Pembinaan Petani dan Penyuluh  se-Jawa Tengah di Alun-alun Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, 13 Desember 2023

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 13 Desember 2023
Kategori: Sambutan
Dibaca: 447 Kali

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Pembinaan Petani dan Penyuluh  se-Jawa Tengah, 13 Desember 2023

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Menko PMK Bapak Profesor Muhadjir yang hadir bersama saya, Bapak Menteri Pertanian Pak Amran dan juga Pak Panglima TNI, Gubernur Jawa Tengah, Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pekalongan, pimpinan dan anggota DPR RI yang hadir serta DPRD,
Yang saya hormati para Babinsa, sekali lagi para Babinsa, nanti kalau saya panggil yang lain juga ikut kayak Babinsa ya, teriak semangat begitu loh,
Para PPL Jawa Tengah yang hadir, gitu semangat,
Para petani yang hadir, petani perhutanan sosial yang hadir, kok dikit,
Para pengecer pupuk, banyak sekali pengecer pupuk ternyata.
Siapa lagi yang belum? Petani milenial, sedikit tapi teriaknya kencang.
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati.

Untuk pengantar perlu saya sampaikan bahwa dunia sekarang ini sedang krisis pangan. Krisis karena pandemi belum selesai, memperbaiki ekonomi belum selesai, masuk ada perubahan iklim, sehingga ada gelombang panas yang panjang yang menyebabkan banyak gagal panen. Di semua negara sekarang ini terjadi krisis pangan, harga pangan yang naik, semua negara. Ditambah lagi karena perang, yang pertama perang di Ukraina antara Rusia dan Ukraina, yang kedua perang di Gaza antara Palestina dan Israel.

Kelihatannya perangnya jauh di Ukraina, saya dulu juga enggak membayangkan bahwa dampaknya akan sampai ke sini, khususnya untuk petani. Kenapa seperti itu? Perang di Ukraina antara Rusia dan Ukraina, kenapa berdampak pada petani? Karena lima pabrik pupuk yang kita miliki, lima industri pupuk yang kita miliki, bahan bakunya itu dari Rusia dan Ukraina. Karena perang, kapalnya tidak bisa membawa bahan pupuk untuk berlabuh ke semua negara. Tidak hanya Indonesia. Sehingga harga pupuknya menjadi langka dan harganya naik, ada problem di sana, supaya kita semuanya tahu ini ada permasalahan apa.

Nanti kalau perang di Gaza tidak cepat-cepat selesai, apalagi nanti melibatkan juga Lebanon karena di situ ada Hizbullah, dengan Yaman di situ ada Houthi, dengan Suriah di situ ada ISIS, perang ditambah lagi dengan Iran, Bapak-Ibu bisa bayangkan perang akan membesar. Itu yang tidak kita harapkan. Karena kalau perang sampai merembet ke negara-negara lain, akibatnya apa? Ini adalah daerah penghasil minyak, kalau perang berarti produksi minyak enggak ada. Kalau produksi minyak enggak ada, artinya pasokan ke pasar menjadi berkurang. Kalau pasokan ke pasar menjadi berkurang, artinya harga minyak naik. Kalau harga minyak naik, artinya juga harga BBM naik. Kalau harga BBM naik, semua harga pasti akan naik. Ini yang kita berdoa bersama, jangan sampai kejadian seperti itu terjadi. Nggih, dongo nggih sareng-sareng nggih.

Dan kita ini alhamdulillah, negara kita ini alhamdulillah setelah pandemi COVID-19, negara lain yang nggulingmenjadi pasiennya IMF itu ada 96 negara. Ekonominya runtuh, 96 negara menjadi pasien IMF. Kita ini termasuk di dunia ini masuk, selalu masuk lima yang paling baik ekonominya. Ini yang patut kita syukuri dan terus kita jaga dan kita rawat agar ekonomi kita tetap stabil dan meningkat lebih baik.

Kembali ke urusan petani sekarang. Tadi disampaikan oleh Pak Menteri Pertanian, urusan pupuk, Pak Mentan tadi sudah menyanggupi, pupuk 2024, 2023 akhir dan 2024 awal, beliau akan kontrol terus agar tidak ada masalah di lapangan. Subsidi pupuknya, subsidi pupuknya akan saya tambah, karena suplai pupuknya juga ada. Berapa? Nanti akan saya umumkan, kalau saya sudah ketemu Menteri Keuangan. Sebentar, semuanya itu dihitung, kurangnya berapa, itu yang akan saya minta untuk diselesaikan oleh Menteri Keuangan. Pak Mentan ngitung dulu, memang prosedurnya seperti itu, minta persetujuan dari DPR RI, baru Menteri Keuangan bisa menambah. Tapi, saya janji pupuk akan ditambah subsidinya. Urusan pupuk.

Karena saya, saya ini mengerti Pak Menteri Pertanian itu juga bekas PPL, saya juga tiap hari masuk ke sawah, ke desa untuk bertanya kepada petani, problemnya memang di tahun-tahun terakhir ini memang semuanya mengeluhkan para petani urusan pupuk. Bener ya? Ada yang masalah pupuknya tidak bermasalah? Tunjuk jari, saya beri sepeda. Urusan pupuk akan menjadi fokus Menteri Pertanian dan akan kita selesaikan. Setuju?

Yang kedua, ini dengan para pengecer pupuk. Ini urusan kemarin kalau mau beli pupuk harus menunjukkan Kartu Tani. Saya sudah menyetujui untuk pembelian pupuk asal di KTP-nya itu ada tulisan petani silakan itu dipakai. Jadi bisa pakai Kartu Tani, bisa memakai juga KTP. Tapi jangan sampai KTP-nya nanti di sini tertulis pengusaha, beli pupuk. Hati-hati. Atau di sini tulisannya ASN, cari pupuk. Juga enggak bisa. Artinya memakai KTP, ya itu tulisan pekerjaannya petani. Setuju? Pengecernya setuju? Karena kita ingin meningkatkan produksi pangan kita, kalau nanti produksinya melimpah, ini pas untuk para petani senang. Pas harga beras, harga gabah itu pada posisi yang tinggi. Benar? Tahun yang lalu atau dua tahun yang lalu harganya masih 4200-4.300. Hari ini harganya 7.300-7.800 saya muter. Petani senang, ndak? Senang ndak? Harganya kan baik. Jadi mestinya meningkatkan produksi sebaik-baiknya. Kalau biasanya satu hektare 5,2 (ton), tingkatkan menjadi di atas 6 (ton), sehingga secara keseluruhan di seluruh tanah air nanti produksinya akan melompat naik.

Oleh sebab itu, saya minta kepada para PPL, kepada para Babinsa agar mendampingi para petani betul-betul, baik urusan pas nanamnya, bibitnya, pupuknya nanti pas panennya betul-betul diikuti dan diarahkan. Sehingga, sekali lagi, produksi beras kita nanti bisa meningkat dengan baik.

Yang kedua, yang berkaitan dengan ini harganya juga naik, yaitu cabai. Apa sulit sih menanam cabai? Sulit? Sulit karena hama atau karena bibit? Itu saya minta para PPL di tempat-tempat, di wilayah-wilayah yang memungkinkan untuk cabai rawit atau cabai itu bisa ditanam dengan baik, tolong ditingkatkan produksinya, dilebarkan juga tanamannya, sehingga jangan sampai cabai rawit harganya kemarin sampai harga 100.000, meskipun hari ini saya tanya Pak Gubernur tadi sudah di angka 80.000.

Saya rasa, itu yang ingin saya sampaikan.

Yang petani coba tunjuk jari. Coba ini untuk para petani dulu, yang hapal Pancasila tunjuk jari. Ini petani lho, saya cek nanti. Ya boleh yang pakai topi boleh maju, tasnya dibawa juga enggak apa-apa. Sebentar ini kok ganteng banget petan,  ini benar enggak ini? Silakan dikenalkan nama.

Budi Purwanto (Petani)
Perkenalkan nama saya Budi Purwanto, biasa dipanggil Budipur dari Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dari Cilacap. Nanamnya apa, Pak?

Budi Purwanto (Petani)
Jagung, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Per hektare bisa berapa ton sekarang jagung?

Budi Purwanto (Petani)
Per hektare paling itu satu hektare satu lontrong sekitar 6 kwintal Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enam ton atau 6 kwintal? Enggak, karena tidak semua petani memiliki lahan hektare-an.

Budi Purwanto (Petani)
Karena itu kan ditumpang sari Pak, jadi sudah kepotong tanaman karet.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jagung sekarang 1 kilo dijual berapa Pak?

Budi Purwanto (Petani)
Kemarin terakhir itu 5.700.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus ongkos untuk menanamnya berapa?

Budi Purwanto (Petani)
Ongkos untuk tanamnya itu setengah hari 50.000.

Presiden RI (Joko Widodo)
Maksudnya ongkos totalnya. Satu kilo kan harganya 5.700, itu kalau 5.700 per kilo itu ongkos (ongkos tanam, ongkos memelihara, ongkos pupuk) itu berapa kira-kira? Separuhnya?

Budi Purwanto (Petani)
Lebih Pak, karena obat-obatannya juga…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya sudah, sini-sini, langsung Pak Budi Pur, Pancasila satu…

Budi Purwanto (Petani)
Pancasila: satu, Ketuhanan Yang Maha Esa; dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; tiga, Persatuan Indonesia; empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; lima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sepedanya diambil.

Budi Purwanto (Petani)
Makasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Biar ke tempat duduknya tadi, enggak apa-apa dibawa. Tasnya tadi malah ketinggalan. Jangan diarah-arahkan nanti malah bingung nanti.

Yang kedua, masih ada satu sepeda. Yang bukan petani silakan, pengecer pupuk boleh, PPL boleh, Babinsa boleh. Pertanyaannya belum kok sudah tunjuk jari. Sama lagi saja, yang hafal Pancasila tunjuk jari, Babinsa boleh tunjuk jari boleh. Silakan dikenalkan dulu nama.

Sugiono (Babinsa)
Nama Sugiono pangkat Sersan Kepala NRP 31990535820180 Babinsa Desa Kemadu Kecamatan Solang, Kabupaten Rembang, Kodim 0720/Rembang Korem Makutarama, Salatiga.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Sugiono dari Kabupaten Rembang, ini kalau dampingi nanti dampingi petani yang diarahkan apanya sih?

Sugiono (Babinsa)
Siap, sistem tanamnya, sama pengecer pupuk biar dilaksanakan sesuai dengan SOPnya. Biar tidak terjadi pelanggaran.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya petani, ya kan. Bapak memberikan arahan dan bimbingan kepada saya, misalnya seperti apa?

Sugiono (Babinsa)
Mohon izin. Monggo, Bapak-Bapak. Ingkang badhe tumbas pupuk ngagem Kartu Tani, karena menawi mboten ngangge Kartu Tani, mboten saget.

Presiden RI (Joko Widodo)
Tadi sudah KTP boleh. Terus kalau sudah, gimana untuk mengarahkan petani menanamnya seperti ini sudah ada semuanya SOP-nya?

Sugiono (Babinsa)
Siap sudah ada. Kemarin saya pernah kursus.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh sudah dikursus untuk gimana cara menanam, gimana cara mupuk, gimana cara panen, semuanya, cara merawat?

Sugiono (Babinsa)
Siap, satu bulan di Wonogiri dilatih sama bapak PPL.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oke berarti bener. Tanya apa lagi ya. Ya oke langsung Pak Sugiono, Pancasila, satu…

Sugiono (Babinsa)
Pancasila: satu, Ketuhanan Yang Maha Esa; dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; tiga, Persatuan Indonesia; empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; lima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Silakan diambil sepedanya.

Masih ada? Sepedanya habis. Ya sudah PPL, coba PPL, sepedanya nanti saya kirim saja, besok pasti sudah sampai ke rumah, sepedanya hanya bawa dua. PPL tunjuk dari PPL, ya ibu-ibu PPL maju, yang hitam. Silakan dikenalkan dulu.

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Sinta Kristiana, Penyuluh Pertanian dari Kabupaten Purbalingga.

Presiden RI (Joko Widodo)

Bu Sinta kalau mengarahkan para petani, membimbing para petani itu sulitnya apa sih atau enggak sulit atau mudah atau?

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Sulitnya untuk mengarahkan petani mungkin dengan pemikiran yang nuwun sewu untuk petani kan kebanyakan sepuh-sepuh nggih Pak, ibaratnya yang muda-muda ini milenial kalau yang sepuh-sepuh nuwun sewu kolonial. Jadi kan mengubah dari untuk mengaplikasikan teknologi baru itu butuh proses adaptasi.

Teknologi baru itu apa misalnya apa, teknologi baru apa? Teknologi tanam?

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Misalkan untuk penanaman padi jajar legowo seperti itu, mereka masih kalau misalkan ada plong-plong kayak gitu eman-eman ini lahannya kalau tidak ditanami kayak gitu Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh ngoten. Kalau mengarahkan, membimbing petani agar mau menanam, misalnya padinya jenis tertentu inpari gitu sulit enggak sih? Mengubah, misalnya dari jenis yang sebelumnya ke jenis yang baru, sulit?

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Itu kan tergantung juga dari lahannya ya Pak, tanahnya kadang kalau di tempat kami kan kebanyakan lahan kering, kemudian sawahnya itu tadah hujan kayak gitu. Jadi memang varietas khusus kaya gitu Pak. Terus kemudian kalau untuk mengarahkan paling yang paling baik kita dengan demplot, jadi percontohan agar petani itu melihat sendiri dan bisa mempraktekkan langsung.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jadi yang paling cepat untuk mengajari mereka buat demplot, buktinya ada nanti hasil panennya juga ada, sehingga ada buktinya begitu?

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Nggih Pak.

Presiden RI (Joko Widodo)
Nggih, nggih, nggih. Pinter banget PPL-nya. Langsung saja Pancasila, satu…

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Pancasila: satu, Ketuhanan Yang Maha Esa; dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; tiga, Persatuan Indonesia; empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; lima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terima kasih, Bapak-Ibu sudah membantu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bapak-Ibu jangan meremehin enggak bisa. Bisa, Bu Sinta ini bisa, waktu di kursi bisa, gampang, begitu sudah di sini dekat saya hilang semua.

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Nge-blank Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Langsung blank semuanya. Enggak percaya, silakan maju. Silakan dicatat sepedanya nanti saya kirim besok sudah sampai.

Sinta Kristiana (Penyuluh Pertanian Lapangan)
Nggih Pak, matur nuwun Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya rasa itu Bapak-Ibu sekalian, kita semuanya bertekad agar produktivitas gabah, padi, dan beras di Jawa Tengah tahun depan sudah meningkat dan surplus, sehingga seluruh petani sejahtera. Saya rasa itu yang ingin saya sampaikan. Dan nanti kalau ada, masih ada keluhan-keluhan mengenai urusan pupuk, urusan bibit, tolong disampaikan kepada PPL, atau kepada bupati, atau juga kepada gubernur, dan atau juga kepada Menteri Pertanian.

Saya rasa itu yang ingin saya sampaikan.

Terima kasih, saya tutup.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru