Pemberian Nomor Induk Berusaha Kepada UMK (Usaha Mikro dan Kecil) Perseorangan, di GOR Toware (HMS), Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, 31 Agustus 2022

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 31 Agustus 2022
Kategori: Sambutan
Dibaca: 721 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom.

Yang saya hormati para menteri yang hadir, Pak Menteri Investasi, Pak Bahlil Lahadalia, beliau ini asli Papua. Dari mana, Pak? Fakfak, dari Fakfak, tapi rumahnya di Jayapura sekarang. Pak Menteri UMKM (Koperasi dan UKM) Teten Masduki, Pak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan yang terakhir Menteri BUMN Pak Erick Thohir. Sorak-sorak, sudah kenal sama Pak Erick? Senang sama Pak Erick? Berdiri, Pak Erick. Jajaran Forkopimda, bupati dan wali kota yang hadir, Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri), Ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), Bapak-Ibu sekalian seluruh pelaku UMKM yang saya hormati.

Mohon maaf, saya masih pakai kaus karena tadi baru membuka dan ikut main sepak bola. Belum sempat ganti pakaian, karena langsung katanya, ”Di pasar sudah, Pak. Sudah terlambat di pasar, ke pasar di Sentani.” Kemudian, meluncur ke sini. Jadi setelah membuka yang namanya Papua Football Academy, telah dibuka di Papua. Jadi kalau ada putra-putri Ibu ingin main sepak bola, masukkan ke Papua Football Academy. Yang daftar kemarin 477 (orang), yang diterima hanya 30 (orang). Ya karena diseleksi, dipilih, tidak semua orang boleh masuk, semua anak boleh masuk, ndak. Semua harus pakai proses seleksi.

Yang kedua, saya senang setelah di Jakarta, kemudian NIB (Nomor Induk Berusaha) di luar Jawa yang pertama dilakukan di tanah Papua, di Jayapura. Karena saya tahu menterinya dari Jayapura, saya tahu.

Kita tahu 61 persen PDB (Produk Domestik Bruto) ekonomi, perputaran ekonomi Indonesia ini digerakkan oleh UMKM 61 persen. Hampir 97 persen urusan pekerja, ketenagakerjaan itu juga atas kontribusi UMKM kita yang berjumlah kurang lebih 64 juta lebih sedikit. Tetapi tadi Pak Menteri Investasi menyampaikan, yang memiliki NIB, yang telah didorong oleh Kementerian Investasi baru 1,8 juta. Artinya, yang lain belum memiliki NIB, belum memiliki NIB. Oleh sebab itu, Bapak-Ibu beruntung telah memiliki NIB. Coba diangkat lagi NIB-nya. Saya pengin tahu bahwa betul-betul memang sudah disampaikan, sudah diberikan ke Bapak-Ibu sekalian. Benar, sudah semua? Sudah? Coba saya hitung dulu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,… 2.700, betul.

Apa gunanya setelah dapat NIB, apa gunanya? Bapak-Ibu menjadi pengusaha formal karena telah memiliki izin yang namanya Nomor Induk Berusaha (NIB) seperti ini. Terus kalau sudah pegang ini, untuk apa? Bapak-Ibu bisa akses permodalan ke bank, minta yang namanya KUR (Kredit Usaha Rakyat).

Saya dulu ingat pertama kali berusaha, saya pinjam Rp30 juta ke bank. Tapi bunganya enggak kayak KUR sekarang, bunganya mahal dulu. KUR sekarang bunganya berapa? Tiga persen, tapi itu disubsidi pemerintah loh, bukan dari bank. Itu disubsidi oleh pemerintah supaya usaha mikro, usaha kecil kita bisa berkembang dengan cepat.

Jadi segera, segera manfaatkan yang namanya NIB ini, kemudian akses ke permodalan yang namanya KUR. Tapi saya titip, hati-hati, yang namanya pinjam ke bank itu hati-hati, harus dikalkulasi, harus dihitung yang detail. Jangan sampai keliru ngitung, karena itu bukan duit Bapak-Ibu semuanya. Itu duitnya bank yang harus dikembalikan, yang harus dicicil, yang harus diangsur setiap bulannya. Kalau ngitung kira-kira enggak masuk, enggak usah pinjam. Dihitung, masih untung, bisa mengangsur, silakan pinjam.

Kalau sudah pinjam, hati-hati. Pinjam dapat Rp50 juta, jangan sekali-sekali separuhnya untuk beli sepeda motor. Atau pinjam Rp200 juta, Rp100 juta-nya untuk beli mobil. Sekali-kali jangan dipakai yang namanya uang bank itu untuk beli barang-barang kenikmatan dan kemewahan seperti itu, ndak. Harus semuanya untuk modal kerja, semuanya untuk modal investasi, semuanya untuk modal usaha, 100 persen dipakai.

Nanti kalau dapat keuntungan, sisihkan, tabung. Wah, pengin beli mobil, sisihkan sebulan, untung Rp2 juta sisihkan, untung Rp3 juta sisihkan, untung Rp4 juta sisihkan. Kalau cukup silakan mau beli mobil, silakan. Tapi jangan pakai yang namanya pinjaman pokok bank itu dipakai untuk beli mobil, beli sepeda motor atau beli TV, atau beli yang lain-lain. Ndak, saya titip itu aja.

Karena teman-teman saya dulu, saat saya masih UMKM, banyak yang jatuh dan enggak bisa bangun karena keliru ngitung, kemudian pinjam untuk beli mobil. Senangnya hanya enam bulan, beli mobil senengnya hanya enam bulan, enggak bisa menyicil bank, enggak bisa menyicil ke dealer ya. Mobilnya diambil, banknya juga bermasalah. Jangan seperti itu. Sekali lagi, gunakan pinjaman bank itu untuk semuanya total modal usaha, modal kerja, modal investasi.

Saya senang tadi melihat beberapa produk yang ada di depan, packaging-nya sudah bagus, kemasan bagus, produknya juga bagus. Kaget betul, bahwa di Papua produknya sudah sebagus itu dengan kemasan yang baik. Ada kopi, ada jus nanas, ada abon tuna, macam-macam.

Tolong masukkan itu ke platform digital, ke ekosistem digital. Gunakan itu, sehingga berjualannya tidak hanya di tanah Papua, tapi bisa melompat ke luar Provinsi Papua, bisa melompat ke Jawa, bisa melompat ke pulau-pulau yang lain, bisa melompat ke luar negara. Karena saya lihat tadi, saya melihat peluang untuk itu besar sekali. Karena kemasannya sudah baik, packaging-nya baik, branding-nya baik, namanya juga keren, diberi nama produknya bagus-bagus.

Jangan dijual di sini saja, tapi melalui platform digital. Kalau mau ini dulu, ya jualan lewat Facebook boleh, jualan lewat IG boleh. Tapi kalau bisa masuk ke platform-platform e-commerce, saya enggak menyebutkan namanya, banyak sekali. Saya kira, produk-produk yang seperti yang saya lihat tadi akan cepat penjualannya dan sangat laku.

Saya rasa, itu yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Menteri dan kita harapkan perbankan, PNM (Permodalan Nasional Madani) dan semua lembaga-lembaga keuangan, karena Bapak-Ibu sudah pegang NIB, bisa memberikan peluang untuk UMKM di tanah Papua ini masuk ke sistem keuangan, sistem perbankan yang kita miliki. Saya tutup. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga Tuhan memberkati kita semuanya.
Terima kasih.

Sambutan Terbaru