Pengantar Presiden RI Pada Sidang Kabinet Paripurna, di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, 16 Oktober 2014, pukul 09.00 WIB.

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 16 Oktober 2014
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 28.114 Kali

Assalamu’alaikum wr wb.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Saudara Wakil Presiden dan para peserta Sidang Kabinet Paripurna Diperluas yang saya cintai dan saya banggakan.

Alhamdulillah dihari-hari terakhir masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II ini, kita dapat melaksanakan Sidang Kabinet Paripurna Diperluas yang terakhir. Oleh karena itu, kita tidak membahas sesuatu yang substansial, tetapi saya ingin forum ini kita jadikan forum untuk sebuah refleksi meskipun secara singkat.

Kemarin dalam acara silaturahim nasional beserta jajaran lembaga negara dan jajaran pemerintahan serta unsur-unsur non-pemerintahan yang diprakarsai oleh Menteri Dalam Negeri di Sentul yang juga dihadiri oleh para Gubernur, Bupati dan Walikota, telah saya sampaikan refleksi yang saya maksud.

Sungguhpun demikian, saya ingin mengulangi refleksi itu, sebagai pertanggungjawaban kita kepada sejarah, kepada bangsa, dan kepada masa depan, bahwa kita pernah berbuat untuk kebaikan negeri ini. Meskipun permasalahan dan tantangan yang kita hadapi tidak ringan. Meskipun belum seluruh agenda dan sasaran yang telah kita tetapkan di awal masa bakti kabinet ini dapat kita capai sepenuhnya. Namun, sejarah mencatat sekali lagi bahwa kita sebagai anak-anak bangsa telah berupaya untuk berbuat yang terbaik.

Saudara-saudara, refleksi yang saya maksudkan adalah, yang pertama, mari kita pahami bahwa pembangunan itu adalah sebuah proses. Proses jangka panjang, bukan proses sekali jadi, bukan proses satu tahun-dua tahun, lantas selesai. Dan jelas it is not an event. Oleh karena itu, kalau lima tahun terakhir ini, Kabinet Indonesia Bersatu II beserta mitra-mitra kami di luar kabinet, contohnya Gubernur BI, Ketua OJK, dan unsur-unsur lain di luar kabinet, itu mengemban tugas untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah kita tetapkan. Itu juga merupakan penggal sejarah dari proses pembangunan yang akan terus berlanjut.

Kalau kita lihat dari bentangan sejarah dari sejak Indonesia merdeka –kita hampir tujuh puluh tahun merdeka– masa bakti lima tahun, –atau kalau saya dengan beberapa di antara Saudara itu sepuluh tahun– itu juga penggal lima atau sepuluh tahun, dari tujuh puluh tahun dan dari ratusan tahun, bahkan selama negara kita tegak dan berdiri. Oleh karena itu, jangan kecil hati kalau meskipun kita sudah berupaya sekuat tenaga, tetapi di samping sasaran, keberhasilan dan capaian, masih ada shortcomings, masih ada yang belum bisa kita capai. Karena sekali lagi, pembangunan adalah sebuah proses jangka panjang.

Dan kalau dunia saat ini menganut ideologi pembangunan yang disebut sustainable development –pembangunan berkelanjutan– yang menurut saya bukan hanya dimaknai pembangunan seraya menjaga kelestarian alam, tapi berkelanjutan juga satu proses dari satu tahapan ke tahapan yang lain, terutama bagi negara yang berkembang, bagi emerging economy. Tapi berkelanjutan dalam arti pembangunan berangkat dari visi dan strategi besar atau grand strategy, kebijakan, rencana aksi, dan aksi yang juga berlangsung secara terus menerus dari periode ke periode.

Itulah hakikat atau makna dari pembangunan. Dan saya mengucapkan terima kasih serta penghargaan, bahwa dalam bentangan waktu lima-sepuluh tahun ini, Saudara-saudara bersama saya telah berbuat yang terbaik.

Refleksi yang kedua sebagaimana yang kemarin saya sampaikan. Bangsa ini sejak 1998, pasca krisis melakukan perubahan besar. Dulu dikenal dengan reformasi dan demokratisasi. Yang lebih tepat ternyata, bukan hanya melakukan reformasi dan demokratisasi, tetapi juga melakukan transformasi menuju Indonesia maju (develop country) di abad 21 ini, menuju satu abad kemerdekaan, 2045, yang kemarin di hadapan penerima Beasiswa Presiden, anak-anak kita yang cerdas, yang akan mengikuti pendidikan di top universities around the world. Saya katakan, 2045 adalah Indonesia yang memiliki strong, just and sustainable economy. Strong and stable democracy, dan more advance civilization.

Itulah yang kita maknai dengan transformasi besar yang kita lakukan sekarang ini. Dan hakikat dari transformasi, Saudara-saudara, tiada lain adalah kesinambungan dan perubahan. Continuity and change. Mari kita pasangkan. Kalau kita maknai perubahan itu sebagai kesinambungan dan perubahan, rasanya jerih payah para pendahulu sejak mendiang Bung Karno, dan para pendiri republik hingga kita, generasi kita dan juga generasi-generasi berikutnya, itu akan tetap terjaga. Tetapi adalah menjadi tugas sejarah bagi pemimpin manapun dan generasi yang ada dalam periode itu untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Oleh karena itu, jangan alergi terhadap perubahan dan perbaikan.

Hampir pasti pemerintahan Bapak Joko Widodo yang akan mulai mengemban tugas minggu depan, lima tahun mendatang juga akan melakukan perubahan dan perbaikan. Oleh karena itu, kalau itu terjadi, harus kita pahami itu juga bagian dari continuity dan change. Saya yakin hal-hal baik yang telah diraih oleh bangsa ini, dari presiden ke presiden, akan tetap dijaga dan dipertahankan.

Refleksi yang ketiga, adalah setiap periode perjalanan bangsa, termasuk periode pembangunan, kita diwajibkan untuk melakukan evaluasi. Kalau kita melakukan evaluasi dengan benar, hampir pasti ada keberhasilan atau prestasi, atau achievement. Tetapi sekali lagi juga pasti ada kebelumberhasilan atau shortcoming. Oleh karena itu, kita juga harus terbuka kalau memang ada sejumlah agenda yang belum sepenuhnya dapat kita capai. Ekonomi kita selama sepuluh tahun ini tumbuh baik. Tidak berarti dalam perjalanannya tidak ada masalah. Tidak ada side backs. Ada. Ada up and downs.

Sekarang ini pasar global kembali bergejolak, baik pasar saham maupun pasar uang. Yang sifatnya global and regional, tapi juga berdampak pada perekonomian kita. Ditambah dengan permasalahan-permasalahan internal, perekonomian dalam negeri kita. Tapi kalau kita lihat secara objektif, sepuluh tahun terakhir ini di tengah–tengah krisis dan gejolak yang sering terjadi pada perekonomian global, kita termasuk negara yang dianggap mampu menjaga pertumbuhan ekonominya, dan negara yang bisa meminimalkan dampak dari krisis perekonomian global.

Pertumbuhan perekonomian ini tentu langsung membawa dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Ditambah dengan kebijakan dan program yang intensif untuk meningkatkan pendidikan dan kesehatan serta penghasilan orang seorang melalui penciptaan lapangan pekerjaan maka, quality of life of the Indonesian people juga secara bertahap mengalami peningkatan dan perbaikan. Semua itu akibat atau menjadi bagian positif dari pertumbuhan perekonomian kita.

Kita bisa membangun perekonomian karena stabilitas politik kita terjaga. Pasti sebagai negara demokrasi, apalagi young democracy di sana sini ada riak-riak, dan itu wajar. Apakah ketegangan antara pemerintah dengan parlemen, apakah ekspresi kebebasan dari masyarakat luas, apakah dinamika di tingkat media massa, dan apapun. Tetapi kalau kita lihat secara utuh, dibandingkan dengan masa lalu, politik kita stabil. Dibandingkan dengan banyak negara di dunia ini, politik kita stabil.

Di samping politik kita stabil, keamanan dalam negeri juga terjaga. Sudah berakhir era terguncangnya dan buruknya keamanan dalam negeri. Internal security. Sebagaimana pada masa krisis dan tahun-tahun setelah 1998 dulu, apakah situasi yang ada di Aceh, Maluku, Maluku Utara, Poso, Kalimantan, Papua dan banyak tempat lagi yang menjadi saksi sejarah atas terguncangnya public order, public security. Termasuk insurgency yang ada di negeri kita. Paduan dari politik yang stabil, sambil memekarkan demokrasi, dan keamanan dalam negeri yang terjaga, maka ekonomi kita dapat kita bangun.

Satu pekerjaan dan agenda besar yang kita jalankan. Ikhtiar kita semua untuk membangun good governance, dan melakukan reformasi birokrasi. Ini juga agenda yang perlu mendapatkan catatan sendiri. Adalah benar bahwa meskipun kita melakukan berbagai upaya, tetap saja kasus-kasus korupsi masih terjadi. Kalau dulu terjadi di tingkat pusat, kini lebih banyak terjadi di daerah. Barangkali ini juga menandai terjadinya distribusi kekuasaan di seluruh tanah air. Pusat, daerah, eksekutif, legislatif, yudikatif, termasuk civil society. Tetapi harus diakui bahwa kampanye pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh negara ini adalah kampanye yang paling agresif, paling serius, sejak Indonesia merdeka. Oleh karena itu perlu mendapat catatan sejarah.

Yang lain, ketika kita mengalami krisis dan tahun-tahun yang berat setelah itu, terus terang bangsa ini lebih melihat ke dalam untuk memulihkan keadaan, untuk menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Akibatnya tanpa kita sadari peran internasional kita susut.

Alhamdulillah sejalan dengan penataan kembali dan proses recovery yang kita lakukan sejak krisis secara bertahap dan berkesinambungan, kita juga bisa meningkatkan peran internasional kita. Baik di kawasan paling dekat Asia Tenggara (ASEAN) atau di Asia, utamanya Asia Timur dan Asia Tenggara, kemudian Asia Pasifik bahkan tingkat global, yaitu peran aktif kita di G-20 dan berbagai agenda besar pada tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Terus terang tanpa melebih-lebihkan dan patut kita syukuri, dunia dan Saudara yang sering mendampingi saya berkunjung ke negara sahabat, ke PBB, atau mendampingi saya menerima tamu-tamu dari negara lain, mereka juga menilai peran Indonesia dianggap konstruktif dan positif bahkan diharapkan untuk dilanjutkan. Bulan lalu contohnya, kami berdiskusi di New York dan di Washington DC dengan sejumlah tokoh internasional, termasuk tokoh-tokoh Islam di Amerika Serikat, yang intinya menginginkan Indonesia bisa meningkatkan perannya. Bahkan termasuk untuk ikut melerai, mengatasi secara bijak dan lebih permanen, yang disebut dengan ketegangan, atau permusuhan, bahkan konflik antara Islam dengan Barat.

Kita juga diajak, diberikan peran yang luar biasa, untuk memikirkan misalnya kerja sama global mengatasi perubahan iklim dan pemanasan global. Kita diajak, diperankan, untuk memikirkan agenda pembangunan dunia pasca MDGs, atau setelah tahun 2015. Kita juga diperankan dan bulan lalu bahkan memimpin pertemuan internasional yang disebut dengan Open Government Partnership. Yang juga dihadiri oleh kolega-kolega saya, contohnya Presiden Obama dari Amerika Serikat, Presiden Hollande dari Prancis. Kita juga sering dijadikan rujukan, dan dijadikan tumpuan kerjasama di dalam mitigasi bencana dalam mengatasi berbagai bencana yang terjadi di negara ini.

Ini menunjukkan bahwa profil kita, peran kita, dan kontribusi kita dalam kerjasama internasional dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Boleh saya sebut bahwa itulah capaian konkret yang nyata, yang riil, yang patut kita syukuri, dan yang saya patut berterima kasih kepada Saudara semua, kepada jajaran lembaga negara, pemerintahan, termasuk pemerintahan daerah dan masyarakat luas. Kita tentu harus jujur pula mengakui masih ada kekurangan, kebelumberhasilan, dan pekerjaan rumah-pekerjaan rumah.

Contoh reformasi birokrasi harus terus kita lanjutkan. Termasuk membangun tata kelola pemerintahan yang baik, termasuk melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi. Saya berpikir dulu bisa kita lakukan dalam waktu lima-sepuluh tahun, pekerjaan-pekerjaan besar  itu. Kenyataannya tidak. Ternyata yang kita lakukan bukan hanya structural adjustment, tetapi juga cultural change. Mengubah nilai perilaku dan budaya. Saya akhirnya belajar dari negara-negara lain. Memang benar, diperlukan waktu beberapa dekade untuk mengubah semuanya itu.

Tetapi jangan kecil hati, bahwa meskipun capaian kita belum memenuhi harapan kita, dan juga harapan rakyat, tetapi kita telah memulai menetapkan sebuah agenda yang relevan dengan apa yang hendak kita tuju, yaitu reformasi birokrasi, membangun good governance, dan melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Kita juga menyadari bahwa dengan diberlakukannya sistem pemerintahan yang baru, desentralisasi, atau otonomi daerah, dan sebagian otonomi khusus, disatu sisi telah mendatangkan kebaikan. Mendekatkan rakyat dengan pemimpin-pemimpin lokalnya, yang itu juga penting. Karena rakyat langung memilih pemimpinnya. Dan kemudian diberikan mandat dan amanah, dan kemudian dia mempimpin memenuhi harapan rakyat yang memilih pemimpin tersebut.

Agenda pembangunan daerah menjadi lebih relevan, itu kebaikan dari sistem pemerintahan. Tetapi shortcoming-nya, ekses yang masih ada adalah sejumlah kebijakan, program, serta peraturan di daerah itu justru bertentangan dengan semangat untuk membikin perekonomian daerah itu berkembang lebih pesat. Oleh karena itulah perlu sinkronisasi, perlu evaluasi dan koreksi. Jadi ada segi-segi kebaikannya, tapi ada ekses yang harus kita kelola secara bersama.

Demikian juga demokrasi. Penggunaan kebebasan. The exercise of freedom, the exercise of power. Bagus, karena kita sudah masuk dalam era demokrasi, open society. Tetapi kita juga merasakan sejumlah ekses yang harus kita koreksi dan perbaiki. Agar demokrasi yang terbentuk di negeri tercinta ini adalah demokrasi yang membawa kebaikan bersama. The common good of the people. Demokrasi yang menghadirkan sekaligus liberty and security. Kebebasan dan keamanan. Demokrasi yang menghadirkan sekaligus freedom, dan rule of law. Too much freedom tapi tidak disertai dengan kepatuhan atas pranata hukum, maka sering terjadi gejolak dan kekerasan. Ekstrimnya negara bisa menjadi anarkis. Tetapi kalau kita hanya menekankan security, rule of law, memasung kebebasan maka demokrasi akan mati, dan negara bisa menjadi tiran. Atau tirani akan hadir di negara kita.

Tidak sederhana, kompleks. Tidak ada model demokrasi pun yang bisa begitu saja kita adopsi, dan memang kita tidak perlu mengadoposi model demokrasi dari negara manapun. Kita pahami nilai-nilai universal demokrasi, dan kemudian kita aplikasikan bersama local values, local wisdom, local culture.

Itulah potret perjalanan demokrasi, termasuk yang beberapa minggu yang lalu menjadi perhatian publik tentang sistem pemilihan kepala daerah. Saya tahu, pandangan para politisi kita terbelah, divided. Ada yang menginginkan dari Pilkada Langsung menjadi Pilkada oleh DPRD. Sejumlah negara juga menerapkan sistem itu. Tapi ada yang mengatakan, mari kita pertahankan saja sistem Pilkada Langsung itu, apa adanya atau dalam istilah yang lain, status quo.

Adalah saya dan sejumlah teman, saya kira pemerintah ada di situ. Kenyataannya setelah kita jalankan sembilan tahun, banyak sekali ekses dan hal-hal yang harus kita koreksi dari sistem Pilkada Langsung. Tetapi mengubah begitu saja, dari langsung, yang rakyat sudah mendapatkan kedaulatannya serta memiliki ruang yang luas untuk memilih langsung pemimpinnya, kemudian diambil alih oleh parlemen lokal, itu juga sesuatu yang, istilah saya, mengubah jalannya sejarah. Bahkan saya pribadi mengatakan kemunduran dari demokrasi kita.  Oleh karena itulah pilihan kita, sebagaimana yang secara tegas dengan penuh resiko kita keluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu). Kita tetap menganut sistem Pilkada Langsung dengan perbaikan-perbaikan.

Kita ingin mempercepat pertumbuhan ekonomi, menggalakkan investasi, tetapi kita mengalami kekurangan infrastruktur di banyak tempat. Kita pacu. Kita telah memiliki Masterplan untuk percepatan perluasan pembangunan ekonomi di seluruh tanah air dengan alokasi anggaran yang cukup besar. Memadukan kemampuan negara, Badan-Badan Usaha Milik Negara dan Swasta, tetapi tetap kita sadari masih kurang sekarang ini. Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, lima belas tahun lagi akan menjadi lebih cukup sehingga bisa memacu pertumbuhan lebih tinggi lagi. Ini juga tantangan ditambah dengan bottle necking di sana-sini, akibat reformasi birokrasi dan good governance yang memang belum rampung pembangunnya. Itu juga saya masukkan dalam shortcoming atau sejumlah tantangan dan permasalahan yang masih kita hadapi.

Saudara-Saudara, itu balance sheet yang ada antara capaian dan  pekerjaan rumah, antara yang sungguh berhasil dengan yang belum berhasil kita lakukan. Sehingga refleksi yang ketiga ini saya simpulkan, pemerintahan mana pun, pemimpin mana pun, harus selaku melakukan evaluasi secara berkala. Dan ini mengait kepada refleksi yang kedua tadi: continuity and change. Yang sudah baik tentu kita jaga dan tingkatkan, yang belum baik, kita ubah dan perbaiki.

Refleksi yang keempat, adalah kita sering lupa bahwa sistem pemerintahan ini telah berubah dari dulu yang sentralistik, menjadi sekarang yang desentralistik. Konsentrasi kekuasaan dulu ada di Jakarta, sekarang terbagi di mana-mana, dan dalam konteks pemerintahan terbagi pada tingkat propinsi, kabupaten, dan kota. Seringkali mindset kita, cara pandang kita masih seperti era sentralisme, sehingga tidak sadar ketika kita menetapkan kebijakan, regulasi, dan juga program aksi, masih ada, tanpa kita sadari, bahwa itu sudah beralih. Fungsi itu, peran itu, termasuk anggaran ke daerah, apalagi bagi propinsi yang berstatus otonomi khusus seperti Papua dan Aceh. Itu kekeliruan mindset pada tingkat pusat.

Sebaliknya pada tingkat daerah, seolah-olah mereka menganut sistem konfederasi atau federasi bahwa,”Goodbye Jakarta, serahkan semua pada kami. Biar kami urus urusan kami sendiri.” Lupa bahwa kita masih menganut sistem negara kesatuan, bukan sistem federal dan bukan sistem konfederasi. NKRI sejatinya adalah sistem negara kesatuan, oleh karena itulah kedua kesalahan cara pandang ini harus kita perbaiki, pada tingkat pusat maupun tingkat daerah. Sehingga refleksi yang keempat ini diperlukan sinergi dan sinkronisasi antara pusat dan daerah. Makin sinergis pusat dan daerah, makin efektif pelaksanaan pembangunan dan makin banyak yang bisa kita hasilkan.

Diperlukan kesediaan untuk duduk bersama, dan di sini mengait kepada pentingnya sistem Pemilihan Langsung untuk Kepala Daerah, tetapi sekaligus dengan perbaikan. Karena banyak sekali kabupaten dan kota yang memiliki luas wilayah, resources, jumlah penduduk yang barangkali sama dengan Singapura, atau negara-negara lain yang lebih kecil penduduknya. Bayangkan, kalau pemimpinnya tidak cakap, tidak bisa menjalankan manajemen pembangunan, tidak mengerti seluk-beluk perekonomian di daerah, misalnya, maka capaiannya tentu di bawah yang kita harapkan.

Oleh karena itulah, perbaikan dalam sistem Pilkada Langsung yang tertuang dalam Perppu yang telah kita keluarkan, dan semoga DPR nanti bisa menerimanya, bisa menyetujuinya, sudah termasuk semacam uji publik bahwa mereka yang akan menjadi Bupati, Walikota, Gubernur, bagaimanapun rakyat meyakini bahwa dia punya integritas yang baik, punya kapasitas yang baik, punya pengalaman yang cukup. Dengan demikian ketika memimpin propinsi, kabupaten, dan kota, our dream, cita-cita besar, semua sasaran itu bisa kita capai dan penuhi.

Itulah refleksi yang keempat, betapa pentingnya sinergi pusat dan daerah, semua mesin bergerak, tidak ada fungsi yang disfunctioning termasuk elemen-elemen pada tingkat daerah kabupaten, kota, maupun propinsi.

Sedangkan refleksi yang kelima atau yang terakhir, bagaimanapun, Saudara-Saudara, tata pemerintahan penting, pembangunan penting tapi bangsa ini adalah bangsa yang akan hidup selamanya, yang punya cita-cita, punya harapan, dan punya mimpi-mimpi besar. Dalam sejarah perkembangan dunia, banyak sekali sebuah negara kemudian hilang dari peta dunia. Kita ingin  bangsa Indonesia akan tetap exist dan bahkan tumbuh berkembang menuju masa kejayaannya di masa depan.

Saya katakan bahwa dalam refleksi yang kelima ini, ada pilar kehidupan bernegara yang harus dibangun dari the hearts and the minds of the people, dari the society, dan akhirnya menjadi semangat, kehendak, dan perilaku bangsa yaitu, kehendak untuk bersatu. Persatuan itu bukan klise, bukan jarkon, bukan retorika, tapi sungguh kita perlukan. Unity in diversity. Tanpa persatuan apapun kita tidak akan bisa mencapai sasaran yang kita harapkan, jauh di bawah bahkan bisa meleset. Unity sangat-sangat penting.

Yang kedua, kerukunan, harmony. Banyak contoh di dunia ini, koyaknya kerukunan negara terus-menerus dirundung perpecahan, permusuhan internal bahkan perang saudara. Tengoklah negara-negara di Timur Tengah, di Afrika, dan di tempat-tempat lain yang mengalami persoalan yang serupa. Tidak rukunnya bangsa itu, tercabutnya harmoni. Mari kita jadikan pelajaran penting agar bangsa ini bukan hanya tetap exist, tetapi juga terus tumbuh dan berkembang dengan peradaban yang makin baik.

Masih merupakan pilar kehidupan, di samping persatuan dan kerukunan, juga toleransi. Saya sampaikan kemarin di New York, di Perserikatan Bangsa-Bangsa, di Washington D.C., di hadapan George Washington University, di dalam diskusi dengan para tokoh Islam, sebagian Saudara juga mendampingi saya, di West Point, di Kyoto, bahwa banyak terjadi malapetaka di dunia ini karena hilangnya toleransi. The cost of intolerance itu tinggi sekali. Kita pernah diingatkan oleh Tuhan, oleh sejarah, belum lama. Ketika terjadi konflik komunal, konflik horisontal yang merenggut korban jiwa yang tidak sedikit; di Sampit, di Poso, di Ambon, di Maluku Utara, dan juga di tempat lain dalam skala yang lebih kecil.

Meskipun alhamdulillah, semua bisa kita pulihkan kembali dan kemudian menyisakan pelajaran yang amat berharga. Tapi toleransi ini boleh saya katakan akan menjadi agenda kita selamanya. Menjaga toleransi sebagaimana menjaga kerukuanan dan persatuan, itu dalam istilah manajemen adalah never ending goals, agenda yang akan terus hidup dan kita hidupkan. Kita sungguh majemuk, di sana-sini dalam skala yang kecil dan cepat kita kelola dan atasi, masih terjadi gesekan, perselisihan di antara elemen bangsa. Apakah karena perbedaan agama, perbedaan etnis, perbedaan suku, perbedaan daerah, atau perbedaan identitas yang lain.

Oleh karena itu, pemimpin pada level apapun, kita semua harus sungguh memberikan perhatian pentingnya menjaga dan mengukuhkan toleransi. Unity, harmony and tolerance, itu menurut saya, bukan hanya menjadi pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi harusnya menjadi values and behaviour. Itu state of mind, kalau kita orang seorang dalam diri kita mendidik diri kita untuk selalu menjadi agent of dalam pengembangan unity, harmony and tolerance itu sambil mengajak yang lain, sambil mengingatkan yang lain, sambil membimbing yang lain, maka Insya Allah di tahun-tahun mendatang, di dekade-dekade mendatang, bangsa kita akan benar-benar menjadi bangsa yang kuat, makin maju, dan kemudian sejahtera lahir dan batin.

Itulah lima butir refleksi yang saya sampaikan, Saudara-Saudara.

Kerap kita melihat kenyataan baik di negara kita sendiri maupun di dunia, yang kalau kita dengan jernih melakukan kontemplasi the what and why, maka akan kita ketemukan apa yang saya jadikan bahan renungan tadi. Terutama yang terakhir, persatuan, kerukunan dan toleransi. Kemarin kami berdiskusi di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Amerika Serikat, situasi yang ada di Timur Tengah dan Afrika Utara misalnya.

Semangat dunia memang ingin menghentikan kekerasan yang terjadi, mulai dari Palestina, Irak, Suriah, kemudian tentu Afganistan, dan sejumlah negara di Afrika Utara. Sayangnya mereka melihat dari cara pandang yang berbeda-beda. Sayangnya opsi dan solusi yang dibangun, mungkin jangka pendek bisa menyelesaikan masalah, tapi jangka panjang justru menciptakan masalah yang baru.

Oleh karena itulah, kemarin ketika para pemimpin dunia menyampaikan pidatonya, bahwa kekerasan yang ada di Irak dan Suriah kalau dikaitkan dengan ISIS, itu harus dihentikan, dicegahlah kekerasan yang menimpa mereka-mereka yang tidak berdosa, the innocent. Saya pada posisi, memang kekerasan yang dilakukan oleh siapapun di negera manapun itu harus dihentikan. Khusus yang berkaitan dengan ISIS ini setelah operasi militer dilakukan oleh sejumlah negara barat dan negara-negara Islam sendiri, tetangga Suriah dan Irak, maka saya sampaikan: apa setelah itu, what kind of political solution or other solution yang kita perlukan di samping solusi militer. Di situlah yang menjadi pekerjaan rumah masyarakat sedunia, bahwa menyelesaikan masalah harus utuh sehingga memahami akar masalah yang sesungguhnya dengan demikian sekali lagi jangka pendek, jangka menengah kita hentikan kekerasan itu. Termasuk kekerasan mengatasnamakan agama, agama apapun, dan kemudian bisa kita bangun opsi yang bisa menyelesaikan permasalahan secara lebih permanen, yang tepat dan bijak.

Itulah refleksi yang dapat saya sampaikan, dan Saudara-saudara, kita bersyukur sekali lagi telah diberikan peran seperti sekarang ini. Setiap malam saya merenung, melakukan refleksi atas apa yang saya lakukan sejak sepuluh tahun yang lalu, saya kira Saudara-saudara juga begitu. Ada yang sepuluh tahun yang lalu, delapan tahun, lima tahun, tiga tahun bersama-sama saya.

Barangkali ada yang berkata: apa yang kurang, apa yang belum saya lakukan dan masing-masing akan menemukan itu. Tetapi sekarang ajakan saya tidak perlu kita menyesali apa yang kita lakukan, karena saya yakin we have done our best, kita telah berusaha yang terbaik, tetapi memang persoalan sering rumit, kompleks, kait mengait dan tidak mudah. Oleh karena itulah syukur-syukur kalau Saudara bisa menulis memoarnya masing-masing, untuk anak cucu, untuk generasi yang akan datang, di mana kita dalam penggal sejarah tertentu berusaha dan berbuat sesuai dengan wilayah, profesi dan tugasnya masing-masing, agar bisa diketahui bahwa pembangunan ini sebuah proses panjang, dan kumpulan serta akumulasi dari jerih payah, keringat, dan air mata dari semua anak bangsa apapun peran, profesi, dan kedudukannya.

Di samping bersyukur sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada Saudara semuanya. Saya juga minta maaf selaku Presiden, selaku Kepala Negara, dan Kepala Pemerintahan, selaku manajer pembangunan ini dan pemerintahan, jika ada yang belum dapat saya lakukan sebagaimana yang Saudara harapkan. Saya tentu sebagaimana Saudara semua ingin berbuat yang terbaik tetapi selalu ada keterbatasan, kekurangan dan kelemahan.

Dan selama kita bergaul, lima tahun terakhir ini utamanya barangkali, ada tutur kata, sikap dan perilaku saya yang Bapak/Ibu, Saudara-saudara tidak berkenan, saya mohon maaf, mohon maaf yang setulus-tulusnya. Tidak ada niatan saya untuk melukai atau membuat Saudara-saudara tidak nyaman. Semua itu adalah bagian dari dinamika kita mengemban tugas pokok, tugas sehari-hari maupun tugas-tugas yang memiliki nilai yang lebih strategis.

Bagi Saudara yang masih akan berada di pemerintahan Presiden Joko Widodo, saya mengucapkan selamat dan bantulah beliau. Tantangan tidak akan menjadi ringan, bahkan saya melihat dampak dari kompetisi politik yang cukup keras di tahun 2014 ini, untuk jangka waktu tertentu akan masih dirasakan. Oleh karena itulah perlu wisdom, kearifan, kehendak, dan upaya yang baik untuk menyatukan kembali elemen-elemen yang saat ini berjarak satu sama lain. Hanya dengan cara saling menyapa, saling membangun kebersamaan dan mengingatkan bahwa rakyat itu berharap bahwa semua yang diberikan amanah itu bisa melakukan sesuatu yang baik dan bisa dirasakan oleh rakyat yang memberikan amanah itu.

Kalau ingat itu, maka tentunya saya berharap agar semua penyelenggara negara bisa menjaga persatuan, kerukunan dan toleransi dalam arti luas, tetapi bisa menjaga hubungan baik, dengan demikian kehidupan bernegara dan manajemen pemerintahan bisa dilakukan dengan baik pula. Dan jika di antara Saudara ada yang berada dalam proses itu dan peran itu lakukanlah dengan baik. Bantulah Presiden kita yang baru nanti dengan sepenuh hati agar bisa mengemban tugas-tugas dengan baik.

Dan yang terakhir, Saudara-saudara, untuk ini akhir dari masa bakti saya di jajaran pemerintahan dan juga di jajaran lembaga negara, saya akan melanjutkan pengabdian di tempat lain, yang kiranya disatu sisi bisa tetap berguna bagi Saudara-saudara, juga rakyat Indonesia, dan juga barangkali bagi komunitas internasional. Tetapi di sisi lain bisa memberikan ruang membantu pemerintahan yang akan datang di dalam menjalankan tugas pokoknya. Dan kepada Saudara-saudara nanti yang memilih pengabdian apapun, saya selalu mendoakan agar Saudara-saudara juga sukses.

Saya juga mendoakan Saudara beserta keluarga selalu mendapatkan lindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Marilah kita jaga tali silahturahim di antara kita, tetaplah saling sapa-menyapa, tetaplah saling berkomunikasi dan tidak seformal sekarang ini, karena kita semua adalah sahabat. Dengan begitu kita masih merasa ada yang bisa kita lakukan, kita merasa kita masih bisa berbuat untuk negeri ini, dan dengan demikian insya Allah akan mengkaruniakan usia yang panjang, dan karuniakan ketentraman hati, karuniakan langkah-langkah yang baik, baik di mata Allah dan baik di mata manusia.

Itulah yang ingin saya sampaikan, Saudara-saudara. Sekarang hari Kamis, Jumat-Sabtu-Minggu, berarti tiga hari lagi, dan saya pikir hari-hari terakhir saya lebih rileks, tetapi ternyata justru bertumpuk pekerjaan, sehingga saya akan teruskan sampai betul-betul tanggal 20 nanti. Dan yang terakhir pada saat saya menyambut Pak Jokowi di Istana ini dengan sambutan kebesaran, parade militer sebagai tradisi baru yang kita bangun, pergantian kepemimpinan, suksesi kepemimpinan yang damai, peacefull, tetapi juga mulia itu bisa berhasil.

Nanti kalau Saudara-saudara mendapatkan undangan untuk menyambut beliau saya harap bisa hadir, di situlah Pak Jokowi akan kita sambut menerima penghormatan pertama dari Paspampres, dan kemudian parade kami berdua, lantas masuk ke Istana Merdeka untuk saya kenalkan dengan staf dan jajaran lembaga Kepresidenan yang akan membantu dan melayani beliau, dan kemudian saya akan keluar dari Istana ini, dan saya menerima penghormatan terakhir dari Paspampres nanti, kembali ke Cikeas ke rumah saya, kembali ke desa di mana saya tinggal sekarang ini.

Itulah kira-kira nanti episode sejarah tanggal 20 Oktober dan mudah-mudahan berlanjut ke depan dari satu ke Presiden ke Presiden juga terjadi transisi yang baik, yang mulia, saling hormat menghormati dan baik untuk pendidikan bangsa.

Demikian Saudara-saudara, saya akhiri, terima kasih sekali lagi, terima kasih, terima kasih, sampaikan salam saya kepada seluruh keluarga dan sukses selalu.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru