Pembukaan Rapat Kerja Nasional II Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tahun 2021, di Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan, Provinsi DKI Jakarta, 21 Juni 2022

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 21 Juni 2022
Kategori: Sambutan
Dibaca: 334 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semuanya,
Shalom,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Presiden ke-5 Republik Indonesia, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Ibu Prof. Dr. Hj. Megawati Soekarnoputri yang saya hormati;
Yang saya hormati Ketua DPR RI, Ibu Puan Maharani;
Yang saya hormati Sekjen PDI Perjuangan beserta seluruh fungsionaris DPP, DPD, dan DPC yang hadir, Ketua, Sekretaris, Bendahara;
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju, Pak Kabin, beserta seluruh gubernur, bupati, wali kota, dan pimpinan daerah yang hadir;
Bapak-Ibu hadirin undangan yang berbahagia.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih, seumur-umur saya tidak pernah berulang tahun dirayakan seperti ini tadi. Tetapi juga hari ini kita tahu adalah haul nya Bung Karno, 21 Juni. Terima kasih, Bu Mega, atas tumpengan yang baru saja kita lakukan. Betul kata Bu Mega, beliau memang hari ini sejak saya ketemu tadi pagi, memang beliau adalah auranya adalah sangat cantik sekali dan sangat karismatis. Ini benar dari lubuk hati yang paling dalam, saya sampaikan. Auranya betul-betul, meskipun sudah berumur 57 tahun, tapi aura kecantikannya tidak pernah pudar. Tepuk tangannya kurang.

Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Kalau kita berbicara desa, sebagaimana tema Rakernas II tahun ini, saya ingat ajaran Bung Karno tentang gotong-royong. Gotong-royong itu satu usaha, gotong-royong itu satu amal, gotong-royong itu satu gawe, gotong-royong itu satu karya. Untuk menghasilkan sebuah karya besar atau sebuah satu prestasi besar, bukanlah semua orang melakukan hal yang sama. Tetapi kata Bung Karno, gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama. Gotong-royong adalah perjuangan bantu-membantu bersama, membangun satu kekuatan bersama, holopis kuntul baris.

Demikian pula dalam membangun sebuah bangsa, apalagi kita sebagai sebuah bangsa besar, kita harus bergotong-royong. Masing-masing harus berperan sesuai keahliannya, masing-masing harus berperan sesuai dengan keunggulannya, dan kemudian saling bekerja sama, saling berkolaborasi, saling bersinergi untuk sekali lagi menghasilkan sebuah karya besar.

Ibu Mega, Bapak-Ibu hadirin undangan yang berbahagia,
Kita tahu semuanya, dunia sekarang ini penuh dengan ketidakpastian. Dunia dalam keadaan yang sangat-sangat sulit, kalau kita tahu betul masalah yang ada sekarang ini. Dunia sekarang ini betul-betul dalam keadaan yang tidak mudah. Beberapa krisis pernah kita alami, tetapi ini bertubi-tubi krisisnya. Krisis karena pandemi, mau pulih kemudian ada perang, kemudian masuk merembet ke mana-mana. Seperti yang disampaikan Ibu Mega tadi, masuk ke krisis pangan, masuk ke krisis energi, masuk ke krisis keuangan. Kalau kita semakin tahu, semakin ngeri. Angka-angkanya saya diberi tahu, ngeri kita. Bank dunia menyampaikan, IMF menyampaikan, UN (PBB) menyampaikan.

Terakhir baru kemarin, saya mendapatkan informasi 60 negara akan ambruk ekonominya, 42 dipastikan sudah menuju ke sana. Siapa yang mau membantu mereka kalau sudah 42? Mungkin kalau satu, dua, tiga negara krisis, bisa dibantu, mungkin dari lembaga-lembaga internasional. Tapi kalau sudah 42 nanti betul dan mencapai bisa 60 betul, kita enggak ngerti apa yang harus kita lakukan. Sehingga berjaga-jaga, waspada, hati-hati adalah hal yang sangat kita perlukan.

Saya kira Ibu Mega tadi sudah mengingatkan kita semuanya tentang itu. Hati-hati mengenai ini. Ini kita tidak berada pada posisi normal. Begitu krisis keuangan, masuk ke krisis pangan, masuk ke krisis energi, mengerikan. Saya kira kita tahu semuanya sudah satu, dua, tiga negara yang mengalami itu. Tidak punya cadangan devisa, tidak bisa beli BBM. Tidak punya cadangan devisa, tidak bisa beli pangan, tidak bisa impor pangan, karena pangannya, energinya impor semuanya. Kemudian terjebak juga kepada pinjaman utang yang sangat tinggi, karena debt ratio-nya terlalu tinggi. Jadi sekali lagi, ngeri saya kalau lihat angka-angkanya.

Dan kita saat ini, sebagai contoh harga bensin saja, harga Pertalite kita masih Rp7.650, Pertamax Rp12.500. Hati-hati ini bukan harga sebenarnya loh, ini adalah harga yang kita subsidi dan subsidi, subsidinya besar sekali. Saya berikan perbandingan saja, harga bensin, harga BBM di Indonesia; Pertalite tadi Rp7.650, Pertamax Rp12.500 sampai Rp13.000. Coba kita tengok saja yang dekat saja, Singapura harga bensin sudah Rp31.000, di Jerman harga bensin sudah juga sama Rp31.000, di Thailand sudah Rp20.000, kita masih Rp7.650. Tetapi ini yang harus kita ingat, subsidi kita ke sini itu bukan besar, besar sekali. Bisa dipakai untuk membangun ibu kota satu, karena angkanya sudah Rp502 triliun. Ini semua yang kita harus ngerti.

Sampai kapan kita bisa bertahan dengan subsidi sebesar ini? Kalau kita enggak ngerti angka-angka, kita enggak merasakan betapa sangat beratnya persoalan saat ini. Membangun ibu kota itu Rp466 triliun, ini untuk subsidi. Tapi enggak mungkin ini tidak kita subsidi, akan ramai kita juga. Hitung-hitungan sosial-politiknya juga kita kalkulasi. Jadi ini yang rakyat harus juga diberitahu bahwa ada kondisi global yang sangat berat.

Waktu bulan Januari kita setop batu bara, ada lima presiden/perdana menteri yang telepon ke saya, “Presiden Jokowi, mohon kita dikirim batu baranya ini segera, secepatnya. Kalau ndak, ini mati kita, listrik kita mati, industri kita mati.” Kita menjadi tahu, kekuatan kita itu ada di mana.

Waktu minyak goreng kita setop ekspor untuk kebutuhan dalam negeri dulu, batu bara juga untuk kebutuhan dalam negeri dulu, ada dua presiden dan perdana menteri telepon saya juga, “Pak, ini kalau Bapak dalam dua hari ini tidak kirim kami, akan terjadi gejolak sosial-politik di negara saya. Tolong bisa dikirimkan.” Dari situ saya cek ada stok kira-kira tiga juta ton, kemudian permintaannya 200 ribu ton. Oke, ya sudah dikirim saja 120 ribu ton. Dikirim.

Jadi kita tahu, posisi kita itu ada di mana, kekuatan kita itu ada di mana, di sini mulai kelihatan. Batu bara kita mempunyai kekuatan besar, CPO kita mempunyai kekuatan besar, nikel kita mempunyai kekuatan besar. Tapi tidak bisa kita terus-teruskan yang namanya ekspor itu dalam bentuk bahan mentah, itu setop. Harus mulai kita berani setop ekspor bahan mentah kemudian kita buat barang jadi, ada industrialisasi, ada hilirisasi di situ. Itulah sebetulnya kekuatan besar kita, sehingga nilai tambah itu ada di dalam negeri, lapangan kerja itu ada di dalam negeri. Kalau kita kirim barang mentah yang dapat nilai tambah negara lain, yang dapat lapangan pekerjaan negara lain, yang dapat pajak juga negara lain. Kalau industrinya ada di sini, PPh dapat kita, PPh badan, PPh karyawan, PPh perorangan. PPh badan dapat, pajak dapat, bea ekspor dapat, biaya keluar dapat, besar sekali yang kita dapat.

Itulah yang sering saya hitung-hitung dan juga dihitung oleh lembaga-lembaga internasional, bahwa kalau kita nanti bisa membuka gerbang masuk kepada income per kapita lebih dari 11 ribu Dolar AS, moga-moga sudah bisa ke sana di 2030, artinya gerbang itu sudah bisa kita buka. Kuncinya menurut saya fondasinya infrastruktur, fondasinya pembangunan sumber daya manusia, ini yang sulit, kemudian yang ketiga tadi hilirisasi setop ekspor bahan mentah ke luar dan kita jadikan barang jadi atau setengah jadi di dalam negeri. Arahnya ke depan harus ke sana, dan kita sekarang ini memiliki kemampuan itu. Sudah kita coba di nikel setop, tahun ini kita akan setop lagi bauksit setop, semuanya dikerjakan di dalam negeri.

Hitung-hitungan kita di 2045 kalau ada konsistensi kepemimpinan dengan keberanian menyetop tadi ekspor bahan-bahan mentah sampai tahun itu, insyaallah, kita sudah berada di angka 21 ribu sampai dengan 27 ribu income per kapita kita. Betul-betul kita sudah berada pada posisi di negara maju. Tapi tantangannya, sekali lagi, tidak mudah, terutama pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Kembali, jadi tanpa gotong royong, kita akan kesulitan menghadapi kompetisi global. Kompetisi saat ini terjadi hampir di semua sektor dari hulu sampai hilir, tidak hanya berkompetisi di bidang ekonomi, di bidang bisnis, tapi juga SDM di bidang sains dan teknologi, dan termasuk yang kita alami sekarang ini, kompetisi dalam menghadapi krisis pangan maupun krisis energi global.

Oleh sebab itu, kita harus bergotong royong membangun kemandirian pangan, berdikari di urusan pangan, kedaulatan pangan, ketahanan pangan betul-betul harus menjadi konsentrasi kita, fokus kita ke depan. Setiap daerah harus memiliki keunggulan pangan masing-masing sesuai dengan karakteristik tanahnya dan kondisi masyarakatnya, dan sesuai dengan tradisi makan warganya. Jangan dipaksa-paksa, karena memang setiap daerah itu memiliki karakter yang berbeda-beda.

Papua misalnya, tanahnya cocok untuk menanam sagu, tradisi makanan pokoknya juga sagu. Jangan kita paksa-paksa untuk makan padi, makan beras, dan kita paksa-paksa untuk menanam padi, untuk makan nasi. Jangan kita paksa untuk keluar dari kekuatannya, dari karakternya, apalagi kalau kita tahu sagu itu justru makanan yang paling sehat karena gluten free. Tidak mengandung gluten, tidak mengandung gula. Ini nanti yang akan dikejar oleh negara-negara lain. Hal-hal seperti ini yang kita sering lupa, termasuk porang. Kenapa dikejar? Karena di situ juga sangat rendah gulanya, makanan yang sangat sehat.

Lalu di NTT misalnya, tanahnya bagus untuk sorgum dan jagung. Ya sekali lagi, jangan dipaksa-paksa untuk menanam padi dan diajak untuk beralih ke makan nasi. Baru kita dari NTT di Waingapu, kita coba menanam jagung dan menanam sorgum atau cantel. Apa yang kita lihat? Tanpa air yang banyak, sorgum di NTT ternyata tumbuh sangat subur dan tumbuh sangat hijau. Ternyata sebelumnya memang warga di NTT itu menanamnya sorgum atau cantel, tapi bergeser ke beras, di sinilah kekeliruannya. Sehingga ini kita akan menanam besar-besaran di NTT, sorgum, dan sudah kita coba 40 hektar di Waingapu. Janganlah NTT kita paksa keluar dari kekuatannya, apalagi sorgum bisa menjadi alternatif pengganti gandum yang harganya saat ini sedang melambung sangat tinggi dan kita tergantung impor dari luar. Begitu perang, sekarang sorgum naiknya sampai di atas 30 persen. Impor kita, gandum sekarang ini 11 juta ton, sangat besar sekali. Ini yang harus mulai dipikirkan.

Saya berterima kasih kepada Ibu Mega, BRIN sekarang diarahkan kepada research/penelitian hal-hal yang berkaitan dengan pangan. Sudah arahnya ke depan benar, benar memang harus ke sana.

Kita juga harus ingat, yang kita gelontorkan ke desa itu duitnya juga bukan duit yang kecil. Dana Desa yang telah kita gelontorkan sampai nanti tahun ini 2022 berada di angka Rp468 triliun, besar sekali. Belum pernah dalam sejarah desa kita gelontori uang sampai Rp468 triliun. Dan saya cek, saya lihat, saya lihat di lapangan jadi barang, untuk infrastruktur jalur-jalur jalan-jalan kecil untuk produksi. Ini bagus sekali. Step ini harus dilanjutkan pada kepemimpinan selanjutnya. Jalan desa, ini kita sudah membangun dari Dana Desa tadi 227 ribu km.

Banyak yang menyampaikan, “Dua ratus dua puluh tujuh ribu kilometer itu panjang sekali loh, Pak. Apa iya sih segitu? Itu data yang ngawur.” Banyak yang menyampaikan seperti itu. Saya sampaikan, desa kita 75 ribu, 75 ribu desa, 74.800 kira-kira, 75 ribu desa. Kalau hanya bangun 227 ribu, artinya satu desa kan hanya 3 km. Orang enggak berpikir ke sana, “Wah kok panjang banget, enggak mungkin, enggak mungkin.”

Enggak mungkin gimana, wong satu desa hanya 3 kilometer kok. Embung 4500 unit, ini kecil-kecil, tapi langsung manfaatnya dirasakan oleh rakyat. Inilah Dana desa tadi yang telah digelontorkan tadi sebesar Rp468 triliun.

Kembali lagi, kalau masing-masing daerah bergerak sesuai kekuatan dan karakternya kita akan bisa betul-betul membangun kekuatan besar di sektor pangan, produksi akan melimpah dan diversifikasi pangan bisa dipertahankan. Inilah kekuatan besar bangsa kita, dan rakyat harus terus diajak berproduksi. Ini baru kita desain siapa yang mengambil, siapa yang membeli. Ini baru kita desain, bisa RNI, bisa Bulog. Tetapi harus negara harus ambil produksinya, entah dibuat stok dalam jangka panjang atau kalau memang hitungan kita siap ya ekspor, artinya membantu negara lain.

Konsep gotong royong ini juga sangat relevan untuk organisasi-organisasi modern. Setiap unit kerja mempunyai fungsi dan kompetensi masing-masing, tetapi bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Itulah gotong royong. Saya yakin di organisasi partai politik pun juga begitu, sama. Masing-masing kader pasti mempunyai keunggulan masing-masing. Pasti ada yang jago di lapangan, ya kerja lapangan. Ada yang hebat dalam merumuskan strategi, ya rumuskan strateginya seperti apa. Ada yang kuat di legislatif, ada yang kuat di eksekutif, dan masing-masing bertugas sesuai dengan keunggulannya masing-masing, saling bersinergi untuk satu target yang sama, inilah nanti golnya yaitu kesuksesan besar, kemenangan besar.  Itulah, saya kira strategi Indonesia ke depan dalam memenangkan kompetisi. Strateginya adalah gotong royong.

Selamat melakukan Rapat Kerja Nasional II Tahun 2021/2022. Semoga kita bisa meraih kesuksesan dan kemenangan sesuai yang kita cita-citakan.

Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim pada siang hari ini, Rapat Kerja Nasional II PDI Perjuangan Tahun 2021/2022 secara resmi saya buka. Terima kasih.

Wassalamu’laikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om santi santi santi om.

Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Sambutan Terbaru