Peluncuran Bersama Bank Wakaf Mikro APIK Kaliwungu dan Al Fadllu Kendal, 30 Desember 2019, di Pondok Pesantren APIK, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 30 Desember 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 117 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Pengasuh Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, yang terhormat Bapak K.H. Sholahuddin Humaidullah Irfan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al Fadllu 2 Bapak K.H. Alamuddin Dimyati Rois.
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju yang hadir. Hadir di sini Bapak Menteri Agama. Berdiri Pak Menteri, biar kenal dengan para ulama dan santri. Hadir di sini Bapak Menteri Pariwisata. Berdiri Pak, masih muda.
Yang saya hormati, Pak Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara), Profesor Pratikno. Saya ngajak tiga menteri hari ini.
Yang saya hormati Ketua Dewan Komisioner OJK, Bapak Wimboh.
Yang saya hormati Gubernur Jawa Tengah. Tidak usah saya kenalkan, sudah kenal semua. Nggih? Tapi enggak apa-apa, biar kenal, Pak Gub berdiri lagi, dan Pak Wagub, Pak Wakil Gubernur, nggih. Komplet, menterinya tiga, Gubernur, Wakil Gubernur cobi, plus Pak Pangdam, Pak Kapolda juga rawuh. Berdiri, Pak. Dan Ibu Bupati Kendal. Dikenalkan, ndak? Berdiri, Bu.
Yang saya hormati para Ulama, Bapak-Ibu sekalian para nasabah Bank Wakaf Mikro.
Serta tidak lupa, tadi yang belum saya kenalkan, karena pendirian Bank Wakaf Mikro ini adalah kerja sama antara OJK dan pengusaha-pengusaha besar. Dan tadi yang sudah menjadi donatur yaitu Sinarmas Group.  Terima kasih, Pak Sulis.
Hadirin dan tamu undangan yang berbahagia.


Sampai hari ini, telah kita bangun alhamdulillah 56 Bank Wakaf Mikro di pondok-pondok pesantren yang ada di tanah air. Dan hari ini secara resmi dilakukan di dua pondok pesantren, yaitu di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu dan Pondok Pesantren Al Fadllu 2 di Kendal.

Apa yang ingin saya sampaikan? Bahwa dari 56 Bank Wakaf Mikro, itu telah menjangkau 25.000 usaha mikro, usaha kecil. 25.000 nasabah Bank Wakaf Mikro, jumlah yang tidak kecil. Dana yang disalurkan, bantuan pinjaman yang disalurkan Rp34 miliar. Itu tidak sedikit lo. Itu kalau dijutakan berarti Rp34 ribu juta. Rp34 ribu juta, Rp34 miliar, berarti gede banget uang yang beredar di pondok-pondok pesantren plus di sekitar pondok. Dan nanti, tadi Pak Ketua OJK juga sudah menyampaikan, sudah disiapkan lagi kurang lebih lima puluh Bank Wakaf Mikro yang akan dibuka,  dibuka, dibuka, dibuka lagi. Ini patut kita syukuri, alhamdulillah.

Apa yang kita inginkan? Pemerintah ingin agar dari pondok pesantren dan lingkungan pondok pesantren, apabila ada kenginan-keinginan untuk membesarkan usaha-usaha yang ada di situ, ada banknya, yaitu Bank Wakaf Mikro. Jangan sampai pinjamnya ke rentenir, hati-hati, hati-hati, nggih. Setop. Sekarang sudah ada Bank Wakaf Mikro.

Yang kedua, Bank Wakaf Mikro ini tidak memakai agunan, tidak memakai jaminan, nggih mboten? Siapa yang pinjam pakai agunan, tunjuk jari! Ada? Siapa yang pinjam Bank Wakaf Mikro tapi pakai agunan, tunjuk jari! Saya beri sepeda. Wonten? Tidak ada jaminan. Artinya, Bapak-Ibu yang mendapatkan bantuan pinjaman itu adalah dipercaya karena pinjam Rp1 juta, Rp2 juta, ada yang Rp3 juta, ada yang Rp4 juta, ada yang Rp5 juta. Di sini mungkin baru Rp1 juta tadi saya cek tapi sudah ada yang Rp4 juta. Yang sudah mulainya tiga tahun yang lalu sudah sampai Rp4 juta. Karena apa? Dipercaya dan tidak pakai agunan.

