Pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, di Auditorium Menara Bank Mega, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, 7 September 2022 

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 7 September 2022
Kategori: Sambutan
Dibaca: 531 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju;
Yang saya hormati Direktur Eksekutif INDEF Bapak Tauhid Ahmad;
Yang saya hormati CEO CT Corp Bapak Chairul Tanjung, senior ekonom INDEF Bapak Didik J. Rachbini yang saya hormati;
Bapak-Ibu para ekonom, para undangan yang saya hormati.

Dunia sekarang ini berubah sangat luar biasa, perubahannya sangat luar biasa. Pertama memang diawali oleh pandemi, kita tahu semuanya. Dan kita beruntung saat itu, awal-awal pandemi Indonesia tidak lockdown. Saya enggak bisa memperkirakan kalau kita saat itu melakukan lockdown. Berakibat pada ekonomi seperti apa, berakibat pada sosial politik yang seperti apa. Karena memang awal-awal hampir mungkin 70 negara semuanya melakukan lockdown. Di kabinet sendiri 80 persen mintanya lockdown. Survei juga rakyat minta lebih dari 80 persen lockdown.

Tapi saat itu saya semadi, saya endapkan betul, maka benar kita harus melakukan itu. Dan jawabannya, saat itu saya jawab tidak usah lockdown, dan ternyata betul. Saya enggak bisa membayangkan kalau saat itu kita lockdown. Mungkin kita bisa masuk ke minus lebih dari 17 persen.

Kemudian dari pandemi kita juga belajar banyak mengenai bagaimana menghadapi guncangan-guncangan. Belajar sangat banyak, bagaimana mengonsolidasi negara ini agar bisa bersama-sama dari semua, dari pusat, kemudian provinsi, daerah sampai ke tingkat RT. Dari yang namanya ormas bergabung dengan TNI, dengan Polri, masyarakat semuanya bergerak bersama-sama.

Konsolidasi seperti itulah yang harus kita teruskan dalam menghadapi pascapandemi karena perang, karena adanya krisis energi, karena adanya krisis pangan, adanya krisis finansial. Yang paling penting kita bisa mengonsolidasi dari atas sampai ke bawah. Karena saya meyakini lanskap politik global ini akan berubah, bergeser. Lanskap ekonomi juga akan berubah dan bergeser.  Ke arah mana? Ini yang belum ketemu.

Sehingga saya juga titip pada para ekonom, jangan menggunakan pakem-pakem yang ada, jangan menggunakan sesuatu yang standar, karena ini keadaannya tidak normal, sangat tidak normal. Dibutuhkan pemikiran yang Abu Nawas, yang kancil-kancil gitu, agak melompat-lompat. Tapi memang, memang harus seperti itu.

Bekerja sekarang pun tidak bisa makro saja, enggak bisa. Ditambah mikro pun mungkin masih juga belum dapat. Sehingga makro iya, mikro iya, detail, fokus. Ketemu nanti satu-satu, tapi satu-satu enggak bisa sekarang ini. Karena sekali lagi, keadaannya sangat tidak normal.

Instrumen-instrumen yang kita miliki, instrumen fiskal, instrumen moneter, juga kadang-kadang bisa luput karena memang keadaannya tidak normal. Semua negara mengalami. Betul-betul kita diuji karena geopolitik globalnya memang juga enggak jelas, sangat tidak jelas.

Saya bertemu di G7 dengan pemimpin-pemimpin yang hadir saat itu. Sebelumnya dengan G20. Setelah itu muter lagi ke China, ke Jepang, ke Korea Selatan. Dan sebelumnya ketemu yang sumbernya sendiri, Presiden Zelenskyy dan Presiden Putin. Saya berbicara dengan Zelenskyy itu satu setengah jam, dengan Presiden Putin dua setengah jam. Tapi dengan kursi dekat, diterima tidak dengan jarak yang 5 meter. Kalau saya diterima, kalau saya diterima saat itu dengan jarak 5 meter, saya tinggal pulang. Diterima kayak gitu ada yang mau, kalau saya ndak, ndak mau.

Dari situlah saya menyimpulkan, dari diskusi-diskusi, bicara-bicara, yang terakhir ketemu dua presiden tadi saya simpulkan, bahwa keadaan ini akan berjalan masih lama lagi. Jangan berharap perang itu besok atau bulan depan selesai. Sangat tidak mudah. Kita mendorong agar terjadi saja, dialog saja, menyiapkan ruang dialog saja sangat-sangat sulit sekali. Sehingga saya belokkan sudahlah saya ngomong ini enggak ketemu-ketemu, sudah saya ngomong masalah krisis pangan saja, akhirnya agak ketemu.

Dan Presiden Putin saat itu menyampaikan, karena Presiden Zelenskyy menyampaikan kebutuhan untuk ekspor kira-kira stok 22 juta ton gandum dan panen baru 55 juta ton gandum, totalnya 77 juta ton harus keluar dari Ukraina, tapi tidak bisa keluar karena masalah jaminan keamanan dari Rusia enggak ada. Itu yang saya sampaikan kepada Presiden Putin. Dan Presiden Putin waktu saya sampaikan, “Oh saya jamin, enggak ada masalah”. Saya sampaikan kepada Presiden Putin, “boleh ini saya sampaikan ke media, statement?” “Oh silakan.” Saya sampaikan. Dan setelah itu mungkin dua atau tiga minggu sudah ada satu kapal yang mulai keluar dari Odessa menuju ke Istanbul.

Kembali lagi, artinya perang ini masih lama dan dampaknya menghitungnya juga sangat sulit. Ini mau imbasnya ke mana, ke mana lagi gitu.  Pangan ya, sudah terjadi kenaikan harga pangan di seluruh negara. Energi ya, naik sampai lima kali gas dan dua kali minyak harganya naik. Terus nanti akan berimbas ke mana lagi? Apakah ke keuangan, iya juga, akan lari ke sana juga. Tapi sejauh mana mempengaruhi growth, mempengaruhi inflasi. Negara mana yang kena? Nah, ini yang kita harus hati-hati betul, harus hati-hati betul. Tidak bisa lagi sekali lagi, kita hanya berbicara makronya saja, mikronya juga. Dan lebih penting lagi detail satu per satu harus dikupas.

Oleh sebab itu, memang saya mengajak kita semuanya merubah mindset kita, bahwa ekonomi dunia, geopolitik dunia berubah, dan sudah berubah. Oleh sebab itu, kita beruntung dalam tujuh tahun ini kita telah membangun fondasi, ini penting, infrastruktur. Jalan tol ini telah terbangun sampai saat ini 2.040 kilometer, bandara ada 16 baru bandara, pelabuhan 18 baru seaport kita. Bendungan sampai hari ini 29, tapi sampai akhir tahun nanti tambah lagi 9, berarti 38. Irigasi 1,1 juta hektare yang baru yang bisa teririgasi. Sehingga kemarin kita mendapatkan dari International Rice Research Institute (IRRI) yang menyatakan bahwa sistem ketahanan pangan kita baik dan swasembada beras sejak 2019.

Tetapi, bukan yang gede-gede itu saja. Saya selalu sampaikan, jangan dipikir kita itu urus yang gede-gede; tol, bendungan, pelabuhan, airport, ndak. Karena Dana Desa kita sampai saat ini sudah Rp468 triliun kita gelontorkan ke sana. Kalau Bapak-Ibu bertanya, jadi apa itu Rp468 (triliun)? Yang saya ingat 227 kilometer jalan desa itu jadi. “Pak, panjang banget lho 227 ribu kilometer, apa benar?” Jangan salah, itu masih pendek menurut saya. Karena desa kita itu 74.800, kalau dibagi 227 (ribu) dibagi itu, satu desa hanya 3 kilometer. Itu masih kurang, masih sangat kurang satu desa hanya 3 kilometer. Sehingga apa, jalan-jalan produksi di desa itu menjadi ada. Jembatan juga, menyambungkan antara satu dusun dengan dusun yang lain 1,3 juta meter yang telah dibangun dari Rp468 triliun tadi. Embung ada 4.500 embung. Hal-hal yang tidak pernah kita lihat, tetapi itu sudah terjadi dan sudah realisasi. Inilah Dana Desa yang sudah digelontorkan.

Kemudian yang kedua, hilirisasi. Hilirisasi secara nyata itu sudah kejadian. CPO dan turunannya, nikel dan turunannya, bauksit sudah. Jadi kalau kemarin kita empat tahun yang lalu kita setop nikel… tiga tahun yang lalu kita setop nikel dan kita bangun industrinya di dalam negeri, itu kelihatan mulai tampak hasilnya. Nanti tahun ini mungkin setop timah, tahun depan setop bauksit, tahun depannya lagi setop copper/tembaga, ya kan hasilnya kelihatan. Ini sering saya ulang-ulangi.

Contoh, nikel. Tujuh tahun yang lalu, enam tahun yang lalu ekspor kita kira-kira dari nikel itu hanya 1,1 miliar USD. 2021, 20,9 miliar USD, lompatannya… Nilai tambah lompatannya 19 kali. Nah, ini kalau mulai kita tarik lagi, setop  tembaga. Dulu sulit menyuruh Freeport buat smelter, mundur-mundur saja. “Pak, ini diperpanjang, nanti baru kita buat smelter.” Ndak, ndak, ndak, kamu buat smelter, kita perpanjang. Enggak bisa juga, enggak sambung-sambung. Ya sudah kita ambil saja, kita akuisisi saja 51 persen. Setelah dapat 51 persen, mayoritas, buat smelter, baru dibikin di Gresik.

Nanti, Bapak-Ibu akan lihat setelah Gresik beroperasi, operasional 2024, kelihatan berapa nilai tambah dari copper yang sudah lebih dari 50 tahun kita ekspor mentahan, raw material. Begitu juga nanti untuk bauksit setop, kira-kira mungkin akan muncul angka-angka di atas 30 miliar USD, entah dari nikel, entah dari copper, entah dari bauksit, saya pastikan itu.

Sehingga sekarang ini kelihatan, yang dulu neraca perdagangan kita, misalnya dengan China selalu minus. Saya ingat di 2014 itu minus sampai 13 miliar USD minus kita, neraca kita. 2021 kemarin, minusnya sudah menjadi minus 2,4 miliar USD. Tahun ini saya pastikan kita sudah surplus dengan RRT, saya pastikan itu. Karena tadi, raw material yang tidak diekspor mentahan.

Dengan Amerika juga sama. Dulu surplus kita di 2012 3,3 (miliar USD), sekarang 14,4 miliar USD. Tapi ini jangan sering disampaikan. Saya kadang-kadang, ya tapi ini terlanjur, ya sudah. Karena bisa-bisa nanti kita dicabut fasilitas kita, GSP kita. Sebetulnya enggak usah didiskusikan masalah ini.

Dengan India kita juga surplus 5,6 miliar USD. Sudah 27 bulan, betul Bu Menteri, ya, kita selalu neraca kita surplus terus, yang sebelumnya selalu negatif. Hal-hal yang seperti ini yang sering tidak kita lihat secara detail. Ini sebabnya apa sih kita sekarang kok surplus perdagangan kita?

Kemudian yang ketiga, digitalisasi. Ini penting, utamanya yang berkaitan dengan ekonomi itu UMKM, 61 persen UMKM kita ini berkontribusi pada PDB nasional. Sehingga dengan adanya keruwetan dunia ini, mereka harus kita dorong terus untuk bisa masuk ke ekosistem digital, bisa masuk ke e-commerce, bisa masuk ke platform-platform digital. Dalam tiga tahun ini sudah kita dorong 19 juta bisa masuk, dari 64 juta UMKM kita. Target kita nanti di 2024, 30 juta harus sudah masuk ke ekosistem digital yang ada.

Kalau ini terus konsisten kita lakukan, saya meyakini bahwa GDP kita di 2030 itu sudah di atas di atas 3 triliun (USD), saya yakin, insyaallah itu akan tembus angka 3. Dan, income per kapita kita, saya juga meyakini, saya enggak tahu mungkin berbeda dengan Ibu Menteri Keuangan, enggak apa-apa juga, saya juga ngitungngitung sendiri, Ibu Menteri ngitungngitung sendiri, enggak apa-apa. (Hitungan) saya mungkin lebih dari 10 (ribu USD) income per kapita kita kalau kita konsisten seperti ini, dan pemimpin yang akan datang juga konsisten seperti ini. Enggak perlu takut kita ini setop ekspor nikel, kemudian dibawa ke WTO. Enggak apa. Dan kelihatannya juga kalah kita di WTO. Enggak apa-apa. Tapi barangnya sudah jadi dulu, industrinya sudah jadi. Enggak apa-apa. Kenapa kita harus takut kalau dibawa ke WTO kalah? Kalah enggak apa-apa. Syukur bisa menang. Tapi kalah pun enggak apa-apa. Industrinya sudah jadi dulu. Nanti juga sama. Ini memperbaiki tata kelola, kok. Dan nilai tambah itu ada di dalam negeri.

Saya berikan contoh Freeport. Saya kemarin baru cerita dengan Bu Menkeu juga. Berapa sih kita dapat dari sana? Berapa, Bu? 62? 62 persen hanya untuk Freeport-nya, itu dari dividen, dari royalti, dari pajak semua 62 persen. Tapi kalau ditambah dengan mitra-mitranya, bisa berada di angka 70 persen kita dapat dari pendapatan yang dimiliki oleh Freeport. Kalau semua usaha-usaha tambang itu bisa memberikan kontribusi sebesar itu, APBN kita akan semakin sehat.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Memang momok semua negara sekarang ini urusannya pertumbuhan ekonomi, growth-nya berapa dan inflasinya berapa. Kita juga kemarin berhitung dengan detail berapa sih kira-kira karena penyesuaian subsidi BBM ini yang sudah kita umumkan minggu yang lalu akan berimbas pada inflasi. Hitungan dari menteri-menteri kemarin kira-kira akan naik di 1,8 persen. Tapi kalau kita diam, saya enggak mau diam, kita harus intervensi.

Intervensinya lewat apa? Saya sampaikan daerah harus bergerak kayak COVID-19 kemarin. Dengan cara apa, ya 2 persen DAU bisa digunakan untuk mengatasi inflasi dan bansos. Belanja tidak terduga bisa digunakan untuk mengatasi inflasi. Dengan cara apa, ya tutup biaya transportasi, tutup biaya distribusi dari yang ada di lapangan. Dan ini pernah saya lakukan. Contoh harga bawang merah naik karena ada kenaikan biaya transportasi. Ya pemerintah daerah itu nutup biaya transportasi itu, tutup. Artinya apa? Harga bawang merah di pasar itu sesuai dengan harga yang ada di petani karena biaya transportasinya sudah ditutup oleh pemda dan itu uang kecil.

Kemarin saya hitung-hitung berapa sih misalnya bawang merah dari Brebes ke Lampung, Rp3 juta hanya satu truk, paling itu seminggu, enggak mungkin habis satu truk dihabiskan bawang merah, enggak mungkin satu komoditi. Mungkin nanti telur. Telur harganya naik. Sudah, pemda tutup biaya transportasinya. Mana yang banyak telur? Bogor, di Blitar, sudah biaya transportasinya tutup. Kalau semua pemda seperti itu, saya yakin inflasi kita akan bisa terjaga dengan baik.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan. Yang paling penting menurut saya jaga persatuan, jaga kesatuan kita, bahu-membahu untuk negara ini. Itu saja. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim,  saya buka Sarasehan 100 Ekonom Indonesia.
Terima kasih.

Sambutan Terbaru