Pembukaan Rembuk Nasional (Rembuknas) Pendidikan dan Kebudayaan, 12 Februari 2019, di Pusdiklat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  Sawangan, Depok, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 12 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 3.132 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja yang hadir, khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota DPR RI, DPD RI yang hadir,
Yang saya hormati seluruh Pejabat Eselon 1 dan 2 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Serta yang saya hormati Kepala Dinas Pendidikan baik provinsi, kabupaten dan kota dari seluruh Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote,
Bapak-Ibu sekalian para pakar pendidikan, organisasi profesi guru, Ketua PGRI,
Bapak-Ibu hadirin undangan yang berbahagia.

Sebelum masuk ke urusan pendidikan, saya ingin bercerita sedikit mengenai infrastruktur, boleh ya? Karena nanti ini menyangkut pergeserannya akan kelihatan. Jadi selama empat setengah tahun ini, kita fokus, kita konsentrasi, anggaran kita juga titiknya menuju ke sana, yaitu pembangunan infrastruktur. Kenapa ini dibangun? Karena memang daya saing kita sangat rendah, competitiveness kita sangat rendah. Bandingkan biaya logistik, biaya transportasi di kita dengan Malaysia atau Singapura, dua sampai dua setengah kali lipat lebih mahal di kita, karena jalan kita yang enggak baik, airport kita yang runway-nya kurang panjang, pelabuhan kita yang enggak siap. Inilah yang menyebabkan kalahnya kita bersaing/berkompetisi dengan negara-negara tetangga kita. Produktivitas kita, saya omong apa adanya, investasi dan ekspor kita kalah. Dengan Singapura jelas kita kalah, dengan Malaysia kita juga kalah, dengan Filipina kita juga kalah, dengan Thailand kita kalah, terakhir dengan Vietnam kita juga kalah. Empat tahun yang lalu, saya tidak mau kita kalah nanti dengan Kamboja, kalah dengan Laos. Mau apa kita? Oleh sebab itu, inilah sebuah fondasi, sebuah syarat bagi sebuah negara untuk bisa bersaing, yaitu infrastruktur dulu yang kita benahi.

Tahun ’78, saya cerita sedikit agak mundur, tahun ‘78 kita telah membangun yang namanya tol Jagorawi, tahun ’78. Malaysia melihat kita, jalan tol itu apa sih. Thailand melihat kita, manajemennya seperti apa sih. Filipina melihat kita, konstruksinya seperti apa sih. China melihat kita, manajemen konstruksi pengelolaannya seperti apa. Tahun ‘78 mereka melihat kita semuanya tapi begitu sudah 40 tahun, kita baru bisa membangun jalan tol 780 kilometer, 780 kilometer. Langsung kita bandingkan saja yang ekstrem ini pembandingnya, dengan China/Tiongkok, sekarang mereka telah memiliki 280.000 kilometer, kita 780 kilometer. Enggak pakai ribu lho ya, 780 kilometer, 1.000 saja enggak ada. 40 tahun. Inilah ketertinggalan kita yang mau tidak mau inilah yang kita hadapi, faktanya seperti itu.

Terhadap pelabuhan, airport mirip-mirip, kita terlambat. Coba kita bandingkan jalan yang ada di Jawa atau di Sumatra dengan yang di Papua. Ada yang dari Papua? Coba kita lihat, coba kita lihat jalan dari Merauke ke Boven Digoel. Oh, Boven Digoel, Boven Digoel-nya ada di sini? Biar ingat, saya akan perlihatkan fakta seperti ini. Ini kalau di Jakarta Sudirman-Thamrin-nya, coba. Inilah yang akhir tahun kemarin saya cek, saya lihat sudah mulus semuanya tapi sebelumnya seperti ini. Ini jalan.

Bagaimana kita bisa bersaing, bagaimana Saudara-saudara kita di Papua bisa menikmati logistik, transportasi, harga, kalau jalannya seperti ini? 140 kilometer kurang lebih, saat itu bisa dua hari, bisa satu setengah hari, bisa tiga hari, sehingga harus masak di jalan. Inilah kenapa kita bangun yang namanya Trans Papua. Saya pernah datang dari Merauke ke Sota, dari Merauke ke arah Boven Digoel tapi belum sampai ke Boven Digoel.

Contoh yang kedua, ini masalah high cost economy. 2014 akhir saya ke Wamena, saya sudah empat kali ke Wamena. Saat itu saya pertama kali ke Wamena, menginap di hotel. Malamnya saya keluar, saya tanya pada rakyat, “BBM di sini harganya berapa?” Saya tanya ke satu orang, “Pak, di sini harganya Rp60.000/liter.” Saya pindah lagi ke yang lain, saya tanya, “harga BBM di sini berapa.” “Rp60.000/liter, Pak.” Pindah lagi, “Rp60.000, Pak.” Pindah lagi, “Rp60.000/liter Pak, tapi itu kalau pas cuaca baik. Kalau cuaca enggak baik bisa Rp100.000/liter.” Supaya kita bisa merasakan semuanya Saudara-saudara kita yang ada di sana. Padahal kita di sini hanya harga Rp6.450/liter. Itu kalau naik Rp500 perak saja, demonya di depan Istana itu tiga bulan. Saya merasakan, tiga bulan naik Rp500 perak. Saudara-saudara kita yang ada di Wamena, di Pegunungan Tengah Rp60.000 sampai Rp100.000 sudah bertahun-tahun enggak pernah yang namanya demo ke Istana, enggak pernah. Kenapa di 2015 awal saya perintah kepada Menteri, enggak bisa seperti ini terus, saya minta harga BBM di Pegunungan Tengah dan di Papua harus sama seperti yang ada di Jawa. Itupun saya beri waktu setahun juga meleset, hampir dua tahun baru bisa terlaksana BBM satu harga itu.

Inilah yang sering saya sampaikan, mengenai jalan Trans Papua dan mengenai BBM satu harga, inilah yang sering saya sampaikan yang namanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebetulnya kalau saya orang politik, kalau saya orang politik ya, membangun itu di Jawa saja, karena 149 juta penduduk kita itu ada di Jawa. Benar ndak? Return politiknya cepat, return ekonominya juga cepat. Tapi kita ini membangun negara, kita ingin mempersatukan. Infrastruktur ini mempersatukan kita. Orang Aceh bisa kenal orang Papua, orang Maluku bisa kenal orang Kalimantan karena ada infrastruktur yang kita siapkan. Orang hanya sering berpendapat ini hanya urusan ekonomi, urusan infrastruktur, urusan… Bukan, ada urusan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, ada urusan yang berkaitan dengan persatuan kita sebagai sebuah negara besar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Ini yang sering orang tidak merasakan.

Saya pernah mencoba terbang langsung dari Banda Aceh menuju ke Wamena, bukan Jayapura, Wamena, sembilan jam lima belas menit. Diperlukan waktu sembilan jam lima belas menit itu kalau kita naik pesawat, saya enggak tahu kalau jalan kaki. Itu kalau kita terbang dari London di Inggris, ke timur melewati satu, dua, tiga, empat, lima, enam, mungkin enam atau tujuh negara baru sampai di Istanbul di Turki itu sembilan jam. Apa artinya? Negara ini negara besar, bangsa ini bangsa besar. Rakyat kita sekarang juga sudah 260 juta jiwa yang tersebar di 17.000 pulau, 514 kabupaten/kota, dan 34 provinsi.

Apa yang ingin saya sampaikan di sini? Tantangan kita sebagai negara besar tantangannya juga besar. Mengelola negara ini juga tidak mudah karena kita harus mengatur logistik dan mengatur infrastruktur di pulau-pulau yang sangat banyak yang kita miliki.

Oleh sebab itu, bergeser kepada pembangunan selanjutnya, harus ada shifting strategi, harus ada pergeseran strategi. Setelah infrastruktur, kita akan masuk kepada yang namanya pembangunan sumber daya manusia secara besar-besaran. Di sinilah Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian sangat bertanggung jawab berhasil tidaknya nanti yang namanya pembangunan, pengembangan kualitas sumber daya manusia secara besar-besaran. Kita harus berubah karena prasyarat kita untuk keluar dari jebakan negara yang berpendapatan menengah (middle income trap), infrastruktur kita harus baik, sumber daya manusia kita harus baik. Dua ini menjadi prasyarat supaya kita tidak terjebak pada negara dengan pendapatan menengah dan tidak bisa melompat kepada negara maju. Syaratnya itu. Inilah yang kita kejar.

Oleh sebab itu, kita mulai tahun ini dan mungkin tahun depan akan besar-besaran refocusing anggaran untuk masuk bergeser kepada pembangunan sumber daya manusia. Apa yang kita kerjakan? Vocational training, vocational school, politeknik, upgrading skill, BLK pondok pesantren, semuanya harus kita kerjakan.

Oleh sebab itu, saya minta kepada Pak Menteri, kewenangan pendidikan, urusan pendidikan daerah, kabupaten, kota, provinsi, pusat ini harus betul-betul jelas. Apa yang menjadi tanggung jawab Saudara, apa yang menjadi tanggung jawab Menteri; apa yang menjadi tanggung jawab provinsi, apa yang menjadi tanggung jawab Menteri; apa yang menjadi tanggung jawab kota, apa yang menjadi tanggung jawab Menteri harus jelas. Tidak bisa kita tidak terkonsolidasi, tidak terkoordinasi dengan baik. Dan kita ingin, kembali lagi, bahwa pendidikan yang fokus pada keterampilan untuk pekerja ini sangat penting sekali. Sangat penting sekali.

Tadi saya sudah sampaikan ada BLK di pondok pesantren, mungkin tahun ini kita akan keluarkan 1.000 BLK itu mau kita evaluasi. Kemarin sudah bikin 50, evaluasi. Ini bikin 1.000, evaluasi lagi, kita koreksi/perbaiki lagi, tambah lagi jumlahnya.

Sekolah vokasi, hati-hati, SMK-SMK, kita guru-guru harus di-upgrade, terutama yang berkaitan dengan kemampuan skill, kemampuan guru-guru dalam melatih siswanya. Guru yang terampil harus lebih banyak daripada guru normatif. Guru normatif misalnya guru agama, guru Pancasila, guru Bahasa Indonesia, guru… Itu harus lebih sedikit dan yang lebih banyak SMK itu adalah guru-guru terampil, guru-guru yang mampu melatih. Tadi juga penting, tapi informasi yang saya terima guru normatif ini justru persentasenya lebih banyak, 65 persen. Yang 35 persen ini tugas Kementerian, tugas Bapak-Ibu sekalian untuk menyiapkan ini, meng-upgrade agar guru-guru yang bisa melatih, guru-guru yang terampil itu lebih banyak. Guru produktif? Istilahnya guru produktif? Guru produktif. Berarti yang satunya enggak produktif? Guru terampil lah, guru terampil.

Kita juga harus mulai mengenalkan kepada anak-anak kita, ini sudah zamannya Revolusi Industri 4.0, revolusi industri jilid keempat, revolusi industri generasi keempat. Kita harus memberikan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan digitalisasi. Coding-coding, bahasa coding anak-anak itu harus mengerti. Ke depan itu akan sangat penting bahasa coding, sangat penting sekali karena media komunikasi baru nantinya ada di sana. Ingat, sudah sering saya sampaikan, anak-anak kita, guru-guru kita, semuanya harus mengerti artificial intelligence harus mengerti, internet of thing harus mengerti, advanced robotic harus mengerti, cryptocurrency harus mengerti, virtual reality harus tahu. Mulai dikenalkan. Karena ini sebuah kesempatan, kalau kita bisa melakukan lompatan katak, melompati negara lain, inilah kesempatan kita. Oleh sebab itu, pembangunan sumber daya manusia nantinya betul-betul kita akan fokuskan, anggarannya kita fokuskan, programnya kita fokuskan. Infrastruktur biar berjalan, sudah berjalan, bisa ditinggal, kita bergeser ke pembangunan sumber daya manusia.

Ada yang dari jauh? Ibu Kepala Dinas yang jauh, yang paling jauh, dari kabupaten atau kota, coba tunjuk jari, ada? Boven Digoel? Saya tadi tanyanya Ibu, ini Bapak. Ibu? Dari mana Bu? Sabang? Boleh maju, Sabang silakan maju. Ini paling barat. Sekarang saya mengundang yang paling timur, Boven Digoel boleh.

Ya, dikenalkan Bu, nama.

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam.

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Perkenalkan nama saya Desiana, S.Pd., M.Pd. Saya perwakilan dari Kota Sabang. Saya Kepala Dinas…

Presiden Republik Indonesia
Panggilannya Bu Desi?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Iya, benar Pak.

Presiden Republik Indonesia
Bu Desi, ya. Kepala Dinas?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Kadis Dikpora Kota Sabang, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Kota Sabang, Kota Sabang, ya. Persoalan pendidikan apa yang paling krusial di sana?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Terima kasih Pak atas kesempatannya kepada kami. Ya, ada beberapa hal memang…

Presiden Republik Indonesia
Satu saja, jangan banyak-banyak. Satu saja. Nanti menyampaikan persoalan kebanyakan. Satu saja, satu saja.

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Kekurangan guru Pak hari ini di kami.

Presiden Republik Indonesia
Kekurangan guru?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Ya.

Presiden Republik Indonesia
Benar?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Benar. Kami daerah 3T, Pak. Cuma masalahnya hari ini 3T di kami, mungkin tadi ada Pak Menteri, itu kita hanya dua kabupaten Pak, mungkin sedikit, tetapi satu kabupaten itu termasuk daerah 3T, satu lagi tidak. Itu jadi masalah di kami hari ini. Jadi, hari ini bantuan yang diberikan ke kami hari ini, satu daerah ada, satu daerah tidak ada. Jadi itulah menjadi dilema di kami Pak hari ini.

Presiden Republik Indonesia
Tahu, tahu, tahu, tahu. Iya oke, nangkep. Satu saja, jangan tambah lagi, sudah cukup. Kenalkan Bapak, silakan. Sudah, dikenalkan.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Nama saya Matias Kainon, S.Pd., M.Pd.

Presiden Republik Indonesia
Pak, Pak, Pak Matias. Matias, S.Pd., M.Pd., iya. Bapak dari?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Saya dari Kabupaten Boven Digoel.

Presiden Republik Indonesia
Boven Digoel?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Provinsi Papua.

Presiden Republik Indonesia
Tahu. Bapak dari Boven Digoel sekarang mau terbang ke Jakarta lewat mana dulu?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Dari Boven Digoel ke Merauke.

Presiden Republik Indonesia
Ke Merauke.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Merauke ke Makassar.

Presiden Republik Indonesia
Merauke ke Makassar.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Setelah itu ke Jakarta.

Presiden Republik Indonesia
Berapa jam itu?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Lima jam.

Presiden Republik Indonesia
Lima jam? Benar lima jam? Dari Boven ke Merauke berapa jam sekarang?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Boven ke Merauke 45 menit.

Presiden Republik Indonesia
45 menit?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Pakai pesawat.

Presiden Republik Indonesia
Pakai pesawat? Wah, saya pikir tadi lewat darat, mulus, ngebut begitu. Oke.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Kalau lewat darat delapan jam.

Presiden Republik Indonesia
Kalau lewat darat delapan jam? Oke, tapi sudah mulus kan sekarang?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Belum Bapak.

Presiden Republik Indonesia
Belum? Yang saya cek ya, kemarin saya cek dari Merauke ke Sota, kemudian Merauke yang belok ke sebelum Boven itu sudah mulus. Ini yang belum yang sebelah mana ini, dari?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Dari arah Kelapa Sawit ke arah Tanah Merah masih ada beberapa titik.

Presiden Republik Indonesia
Beberapa titik? Tapi tidak semuanya kayak dulu kan, kayak gambar tadi kan?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Sudah baik.

Presiden Republik Indonesia
Betul sudah baik. Iya memang belum, memang belum. Waktu saya ke sana memang masih dalam pengerjaan, sehingga saya enggak sampai ke Boven Digoel. Oke, Pak Matias, persoalan besar apa, satu saja yang ada, mengenai masalah pendidikan yang ada di Boven Digoel? Masalah pendidikan bukan jalan.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Persoalan utama yang ada di Boven Digoel adalah pendidikan dasar, terutama di SD.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Tenaga guru yang mengajar di sana rata-rata adalah tenaga honor yang dari ijazah SMA/SMK.

Presiden Republik Indonesia
Gurunya ada, tetapi guru honor, begitu? Atau kurang?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Gurunya masih kurang. Dan, tenaga yang mengajar bukan sarjana pendidikan, tapi masih berijazah SMA/SMK.

Presiden Republik Indonesia
Terus apa usahanya Pak, dari daerah apa usahanya?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Yang menjadi program saya setelah saya dilantik dua bulan ini.

Presiden Republik Indonesia
Oh, Bapak baru dilantik dua bulan?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Oke bagus, berarti fresh, fresh, fresh. Oke silakan.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Yang menjadi program saya, pertama, pemerataan guru yang mungkin menumpuk di pusat, ibu kota. Yang kedua, mengusahakan supaya tes CPNS ini ada formasi guru yang bisa diisi di sekolah-sekolah.

Presiden Republik Indonesia
Oke, sudah, ini sudah. Artinya memang setiap tempat itu memiliki persoalan sendiri-sendiri di bidang pendidikan, beda-beda semuanya, saya yakin beda-beda. Nanti kita undang kepala dinas, yang pasti juga mungkin mirip tapi ya beda. Ada yang ingin disampaikan?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Ada hal lain?

Presiden Republik Indonesia
Enggak, bukan hal lain, yang ingin disampaikan kepada saya.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Kami usul kepada Bapak untuk formasi tes CPNS kalau bisa ditambah untuk formasi guru.

Presiden Republik Indonesia
Khusus Boven Digoel?

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Khusus Boven Digoel.

Presiden Republik Indonesia
Oke, oke. Ibu ada ke saya apa?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Untuk sama Pak, hari ini kami membutuhkan guru yang memang lebih banyak. Karena kemarin begitu tes itu, yang kami harapkan formasi kemarin ada 100 sekian tapi yang lewat hanya puluhan, atau sepuluh atau lima belas begitu.

Presiden Republik Indonesia
Kenapa?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Tidak lulus.

Presiden Republik Indonesia
Tidak lulus?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Iya, tidak lulus, itu kendalanya hari ini, karena mungkin grade nilainya…

Presiden Republik Indonesia
Terlalu tinggi?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Benar, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Berarti minta grade-nya diturunkan?

Desiana (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Sabang, Aceh)
Khusus untuk daerah.

Presiden Republik Indonesia
Nanti setiap kabupaten/kota minta khusus-khusus begitu. Oke, sudah. Terima kasih. Pak Matias, terima kasih. Iya.

Matias Kainon (Dari Boven Digoel, Papua)
Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Iya. Jangan minta sepeda ya. Tapi saya beri ini, saya beri Bu Desi tadi, ini yang namanya saya bilang tadi, kecepatan, baru lima menit, fotonya sudah jadi ini. Ini kalau dihitung, dinilai dengan sepeda jelas lebih mahal ini, karena di sini ada tulisan ‘Istana Presiden Republik Indonesia’, yang mahal ini. Oke, silakan. Ini Pak Matias, Pak Kadis. Iya selamat, selamat. Terima kasih. Sudah, silakan kembali. Ada yang mau maju lagi?

Baiklah Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Kita sekarang ini berhadapan pada persaingan antarnegara yang sangat ketat. Sekali lagi, persaingan/kompetisi antarnegara yang sangat ketat. Kuncinya, kuncinya ada di sumber daya manusia kita. Apabila kita bisa meng-upgrade secepat-cepatnya sehingga levelnya melebihi negara-negara di kanan-kiri kita, itulah yang namanya nanti kemenangan kita dalam bersaing, dalam berkompetisi. Saya ingin tunjukkan tadi. Karena ke depan, yang namanya negara kaya mengalahkan negara miskin sudah enggak ada, negara besar mengalahkan negara yang kecil juga tidak ada. Ke depan semakin ke sana semakin ke sana, negara cepat itu akan mengalahkan negara yang lambat, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lamban. Sehingga kita dalam hal apapun membutuhkan kecepatan, kecepatan, kecepatan. Tadi sudah saya tunjukkan, foto tadi, baru duduk di sini belum ada lima menit fotonya jadi. Ini kecepatan.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru