Pembukaan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2018 and 2019 Price Outlook, 29 Oktober 2018, di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Bali  

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 Oktober 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.824 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, Gubernur Bali,
Ketua Umum dan seluruh jajaran pengurus GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia),
Yang saya hormati para pelaku dan stakeholders industri kelapa sawit,
Para anggota delegasi dari negara-negara sahabat,
Hadirin yang berbahagia.

Senang sekali saya bisa hadir di sini pada sore hari ini. Dan saya yakin banyak orang yang tidak tahu bahwa yang kita pakai dari ujung rambut sampai ujung kaki itu bahan bakunya banyak yang berasal dari kelapa sawit. Sampo, urusan sampo ini kan di atas, itu dari kelapa sawit. Sabun juga dari atas sampai bawah juga dari kelapa sawit. Nah ini Ibu-ibu, lipstick Ibu-ibu yang ada di sini itu juga sebagian juga menggunakan minyak dari kelapa sawit. Semuanya dari sawit. Ada yang suka makan es krim, itu juga sebagian bahan bakunya dari minyak kelapa sawit.

Ini membanggakan karena Indonesia adalah, kita harus tahu, Indonesia adalah produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia. Artinya Indonesia adalah produsen terbesar bahan yang dipakai banyak orang di dunia, dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Tadi sudah disampaikan oleh Pak Ketua GAPKI, produksi kita sekarang per tahun sudah mencapai 42 juta ton. Itu kalau dinaikkan truk berapa ratus ribu truk, enggak ngerti saya. 42 juta ton. Kalau satu truk yang kecil, itu empat ton berarti kan berapa juta truk yang dihasilkan dari kebun-kebun kelapa sawit kita. Ini untuk membayangkan bahwa menjual sebanyak 42 juta ton itu tidak mudah.

Saya pusing kalau sudah mulai masuk ke telinga saya, “Pak, ini harga kelapa sawit turun”, dipikir saya tidak ikut pusing. Pusing saya itu juga. Supaya tahu saja, saya kirim Menteri ke Uni Eropa, kirim Menteri ke Perancis, kirim Menteri ke Belgia, enggak tahu sudah berapa puluh kali untuk urusan agar kita tidak diboikot pasar kita di Uni Eropa, di EU.

Saya ketemu dengan Perdana Menteri, ketemu dengan Presiden, juga saya sampaikan, “jangan gitu dong, masak kelapa sawit kita dihentikan”. Saya kalau… “awas nanti saya tidak beli pesawat dari negaramu”,  saya begitukan. Iya dong. Dia tidak beli kelapa sawit kita, kita tidak beli pesawat dari dia juga. Kebutuhan pesawat kita juga banyak kok. “Jangan main-main,” saya begitukan. Tapi harus mikir juga kan. Beliau-beliau itu mikir kalau kita begitukan. Berapa kali saya. Karena, sekali lagi, 42 juta ton itu jumlah yang sangat besar sekali. Dan itu pasarnya pasar hampir 70 atau 80 persen itu ekspor, pasar dunia yang tidak bisa kita atur-atur. Kalau kita bisa atur, harga kita sekian. Kan belum bisa atur-atur kita, justru pasar yang atur-atur. Kalau dia lihat suplai kita kebanyakan, harga pasti langsung minta turun. Dia dengar produksi kita melimpah, pasti minta harganya juga turun.

Saya waktu ke kebun kelapa sawit petaninya menyampaikan kepada saya, “Pak, dibuat kebijakan agar harga kelapa sawit naik”. Enggak bisa negara membuat kebijakan untuk harga naik, itu enggak bisa, karena itu sudah harga pasar internasional. Sama seperti (harga) karet, juga sama, itu pasar dunia yang kita hadapi. Karena 42 juta ton itu gede sekali, gede sekali. Jangan membayangkan kalau hanya sekilo – dua kilo bisalah saya beli harga tinggi. Ini 42 juta ton. Bapak-Ibu coba bayangkan, saya ke kebun kelapa sawit yang lain, keluhannya sama.

Tapi sekali lagi saya sampaikan, ini pasar internasional, pasar global. Sehingga saya titip, bahwa moratorium yang kita lakukan ini agar produktivitas kita itu naik terlebih dahulu. Misalnya di petani, entah petani plasma atau petani yang independent, satu hektar itu kalau biasanya, saya enggak tahu bisa tiga atau empat ton, bisa naik menjadi enam ton. Yang sudah enam ton bisa naik menjadi sembilan ton. Enggak usah memperbesar lahan terus, menaikkan produktivitas dulu.

Oleh sebab itu, kenapa saya sampaikan mulai tahun kemarin, harus ada peremajaan (replanting), harus. Yang sudah tua-tua, sudah 25 tahun, 35 tahun, tinggi-tinggi kayak begitu masih enggak diremajakan bagaimana mau produksinya menjadi baik. Ganti yang muda-muda, harus dimulai (dari) petani. Sekarang sudah diberikan subsidi, saya enggak tahu, kan ini juga baru mulai tahun kemarin. Saya sudah langsung datang ke lokasi, misalnya di Banyuasin, di Serdang Bedagai, di Riau, saya datang sendiri. Tapi berjalan atau tidaknya ini juga saya masih belum lihat.

Saya ingin ada kecepatan. Jadi yang tinggi-tinggi sudah tua-tua segera diganti. Tapi enggak tahu prosedurnya… Ini Pak Kepala Badan ada enggak di sini? Enggak ada? Yang Komut BPDP, saya minta ini agar prosedurnya disederhanakan, jangan ruwet-ruwet. Petani biar segera dapat, saya minta bulan depan ini sudah cepat. Saya sudah dengar ini ruwet sekali. Sama seperti yang saya lihat di NTB, kita sudah nyerahin tabungan, saya pikir rakyat sudah dapat semuanya. Sudah dapat tabungannya, tapi mencairkannya sulit karena prosedurnya ada 17. Begitu saya bentak, jadi satu (prosedur) juga bisa nyatanya. Ini enggak tahu prosedurnya berapa, mau saya kejar. Ada berapa prosedurnya coba? Jangan banyak-banyak, satu prosedur saja cukup. Jangan banyak-banyak. Yang penting akuntabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Duit banyak sekali disimpan terus untuk apa, kembalikan ke petani untuk peremajaan. Secepat-cepatnya, secepat-cepatnya. Akan saya ikuti. Saya dengar-dengar, kuping saya itu ada di mana-mana, dengar… “Pak, ini belum jalan. Pak, ini prosedurnya ruwet, Pak”. Janganlah. Buat sesederhana mungkin sehingga bisa cepat petani mendapatkan dana itu. Kalau dapat satu hektar 25 juta kan segera bisa dipakai.

Yang kedua, saya juga minta Pak Menko Perekonomian agar kebun-kebun kelapa sawit petani ini segera disertifikatkan. Asal lahannya itu bukan lahan sengketa, sudah segera berikan sertifikatnya. Jangan, kayak kemarin kita di Banyuasin serahin sertifikat, di Serdang Bedagai juga serahin sertifikat, di Riau juga serahin sertifikat, tapi juga kurang cepat, kelamaan. Saya kalau sudah lama-lama, melihat saja capek saya. Apalagi yang menunggu, menanti. Iya ndak? Setuju ndak dipercepat? Siapa yang enggak setuju maju, saya beri sepeda yang enggak setuju. Aduh, sudah, sudah, inginnya cepat tapi… Yang dimarahi kan saya. Saya datang ke desa, marahnya ke saya. “Pak, bagaimana Pak, lama sekali Pak”. Ya kalau saya ngurus sendiri, langsung ini, ini, ini. Kalau saya gitu saja sudah, mau ngapain sih mau memberi sertifikat kepada rakyat saja kok lama-lama. Apa yang dicari itu.

Saya percaya yang hadir di sini semuanya cinta kelapa sawit, semuanya ingin produksi kelapa sawit terus bertumbuh. Dan saya juga ingin agar semuanya yang hadir di sini juga cinta lingkungan. Kita semua percaya, ingin memastikan bahwa kelapa sawit turut berperan dalam pencapaian SDGs, sesuai dengan  tema IPOC di 2018 ini.

Pada kesempatan yang baik ini saya titip, yang pertama maksimalkan kemajuan teknologi untuk praktik keberlanjutan industri kelapa sawit. Ini penting supaya yang namanya sawit tidak terus dikritik dari LSM, kiri, kanan, atas, bawah, depan semuanya mengkritik ini. Betul-betul soal keberlanjutan lingkungan itu diperhatikan. Contoh, mulai dari biji kelapa sawit harus terus dikembangkan yang unggul dengan teknologi supaya tahan hama, supaya buahnya berbuah lebih banyak. Mungkin ini urusannya STIPER dan lain-lain seperti ini, penelitian-penelitian seperti ini. Jangan kalah dengan tetangga kita, kalau tetangga kita, Malaysia, satu hektar katanya bisa sampai 12 (ton). Kita masih lima sampai delapan, kan separuhnya. Ya kejar lah, masak kita kalah, sama-sama pintarnya kok. Di sini kan banyak ahlinya yang jago-jago mengenai ini, saya lihat belum bergerak saja.

Yang kedua, minta diperhatikan juga, tadi sudah saya sampaikan, peremajaan kebun kelapa sawit ini dipercepat. Pak Menko, percepat. Cek prosedurnya betul, kalau terlalu banyak coret semua. Satu saja cukup lah prosedur itu, sudah. Masak ruwet prosedur mengurus pencairan uang saja kok… Yang penting sampai ke petani, yang penting juga peremajaan itu bisa segera dilaksanakan, karena kita ingin dengan peremajaan sawit ini kesejahteraan petani kebun sawit rakyat bisa kita tingkatkan.

Yang ketiga, perlunya peningkatan ekspor bagi para pelaku usaha. Saya kira ini kita memiliki potensi yang besar untuk ekonomi negara ini dalam memperoleh devisa. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Ketua, sekarang sudah mencapai USD21 miliar, itu kalau dirupiahkan hampir Rp300-an triliun lebih. Ini angka yang sangat besar sekali.

Kemudian pasar ekspor ini juga harus dikembangkan, jangan pasarnya hanya pasar Uni Eropa, pasar India. Cari pasar-pasar yang lain, ada Pakistan, ada Bangladesh, ada Iran, ada Afrika, saya kira banyak sekali, Asia Selatan. Terakhir waktu saya bertemu Perdana Menteri Li Keqiang dari Tiongkok, saya saat itu langsung, saya mengerti karena produksi lebih, saya minta saat itu, “Prime Minister, saya minta tambahan ekspor kelapa sawit kita untuk ke Tiongkok, ke China.” Langsung saat itu ditambah, dapat 500 ribu ton saat itu. Tapi masak Presiden jualan terus. Perusahaan-perusahaan dong muter. Muter marketing, muter jualan, biar stoknya yang ada di dalam negeri ini enggak banyak. Saya tahu stok sekarang ini banyak sehingga pembeli tahu sehingga harga sedikit turun. Hati-hati, stok kita dilihat orang. Begitu lihat stoknya banyak, harga pasti… otomatis pembeli pasti menurunkan harga. Enggak bisa disembunyikan. Sehingga jangan sampai pasar itu hanya negara-negara itu-itu saja, masih banyak negara lain yang bisa kita jual produk kita ini.

Kemudian yang keempat, ini untuk pengusaha, hilirisasi industri kelapa sawit ini betul-betul jangan jualan hanya CPO terus. Industrialisasi, hilirisasi, terutama yang berkaitan dengan produk ekspor ini betul-betul diperhatikan, sehingga ekspor kita bisa berupa barang jadi yang dikemas dengan baik.

Yang kelima, ini ke Pak Menko, dicek terus juga ini pemakaian atau percepatan implementasi B20. Ini sudah saya putuskan tahun kemarin, tapi pelaksanaannya masih mungkin… ya berjalan tapi tidak secepat yang saya inginkan. Sudah mulai tahun kemarin, sudah rapat bolak-balik. “Iya, Pak!”, “Iya, Pak!”, “Siap!”, “Siap!”. Siap, siap, kayak begitu saja. Praktiknya belum 100 persen. Saya tahu sudah ada yang 80 persen, ada yang 90 persen, tapi belum 100 persen. Ini kejar terus agar penggunaannya bisa 100 persen, sehingga stok CPO yang ada itu bisa diserap/digunakan kita sendiri. Ngapain kita harus impor minyak kalau dari kelapa sawit bisa kita gunakan untuk campuran biodiesel. Kalau pembeli tahu, “aduh, ini dipakai untuk B20 ini, stoknya pasti akan turun. aduh, harga pasti naik”. Mereka kan langsung… harganya juga otomatis naik. Ini kan trik-trik dagang seperti ini kan memang harus kita lakukan, kalau tidak ditekan terus… Ditekan ya kita gunakan sendiri kalau B20 ini berjalan. Ganti semua mesin-mesin, baik mesin mobil maupun mesin-mesin pembangkit listrik, semuanya pakai diesel, kapok mereka. Tapi ini perlu waktu. Tapi yang B20 ini mestinya bisa cepat.

Saya tadi pagi di pesawat juga sudah saya sampaikan ke Pak Menko, saya minta laporan B20-nya sampai mana. “Wah ini belum 100 persen, Pak”. Laporannya seperti itu tadi. Nanti hari Rabu mau kita rapatkan lagi, mau saya cek satu-satu, sudah sampai berapa persen ini, sampai berapa persen ini, sampai berapa persen, saya ikutin terus. Perintah pasti saya ikuti.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan terakhir, Pak Ketua, tadi hadiahnya tadi dari siapa tadi? Masak hanya 50 juta, omzetnya per tahun saja 300 triliun kok. Saya kira ini urusan kelapa sawit bukan puluhan triliun lho, ratusan triliun, 300 triliun. Kok hadiahnya 50 juta. Tadi kan saya buka, saya pikir, “oh, 50 juta.” Saya tambah lah, saya tambah. Pak Mensesneg, tambah dari kita ya. Tambah berapa? 100 juta? Tambah 100 juta ya. Nanti biar dari GAPKI-nya juga ditambah gitu lho. Kalau kita nambah kan GAPKI-nya malu. Aduh, ini Presiden menambah 100 ya pasti dari GAPKI-nya menambahkan lagi. Begitu.

Baiklah, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, sore hari ini resmi saya membuka IPOC ke-14 dan Price Outlook 2019.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru