Pengarahan kepada Forkopimda se-Provinsi Kepulauan Riau, 19 Mei 2021, di Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 19 Mei 2021
Kategori: Amanat/Arahan
Dibaca: 263 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju, Pak Menkes, Pak Seskab;
Yang saya hormati Panglima TNI dan Kapolri;
Yang saya hormati Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kepri beserta Ketua DPRD Provinsi;
Yang saya hormati Pangkogabwilhan I beserta Pangdam, Kapolda, Kejati, Danrem, Danlantamal, Kabinda, Danlanud beserta seluruh Bupati dan Wali Kota, Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota beserta Ketua DPRD Kabupaten dan Kota, serta Sekda dan Asisten, serta Ketua- ketua Satgas, beserta Kepala Dinas Kesehatan se-Provinsi Kepri;
Bapak-Ibu sekalian yang tidak bisa saya sebut satu per satu;
Hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan ucapan selamat Idulfitri 1442 Hijriah, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Dan terima kasih kepada Bapak-Ibu sekalian yang telah bekerja keras dalam mengendalikan COVID-19, karena kita tahu ancaman COVID-19 sampai saat ini belum berakhir. Bahkan, di beberapa negara kembali naik secara eksponensial. Hati-hati sekali lagi, kita harus waspada. Ini hati-hati, saya ingatkan hati-hati, jangan lengah. Hati-hati, harus waspada terus. Jangan lengah, jangan menunggu chaos baru kita bertindak. Sudah terlambat, hati-hati.

Oleh sebab itu, kenapa saya datang ke Provinsi Kepri? Untuk mengingatkan agar kita semuanya hati-hati. Karena secara nasional, kasus aktif kita, puncak kasus aktif kita itu di awal Februari. Januari akhir sudah mulai naik, yaitu di angka 176 ribu. Di awal Februari, 5 Februari itu 176 ribu.

Tetapi, karena kita belajar dari negara lain, saat itu Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan sama, saya tanya kenapa India bisa turun, jawabannya micro lockdown. Kita tarik ke sini menjadi PPKM skala mikro, karena kita memiliki kekuatan di sini. Struktur kita sampai ke bawah ada; ada kepala desa, ada RT/RW. Dan juga ingat, ini yang juga penting, kita punya Babinsa dan Babinkamtibmas yang infrastruktur ini harus kita pakai dalam rangka PPKM skala mikro. Jadi dalam lingkup kecil, ada kena satu langsung isolasi, ada dua langsung karantina. Cepat gerakan kita, kalau ini bisa berjalan. Oleh sebab itu, tadi Panglima dan Kapolri sudah menyampaikan. Pangdam, Danrem, Kapolda, dan juga dibantu Pangkogabwilhan, tentu saja dengan Pemda sudah diingatkan oleh Panglima dan Kapolri diberi waktu dua minggu untuk menurunkan terus.

Saya hanya mengulangi lagi, karena setiap pagi sarapan saya itu angka-angka. Semua kabupaten ada, semua kota ada, semua provinsi saya punya. Jadi coba dilihat dari 176 [ribu], hari ini sudah turun menjadi 87 ribu. Kelihatan terus, grafisnya kelihatan turun. Jangan sampai karena Lebaran kemarin, ini kita sudah melarang mudik tapi tetep ada 1,5 juta yang mudik, [menjadi] naik, enggak apa-apa tapi kecil saja, ini yang kita harapkan. Oleh sebab itu, jaga-jaga, harus terus kita tekan.

Kemudian kita lihat di Kepri. Berapa kasus aktif? Supaya kita bisa melihat angka-angkanya. Agustus tahun lalu masih 362, kemudian masuk Oktober sudah melompat menjadi 1.240. Bisa turun, turun, turun di bulan Februari sampai 192. Tapi kelihatannya Bapak-Ibu tidak waspada di sini, di bulan Februari dan Maret, ada kelengahan di situ. Harusnya itu langsung diinjak terus sampai ke bawah, ke bawah, ke bawah. Sehingga April dan Mei sekarang sudah 2015 [kasus]. Hati-hati, kasus aktifnya di angka yang lumayan tinggi 14,72.

