Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Rakernas IWAPI) XXVIII, 8 Oktober 2018, di Hotel Grand Inna, Padang, Sumatra Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 8 Oktober 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 3.359 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja yang hadir,
Yang saya hormati Ketua Umum IWAPI Ibu Nita Yudi beserta seluruh jajaran pengurus pusat dan daerah Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia,
Dan yang saya hormati para perempuan pengusaha dari seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,
Yang saya hormati Gubernur Sumatra Barat beserta Ibu, Pak Wagub beserta Ibu, Bapak Wali Kota, Pak Pangdam, Pak Kapolda,
Hadirin dan tamu undangan yang berbahagia.

Waktu saya masih menjadi pengusaha, saya kenal banyak perempuan pengusaha di Kota Solo, banyak sekali. Yang ada di Pasar Klewer itu hampir 90 persen itu wanita semuanya, wanita pengusaha semuanya. Kalau di pusat yang jelas saya kenal Bu Dewi Motik. Sejak lama beliau idola saya. Enggak tahu beliau ngidolain saya ndak. Saya ngidolain Bu Dewi Motik, benar, serius. Dan yang di pusat ada Bu Kemala, ada Bu Yani, yang jelas hafal Bu Nita itu. Dan wanita-wanita pengusaha yang tangguh yang saya kenal misalnya Bu Mooryati Soedibyo, yang kita lihat bersama beliau sudah umur sekarang lebih dari 90 tahun mungkin, 91 tahun, masih jalan dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote, muter tidak ada berhentinya.

Dari situ saya melihat bahwa yang namanya perempuan pengusaha sebenarnya, ini sebenarnya, itu lebih gigih dari pengusaha laki-laki, lebih ulet. Ini benar, saya ngomong apa adanya. Lebih ulet, lebih teliti. Kalau ngitung itu lebih teliti. Lebih hitungan, benar ndak? Iya. Ngeluarin terpaut Rp1.000, “saya ndakndakndak mau.” Terpaut Rp2.000, “enggak mau, enggak mau.”

Ini sebetulnya modal besar bagi seorang pengusaha untuk sukses, ya di sini. Tangguh, ulet, gigih, teliti, dan hitungan. Kalau enggak hitungan enggak pengusaha itu. Kalau pengusaha apapun yang namanya berjualan, menentukan harga, ya pasti dihitung, pasti dikalkulasi posnya berapa, untungnya mau berapa. Itu yang saya yakini.

Oleh sebab itu, saya percaya Indonesia membutuhkan makin banyak perempuan-perempuan pengusaha kalau kita ingin ekonomi kita maju. Ini enggak tahu kita ingin maju ndak? Kalau ingin maju ya tadi yang saya sampaikan, membutuhkan makin banyak perempuan menjadi pengusaha.

Tadi disampaikan Bu Nita, 49 persen adalah wanita yang UMKM. Ingat bahwa tulang punggung ekonomi kita adalah terbesar di Asia Tenggara. GDP kita terbesar di Asia Tenggara. Dan di dalamnya yang paling banyak memang usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah. Yang di dalamnya lagi adalah perempuan-perempuan pengusaha.

Ingat bahwa kita sudah masuk di negara-negara G20 dan masuk dalam 16 besar sebagai negara dengan GDP lebih dari 1 triliun US Dollar. Saya ingin menyampaikan bahwa banyak sekali dari UMKM kita, tadi sudah saya sampaikan, sudah disampaikan Bu Nita juga, yang dimiliki dan dijalankan oleh perempuan. Artinya, kalau perempuan pengusaha di Indonesia  ini semakin maju berarti ekonomi Indonesia juga akan semakin maju. Setuju ndak Ibu-ibu?

Dan kita ingin dalam menghadapi persaingan ekonomi ke depan Indonesia memang membutuhkan makin banyak pengusaha, pengusaha yang mampu membuka lapangan pekerjaan, pengusaha yang tidak hanya kuat usahanya di pasar dalam negeri tapi juga kuat untuk pasar-pasar ekspor.

(Dialog Presiden Joko Widodo dengan salah satu pengusaha anggota IWAPI)

Saya kira negara kita sekarang ini memiliki problem besar. Neraca perdagangan kita defisit, neraca transaksi berjalan kita juga defisit, current account deficit kita juga perlu kita perbaiki. Kuncinya hanya ada dua kita sekarang ini supaya ekonomi kita bisa kita perbaiki, yang pertama ekspor, yang kedua investasi. Hanya dua itu saja, kuncinya hanya dua ini. Kalau kita bisa menaikkan ekspor kita ini, akan memperbaiki ekonomi kita. Kalau kita bisa mendatangkan investasi, akan memperbaiki ekonomi kita, enggak ada yang lain. Karena memang yang harus kita perbaiki adalah neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan, yang kita masih defisit.

Oleh sebab itu, saya mengajak kepada Ibu-ibu semuanya agar berani mengarahkan produk-produknya ke pasar ekspor. Enggak usah ragu, karena pasar itu ada segmentasi yang beda-beda, ada segmentasi atas, ada segmentasi tengah, ada segmentasi bawah, ada macam-macam. Misalnya kayak garmen ada yang untuk kelas atas, kelas tengah, ada kelas bawah. Semuanya semua terbentang lebar sekali kesempatan dan peluang. Opportunity-nya banyak sekali tapi kita enggak berani melakukan itu.

Kemudian yang kedua, saya juga titip, dengan adanya Revolusi Industri 4.0, tadi sudah disampaikan oleh Bu Nita, ini akan ada perubahan yang sangat besar sekali dalam dunia bisnis. Hati-hati, hati-hati ini. Karena menurut McKinsey Global Institute perubahan di dalam Revolusi Industri 4.0 itu 3.000 kali lebih cepat dari revolusi industri yang pertama. Artinya, akan ada perubahan yang sangat cepat sekali.

Sekarang kita tahu artificial intelligence, kita baru belajar sudah keluar lagi yang lain. Internet of things baru belajar, keluar yang lain. Cryptocurrency, keluar yang lain. Bitcoin, virtual reality, keluar. Kalau ini kita tidak mengerti, kita masih dengan cara-cara lama padahal dunia sudah berubah, hati-hati.

Saya senang tadi Bu Nita menyampaikan bahwa sudah mulai mengajak para perempuan pengusaha untuk meng-online-kan produk-produknya, online store. Karena sudah enggak zamannya lagi sekarang, memang semuanya harus di-online-kan. Pemasaran di-online-kan, semuanya, kalau kita ingin barang-barang kita terjual dengan cepat, dengan harga yang baik.

Saya menyakini bahwa dengan perubahan-perubahan dunia yang ada, produk-produk kita ini sebetulnya memiliki daya saing, memiliki kualitas. Tetapi kita memang belum masuk ke pasar-pasar non-tradisional, pasarnya mesti harus Eropa, harus Amerika, harus Jepang. Enggak, pasar yang lain itu masih banyak sekali. Saya sangat kagum tadi Bu Leni tadi, masuk ke pasar-pasar di Afrika, di Kamerun. Saya kira ya itulah peluang-peluang yang memang harus kita ambil.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya resmi membuka Rapat Kerja Nasional Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Tahun 2018.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Sambutan Terbaru