Pengarahan kepada Direktur Utama BUMN, di Ballroom Hotel Meruorah Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 14 Oktober 2021

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 16 Oktober 2021
Kategori: Amanat/Arahan
Dibaca: 161 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Pak Menteri BUMN, Sekretaris Kabinet;
Yang saya hormati para Direktur Utama BUMN yang hadir beserta seluruh jajaran;
Yang saya hormati, saya lupa, Pak Wakil Menteri BUMN, Pak Tiko (Kartika Wirjoatmodjo), Pak Pahala (Pahala Nugraha Mansury);
Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati.

Saya kira tadi sudah, sudah, sudah sangat jelas sekali apa yang disampaikan oleh Pak Menteri BUMN, saya mungkin hanya nambah-nambahi saja, bahwa sesuai yang sebetulnya sudah saya perintahkan tujuh tahun yang lalu untuk secepatnya menggabungkan, mengonsolidasikan, mereorganisasi dari BUMN-BUMN kita, yang menurut saya saat itu sangat terlalu banyak. Dan, tadi sudah disampaikan oleh Pak Menteri BUMN, [dulu] ada 108 [BUMN], sekarang sudah turun menjadi 41 [BUMN], ini sebuah fondasi yang sangat baik, kemudian diklasterkan, itu juga baik.

Yang paling penting, ke depan, yang ingin kita bangun adalah nilai-nilai, core value. Yang ingin kita bangun itu, sehingga yang namanya pemilihan, Bapak-Ibu adalah orang-orang yang sudah sangat terpilih, kita seleksi, jadi jangan sampai ada yang tidak pede (percaya diri), itu yang ingin saya sampaikan.

Ini, sekali lagi, perlu saya sampaikan dan sebetulnya dulu sudah saya sampaikan. Karena yang ingin kita bangun ini adalah profesionalisme. Dan saya minta juga, Bapak-Ibu sekalian juga, bagaimana membangun sebuah kultur kerja ini harus dimulai. Jangan sampai yang namanya BUMN itu seperti birokrasi. Ruwetnya, coba. Bapak-Ibu bisa membayangkan, mau izin yang namanya pembangkit listrik itu 259 izin, meskipun namanya beda-beda. Ada izin, ada rekomendasi, ada surat pernyataan, sama saja, itu izin. Dan itu jumlahnya 259 izin. Kalau dibawa koper mungkin sepuluh koper ada itu. Dan, waktu yang diperlukan mencari izin itu bisa tiga tahun, empat tahun, lima tahun, enam tahun, tujuh tahun. Ada yang tujuh tahun, ngadu ke saya. Nah, seperti ini yang harus dipangkas, enggak boleh, misalnya di PLN, sampai bertele-tele seperti itu. Enggak bisa lagi.

Siapa yang mau investasi kalau berbelit-belit seperti itu? Sudah di kementeriannya berbelit-belit, di daerahnya berbelit-belit, masuk ke BUMN-nya berbelit-belit lagi. Lari semua. Sehingga kalau yang lalu-lalu, BUMN-BUMN-nya banyak terlalu keseringan kita proteksi. Sakit, tambahi PMN. Sakit, suntik PMN. Maaf, terlalu enak sekali!

Dan, akhirnya itu yang mengurangi nilai-nilai yang tadi saya sampaikan. Berkompetisi enggak berani, bersaing enggak berani, mengambil risiko enggak berani. Ya bagaimana profesionalisme, kalau itu tidak dijalankan? Jadi, tidak ada yang namanya proteksi-proteksi lagi itu sudah. Sudah, lupakan Pak Menteri, yang namanya proteksi-proteksi itu.

Yang ini mau kita bawa, BUMN ini go global, bersaing di internasional. Jadi, ya mulai harus, mulai harus, mulai harus menata, adaptasi pada model bisnisnya, teknologinya, yang paling penting ini. Dunia sudah kayak gini, revolusi industri 4.0, disrupsi teknologi, ada pandemi. Dan, kalau Saudara-saudara tidak merespons dari ketidakpastian ini dengan adaptasi secepat-cepatnya, kalau Pak Menteri sampaikan kepada saya, “Pak, ini ada perusahaan seperti ini, kondisinya BUMN…”, kalau saya langsung “Tutup saja!”. Enggak ada diselamat-selamatin, gimana kalau sudah kayak gitu? Dan Bapak-Ibu semuanya, sekali lagi, ini sudah terpilih, terseleksi, pintar-pintar. Saya enggak ingin ngajari yang namanya manajemen. Bapak-Ibu jauh lebih jago.

Jadi, sekali lagi, adaptasi pada model bisnis-model bisnis yang baru dan teknologinya. Ada yang sudah masuk ke sana, sudah. Cepat mengadaptasi, Saya lihat perbankan, bank-banknya, saya lihat sudah mulai masuk ke sana, ya. Telkom, Telkomsel, ya, sudah saya lihat. Tapi yang lain? Belum. Maaf, yang infrastruktur, BUMN infrastruktur, BUMN transportasi, belum. Dan kalau mau cepat, kita beradaptasi itu, cara yang paling cepat adalah berpartner, perusahaan global mana yang paling baik, ajak, pasti mau itu dengan kita, sudah. Kita sudah dinilai prospek ke depan, 10-20 tahun yang akan datang ini kita akan menjadi ekonomi empat besar dunia kok, siapa yang enggak mau? Mau semua.

Jadi, sekali lagi, tadi sudah disampaikan oleh Pak Menteri, berani berkompetisi. Tolong dihitung, karena apa pun BUMN ini adalah perusahaan negara, social impact-nya dihitung juga. Dan yang paling penting, reviu terus keekonomiannya. Berhitung, kalkulasi, sehingga kita bisa tahu pertumbuhan ke depan itu akan seperti apa. Jangan sampai lagi karena urusan penugasan pemerintah… saya bisa menugaskan, memberikan penugasan, “Ini penugasan bangun jalan tol!” tapi ya dihitung dong, ada kalkulasinya. Dan diberitahu kalau, “Pak, ini IRR-nya, Internal Rate of Return-nya sekian. Berarti kami memerlukan suntikan dari APBN sekian.” Jangan kalau pas dapat penugasan rebutan, tidak ada kalkulasi karena penugasan, kemudian ngambil pinjaman jangka pendek padahal infrastruktur itu untuk jangka panjang, ya sudah enggak ketemu. Itu tugas Saudara-saudara untuk ngitung kalau ada penugasan itu. Kalau enggak logis, bagaimana dibuat logis, tapi dengan kalkulasi. Ini yang kultur yang dulu-dulu tinggalkan lah, sudah, tinggal.

Karena, sekali lagi, yang namanya transformasi bisnis, yang namanya adaptasi teknologi sudah menjadi keharusan dan tidak bisa tidak. Kita hanya hitungan kita, kita ini balapan. Kita hanya punya waktu dua tahun, bukan karena 2024, ndak. Memang waktu kita hanya diberi waktu kalau mau negara ini melompat ini hanya dua tahun. Bagaimana menyiapkan SDM-nya, menyiapkan ekosistemnya, kemudian masuk ke teknologinya, adaptasi teknologinya, baru kita bisa negara ini melompat, dan kita harus pontang-panting untuk itu. Mana yang perlu disuntik, mana yang perlu diinjeksi, agar ini bisa melompat, cepat beradaptasi, ya itu tugas dari kita semua seperti itu.

Jadi, sama untuk BUMN yang berkaitan dengan pangan, yang berkaitan dengan kesehatan, yang berkaitan dengan energi. Kalau mau cepat, ya berpartner, mencari partner. Pangan, misalnya gula, tujuh tahun yang lalu saya datang ke pabrik gula, pabrik gula, pabrik gula. Mesinnya kayak gitu, gimana suruh memiliki rendemen yang tinggi? Enggak mungkin. Saya sudah perintah, ganti mesinnya, ganti mesinnya. Satu pun enggak (berjalan), bisa ini saya kejar kalau caranya seperti itu diulang-ulang.

Ini karena (bagi) kita penting sekali, seperti yang disampaikan oleh FAO, dalam kondisi ke depan karena perubahan iklim, itu yang namanya ketahanan pangan itu sangat penting sekali bagi sebuah negara, dan sudah diprediksi akan terjadi krisis pangan. Ini kesempatan kita. Tanah masih luas sekali, masih gede sekali, tapi yang merancang itu jangan kecil-kecilan. BUMN masa membuat hanya kecil-kecilan. Kecil-kecilan pun enggak jadi lagi. Buat yang gede sekalian. Berpartner. Saya pernah sampaikan kan, dulu saya tujuh tahun yang lalu, saya datang ke Merauke. Itu lahannya hamparan datar sekali. Airnya melimpah. Kalau digabung Merauke, Mappi, Boven Digoel, itu ada 4,2 juta hektare. Tapi enggak mungkin BUMN kita ini sendirian ke sana, enggak mungkin. Pertama, memerlukan modal yang sangat besar. Yang kedua, memerlukan teknologi, itu yang kita belum memiliki kemampuan ke sana, sehingga sekali lagi cari partner. Banyak sebetulnya, tapi kita sendiri enggak pernah merespons sih.

Saya sudah bukain pintu, enggak ada respons apa-apa. Ya gimana, saya? Saya kadang-kadang sering malu terus terang saja. Sudah bukain pintu, bukain pintu, tapi enggak ada respons ke sana. Itu investasi memang ribuan triliun. Tapi kalau kita mau gede, ya memang harus berpikiran gede. Kita mau gede, mimpinya kecil, ya gimana mau jadi gede.

Itu baru satu lokasi, belum lokasi-lokasi yang lain. Banyak sekali kita itu, yang memungkinkan kita untuk membuat food estate apa pun lah, entah itu untuk beras, untuk jagung, dan lain-lainnya banyak sekali, singkong banyak sekali. Tapi ya itu, jangan orientasinya proyek, (tapi) dihitung, dikalkulasi.

Ketahanan kesehatan, ke depan juga ini sangat penting sekali. Dengan pandemi yang kita hadapi sekarang ini, mau tidak mau infrastruktur kesehatan kita, fasilitas kesehatan kita, harus kita benahi total. Kelihatan sekarang ini kekurangannya di sebelah mana. Kelihatan sekali, kurang semuanya. Yang paling cepat, lakukan mereformasi BUMN yang urusannya dengan kesehatan.

Bukain Bangladesh, bukain ke India. Saya telepon sendiri Perdana Menteri Narendra Modi. Di sini enggak merespons, gimana? Sampai nanyain dua kali ke saya, sudah ngirim tim ke sini, enggak ada tindak lanjut. Karena yang paling pas kita harus dari sana: murah, buat obat generik. Ini ada apa? Obat dan yang lebih penting lagi bahan baku obat. Kita ini sumber bahan baku sangat banyak sekali.

Kemudian energi juga sama. Semua memang sekarang ini harus berpartner kalau kita pengin cepat besar dan cepat berubah ke arah yang lebih baik. Semuanya harus memiliki visi global karena kita ingin BUMN betul-betul bisa menarik sebagai lokomotif untuk membawa yang kecil-kecil, yang menengah itu untuk masuk ke…menjelajah ke negara-negara lain.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, karena semuanya saya kira sudah tadi disampaikan oleh Menteri BUMN.

Dan saya ingin melihat betul-betul dalam waktu setahun-dua tahun ini ada sebuah perubahan-perubahan yang fundamental, yang menyebabkan daya saing kita, competitiveness kita betul-betul bisa naik levelnya. Dan tadi saya senang Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, Pelindo IV sudah gabung menjadi PT Pelabuhan Indonesia (PT Pelindo), yang kita harapkan ini nanti akan bisa memperbaiki biaya logistik kita, bisa memperbaiki konektivitas antarpulau yang kita miliki, sebanyak 17 ribu pulau, sehingga pelayanan kepada masyarakat di seluruh pulau menjadi lebih baik.

Tetapi yang paling penting, dengan bergabungnya ini menjadi sebuah kekuatan besar. Dan kalau berpartner dengan perusahaan luar yang memiliki networking, memiliki jaringan yang kuat ke seluruh negara, ini akan menjadi sebuah kekuatan besar, yang sebetulnya juga enam tahun yang lalu sudah kita mulai tapi enggak pernah gabung, gabung. Sudahlah, kalau transisinya virtual holding dulu, dilakukan, tapi juga tidak ketemu-ketemu. Tapi alhamdulillah tadi sudah beres semuanya. Dan hal-hal seperti itu yang saya harus sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya.

Saya tutup. Terima kasih.
Wasssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat/Arahan Terbaru