita harapkan ini tidak mempengaruhi banyak pariwisata di tanah air,” jelas Kepala Negara.

Dari sisi ekonomi, menurut Presiden memang tekanan itu begitu sangat terasa sekarang ini, ekspor menurun, turis menurun, moga-moga tidak berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang kita miliki.

Ibu Kota Baru

Pada kesempatan itu, Presiden juga menyampaikan gambaran mengenai ibu kota baru. Sejak zaman presiden pertama Bung Karno, sambung Presiden, memang sudah sebetulnya mendesain ingin memindahkan ibu kota pemerintahan dari Jakarta ke Palangkaraya.

“Tapi proses ini selalu tidak segera diputuskan, karena ada problem-problem di negara kita. Dan saat ini telah kita putuskan dan mungkin insyaallah dalam bulan ini juga draf undang-undangnya juga akan kami sampaikan kepada DPR RI,” jelas Presiden.

Harapan dengan perpindahan ini, Presiden sampaikan bukan karena apa-apa, karena beban yang ada di pulau Jawa ini terlalu sangat berat sekali, apalagi beban yang ada di DKI Jakarta itu sudah sangat berat sekali.

“Coba dibayangkan, kita memiliki 17 ribu pulau Indonesia, tetapi di Jawa saja yang tinggal di Jawa saja itu 54% penduduknya. 54% penduduk Indonesia ada di Jawa, 149 juta,” jelasnya.

GDP pergerakan ekonomi, menurut Presiden, itu 58% ada itu di pulau Jawa, khususnya di Jakarta, sehingga pemerataan yang akan sangat sulit kalau itu diterus-teruskan.

“Oleh sebab itu, keputusan ini adalah memang kita ingin sebuah pemerataan yang baik di seluruh pulau, di seluruh provinsi, di kabupaten/kota yang ada di tanah air kita,” sambungnya.

Kalau negara lain punya dua magnet besar, Presiden ingin semuanya tidak bertumpu di Pulau Jawa, tetapi ada juga pulau yang lain, sehingga daya dukung di Pulau Jawa ini tidak terlalu terbebani.

“Akan banyak pejalan kaki dan orang bersepeda, sedikit mungkin mobil dan banyak menggunakan transportasi massal,” Presiden menggambarkan.

Pemerintah, sambung Presiden, ingin menginstal sistem di ibu kota baru, sehingga nantinya yang dimiliki adalah sebuah cara kerja baru, sistem baru yang berjalan sehingga akan menjadi contoh bagi kota-kota yang lain yang ada di negara-negara di luar.

Di akhir sambutan, Presiden menyampaikan selamat kepada DPP Partai Bulan Bintang masa bakti 2019-2024.

Turut hadir Ketua DPD La Nyala Mataliti, Mensesneg Pratikno dan Mendagri Tito Karnavian. (TGH/EN)

Berita Terbaru