Panjenengan tindak ke bank pasti akan ditanyakan, “agunannya apa, Bu? Jaminannya apa, Bu?” Lha ini tidak, ini kepercayaan. Inilah pemerintah berusaha untuk membuka sebanyak-banyaknya Bank Wakaf Mikro agar ada akses keuangan, gampang mencari modal dari usaha-usaha mikro kita untuk lingkungan pondok pesantren. Karena memang Bank Wakaf Mikro ini memang dikhususkan untuk segmen usaha-usaha kecil dan usaha-usaha mikro.

Tadi saya tanya di depan, ada yang jualan peyek, saya tanya, “dapat bantuan pinjaman berapa, Bu? “Setunggal yuto, Pak.” Rp1 juta. Ada yang jualan tadi apa tadi, bandeng, saya tanya, “dapat pinjaman berapa, Bu?” “Baru Pak, kami baru Rp1 juta.” Alhamdulillah, bisa ngembangkan. Peyek kalau Rp1 juta itu peyeknya berapa banyak coba? Jualan peyek kok pinjamnya juga Rp1 juta? Peyeknya, tadi saya beli empat aja sudah kelihatan banyak banget, lha ini Rp1 juta. Empat, tadi satu kemasan plastik harganya berapa tadi? Rp8 ribu. Saya beli empat berarti Rp32 ribu. Empat aja mbawanya kesulitan tadi, lha kalau Rp1 juta banyak banget.

Tapi saya titip, ini hati-hati, kalau dapat bantuan pinjaman dari Bank Wakaf Mikro agar disiplin mengangsurnya, nggih. Kalau disiplin mengangsur, nanti akan bisa ditambah lagi menjadi Rp2 juta, menjadi Rp3 juta, sehingga usahanya berkembang. Tapi saya titip, jangan sampai dapat bantuan pinjaman Rp1 juta, ya ini, jalan-jalan ke mal. Tengok sana, tengok sini, ada tas baru, nah bantuan pinjaman dipakai untuk beli tas. Boleh? Boleh? Siapa yang bilang boleh maju ke depan saya beri sepeda. Tidak boleh!

Jadi bantuan pinjaman ini hanya dipakai untuk modal usaha, untuk modal kerja semuanya. Kalau mendapatkan untung, silakan. Alhamdulillah, dapat untung misalnya Rp100 ribu, untung Rp50 ribu disyukuri, sebagian ditabung sebagian untuk mengangsur. Itu yang kita harapkan. Jangan sampai nanti dapat Rp2 juta, jalan-jalan ke mal lagi, kok ada baju baru, nah ingin beli baju, Rp300 ribu. Jalan-jalan lagi, aduh kok ada ini, sama ini, beli lagi, Rp200 ribu, Rp500 ribu. Apa yang terjadi? Suatu titik pasti akan kesulitan dalam mengangsur atau menyicil bantuan pinjaman itu. Karena ada sebagian yang diperuntukkan untuk barang-barang yang bukan modal kerja atau modal usaha.  Ampun, jangan. Hati-hati. Ini menyangkut nama, karena Bapak-Ibu itu diberi pinjaman, bantuan pinjaman itu karena dipercaya. Hati-hati.

Ini yang sudah dapat bantuan pinjaman ada di sini? Mana? Mana? Mana? Baik, maju sini. Satu, maju. Sebentar. Ada yang dapat… Sini Bu. Ada yang dapat Rp2 juta? Enggak ada? Ada? Oh, semua Rp1 juta. Berarti baru semua nggih? Nggih. Siapa yang dapat Rp1 juta? Oke, nggih, itu maju.

Siapa yang belum dapat tapi ingin dapat? Belum dapat tapi ingin dapat? Nggih maju. Oh, nggih, sampun. Belum dapat tapi ingin dapat? Ya enggak apa-apa, saya mau tanya kok. Sini Bu, silakan.

Silakan dikenalkan Bu, namanya.

Nuraini
Nama saya Nuraini. Saya dari nasabah Bank Wakaf Mikro di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, nggih. Bu siapa tadi? Bu siapa?

Nuraini
Nuraini, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Panggilannya, Bu?

Nuraini
Bu Eni.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Eni?

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Nuraini panggilannya Bu?

Nuraini
Bu Eni.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Eni. Bu Nuraini, panggilannya?

Nuraini
Bu Eni.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Eni. Nggih mpun. Saya pikir tadi Bu Nur atau Bu Aini. Oh, Bu Eni. Bu Nuraini, Bu Eni, nggih. Ibu sudah mendapatkan berapa?

Nuraini
Rp1 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp1 juta. Sudah berapa hari dapatnya?

Nuraini
Bantuannya, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya.

Nuraini
Sudah berjalan kira-kira tiga bulan-empat bulan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah tiga bulan-empat bulan.

Nuraini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nyicilnya lancar?

Nuraini
Lancar, alhamdulillah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Baik, alhamdulillah. Rp1 juta dipakai untuk apa?

Nuraini
Untuk modal.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Modal untuk beli apa? Untuk usaha apa?

Nuraini
Untuk usaha dagang di sekolah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dagang di sekolah?

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apa yang dijual?

Nuraini
Yang dijual mi godok.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mi godok.

Nuraini
Mi goreng, burger.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar, sebentar. Mi godok?

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mi goreng?

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Burger?

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus?

Nuraini
Sama jajanan snack-snack kecil.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jajanan snack-snack kecil.

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus modal kerja Rp1 juta untuk bakmi itu banyaknya seberapa itu?

Nuraini
Oh, banyak sekali, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Banyak?

Nuraini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Habis tapi dijual?

Nuraini
Ya ndak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya ndak? Sebentar, kok ya ndak, gimana sih?

Nuraini
Maksudnya gimana, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enggak, itu kan Rp1 juta dibelikan untuk modal kerja semua.

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kan dibelikan apa, mi?

Nuraini
Mi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mi mentah, terus? Terus?

Nuraini
Terus buat songkro.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Beli songkro?

Nuraini
Enggak, buat sendiri.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Buat songkro?

Nuraini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Songkro itu gerobak tho nggih?

Nuraini
Iya. Didorong sampai sekolah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, nggih.

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Untuk beli mi-nya berapa?

Nuraini
Mi-nya dua kardus.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kardus itu berapa nilainya? Berapa, pinten ewu? Pinten yuto? Pinten? Kok tanya sana.

Nuraini
Enggak, maksudnya kan liburan kan kalau harga naik kan enggak tahu, Pak. Rp100 ribu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp100 ribu, berarti masih Rp900 ribu.

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Untuk apa lagi?

Nuraini
Lha untuk itu, buat beli, buat songkro.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Songkro berapa itu kira-kira?

Nuraini
Enggak tahu, Pak. Yang buat kan suami.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ngeten lo nggih, nggih, kalau kita dapat bantuan pinjaman Rp1 juta itu harus sudah punya perencanaan di sini. Syukur ditulis, oh Rp100 ribu saya beli untuk bahan baku mi. Dua, beli Rp100 ribu lagi untuk bumbu-bumbunya, misalnya. Oh, Rp100 ribu atau Rp50 ribu lagi untuk beli bungkusnya. Harus ada terhitung, tertulis. Mulai kayak gitu, ditulis. Jangan ditanya enggak tahu.

Nuraini
Kan sudah lama, Pak, lupa.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Alasannya lupa.

Nuraini
Enggak, benar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Betul?

Nuraini
Betul.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, mpun, manut. Nggih, nggih. Oke, jadi sudah dapat Rp1 juta untuk beli gerobaknya, untuk beli, untuk modal mi-nya.

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, nggih. Terus, itu sehari bisa untung berapa kalau boleh tahu?

Nuraini
Kalau ramai itu Rp100 ribu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp100 ribu, kalau ramai.

Nuraini
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau ndak ramai?

Nuraini
Kalau sepi ya untungnya Rp50 (ribu).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp 50 (ribu), berarti rata-rata Rp75 (ribu). Rp75 (ribu) dikali tiga puluh, ya sudah Rp2,1 juta, ya gede seperti itu. Nggih, kalau gitu bisa nyicil, gampang niku. Nggih, mpun.

Nuraini
Alhamdulillah, Pak. Bisa, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, saget.
Cobi Bu, dikenalin.

Nila Mayasari
Nama saya Nila Mayasari. Saya dapat pinjaman Rp1 juta untuk usaha kecil.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Panggilannya Bu siapa ya?

Nila Mayasari
Bu Sari.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Sari.

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Sari, usahanya nopo?

Nila Mayasari
Jualan es teh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jualan es teh.

Nila Mayasari
Sosis bakar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jualan es teh. Jualan es teh kok Rp1 juta? Dapat berapa? Banyak banget es tehnya itu.

Nila Mayasari
Tapi kan ada makanan kecil, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ada makanan kecil nopo mawon?

Nila Mayasari
Mi pedas, kadang jualan makaroni pedas.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Makaroni pedas.

Nila Mayasari
Cilok pedas. Kadang online-an mi rebus, mi goreng.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Online? Online mi rebus?

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar, sebentar. Online?

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Waduh, waduh. Ceritakan mengenai online mi rebus.

Nila Mayasari
Oh, gitu. Kalau jualan online itu lewat…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, pripun? Berarti pripun?

Nila Mayasari
Lewatnya itu status, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lewatnya status?

Nila Mayasari
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Status niku pripun nggih? Yang lain biar belajar.

Nila Mayasari
Oh, iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pripun? Jadi membuat status di Facebook?

Nila Mayasari
Oh, iya. Ndak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Facebook? Twitter?

Nila Mayasari
Saya enggak bisa Facebook.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Online lewat apa?

Nila Mayasari
WA (WhatsApp).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh lewat WA, wah. Jadi di WA apa?

Nila Mayasari
Nanti temannya kalau buka…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ada gambar di…

Nila Mayasari
Ya gitu,

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Gambar di WA.

Nila Mayasari
Ada tela-tela, misalke ada tela-tela, “ya, saya satu pesan.” Tak anter, gitu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, ngoten.

Nila Mayasari
Rasa jagung manis, rasa balado, rasa apa…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Anter.

Nila Mayasari
Dianter.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Anter. Mbayar ini?

Nila Mayasari
Mbayar, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mbayar, nggih. Nggih, jadi nyerahke, mbayar, ngoten nggih?

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh. Waduh. Elok-elok niki, elok. Ada yang pakai WA ada? Yang jualan sama? Ada?

Nila Mayasari
Ada, teman saya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, ada juga. Oh, sudah mulai banyak.

Nila Mayasari
Yang gendut itu, Pak. Suruh maju, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, nggih. Bagus. Nah, model-model seperti ini yang harus mulai dikembangkan. Jualan sekarang itu bisa jualan langsung, di darat langsung, tapi bisa jualan lewat WA, lewat Facebook, dipakai itu. Gambar mi-nya difoto, cekrek, masukkan, diberi harga berapa, pedas berapa, enggak pedas berapa. Nggih tho?

Nila Mayasari
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, memang gitu, kira-kira. Nggih?

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus apa, keuntungan sehari berapa?

Nila Mayasari
Kadang tela-tela kalau hujan itu ramai, kalau panas enggak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lo kalau hujan ramai malahan?

Nila Mayasari
Kan singkong goreng.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jualan es teh hujan malah ramai?

Nila Mayasari
Es teh sama singkong goreng, namanya tela-tela.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tela-tela.

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh.

Nila Mayasari
Kalau hujan ramai, kalau panas ndak ramai, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau hujan…

Nila Mayasari
Ramai.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau hujan ramai.

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau enggak hujan?

Nila Mayasari
Ndak ramai.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enggak ramai, oh. Kalau ramai untungnya berapa?

Nila Mayasari
Ya, kalau yo ramai paling kalau tela-tela Rp25 (ribu).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dua puluh lima apa?

Nila Mayasari
Ribu. Kan sisa, tak sisain nanti minyak goreng, nanti beli bumbu, beli apa, beli apa. Pokoke sisa bersih tak pegang dulu, gitu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp25 (ribu) itu bersih?

Nila Mayasari
Ya, bersih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Waduh, gede ini.

Nila Mayasari
Ya, alhamdulillah, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Terus kalau…

Nila Mayasari
Es teh, paling es teh enggak bisa dihitung, soalnya anak saya banyak, jadi minum es.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar, sebentar, gimana sih? Kok enggak bisa dihitung karena anaknya banyak?

Nila Mayasari
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apa hubungannya es teh sama anak?

Nila Mayasari
Lha kadang kan, “Mama es teh satu, es teh satu,” gitu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jadi diminum anaknya?

Nila Mayasari
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar, sebentar, sebentar,  saya titip nggih, saya titip, yang namanya usaha, yang namanya usaha, yang namanya bisnis, itu dipisahkan ya antara keluarga dan usaha. Antara keluarga dan bisnis dipisah, ampun campur-campur. Jualan es teh yang minum anaknya, hati-hati, ini campur namanya. Nggih? Enggak apa-apa anak dibuatkan es teh tapi tidak di situ, (tapi) di rumah.

Nila Mayasari
Ndak mau, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Waduh, niki… Jadi maunya di?

Nila Mayasari
Di (tempat) jualan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Di tempat jualan?

Nila Mayasari
Saya jualan di ibu saya, rumah saya Pungkuran Selatan, Ibu saya Pungkuran Barat itu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Gimana ini cara memberitahunya? Nggih, mpun.
Kenalkan Bu, nama.

Siti
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Siti
Nama saya Siti, dari…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Panggilannya Bu? Bu Siti?

Siti
Bu Siti, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Siti, nggih. Dari?

Siti
Saya dari Fatayat NU Kendal.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Terus tadi kan saya tanya, “ada yang semangat ingin bantuan pinjaman Bank Wakaf Mikro?” Ibu Siti ingin?

Siti
Enggih, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tapi sekarang kok belum? Karena belum daftar atau gimana?

Siti
Belum.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pengin dapat bantuan pinjaman berapa?

Siti
Engkang katah, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kok engkang katah? Bank Wakaf Mikro pertama itu hanya dapat Rp1 juta, semua, di seluruh Indonesia, Rp1 juta pertama. Kalau disiplin mengangsurnya, dapat tambah lagi bisa Rp2 atau 3 juta langsung. Ibu mau pinjam berapa?

Siti
Untuk pertama Rp2 juta, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tadi sudah diberitahu pinjaman pertama itu Rp1 juta. Nggih, Rp1 juta nggih? Mau dipakai apa?

Siti
Karena kami nyuwun sewu usaha jilbab Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih.

Siti
Ya. Kalau Rp1 juta itu…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kurang?

Siti
Kurang, Pak ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, ngoten.

Siti
Enggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, oke. Nggih, mpun. Jenengan nanti ngendiko dengan Bank Wakaf Mikro APIK atau Bank Wakaf Mikro Al Fadllu untuk bisa mendapatkan bantuan pinjamannya. Nggih.

Siti
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini untuk membesarkan, usahanya sudah ada kan?

Siti
Sampun.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, nggih. Berarti bisa pinjam dari sana.

Tetapi Bapak-Ibu, kalau sudah besar dan ingin mendapatkan pinjaman yang lebih gede, Bapak-Ibu bisa ke bank pemerintah: BRI, BNI, Bank Mandiri. Itu juga ada yang namanya KUR (Kredit Usaha Rakyat), bisa sampai Rp25 juta, Rp50 juta, bahkan Rp500 juta. Tapi hati-hati, semuanya harus dihitung, semuanya harus dikalkulasi. Jangan salah hitung, jangan salah kalkulasi. Disiplin, harus disiplin, tepat waktu mengangsur, kejujuran itu menjadi hal yang sangat penting dalam hal mengelola bantuan pinjaman. Jangan, sekali lagi, seperti tadi yang saya ceritakan, pinjaman dari Bank Wakaf dipakai beli ini, ini, enggak boleh. Nggih?

Silakan, Bu. Terima kasih.

Siti
Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Terima kasih.

Oh, sebentar, sebentar, ini saya… Sebentar, ini, oh ini Ibu, monggo. Coba dicek. Monggo. Ya, nggih. Ini tadi berdiri kan baru lima menit, fotonya sudah jadi. Ini. Saya hanya ingin menunjukkan ini yang namanya kerja cepat. Jadi Ibu juga kalau dapat bantuan pinjaman itu ngangsurnya yang cepat sehingga nanti dapat dipercaya lagi membesarkan  usaha. Nggih? Silakan, Bu. Terima kasih. Oh, ini selain foto, dapat tambahan lagi sepeda, sudah, meniko sepedane. sudah. Langsung diambil saja, sepedanya ambil satu-satu. Pun, langsung pendet, nggih.

Pak Kiai, Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati, saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Maka dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya resmikan Bank Wakaf Mikro APIK Kaliwungu dan Bank Wakaf Mikro Al Fadllu Kendal, Jawa Tengah.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

 

 

Sambutan Terbaru