Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII Tahun 2018, 7 Oktober 2018, di Arena Utama MTQ Nasional XXVII, Medan, Sumatra Utara

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 7 Oktober 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 3.000 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati yang mulia para alim ulama,
Yang saya hormati para pimpinan lembaga-lembaga negara yang hadir,
Yang saya hormati yang mulia para duta besar negara-negara sahabat,
Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Gubernur Sumatra Utara beserta Wakil Gubernur yang hadir,
Yang saya hormati Wali Kota Medan, Bupati Deli Serdang, beserta seluruh bupati dan wali kota yang hadir malam hari ini,
Yang saya hormati para peserta MTQ tingkat nasional dari seluruh tanah air, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,
Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kita bersyukur kehadirat Allah SWT karena atas karunia-Nya kita dapat menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-27 Tahun 2018. Shalawat dan salam marilah kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, beserta seluruh keluarga, sahabat, dan para pengikutnya, Insyaallah termasuk kita semuanya, hingga di akhir zaman.

Kita, bangsa Indonesia saat ini, khususnya masyarakat di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat sedang menghadapi ujian dan cobaan. Gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah telah menelan korban lebih dari 1.600 jiwa. Rentetan gempa bumi di Nusa Tenggara Barat sebelumnya juga menelan korban lebih dari 500 jiwa.

Kita semua tentu tak menginginkan musibah datang menghampiri kita, entah berupa bencana alam, penyakit, kecelakaan, atau musibah lainnya. Tapi musibah adalah ujian bagi orang-orang yang beriman. Islam mengajarkan kita untuk bersabar, berikhtiar secara maksimal dan juga berintrospeksi mawas diri dalam menghadapi setiap musibah. Rasulullah mengajarkan kepada kita ketika tertimpa musibah agar membaca doa, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah karuniakanlah kepadaku pahala pada musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya.

Oleh karena itu, saya mengajak bersama-sama kita mengirimkan Al Fatihah untuk korban bencana alam dan para keluarga yang selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan.

(Presiden RI dan semua undangan membaca surat Al Fatihah)

Hadirin-hadirat sekalian yang saya hormati,
Alquran sejak diturunkan pertama kali oleh Allah SWT sudah menjadi pedoman mulia bagi umat Islam untuk keluar dari fase penuh kegelapan,  fase dzulumat, fase jahiliah menuju fase nur, fase yang sangat terang. Al-Quran menjadi hudan lin naas wa bayyinatin minal huda wal furqan, yaitu sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan tentang yang hak dan yang batil. Bahkan Alquran menjadi sumber inspirasi bagi ulama dan akademisi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya menghadirkan kemajuan bagi kehidupan manusia.

Karena itu saya mengajak kita semuanya untuk memandang MTQ bukan hanya sebagai sebagai sebuah acara rutin,  bukan hanya sebagai lomba menang kalah dalam seni membaca Alquran. Saya mengajak kepada kita semuanya agar menjadikan MTQ sebagai suntikan energi bagi umat Islam Indonesia untuk membumikan Alquran dalam dunia nyata, membumikan Alquran dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim.

Saat Alquran di acara MTQ ini dibaca oleh para qura dengan tajwid dan lagu yang merdu, marilah kita juga merenungkan dan memahami maknanya. Dan bagaimana setelah itu kita menjalankan petunjuk dalam Alquran untuk memperkokoh akhlakul karimah, membangun kehidupan yang beragam, dan menerapkan ide-ide besar, ide-ide mulia dalam Alquran untuk kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia.

Hadirin sekalian,
Saya juga berharap agar MTQ Tingkat Nasional ini menjadi salah satu sumber kesejukan, menjadi sumber mata air melimpahnya ukhuwah kita, ukhuwah islamiah kita, ukhuwah wathaniyah kita, ukhuwah basyariyah kita. Hati kita seharusnya merasa damai setiap kali membaca Alquran, merasa tenteram setiap kali mendengarkan alunan ayat suci Alquran.

Perasaan damai dan tenteram itu harus kita rawat, harus kita tularkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya percaya dengan begitu tidak ada lagi yang namanya hoaks, yang namanya fitnah-memfitnah, caci-mencaci di antara sesama umat. Tidak ada lagi gesekan antarsesama saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air Indonesia, yang semua itu kadang terjadi hanya karena urusan kecil, hanya karena urusan beda pilihan politik, hanya karena ego kita.

Kita harus ingat bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yang menjadi berkah bagi alam semesta, yang membawa kebaikan bagi umat dan bagi Indonesia. Karena itu sebagai umat muslim kita harus menjaga kerukunan, menjaga persaudaraan, menjaga persatuan. Karena kerukunan, persaudaraan dan persatuan adalah kekuatan utama bangsa Indonesia untuk bergerak maju dan menjadi sumber energi bagi kita untuk mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Maka dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya resmi membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional yang ke-27 tahun 2018.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru