Pembukaan Rapat Koordinasi dan Diskusi Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tahun 2019, 19 Maret 2019, di Istana Negara, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 19 Maret 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.707 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Menteri Sekretaris Negara,
Yang saya hormati Ketua Badan Pertimbangan Organisasi HKTI Bapak Oesman Sapta,
Yang saya hormati Ketua Umum HKTI Bapak Jenderal Moeldoko, serta para pengurus HKTI pusat, seluruh pimpinan di provinsi, maupun kabupaten dan kota,
Hadirin tamu undangan yang berbahagia.

Tadi sudah disampaikan oleh Bapak Moeldoko secara gamblang apa yang telah kita kerjakan. Memang dalam pembangunan empat setengah tahun ini kita memang masih konsentrasi dan fokus pada pembangunan infrastruktur.  Baik yang di desa,  tadi sudah disampaikan berupa jalan-jalan produksi menuju ke kebun, menuju ke sawah lewat anggaran Dana Desa, dan juga yang berkaitan dengan jalur-jalur logistik besar: jalan tol, pelabuhan, airport yang juga kita bangun dalam rangka mendekatkan dari produsen ke konsumen, dari produsen ke pasar.

Kita melihat bahwa ini semuanya tidak bisa instan. Jadi kalau orang menginginkan langsung bisa swasembada, bisa langsung ketahanan kita meloncat baik, kedaulatan pangan kita langsung sehari-dua hari balikkan tangan jadi, tidak akan mungkin seperti itu. Perlu proses, perlu tahapan-tahapan.

Saya melihat misalnya jagung. Jagung ini saya ingat akhir 2014, saya datang ke Dompu. Ada yang dari Dompu? NTB mungkin? NTB, enggak tahu ikut saya enggak. Saya ke Dompu, saya diajak oleh Menteri Pertanian panen jagung. Berangkatnya saya senang banget, waduh panen jagung. “Pak, ini jagungnya banyak sekali Pak di Dompu Pak, Bapak Panen.” Iya, panen, ayo. Panen jagung saja kok, senang saya.

Datang ke NTB, ke Dompu, naik heli, turun, panen. Pas panennya senang, wah jagungnya gede-gede. Terus kita kumpul seperti ini, saya sampaikan sambutan. Ada yang, bukan ada, 1, 2, 3, 4, 5 petani marah-marah. Lho-lho saya ini baru dilantik dua bulan sudah dimarah-marahi sama para petani. Ya enggak apa-apa, enggak apa-apa, enggak apa-apa. Apa yang disampaikan saat itu? “Pak, gimana Bapak ini sebagai presiden, jagung jatuh harganya diharga Rp1.400-1.600 di sini. Kita produksi itu Rp1.800. Rugi kita Pak. Jagungnya gede-gede tapi kita rugi.” Ada lagi yang tunjuk jari sama, yang satu tadi Rp1.200, yang dua ngomong Rp1.600, yang satunya lagi Rp1.500 tapi intinya harganya jatuh di Rp1.400-1.600.

Saya lihat, yang saya heran juga memang per hektarenya kelihatannya produksinya bagus tapi kalau harga jatuh seperti itu untuk apa? Saya cek impornya berapa ini. Benar, impornya gede banget, hampir 3,6 juta ton. Nah ini, saya melihat di sini dimulai ini pasti. Sehingga saat itu saya keluarkan perpres yang membuat HPP Rp2.700. Sudah kita kalkulasi, hitung-hitung, sudah buat Rp2.700. paling tidak dengan harga itu petani sudah untung, di manapun, karena kita ambil rata-rata di semua daerah.

Yang saya kaget, harga justru bisa di atas Rp3.000, di atas Rp3.500, bahkan pernah di atas Rp4.000, bahkan pernah di atas Rp5.000. Karena juga impor jagungnya oleh Menteri Pertanian langsung direm total. Dan data yang saya punyai, di 2018 kemarin impor kita hanya 180.000 ton. Sebelumnya hampir 3,6 juta ton.

Apa artinya? Artinya apa? Bahwa produksi petani itu semakin meloncat naik karena memang harganya memungkinkan petani untuk dapat keuntungan. Sebelumnya Rp1.600, siapa yang mau tanam kalau tanam hanya untuk rugi. Siapa yang mau tanam jagung, enggak akan ada yang mau. Akhirnya apa? Impor.

Tapi seperti ini memerlukan proses. Ada yang mengatakan, “enggak Pak itu di 2018 impornya 700.000 ton.” Saya cek lagi apa benar sih, ini yang benar 180.000 atau 700.000. Yang benar memang 180.000 karena sisanya itu adalah impor untuk pemanis dari jagung. Oh iya, oke, benar, masuk akal. HS-nya lah sama.

Kita melihat baru jagung. Sehingga kita harapkan proses treatment pada jagung ini juga bisa dilakukan pada komoditas-komoditas yang lainnya, terutama yang banyak kita impor.

Saya sangat senang sekali sekarang ini irigasi, tadi sudah disampaikan oleh Ketua Umum, embung, baik itu dari Kementerian Pertanian, baik itu dari Kementerian PU, baik itu juga dari anggaran Dana Desa yang tidak sedikit. Ini akan semakin terlihat. Ini masih proses. Nanti akan semakin terlihat betapa yang namanya jalan produksi di sawah-sawah, yang namanya irigasi di sawah-sawah, yang namanya bendungan, yang namanya waduk akan semakin kelihatan.

Kita total sekarang ini sampai 2015 yang lalu awal, kita memiliki 231 bendungan, 231 bendungan itu sudah tujuh puluh tahun. Kita memiliki 231 waduk/bendungan, ini ditambah yang baru kita 65, tapi memang ada yang sudah selesai. Kemarin 2018 selesai delapan, tahun ini mungkin separuhnya selesai, mungkin tahun depan juga akan semuanya kita bisa kita selesaikan.

Tapi kalau kita bandingkan, contoh dengan Tiongkok, mereka memiliki waduk berapa? 110.000. 110.000, kita hanya 231. Sudah, bayangin, bandingkan. Artinya, kita masih kurang waduk kita ini. Setelah saya hitung lagi berapa sih suplai yang ke sawah-sawah dan kebun kita, baru sebelas persen. 231 itu baru untuk mengairi sebelas persen. Kalau yang 65 ini rampung, baru mengairi dua puluh persen. Masih jauh sekali kita ini. Jadi jangan membayangkan ketahanan pangan, kedaulatan pangan, swasembada kalau ini belum terselesaikan. Ini urusan waduk lho. Dan kita harus berani ini, harus berani investasi di sini. Memang tidak bisa langsung kita petik sekarang, tahun ini gitu langsung kita petik, tidak mungkin. Baru sebelas persen dari air yang dibutuhkan yang bisa disuplai ke sawah dan ke kebun. Ditambah 65 itu yang baru ini, baru dua puluh persen. Masih jauh sekali.

Inilah proses-proses yang terus kita lakukan. Saya meyakini  apabila nanti waduknya sudah semakin banyak, irigasi baik primer, sekunder, tersier semuanya juga bisa kita selesaikan. Karena juga, saya 2015 ke Aceh Barat, ada waduknya enggak ada irigasinya. Ada yang dari Aceh? Iya, benar ya? Saya ke sana, saya lihat waduknya. Wah waduknya, terus irigasinya? Enggak ada. Jadi waduk airnya dipakai untuk waduk itu sendiri. Dan yang seperti itu bukan di situ saja, ada di 1, 2, 3, 4, 5 tempat kayak gitu coba. Inilah yang sedang dalam proses terus kita benahi.

Saya juga senang kemarin dari Humbang Hasundutan. Mereka mulai menanam bawang putih. Saya lihat, kalau melihat, belum dipanen ini, melihat fisiknya ya bagus. Ini nanti begitu panen yang sekarang kira-kira lima puluh hektare betul-betul bagus, langsung akan saya perintah untuk di Kabupaten Humbang Hasundutan sudah langsung bawang putih semuanya, sudah. Biar kita bisa mengerem impor bawang putih kita. Ini proses, sekali lagi ini proses.

Yang ketiga, saya juga ingin agar ada sebuah perubahan mindset, perubahan pola pikir kita bahwa keuntungan di pertanian juga di perkebunan yang paling besar itu justru di pascapanennya. Hati-hati. Diproses penggilingannya kalau padi misalnya, diproses packaging-nya, kemasannya, kemudian diproses menjualnya kepada konsumen atau ke pasar. Sehingga saya mengajak kepada Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian agar mulai berpikir ke pascapanennya.

Misalnya, RMU, Rice Milling Unit, beserta seluruh perangkat kemasan, membuat brand labelnya, namanya. Sehingga packaging itu betul-betul sebuah, sebagai sebuah produk yang memang layak untuk langsung dipasarkan di hypermarket, di supermarket, di minimarket. Ini saya lihat mulai, sudah mulai dalam empat tahun ini mulai kita arahkan ke sana. Dan memang perbankan ini harus berperan.

Problem sekarang pembelian RMU untuk kemasan, dryer, itu memang perlu dukungan dari perbankan. Kemarin kita hitung di Jawa Timur. Ada yang dari Jawa Timur? RMU sudah banyak yang mulai beli baru, belum? Yang lewat bank? Belum? Lewat KUR? Belum? Ada beberapa yang sudah kita lihat, ini tolong ditiru. Siapapun yang hadir di sini, beli itu enggak akan rugi, tiga tahun pasti balik, dan rendemennya meningkat.

Bank juga memberikan. Ini ada BTN. BRI ada? Mandiri ada? BTN, Mandiri, BRI, BNI, ada semua, agar tempat-tempat produksi/produsen seperti ini diberikan support sebanyak-banyaknya sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dryer itu begitu sangat pentingnya di lapangan.  Proses dryer ini yang menyebabkan banyak yang namanya jagung enggak cepat kering kalau pas musim hujan, padi enggak cepat kering. Ini sudah berpuluh-puluh tahun kayak gini, enggak pernah kita berani investasi di bidang ini.

Bapak, Ibu, Saudara-saudara kalau beli dryer, dijasakan, beri rice milling unit yang modern, dijasakan, itu enggak ada ruginya. Percaya. Berikan proposal di bank, tunjukin. Kalau belum ada yang punya saya beri kopian nanti. Masa harus dari presiden? Mestinya dari pelaku saja, lebih pintar dong.

Ini, proses-proses seperti ini yang harus dikerjakan. Kalau mau beli, semakin besar sebetulnya semakin efisien. Beli RMU itu, gabungan. Saya sering menyampaikan mengorporasikan petani. Jadi petani itu membuat korporasi, bukan koperasi, korporasi. Isinya bisa koperasi, bisa kelompok-kelompok tani tapi dalam jumlah yang besar. Kemudian ngambil RMU, dryer, packaging semuanya ada, berikan ke bank. Sudah, suruh biayai. Balik itu dalam dua-tiga tahun, balik. Tapi  memang harus dikelola dengan manajemen yang bagus, rendemen pasti meningkat.

Enggak ada, bukan musimnya lagi, sekarang ini zaman kayak gini masih saya kalau ke desa dari saya kecil di desa sampai sekarang sudah umur lebih dari lima puluh tahun, masih diler, dijereng, dipepe, dijemur di matahari lah, gitu. Masih di jalan-jalan kayak gitu, masih. Coba? Ini sudah harus disetop kayak gini, harus. Begitu panen memang langsung masuk dryer, kering, langsung masuk ke rice mill, ke penggilingan, mesti harus seperti itu.

Ada yang memiliki dryer? Artinya dijemur di jalan kan? Atau dijemur di halaman kan? Sudah enggak musim seperti itu, sudah. Musimnya sudah berganti. Silakan Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian segera ambil yang namanya rice milling unit, dryer, mesin packaging. Sudah, bikin itu. Itu kan macam-macam, ada yang kapasitas, ada yang harganya Rp500 juta, ada yang harganya Rp2 miliar ada, ada yang harganya Rp48 miliar ada, saya sudah lihat semuanya. Semuanya, semuanya itu visibel untuk dibiayai oleh bank, visibel. Apalagi yang punya duit sendiri, lebih visibel lagi.

Kalau kita terus-teruskan seperti ini, Pak Ketua Umum, kalau kita terus-teruskan seperti ini, padi masih dijejer-jejer dijemur di depan jalan di desa-desa, sudahlah sampai kapanpun kita enggak akan, pertanian kita enggak akan maju. Percaya saya, sudah. Harus, harus berani mengubah pola pikir kita, mindset kita ubah semuanya. Baru kemudian kita memilih komoditas-komoditas yang lain selain padi, selain jagung yang memiliki nilai yang tinggi sekarang ini, misalkan kopi. Kenapa tidak, pada daerah-daerah tertentu ini sangat menguntungkan. Rempah-rempah yang juga mulai dulu. Sudah mulai kita tinggalkan, saya perintah ke Menteri Pertanian rempah-rempah harus dimulai lagi ditanam. Ini kekuatan kita sejak dulu, sejak dahulu kala. Orang Eropa saja bertempur ke sini gara-gara rebutan rempah-rempah, sekarang enggak ada yang nanam, enggak ada peremajaan. Keliru besar kita.

Saya sudah perintah ini dalam tiga tahun yang lalu, siapkan bibit-bibit yang sudah dimulai tapi alangkah lebih baiknya kalau HKTI juga ikut berbondong-bondong, mulai memikirkan kembali urusan yang berkaitan dengan rempah-rempah. Jangan kita berbelok arah, kemudian diambil oleh negara lain. Kayak lada itu sudah diambil ini oleh Vietnam. Baru saja ngambilnya juga. Kita sudah hampir kalah padahal kira rajanya lada. Jadi hati-hati mengenai ini.

Ada yang ingin disampaikan? Ya, maju sini. Sebentar, jangan maju kalau belum ditunjuk. Ini senang sekali sih kalau sudah disuruh maju, enggak ngerti saya. Dan tidak ada hadiah sepeda, hati-hati. Coba yang perempuan tadi, iya Ibu sini. Yang maju tidak ada hadiah sepeda. Jangan semangat maju penginnya sepeda. Oke sini. Silakan sini. Ya dikenalkan.

Alfian (Petani Dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur)
Bismillahirrahmanirrahim. Saya M. Alfian dari Jawa Timur, tepatnya di Pamekasan, lebih tepat lagi di Kecamatan Palengaan. Terima kasih Bapak Presiden atas waktunya yang diberikan kepada kami. Saya nanam tembakau, Pak Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Kenapa tembakau?

Alfian (Petani Dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur)
Karena komoditas yang ada di Pamekasan umumnya di Madura itu untuk Pamekasan menjadi daun emas biasanya Presiden, menjadi daun emas, tapi kebetulan karena tembakau ini cuma setiap tahun itu satu kali, untuk lainnya itu kadang kami nanam bawang merah.

Presiden Republik Indonesia
Bawang merah sekarang harganya jatuh atau naik?

Alfian (Petani Dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur)
Lagi stabil untuk saat ini Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Lagi stabil. Kita ini hati-hati ya, kalau pas harga tinggi, semuanya nanam bawang merah. Panen, panen bareng-bareng, jatuh bareng-bareng. Hati-hati mengelola yang namanya komoditas pertanian itu. Jangan sampai semuanya begitu cabai harga Rp80 (ribu) semuanya nanam cabai, semuanya cabai, cabai, cabai. Begitu panen bareng-bareng harganya jadi Rp8.000-Rp6.000. Nah, inilah fungsinya manajemen, juga di HKTI agar disampaikan per klaster, tidak bersama-sama nanam komoditas yang sama, sehingga kalau jatuh tidak jatuh bareng. Ya, berarti apa keinginannya?

Alfian (Petani Dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur)
Permohonan kami Presiden, kemarin Bapak Menteri menyampaikan kepada kita bahwa di Kementerian itu ada bibit sapi Belgia. Sapi yang sudah ada di Kementerian sekarang sudah ada dua ratus, dua ratus ekor. Izin Presiden, kemarin saya menyimak betul yang disampaikan oleh Bapak Menteri. Sehingga catatan saya, di kepala saya itu cuma satu tadi malam, saya kalau ketemu dengan Presiden saya mau dari HKTI ini, minimal Jawa Timur dapat satu untuk sapi Belgia itu, Presiden. Minimal, minimal satu karena jumlahnya masih dua ratus ekor, jadi kalau diminta semua, insyaallah enggak dikasih Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Satu?

Alfian (Petani Dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur)
Satu, Presiden. Untuk HKTI Jawa Timur. Untuk dijadikan sampel karena di Madura itu sudah ada Madrasin, mudah-mudahan nanti kalau misalnya Belgia dinikahkan dengan sapi Madura menjadi Belgia-Madura misalnya Presiden. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Ya oke. Satu, kalau satu saya sanggupi.

Alfian (Petani Dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur)
Terima kasih, Bapak Presiden.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Terima kasih Pak Presiden. Saya Karolin, Ketua BPU Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Banyak salam dan terima kasih dari petani kami Bapak. Kami petani padi. Paling banyak, tertinggi di Kalimantan Barat untuk produksi padi tahun ini. Tapi kami belum punya waduk, Pak. Nah, kami sudah membawanya ke…

Presiden Republik Indonesia
Yang belum punya, yang belum punya waduk itu bukan hanya Landak saja, banyak.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Ini Pak lagi lapor. Kami sudah merintis agar padi kami bisa masuk pasar modern. Sudah masuk hypermart mulai dari sekarang.

Presiden Republik Indonesia
Sudah dikemasan?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Sudah di-packaging, sudah masuk hypermart.

Presiden Republik Indonesia
Packaging, kemasan, masuk hypermart.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Dan kami menggandeng Credit Union, jadi koperasi. Dan kami mengharapkan agar perbankan bisa ikut juga bersama-sama dengan kami, karena saya sudah keliling ke perbankan belum ada respons sama sekali dari BNI, dari BRI. Mohon maaf, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Sebentar, bank itu juga memiliki prosedur yang prudent, hati-hati, kalau sebuah produk itu secara ekonomi dan keuangan visibel, pasti diberi berapa pun. Nah, oleh sebab itu membuat yang namanya proposal untuk perbankan itu sangat penting sekali. Mungkin perlu, enggak apa-apa, ke bank minta, oke saya nanti perintah saja untuk diajari membuat proposalnya seperti apa sehingga menjadi bankable.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Mohon izin, Pak Presiden. Kebijakan di tingkat pusat sudah sangat baik, tetapi di tingkat kantor wilayah belum sampai ke sana sosialisasinya. Kepala kantor wilayah masih cuek Pak Presiden. Pak Presiden punya program yang luar biasa baik tapi belum sampai ke sana.

Presiden Republik Indonesia
Wilayah seperti itu benar?

Hadirin
Betul.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Kepala kantor wilayahnya bingung, Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Oke, mau pinjam berapa?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Wah, giliran saya yang bingung. Saya mau pinjam untuk rice milling dan packaging-nya sehingga kami bisa masuk hypermart dan bisa mengembangkan lagi.

Presiden Republik Indonesia
Harganya berapa? RMU-nya?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Pak, enggak usah yang mahal-mahal, yang Rp1-2 miliar saja sudah senang, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Rp1-2 miliar itu gede itu, RMU. Jangan dipikir kecil, itu gede itu. Saya sudah lihat beberapa rice milling unit harga Rp2M itu sudah gede banget. Kapasitas berapa ya?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Lima puluh per jam.

Presiden Republik Indonesia
Ya betul. Gede banget itu. Enggak, kalau yang Rp2 miliar itu isiannya ada, bisa ada terus?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Ada.

Presiden Republik Indonesia
Ya berarti sangat visibel. Ini BRI.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Terima kasih, Pak Presiden. Boleh satu lagi, Pak Presiden?

Presiden Republik Indonesia
Sebentar, dicek dulu. Cek, visibel, langsung beri. Saya kira produsen-produsen yang seperti ini yang memang harus dibantu. Tapi memang harus, harus visibel, artinya banknya juga tidak ada masalah, yang nasabahnya juga mendapatkan keuntungan, gitu lho, ya kan? Kita kan enggak pengin, ngambil dari bank kemudian baru setengah main macet. Kan enggak pengin seperti itu kan? Penginnya dua tahun rampung menjadi milik sendiri, jalan gitu lho.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Satu lagi Pak Presiden, soal replanting sawit.

Presiden Republik Indonesia
Sebentar, tadi di Landak, di mana? Tempatnya di mana? Alamatnya di mana?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Kecamatan Menjalin.

Presiden Republik Indonesia
Ya, sudah. Nanti biar dicari sama BRI.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
BRI ya Pak. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Atau maunya apa? BRI atau BNI? Itu ada semua, Mandiri ada semua, BTN ada semua. Dirut-nya ada semua.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Saya sudah pernah berurusan dengan BNI terkait dengan replanting sawit dan lelet, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Wong sawit ini harganya jatuh, suruh ngambil kredit, ya enggak mungkin diberi.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Kan program Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Iya. Kalau sawit, saya sarankan sawit itu masuk ke hilirisasinya, turunan dari CPO-nya. Mau bikin industrinya, mau bikin untuk sabun, untuk kosmetik, untuk lah itu. Kalau tanaman sawit, sekarang ini kita tanaman sawit kita sudah kurang lebih empat belas juta (ton), produksi kita sekarang sudah 46 juta ton, 46 juta ton lho setahun, coba? Memasarkannya gimana? Itu kalau dinaikkan dalam truk, truk kecil empat ton itu, truk engkel empat ton, itu sebelas juta truk lho. Iya betul, sebelas juta truk itu, bayangkan coba. Mengelola barang 46 juta ton bukan gampang. Eropa ada masalah, langsung si harga juga turun, kalau suplainya gede banget. Apakah enggak ada komoditas lain yang masih memiliki pasar ke depan yang lebih baik? Kalau sawit itu, maaf ya, sawit itu sudah gede banget kita ini, gede banget. Ini kita punya masalah dengan EU, dengan Uni Eropa belum rampung. Ada lagi kita ini dengan India, belum rampung juga, terkena tarif bea masuk.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Izin Pak, harga sudah mulai bagus tapi Pak.

Presiden Republik Indonesia
Iya, harganya sudah naik tahu tapi kalau ada komoditas yang lain yang sebetulnya enggak pernah kita lihat, lha itulah sebetulnya kesempatan. Itu nanti kayak yang tadi saya cerita, pas harga jatuh, jatuh bareng-bareng gitu lho. Ingat empat juta hektare. Kenapa enggak misalnya, misalnya, lahan-lahan yang besar ada nanam durian.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Durian di dua tempat kecamatan di tempat kami, Pak, dibagi langsung.

Presiden Republik Indonesia
Ya tapi dikelola bukan dari ini, dalam jumlah yang besar, dikelola dengan manajemen yang baik. Itu yang namanya Tiongkok, minta durian dari Malaysia itu kurang-kurang. Musang King, kurang-kurang. Duriannya ya bagus kita. Kita ini mau durian kuning ada, durian item ada, durian merah ada, saya lihat semuanya, ada semua kita ini. Durian ya macam-macam, saya lihat semuanya. Yang durian item ada, durian merah ada, durian kuning banyak. Kita ini punya macam-macam tapi tidak terkelola dalam sebuah manajemen yang bagus. Ya, apa lagi?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Soal izin, mengenai program replanting sawit, kami banyak terima kasih sudah dipenuhi separuh dari permintaan kami, 1.900 hektar sudah cair, Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Ya, jadi replanting ini gunanya untuk apa? Karena sawit yang sudah gede-gede, umur 20-25 tahun tidak pernah diremajakan kembali. Ini kita, Pemerintah memberikan dana untuk replanting agar apa? Produksi setiap hektarenya itu menjadi naik kembali lah. Kalau produksi per hektar naik lagi artinya apa? Nanti bisa lipat 46 juta ton tadi, hati-hati. Benar? Iya.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Sambil menunggu berbuah, kami izin mohon bibit untuk jagung, Pak. Karena tiga tahun petani tidak akan mendapatkan hasil.

Presiden Republik Indonesia
Iya, tadi di antara sawit saya kira bagus.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Atau kedelai.

Presiden Republik Indonesia
Jagung dari mana? Dari Mentan?

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Iya, Pak. Atau dari perbankan jika ada yang ingin memberikan pendampingan, karena setelah ditanam dengan program Bapak Presiden, belum ada pihak yang akan membantu petani memberikan bantuan pupuk dan sebagainya untuk merawat sawit ini sehingga sesuai dengan tujuannya dilakukan peremajaan untuk meningkatkan produktivitas. Jadi harus dipupuk beberapa kali setahun. Nah, sampai saat ini lembaga keuangan yang akan mendampingi belum ada Bapak.

Presiden Republik Indonesia
Saya senang terus terang saja kalau orientasinya semuanya petani itu ke perbankan. Artinya apa? Pasti ada hitung-hitungan, di situ pasti ada kalkulasi. Karena yang namanya bantuan itu biasanya malah meninabobokan kita. Tapi juga hati-hati menggunakan, tapi hati-hati menggunakan uang bank itu hati-hati, jangan sampai hitungannya meleset, kalkulasinya meleset. Pak Wadirut BRI coba.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Kami lewat BNI, Pak. Jadi penyaluran dana Rp70 miliar dari Bapak Presiden disalurkan lewat BNI tapi sampai hari ini BNI belum ada program pendampingan.

Presiden Republik Indonesia
Coba maju ke depan sebentar Pak, BRI. Ya, biar kenal semuanya. Ya, Pak Wadirut BRI, kenalkan Pak.

Sunarso (Wakil Direktur Utama Bank BRI)
Baik. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam.

Sunarso (Wakil Direktur Utama Bank BRI)
Saya Sunarso, saya insinyur pertanian. Dan saya menangani kredit pertanian sejak masih di Bank Dagang Negara, kemudian di Mandiri saya bikin satu divisi khusus menangani pertanian, dan kemudian dipercaya ke BRI, jadi Wadirut, kemudian ke Pegadaian saya juga bikin scheme-scheme gadai untuk petani, dan sekarang ditebus, balik lagi ke BRI, setelah digadaikan.

Presiden Republik Indonesia
Setelah Dirut di Pegadaian beliau sekarang Wadirut di BRI. Pertanyaan saya Pak, ini tadi kan produsen-produsen kelihatannya saya baca, ini pengin masuk ke perbankan, tapi kok sulit keluar uangnya, ini penyebab lapangannya apa sih dari pengalaman?

Sunarso (Wakil Direktur Utama Bank BRI)
Mungkin, kadang-kadang memang kelihatannya sulit ke bank, tapi kalau ditanya sudah pernah ke bank belum, bisa jadi belum juga.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Saya sudah, Pak.

Sunarso (Wakil Direktur Utama Bank BRI)
Di bank itu memang highly regulated karena bank ada, ada sistem sendiri yang mengamankan dan yang mengatur, gitu. Karena bank pada dasarnya yang diputar itu juga utang, utang dari masyarakat. Itu mungkin yang mesti paham. Jadi bank itu utang dari Bapak-Ibu sekalian, kemudian disalurkan lagi kepada Bapak-Ibu sekalian gitu. Lha kalau misalnya katakanlah macet, maka gitu yang dikhawatirkan adalah tabungan Bapak-Ibu sekalian atau deposito Bapak-Ibu sekalian enggak bisa dibalikin, gitu. Sehingga semuanya harus prudent dan harus hati-hati. Hitungannya mesti pas. Hitungannya mesti pas dalam artian, kita memang hitungannya itu mesti mendekati lah paling tidak, kalau tidak pas gitu. Jadi saya kira mungkin problemnya Bapak mungkin bisa kami sampaikan, mungkin memang diperlukan pendampingan dari bank, karena ada tahapan-tahapan yang layak tetapi belum, administrasinya belum bisa terpenuhi itu kita dekati dengan PKBL namanya. Jadi PK itu Program Kemitraan itu softload dan kemudian dibantu oleh perbankan untuk bikin proposalnya segala macam.

Presiden Republik Indonesia
Ya sudah kalau gitu gini saja lah Pak Wadirut nanti dengan Pak Moeldoko, yang HKTI siapa nanti coba di cek ke lapangan kayak apa. Sudah.

Sunarso (Wakil Direktur Utama Bank BRI)
Baik Pak. Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Kalau yang visibel beri, kalau enggak visibel ya jangan.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Kalau replanting Pak Presiden?

Presiden Republik Indonesia
Ya termasuk replanting, nanti saya perintah ke bank yang terkait dengan di Kalimantan Barat. Ya.

Karolin (Ketua BPU, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat)
Siap. Terima kasih, Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Ya, terima kasih. Tidak saya beri sepeda tapi diberi foto, sudah. Ini foto ini kalau ditukar sama sepeda bisa dapat dua puluh sepeda ini. Enggak, ini di belakangnya kan ada tulisannya, yang mahal ini lho, ‘Istana Presiden Republik Indonesia’, sudah.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Nanti lewat Pak Jenderal Moeldoko saja, lewat beliau nanti.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wasaalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru