Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas)  Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), 10 Oktober 2018, di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Oktober 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.845 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Yang Mulia para Alim Ulama,
Yang saya hormati Bapak Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Bapak KH. Abdullah Syam, beserta seluruh jajaran Pengurus LDII yang hadir,
Yang saya hormati para Kiai Sepuh yang hadir pada Rakernas kali ini Bapak KH. Abdul Aziz, Bapak KH. Kasmudi, Bapak KH, Agus Syukur, Bapak KH. Mulyono, Bapak KH. Edi Suparto, Bapak KH. M. Tohir, dan yang tidak bisa saya sebut satu-persatu,
Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota Dewan yang hadir,
Bapak-Ibu sekalian seluruh peserta Rapat Kerja Nasional LDII yang saya hormati,
Hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya, di mana-mana ini selalu saya sampaikan, bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara yang besar, dengan penduduk sekarang kurang lebih 263 juta lebih yang tersebar di 17.000 pulau, di 514 kabupaten/kota, dan 34 provinsi. Ini adalah sebuah negara yang besar. Dan kita dianugerahi oleh Allah sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dan juga dianugerahi oleh Allah SWT perbedaan-perbedaan, baik suku, adat, tradisi, bahasa daerah yang bermacam-macam. Kenapa ini perlu saya ingatkan di awal-awal, karena kita sering lupa bahwa negara ini adalah negara besar, tetapi juga dengan perbedaan-perbedaan yang besar.

Suku, selalu saya ulang-ulang, kita memiliki 714 suku dengan 1.100 lebih bahasa daerah, dengan adat dan tradisi yang berbeda-beda, agama yang berbeda-beda. Kalau kita banding-bandingkan, boleh kan kita membanding-bandingkan. Singapura memiliki berapa suku? Empat. Kita 714. Afghanistan, saya tanya langsung ke Presiden Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan, ada berapa suku di Afghanistan? Tujuh. Tujuh, kita 714. Bandingkan. Hati-hati dengan ini.

Ini negara besar. Saya pernah terbang dari Banda Aceh menuju ke Wamena, bukan Jayapura, waktu yang ditempuh sembilan jam lima belas menit naik pesawat, bayangkan kalau jalan kaki. Kalau mau mencoba silakan. Itu kalau kita terbang dari London, di Inggris ke timur melewati satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh negara, tujuh atau delapan negara sampai di Istanbul, di Turki. Artinya apa? Negara ini adalah negara yang besar. Jangan melupakan ini.

Dan selalu saya ulang-ulang di konferensi-konferensi, bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi hati-hati, kita memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat banyak sekali, beragam.

Kenapa perlu saya ingatkan ini, karena sering gara-gara, ini gara-gara pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden kita ini kelihatan menjadi terpecah-pecah, terbelah-belah. Lho lho lho lho. Padahal yang namanya pilkada, yang namanya pilpres, pileg itu kan setiap lima tahun sekali. Setiap lima tahun sekali. Yang selalu saya sampaikan kepada masyarakat, hati-hati kalau sudah masuk tahun-tahun politik itu hati-hati. Banyak kabar bohong (hoaks), banyak fitnah, saling mencela, saling menjelekkan. Ini bukan tata krama Indonesia, ini bukan nilai-nilai Islami yang kita miliki, ini bukan nilai-nilai etika yang kita miliki. Hati-hati. Jangan terjebak kita kepada hal-hal politik praktis yang menyebabkan kita terpecah-pecah.

Silakan ada pilihan bupati mau pilih A, pilih B, pilih C, atau kalau ada kandidatnya 4 pilih A, pilih B, pilih C, pilih D, silakan pilih salah satu. Pilgub silakan ada pilihan A dan B, silakan. Pilpres ada pilihan A dan B, silakan dipilih. Selalu saya sampaikan. Tapi lihat, jangan isu-isu, lihat programnya apa, gagasannya apa, idenya apa. Artinya apa? Dalam kontestasi politik itu yang diadu adalah adu program, adu gagasan, adu ide. Lihat kandidatnya, prestasinya apa, rekam jejaknya seperti apa, track record-nya seperti apa. Sudah, gampang sekali sebetulnya.

Jangan ada isu-isu sedikit langsung di medsos terutama, langsung kita makan. Berbahaya sekali. Jadi tema Rakernas kali ini, “LDII untuk Bangsa”, betul, sudah. Benar. Saatnya sekarang ini. Jangan sampai kalau sudah mendekati pilpres kok fitnah, kabar bohong (hoaks) menjadi-jadi seperti ini. Ini mau jadi apa bangsa kita?

Coba dilihat di medsos, Presiden Jokowi itu PKI. Astagfirullah. Sudah empat tahun diulang-ulang terus gitu lho. Tapi ada yang percaya, yang saya heran ada yang percaya. Saya sampaikan saat itu, PKI itu kan dibubarkan tahun ’65-’66, saya lahir tahun ’61. Apa ada aktivis PKI balita? Wong masih balita kok. Ganti lagi, bukan Pak Jokowinya, orangtuanya, bapak-ibunya. Bapak-ibunya ndak, kakek-neneknya. Lho lho lho lho, sekarang ini kan keterbukaan, zaman keterbukaan, gampang sekali mengecek. Masjid LDII di dekat rumah saya ada, masjid ormas yang lain di dekat rumah saya ada. Ditanya saja di situ. Masjid LDII, Pak Kiai, besar sekali di dekat rumah, gede sekali, belum selesai tapi. Tapi gede sekali. Tanya saja di situ mengenai orangtua saya, mengenai kakek-nenek saya. Saudara-saudara saya yang di LDII juga banyak, banyak. Saya, orangtua saya, kakek nenek saya, semuanya muslim, keluarga besar saya itu muslim. Tanya saja yang PKI yang mana.

Malah ada gambar, coba gambar, ini DN Aidit pidato tahun ’55, di dekatnya ada saya. Coba. Astagfirullah. Coba, lahir saja belum sudah di dekatnya DN Aidit. Ini gambar-gambar seperti ini kalau kita tidak ada screening, ada penyaringan langsung percaya akibatnya apa terhadap… Ini cara-cara politik kotor yang harus dihentikan. Tidak bisa kita terus-menerus seperti ini. Etika kita ada di mana? Tata krama kita ada di mana? Saya sedih kalau sudah melihat seperti ini. Gambar ini hanya satu yang saya perlihatkan, bisa saya memperlihatkan lebih dari 100 gambar-gambar enggak jelas enggak jelas seperti ini.

Tapi ada yang percaya. Saya cerita saja, masuk ke sebuah pondok, enggak usah saya sebutkan pondoknya di mana. Ada acara, selesai acara, pimpinan pondoknya Pak Kiai bisik-bisik saya, “Pak Jokowi, Pak Presiden saya ingin bicara empat mata.” Saya sudah mikir, ini pasti urusan PKI. Benar, begitu masuk ke kamar ditanyakan hal yang sama, apakah benar. Saya jelaskan tadi, “Pak Kiai, apa ada sih yang namanya PKI balita.” Kaget beliau juga.

Inilah perkembangan teknologi ini juga harus disikapi dengan sebuah kearifan. Kebijakan kita dalam menggunakannya. Saya tahu kalau yang namanya digital economy LDII ini paling jagoan, karena banyak yang di Telkom, di Indosat, di Telkomsel, saya tahu. Saya hapal nama-namanya tapi enggak saya sebut di sini. Jadi untuk digital economy semuanya. Tadi juga saya dibisiki oleh Bapak Ketua Umum LDII, penggunaan energi baru terbarukan, tadi di dalam layar juga sudah disampaikan, di Pondok yang di Kediri sudah memakai solar panel semuanya. Pondok yang lain belum memulai, ini sudah mulai dulu. Ini LDII, cepat banget. Mikrohidro juga sudah diterapkan di beberapa tempat oleh LDII. Saya kira inilah dalam rangka kita mengisi agar Indonesia maju ke depan.

Saya juga melihat, saya ini hampir setiap minggu, minimal seminggu itu tiga hari saya selalu ke daerah, selalu ke daerah. Apa yang saya lihat? Penunjuk arah. Tahu maksudnya? Penunjuk arah, 50 meter LDII, banyak sekali, 200 meter LDII, 100 meter LDII, menunjuk gitu. Di mana-mana, saya ini kan orang lapangan, masuk desa, masuk kampung, masuk daerah jadi lihat itu cemantel jadi ingat terus di sini, banyak sekali sih. Artinya apa? LDII itu ada di mana-mana dalam berkiprah di seluruh pelosok Nusantara.

Kembali lagi ke teknologi. Sekarang ini kita harus sadar bahwa ada perubahan besar di dunia yang namanya Revolusi Industri 4.0 yang oleh McKinsey Global Institute disampaikan perubahannya 3.000 kali lebih cepat dari revolusi industri yang pertama. Ini hati-hati kita menyikapi ini. Revolusi Industri 4.0 ini ada yang bisa bermanfaat baik tapi ada yang mudaratnya juga lebih banyak. Hati-hati ini kita menyikapi ini.

Sekarang kita tahu ada artificial intelligence, kita baru pelajari, muncul lagi yang lain. Ada internet of things, ada cryptocurrency, bitcoin, ada advanced robotic, ada 3D printing. Macam-macam sekarang ini. Ada virtual reality. Sekarang buat rumah dengan 3D printing hanya 24 jam, bayangkan kecepatannya. Membuat rumah 24 jam. Bukan akan, sudah ada. Hat-hati. Robot, sekarang bersih-bersih lantai, menyapu, semuanya pakai robot. Yang paling dekat di Changi Airport sudah pakai. Tidak pakai orang lagi. Hati-hati.

Virtual reality, saya pernah ke Silicon Valley, markasnya Google, markasnya Facebook, markasnya Twitter, markasnya Plug and Play. Saya masuk ke markasnya Facebook. Saya hanya ingin mengerti perkembangan apa sih yang akan terjadi. Saya masuk ke markasnya Facebook ketemu Mark Zuckerberg CEO Facebook. Ketemu, lihat, liha,t lihat, apa yang mereka lakukan. Saya disuruh mencoba yang namanya virtual reality pakai kacamata gede gini (oculus), diajak main pingpong tapi enggak ada bolanya, enggak ada mejanya, coba. Enggak ada betnya hanya tang, tung, tang, tung, persis kayak kita main pingpong, tang tung tang tung tang. Ini yang namanya virtual reality. Saya tanya kepada Mark, “Mark, apakah ini hanya untuk pingpong, untuk tenis meja?” “Oh ndak, Presiden Jokowi. Ini juga bisa untuk yang lain-lain, tenis lapangan bisa, untuk sepakbola bisa.” Artinya apa? Sebentar lagi akan ada yang namanya sepakbola tanpa bola dan tanpa lapangan. Tendang-tendangan tapi enggak ada bolanya, enggak ada lapangannya. Bayangkan. Ini ada, sudah ada, bukan akan.

Perkembangan-perkembangan seperti ini yang harus kita hadapi dan kita antisipasi, apakah banyak manfaatnya, ataukah nanti banyak mudaratnya. Ini yang belum dihitung. Kalau perusahaan-perusahaan itu kan mikirnya untungnya, keuntungannya. Tapi bagi masyarakat, bagi warga negara kita, siap tidak? Memberikan manfaat tidak? Hati-hati.

Saya mengharap agar dalam Rakernas ini bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada pemerintah, apa sih yang harus kita lakukan, apa yang harus kita rencanakan dan harus kita kerjakan untuk menatap Indonesia maju ke depan. Karena memang tantangannya tidak mudah, tidak gampang.

Sekarang ini tekanan ekonomi dari negara-negara yang membuat kebijakan bisa berimbas ke negara-negara lain. Kebijakan di sebuah negara bisa berimbas ke negara kita. Kebijakan sebuah central bank bisa berimbas ke negara kita. Karena memang sekarang ini negara kayak tanpa batas.

Oleh sebab itu, pembangunan karakter bangsa merupakan jawaban dari keresahan-keresahan itu. Kita harus perkuat karakter bangsa, etika, tata krama, sopan santun, sehingga tidak tembus oleh kejelekan-kejelekan yang dimunculkan dari adanya teknologi-teknologi yang baru.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semuanya. Semoga apa yang menjadi tujuan besar dari Rakeras LDII ini dapat sukses, dan senantiasa mendapat rida dari Allah SWT. Dengan bismillahirrahmanirrahim, saya membuka secara resmi Rakernas LDII Tahun 2018.

Sambutan Terbaru