Pemerintah Pilih Titik Debarkasi Kedatangan ABK maupun PMI yang Mampu Isolasi dan Observasi

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 4 Mei 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 421 Kali

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 saat menyampaikan keterangan pers usai Ratas, Senin (4/5). (Foto: Humas/Rahmat).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, Selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19 menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan arahan untuk memilih titik debarkasi kedatangan sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang miliki kemampuan isolasi dan observasi.

”Ibu Menteri Luar Negeri telah melaporkan kepulangan sejumlah ABK dan juga PMI. ABK yang akan kembali sebanyak 12.758 orang sedangkan PMI yang telah kembali ke tanah air sebanyak 70.367 orang,” ujar Kepala BNPB usai Ratas, Senin (4/5).

Ketua Gugus Tugas juga menyampaikan bahwa Presiden minta agar manajemennya diatur yang baik, terintegrasi, baik itu oleh Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, dukungan dari TNI dan Polri, serta juga dari Gugus Tugas.

”Dalam waktu 2 minggu ke depan akan kembali sekitar 17 kapal pesiar yang nantinya akan berlabuh di Tanjung Priok dan juga di Benoa,” kata Doni.

Lebih lanjut, Ketua Gugus Tugas Covid-19 menjelaskan bahwa laju kasus baru mengalami penurunan sampai dengan 11%, tetapi hal ini bukan berarti semua menjadi lengah karena kehadiran sejumlah PMI yang berpotensi juga nantinya menjadi bagian dari penularan.

”Termasuk juga jemaah tablig, kemudian klaster gowa, kemudian beberapa tempat industri yang telah menjadi episentrum, kemudian juga pemudik yang lolos dari pemeriksaan aparat. Hal ini dapat berpotensi meningkatnya kasus kembali,” kata Ketua Gugus Tugas.

Oleh karenanya, Kepala BNPB minta kerja sama seluruh komponen masyarakat, baik di pusat dan daerah betul-betul terintegrasi dengan baik.

Ia menambahkan bahwa Gugus Tugas Pemerintah Provinsi atau Gugus Tugas provinsi telah menyusun organisasi dan diharapkan setiap gugus tugas betul-betul mampu melakukan upaya-upaya, baik pencegahan maupun deteksi serta penanganan terhadap masyarakat yang telah terlanjur sakit.

”Kemudian selanjutnya Bapak Presiden memerintahkan Gugus Tugas untuk membantu sejumlah kasus yang terjadi di Jawa Timur, sehingga penanganannya bisa terkelola dengan baik, sebagaimana pengalaman yang ada di wilayah Jabodetabek,” terang Doni.

Tidak Ada Mudik

Pada kesempatan itu, Doni menegaskan kembali bahwa perintah Presiden tidak ada mudik, sekali lagi, tidak ada mudik.

”Oleh karenanya, mari kita semua bisa menahan diri, bisa bersabar untuk tidak mudik terlebih dahulu. Kemudian juga masyarakat diingatkan jangan mencuri-curi kesempatan, sehingga kalau ini masih dilakukan maka akan menimbulkan risiko bagi kampung halaman. Kebiasaan kita untuk bertemu, berpelukan dengan orang-orang yang kita sayangi, bersalaman, berdekatan, justru dapat membahayakan keselamatan orang-orang yang kita cintai,” imbuh Doni.

Menurut Doni, banyak yang tidak sadar bahwa diri sendiri mungkin sudah menjadi kelompok atau kategori OTG (orang tanpa gejala) dan telah jadi carrier/sebagai pembawa virus Covid-19 dan ketika menyentuh Saudara-saudara yang tercinta, maka secara tidak sadar telah menulari mereka.

”Dan apabila yang tertular ini adalah kelompok rentan, yaitu orang lansia dan juga yang punya penyakit penyerta seperti tadi yang saya sebutkan, maka risikonya terpapar, terinfeksi, sakit, sakit ringan, sakit sedang, bahkan bisa menimbulkan kematian. Sekali lagi, apabila kita sayang kepada keluarga kita di kampung halaman, untuk sementara tahan untuk tidak pulang ke kampung halaman dulu,” ujarnya.

Presiden, menurut Kepala BNPB, telah memberikan arahan kepada Kepala Staf Kepresidenan (KSP) untuk melakukan kajian mengenai penggantian opsi libur apakah didekatkan dengan Iduladha ataukah di akhir Desember.

Gugus Tugas, menurut Doni, juga telah melapor kepada Presiden tentang pentingnya mengubah perilaku. Ia menjelaskan bahwa seraya melakukan kegiatan Pembatasan Sosial Berskala BEsar (PSBB), tetapi juga harus diikuti secara rutin dan terus-menerus dengan menggunakan masker, menjaga jarak, cuci tangan, dan ini tidak cukup hanya dilakukan serta disampaikan hanya sekali.

”Perlu disampaikan berulang kali, setiap saat, seperti orang tua kita yang selalu dengan istilah cerewet mengingatkan kita. Dan ini, sekali lagi, perlu dilakukan oleh seluruh komunitas untuk meningkatkan kesadaran individu sehingga timbul kesadaran kolektif,” imbuhnya.

Apabila ada seseorang yang mendekatkan diri, lanjut Doni, maka tugas masing-masing dalam menghindari orang itu, karena ketidaktahuan apakah orang yang mendekatkan diri itu positif Covid-19 atau tidak.

”Kemudian juga kolaborasi pentahelix berbasis komunitas yang dari awal menjadi program Gugus Tugas ini harus selalu kita kumandangkan untuk terus bersama-sama meningkatkan gotong royong, meningkatkan persatuan dan kesatuan, bukan hanya pada saat PSBB, tetapi juga kelak di kemudian hari,” pungkas Doni di akhir keterangan awalnya. (TGH/EN)

Berita Terbaru