Pembangunan Jalan Layang Kereta Api pertama di Luar Pulau Jawa dan Reaktivasi Jalur Kereta Api Binjai – Besitang

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 4 Maret 2016
Kategori: Opini
Dibaca: 122.878 Kali

foto benniBenni Kusriyadi, S.ST Staf di Kedeputian Bidang Kemaritiman

Indonesia mempunyai empat jaringan kereta api yang satu sama lain terpisah, yaitu satu di Jawa dan tiga di Sumatera. Dan saat ini sedang dibangun jaringan kereta api di Sulawesi. Beberapa jaringan yang ada hanya track tunggal dan tidak bertenaga listrik. Komoditi yang biasanya diangkut dengan kereta api adalah batu bara, bahan bakar, bahan kimia, semen, dan bahan dasar lainnya.

Angkutan Kereta Api cukup efisien untuk mengangkut barang dengan volume yang besar dan dapat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas jalan raya (karena mengurangi jumlah truk). Namun demikian, angkutan kereta api harus didukung dengan angkutan moda lainnya, seperti truk, karena aksesibilitasnya yang terbatas.

Sesuai RPJMN Tahun 2015-2019 sebagai strategi dalam pengembangan kawasan strategis perlu dilakukan percepatan pembangunan konektivitas/infrastruktur di wilayah pertumbuhan, antar wilayah pertumbuhan serta antar wilayah koridor ekonomi atau antar pulau melalui percepatan pembangunan infrastruktur kereta api.

Tujuan penguatan konektivitas untuk:

  1. menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi untuk memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan melalui inter-modal supply chained system;
  2. memperluas pertumbuhan ekonomi dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah belakangnya (hinterland)
  3. menyebarkan manfaat pembangunan secara luas melalui peningkatan konektivitas dan pelayanan dasar ke daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan.

Upaya pembangunan konektivitas tersebut antara lain akan membangun 3.258 kilometer jalur kereta api termasuk dalam program pembangunan jalur kereta api Trans Sumatera dari Provinsi Aceh hingga Lampung.

Sesuai RPJMN tahun 2015-2019 tersebut perlu percepatan pembangunan infrastruktur yang diprioritaskan pengembangan wilayah di Sumatera Utara sebagai kegiatan strategis jangka menengah nasional dengan pembangunan Reaktivasi jalur KA antara Binjai – Besitang yang peruntukannya untuk mengangkut barang dan penumpang.

Kehadiran Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2016 dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, telah melakuan groundbreaking pembangunan jalan layang kereta api di kota Medan antara Stasiun Medan – Stasiun Bandar Khalipah dan meninjau pekerjaan reaktivasi jalur kereta api trans sumatera antara Stasiun Binjai dan-Stasiun Besitang.

Saat ini perkembangan reaktivasi Jalur Kereta Api Binjai-Besitang dapat disampaikan sebagai berikut:

  1. Kondisi eksisting jalur kereta api lintas Binjai-Besitang sebagian besar masih menggunakan rel R.25 (Rel 25 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 25 kilogram (kg)) bantalan kayu peninggalan Belanda. Lintas ini sudah tidak aktif lagi sejak Agustus 2013 dikarenakan kondisi konstruksi jalan rel dan bangunan lain (jembatan, gedung stasiun dan fasilitasi operasi) sudah tidak laik lagi baik dari segi teknis maupun dari segi keselamatan.
  2. Reaktivasi jalur kereta api Binjai – Besitang sejauh 80 km diharapkan pemasangan rel selesai pada tahun 2016, penggantian rel semula R.25 menjadi rel R.54, dan dapat dioperasikan pada tahun 2018. Dari total panjang jalur Binjai-Besitang 80 kilometer, saat ini baru mencapai Medan-Binjai sejauh 50 kilometer.
  3. Pemerintah Daerah Sumatera Utara siap mensosialisasikan masalah perlintasan dan membantu pembebasan masalah lahan milik warga agar bisa digunakan untuk pembangunan rel kereta api menuju Besitang.
  4. Anggaran pembangunan rel sebesar Rp 454 miliar yang bersumber dari dana APBN tahun anggaran 2015, sedangkan pendanaan yang dianggarkan pada tahun 2016 sebesar Rp.125 miliar.
  5. Tindak lanjut pembangunan reaktivasi jalur tersebut sampai saat ini kondisinya sudah sesuai rencana yaitu pembangunan badan jalan kereta api sepanjang 69,50 km; pemasangan rel R.54 sepanjang 55 km; pembuatan Box Culvert sebanyak 25 buah; dan pemasangan pintu perlintasan sebanyak 2 lokasi.

Jalan Layang Kereta Api pertama di Luar Pulau Jawa

Selain pembangunan reaktivasi jalur Kereta Api Binjai dan Besitang, juga akan dibangun Jalan Layang Kereta Api antara Medan-Bandar Khalipah Lintas Medan-Kualanamu, yang telah diresmikan pembangunannya oleh Presiden pada tanggal 2 Maret 2016 bertempat di Stasiun Kereta Api Binjai dan direncanakan dapat beroperasi pada tahun 2018. Pembangunan jalan layang kereta api tersebut akan menghilangkan 9 (sembilan) perlintasan sebidang di dalam kota Medan, menambah kapasitas lintas dan frekuensi, meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan penggunan jalan raya, serta mempercepat waktu tempuh.

Kementerian Perhubungan sebagai instansi yang membidangi transportasi telah menerbitkan surat Menteri Perhubungan Nomor:KU.003/7/1. Phb.2015 tanggal 13 Oktober 2015 perihal Usul Multiyears Contract tahun anggaran 2015-2017 Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Utara, beserta lampirannya bahwa:

  1. Dalam upaya peningkatan pelayanan transportasi perkeretaapian, Kementerian Perhubungan akan melaksanakan Pembangunan Jalan Kereta Api Layang Antara Medan-Bandar Khalipah dengan Multiyears Contract tahun anggaran 2015-2017;
  2. Pelaksanaan pembangunan jalan layang kereta api antara Medan-Bandar Khalipah membutuhkan waktu 25 (dua puluh lima) bulan dengan sumber dana SBSN (surat berharga Syariah Negara) dn total kebutuhan anggaran untuk pelaksanaan pekerjaan sebesar Rp. 2.860.000.000.000,-

Target penyelesaian pembangunan jalan layang KA selama 3 (tiga) tahun anggaran dengan tahapan pelaksanaan direncakan sebagai berikut:

Pekerjaan TA 2015:

  1. Persiapan lahan rencana lokasi pelaksanaan struktur jalan layang KA, lokasi gedung depo, lokasi stasiun baru berupa kegiatan pembersihan lahan, pengukuran dan persiapan akses ke lokasi;
  2. Secara bersamaan dilakukan penataan jalur KA eksisting dilintas raya dan emplasemen Medan.
  3. Kesiapan detail desain untuk mendukung pelaksanaan konstruksi dan rencana operasional secara menyeluruh seperti desain konstruksi depo.
  4. Selanjutnya pelaksanaan konstruksi pondasi struktur jalan layang KA, secara bersamaan dilakukan pembuatan struktur bangunan atas (box girder dipabrik), pengadaan material impor seperti pot bearing/dudukan box girder, material persinyalan dan telekomunikasi.

Pekerjaan TA 2016:

  1. Lanjutan pelaksanaan konstruksi struktur jalan layang KA;
  2. Memulai konstruksi stasiun baru, konstruksi depo, equipment room/ER dan substation;
  3. Pengadaan dan pemasangan struktur bangunan atas (box girder);
  4. Pengadaan material impor untuk bearing/dudukan box girder, material persinyalan dan telekomunikasi;
  5. Memulai pemasangan jalan rel, instalasi persinyalan dan telekomunikasi;

Pekerjaan TA 2017:

  1. Lanjutan pemasangan jalan rel dan uji coba/switch over;
  2. Penyelesaian konstruksi stasiun baru, konstruksi depo, ER;
  3. Penyelesaian instalasi persinyalan dan telekomunikasi dan commisioning.

Selain pembangunan jaringan kereta api tersebut di atas, di Pulau Sumatera dalam rencana pengembangan jaringan dan layanan perkeretaapian 2015-2019 akan dilakukan pembangunan yaitu:

  1. Reaktivasi 3 jalur kereta api (Binjai-Besitang, Pelabuhan Panjang-Bukit Tinggi-Payakumbuh, Muaro Kalaban-Muaro);
  2. pembangunan jaringan kereta api akses ke-4 bandar (Medan, Padang, Palembang, Batam);
  3. Akses ke-8 pelabuhan (Lhokseumawe, Belawan, Dumai, Tanjung Api-api, Teluk Bayur, Panjang, Bekauheni, Kuala Tanjung);
  4. Kereta Api perkotaan/regional di 5 lokasi (Medan/Mebidangro, Padang, Palembang, Lampung, Batam)
  5. Meneruskan upaya menghubungkan lintas utama Pulau Sumatera (Aceh-Sumatera Utara-Riau-Sumatera Barat, Lampung, Sumatera Selatan-Bengkulu).

Dengan kedua pembangunan jalur kereta api di Sumatera Utara, merupakan komitmen pemerintah dalam memajukan infrastruktur transportasi. Infrastruktur dan jaringan transportasi terintegrasi dapat meningkatkan kelancaran arus barang dan penumpang secara efisien dan efektif yang merupakan bagian dari konektivitas domestik yang diharapkan mampu menghubungkan masyarakat pedesaan, perkotaan (kota, kabupaten, dan propinsi), pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di dalam satu pulau atau suatu kawasan, Dengan kondisi ini diharapkan daya saing produk nasional meningkat, serta kebutuhan bahan pokok dan strategis masyarakat dapat dipenuhi dengan jumlah yang sesuai dan harga terjangkau.

Selain itu, pembangunan tersebut dapat menggunakan bahan baku lokal dari industri nasional sehingga bisa menggairahkan industri perkeretaapian nasional dan menyerap tenaga kerja lokal serta memberi efek domino yang pada aktivitas ekonomi disuatu daerah dan yang akan mendorong kreativitas dan inovasi warga masyarakat dalam usaha skala kecil dan menengah sehingga masyarakat lokal tidak hanya pasif menerima pembangunan kereta api namun aktif untuk mencari peluang ekonomi dari manfaat pembangunan tersebut. Oleh karena itu proyek pembangunan jaringan kereta api perlu dukungan dari seluruh pihak dan komponen masyarakat Indonesia agar dapat menyelesaikan pembangunan yang merata bagi seluruh Indonesia

Opini Terbaru