Angka kesembuhan di Kepri masih 83 persen. Nasional, angka rata-rata nasional sudah 92 persen. Sehingga ini menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita semuanya; Bupati, Wali Kota, Gubernur, Pangdam, Kapolda didukung Kejati, semuanya harus bergerak agar yang namanya angka kesembuhan itu bisa diperbaiki sehingga naik, naik, naik, naik terus. Kalau kurang obat, sampaikan ke Pak Gub. Gub bisa menyampaikan ke Menteri Kesehatan apa yang kurang. Kalau ada misalnya, ventilator Pak, ini ventilatornya masih ini sehingga banyak yang meninggal, sampaikan. Hal-hal yang menjadi kunci itu harus kita siap; obat, ventilator dan lain-lainnya harus siap.

Coba kita lihat Batam, hati-hati. Angka kesembuhannya sudah tinggi, paling tinggi tapi masih 90 persen. Rata-rata nasional sudah 92 [persen]. Dan yang paling hati-hati, Lingga. Angka kesembuhan masih di angka 32 persen, tolong itu dilihat. Anambas juga masih 54 [persen], masih jauh dari angka kesembuhan nasional di 92 [persen]. Tolong dilihat secara detail.

Saya ingin, misalnya suatu saat saya ke Anambas Saya tanya itu betul-betul Pak Bupati tahu angka kesembuhan berapa, angka kematian berapa, sehingga mengikuti setiap hari. Saya itu setiap hari ditanya kalau nasional ya ngerti. Tapi provinsi, kabupaten, dan kota semua ada catatan saya. Angka-angkanya itu.

Kemudian angka kematian. Ini hati-hati, Karimun ini tinggi. Ini hati-hati. Kemungkinan seperti tadi yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, yang lansia belum segera disuntik vaksin sehingga kematiannya tinggi 3,31 [persen]. Yang lain-lain sudah di bawah nasional. Catatan-catatan seperti ini juga untuk mengingatkan kita semuanya.

Kemudian indikator pengendalian pandemi COVID-19, ini apa sih? Ambil yang sebelah kanan saja; testing, tracing, treatment. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Menkes, pentingnya yang… Saya hanya dua tadi betul; testing dan tracing yang kita ini agak lemah. Testing sangat kurang, tracing juga sangat kurang. Ini indikator dari WHO, testing-nya kalau baik itu ditulis memadai, kalau lumayan ditulisnya sedang, kalau enggak baik namanya terbatas. Ya ini masih terbatas semua di sini. Testing-nya terbatas, tracing-nya juga terbatas. Ini yang harus diperbaiki sehingga menjadi sedang, naik lagi menjadi memadai. Treatment-nya sudah memadai, tapi yang dua itu hati-hati, angkanya juga hati-hati.

Kemudian BOR/Bed Occupancy Ratio untuk Kepri. Tadi Pak Gub menyampaikan 45,6 [persen], ya betul, sudah di bawah 50 [persen] tapi, BOR nasional kita di angka 29 [persen]. Dekati BOR nasional, 29 [persen]. Ini tugasnya juga Pangdam dan Kapolda, penting yang namanya BOR itu dilihat. Kalau lebih dipertajam lagi, di mana BOR-nya yang tinggi? Di Karimun dan di Batam: Karimun 64 [persen] dan Batam 65 [persen]. Hati-hati ini hati-hati. Moga-moga dalam sehari-dua hari ini, seperti tadi ada laporan di rumah sakit di Pulau Galang sudah rendah ya, moga-moga nanti mempengaruhi angka-angka ini. Yang kita harapkan itu.

Saya hanya menyajikan angka-angka ini untuk mengingatkan bahwa ada yang memerlukan perhatian, ada yang perlu saya ingatkan. Karena ini penting, BOR ini penting sekali. Selalu yang saya pakai seluruh provinsi/kabupaten/kota itu saya lihat BOR-nya, kalau BOR-nya sudah di bawah nasional, sudah lega, tetapi tetap hati-hati dan waspada. Hati-hati.

Sama juga di Kepri ini. Kalau kita bisa mengendalikan dalam angka-angka yang baik, ekonomi akan mengikuti. Percaya saya. Kalau Pak Gub bisa menurunkan tadi angka-angka yang saya sampaikan tadi, nanti di kuartal kedua bisa lebih dari 7 di sini, insyaallah bisa. Karena sekarang masih di kuartal pertama, masih minus 1,19, betul. Bisa, tapi ini butuh effort kita semuanya. April, Mei, Juni (kuartal kedua) sudah, karena target nasional kita juga kurang lebih 7. Di sini memiliki tadi, peluang-peluang yang banyak.

Dan di kuartal pertama (Januari, Februari, Maret) tahun ini, kita juga masih di minus 0,74 persen. Tapi sekali lagi, saya optimis kalau COVID-19 semua bisa kita tekan, insyaallah 7 persen itu bukan, bukan sesuatu yang mudah dicapai, tapi saya meyakini insyaallah bisa kita. Target itu bisa kita capai.

Tapi ya itu, ya saya datang seperti ini saya perlu mengingatkan ada hal-hal yang memang perlu kita kerja keras dan akan selalu saya ikuti harian, karena targetnya enggak enteng. Coba bayangkan, ekonom banyak yang menyampaikan minus 0,74 kok melompat jadi 7. Ya kita punya data, kita punya hitung-hitungan dan kita juga memang harus berusaha. Karena begitu kuartal kedua bisa mencapai itu, kuartal ketiga [dan] kuartal keempat akan lebih mudah. Ini menyangkut psikologis kok. Tapi begitu COVID-19 masih menanjak, waduh jangan berharap angka-angka angka itu, jangan berharap. Ini tugas kita bersama dan sekali perlu saya ingatkan.

Jadi saya ingin mengingatkan pertumbuhan ekonomi di Kepri, yang tadi sudah saya sampaikan minus 1,19 persen. Sektor yang tumbuh itu informasi dan komunikasi, yang terkontraksi itu sektor transportasi dan akomodasi. Ini artinya mungkin akomodasi dan transportasi masuk ke wisata.

Yang perlu saya ingatkan ini juga sudah mungkin yang ketiga atau yang keempat, mengenai serapan APBD, ini masih 10,08 persen. Tolong provinsi, kabupaten dan kota percepat belanja untuk menggerakkan ekonomi. Karena kemarin sudah saya sampaikan secara nasional seluruh provinsi, kabupaten dan kota, itu yang gede baru belanja aparatur 65 persen. Tetapi, belanja modal, belanja pembangunan itu baru 5 persen. Ya ini sebetulnya serapan APBD di Kepri dibandingkan yang lain, juga sedikit lebih baik. Tapi angka 10 persen itu tetap masih sangat rendah sekali, sehingga pertumbuhan ekonomi per kabupaten dan kota nampak masih seperti ini. Masih minus, minus, minus, minus, minus, minus, minus, minus, belum ada yang positif. Tetapi sekali lagi, angka ini bisa berubah kalau BOR rendah, angka kesembuhan tinggi, kasus aktif rendah/bisa ditekan. Kuncinya ada di situ.

Saya rasa kerja keras kita semuanya, saya meyakini insyaallah akan bisa mencapai apa yang sudah tadi kita targetkan. Tetapi memang kuncinya Pangdam, Kapolda, Gubernur, Pemda kerja bersama-sama, mengkonsolidasikan bersama-sama.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Dari Jakarta ke Tanjung pinang,
Pesawat terbang di atas angin.
Semua ingin pandemi hilang,
Pakai masker dan juga suntik vaksin.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat/Arahan Terbaru