Penganugerahan Pinisepuh dari Paguyuban Pasundan, 11 November 2018, di Gedung Paguyuban Pasundan, Universitas Pasundan, Bandung, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 11 November 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.741 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Ketua Paguyuban Pasundan Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Didi Turmudzi, beserta seluruh jajaran pengurus Paguyuban Pasundan,
Yang saya hormati para sesepuh Pinisepuh Paguyuban Pasundan, Bapak Solihin G.P.,
Yang saya hormati Bapak Agum Gumelar,
Yang saya hormati Bapak Prof. Dr. Ir. Ginandjar Kartasasmita,
Yang saya hormati Bapak Tjetje Hidayat,
Yang saya hormati Bapak Prof. Eddy Jusuf,
Yang saya hormati Ketua Komisi Yudisial, para menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Gubernur Jawa Barat, beserta bupati, wali kota, wakil bupati, wakil wali kota yang hadir,
Bapak-Ibu sekalian hadirin yang berbahagia.

Sampurasun,
Wilujeng enjing,
Kumaha damang?
Didieu simkuring ngaraos tumaninah, kumargi wargana someah tur hade budi paranggi ka sasama.

Betul-betul di sini saya merasa tenang, merasa senang karena warganya ramah, murah senyum kepada siapapun, kepada sesama.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas penganugerahan Pinisepuh di Paguyuban Pasundan. Ini penghormatan yang luar biasa bagi saya. Tadi Pak Gubernur menyampaikan bahwa saya sudah ke sini, mungkin yang dimaksudkan ke Bandung, lebih dari 30 kali. Tapi kalau ke Jawa Barat, saya mungkin sudah lebih dari 1.500 kali. Karena saya tinggal di Bogor, setiap hari keluar masuk dari Bogor ke Jakarta pagi-pagi, nanti tengah malam kembali lagi ke Jawa Barat. Jadi kalau dihitung mungkin lebih dari 1.500 kali, pulang-pergi, pulang-pergi. Sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya atas penganugerahan ini.

Kemudian saya juga merasa seperti di rumah sendiri. Apresiasi dan penghargaan yang tinggi karena warga Pasundan yang ramah selama saya di Bandung, diterima dengan sangat ramah, sangat terbuka. Di Jawa Barat juga sama, sangat ramah, sangat terbuka.

Dan pada kesempatan yang baik ini saya ingin dengan kerendahan hati, ingin memohon masukan-masukan, input-input kepada saya, terutama dalam ikut membangun provinsi Jawa Barat. Memang belum banyak. Airport Kertajati, Jalan Tol Bocimi yang masih dalam proses, insyaallah minggu depan separuhnya sudah  kita resmikan. Karena saya pernah merasakan sendiri dari Jakarta ke Sukabumi itu memakan waktu tujuh jam, sebelum menjadi presiden, waktu masih gubernur. Saya merasakan sendiri betapa memang jalan tol ini sangat diperlukan. Juga Tol Cisumdawu baru dalam proses pembangunan.

Tadi Bapak Gubernur menyampaikan, bahwa penduduk di Jawa Barat ini kurang lebih hampir mendekati 50 juta. Provinsi yang paling besar di seluruh Tanah Air dengan jumlah penduduk yang hampir 50 juta. Tentu saja ini juga diperlukan perhatian yang khusus bagi Provinsi Jawa Barat. Saya tahu itu. Oleh sebab itu, ke depan, saya tadi sudah bisik-bisik dengan Pak Gubernur, agar kita bersama-sama pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, bersama-sama membangun provinsi ini. Dan saya tahu juga dengan penduduk yang besar, tentu saja mestinya porsinya juga besar di Kabinet. Logikanya memang harusnya seperti itu.

Yang kedua yang ingin saya sampaikan, bahwa negara kita ini adalah negara besar. Negara dengan penduduk sekarang sudah 263 juta, 514 kabupaten dan kota, 34 provinsi dengan ribuan pulau, 17 ribu pulau. Dan kontribusi besar yang diberikan oleh Ir. Juanda terhadap mempersatukan pulau-pulau yang ada negara ini adalah sebuah prestasi yang patut kita berikan apresiasi. Sehingga kalau kita lihat hampir di seluruh  provinsi, di seluruh kota, yang namanya jalan-jalan  besar pasti ada yang namanya Jalan Ir. Juanda, di mana-mana. Termasuk di Jawa Timur saja bandaranya/airport-nya  namanya Airport Ir. Juanda. Ini sebuah penghargaan yang tinggi kepada beliau.

Kembali lagi kepada negara kita yang sangat besar, 17.000 pulau, 714 suku, 1.100 lebih bahasa daerah yang berbeda-beda. Saya ingin terus belajar bahasa-bahasa daerah yang kita miliki, tapi saya enggak mampu, saya enggak mampu. Misalnya Jawa Barat yang saya bisa ya tadi, sampurasun, kumaha damang. Karena nanti pindah ke provinsi lain sudah berbeda lagi. Inilah negara kita Indonesia yang sangat besar, yang sangat luas.

Saya sering bercerita, saya pernah terbang dari Banda Aceh menuju ke Papua, bukan di Jayapura tetapi di Wamena. Berapa jam ditempuh? Sembilan jam lima belas menit, naik pesawat. Sembilan jam lima belas menit. Bayangkan kalau kita jalan kaki dari Banda Aceh menuju ke Wamena. Itu kalau kita terbang dari London di Inggris ke timur sampai Istanbul di Turki, sudah melewati 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, atau 8 negara. Artinya apa? Memang bentangan negara kita ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote itu sangat besar sekali, sangat besar sekali.

Oleh sebab itu, saya mengajak kepada kita semuanya, jangan sampai karena pilihan bupati, jangan sampai karena pilihan wali kota, jangan sampai karena pilihan gubernur, jangan sampai karena pilihan presiden, itu adalah pesta demokrasi yang setiap lima tahun pasti ada, kita menjadi kelihatan terpecah, terbelah, tidak kelihatan sebagai saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air. Dan contoh besar kebinekaan itu ada di Provinsi Jawa Barat. Semua suku yang ada di Indonesia ini ada di Provinsi Jawa Barat. Dan saya melihat provinsi ini adem ayem saja, tenang, tidak pernah ada masalah.

Inilah contoh-contoh yang kita perlukan bagi provinsi-provinsi yang lain untuk melihat bahwa perbedaan-perbedaan, baik suku, agama, ras, bahasa daerah, memang sudah menjadi kodrat kita, sudah menjadi anugerah dari Allah yang diberikan kepada kita, bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, saya mengajak jangan sampai, kembali lagi, karena pilihan bupati, wali kota, gubernur, presiden, kita menjadi terpecah-pecah. Rugi besar kita.

Jangan sampai isu-isu yang sudah lama masih ada gara-gara, misalnya ini pilihan presiden. Yang sering ada di media sosial disampaikan Presiden Jokowi itu PKI. Masih sampai sekarang. Survei terakhir yang kita lakukan, masih enam persen masyarakat di Indonesia yang percaya bahwa saya itu PKI. Padahal, saya lahir tahun ‘61, PKI dibubarkan tahun ‘65-‘66, umur saya baru empat tahun. Enggak ada yang namanya PKI balita. Apa ada PKI balita? Enggak ada.

Kembali lagi nanti nembaknya ke orang tua. Orang tua saya, kakek-nenek saya. Gampang sekali jawaban saya, sekarang ini zaman terbuka, bisa tanya masjid di dekat rumah saya, di dekat rumah orang tua saya, di dekat rumah kakek-nenek saya. NU ada di Solo, Muhammadiyah ada di Solo, Persis ada di Solo, LDII ada di Solo, Al Irsyad ada di Solo, FPI ada di Solo, coba tanya di masjid di dekat rumah kita. Saya sampaikan itu, saya sampaikan keluarga saya muslim, bapak-ibu saya muslim, kakek-nenek saya muslim. Saya kadang-kadang kalau lihat di media sosial sedih juga. Saya sempat diam, saya sabar enggak jawab, gini-gini saya diam. Tapi kok lama-lama kok saya perlu menjawab, sehingga saya jawab. Contoh di media sosial seperti itu. Itu DN Aidit pidato tahun 1955, Ketua PKI, kok didekatnya ada saya. Saya lihat-lihat, saya lihat-lihat lho kok ya mirip saya gitu. Astagfirullah. Ini pidato DN Aidit tahun ‘55, lahir saja saya belum, lha kok sudah ada di dekatnya. Kalau fitnah-fitnah seperti ini tidak saya jawab, dipikir nanti menjadi sebuah kebenaran.

Oleh sebab itu, saya mengajak kita semuanya untuk hijrah. Hijrah dari ujaran-ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme ke optimisme, hijrah dari hal-hal yang konsumtif ke hal-hal yang produktif, karena inilah yang diperlukan bangsa kita, Indonesia.

Jangan sampai ada di media sosial seperti yang tadi. Itu hanya mengaduk-aduk emosi dan perasaan masyarakat tapi tidak ada gunanya, tidak ada gunanya sama sekali. Ini perlu saya jawab. Saya sudah enam bulan ini menjawab ini, karena saya kaget juga di dalam survei ternyata masih ada enam persen yang percaya masalah itu. Enam persen itu kalau dijumlah bisa lebih dari sembilan juta orang masih percaya, di seluruh provinsi. Sehingga saya ngomong. Kalau enggak ngomong nanti dipikir benar. Berbahaya sekali. Karena yang namanya PKI itu kan TAP MPRS-nya kan masih ada, sudah dilarang. Sudah dilarang. Jadi kalau ada, gampang sekali payung hukumnya ada kok. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Ada payung hukumnya. Sudah jelas.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya. Pertama, atas penghargaan yang telah diberikan kepada saya. Yang kedua, juga atas kontribusi besar Paguyuban Pasundan dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan negara yang kita cintai ini, Indonesia.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru