Pengarahan kepada Forkopimda se-Provinsi Riau, 19 Mei 2021, di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 19 Mei 2021
Kategori: Amanat/Arahan
Dibaca: 98 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri, Pak Menteri Kesehatan, Pak Seskab;
Yang saya hormati Panglima TNI dan Kapolri;
Yang saya hormati Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Riau serta Ketua DPRD yang hadir;
Yang saya hormati Pangdam, Kapolda, Kajati, Kabinda;

Yang saya hormati para Bupati dan Wali Kota, para Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota serta Sekda yang hadir beserta seluruh Forkopimda Provinsi, Kabupaten, dan Kota, Danlanud, Danlanal;
Serta yang saya hormati Ketua DPRD Kabupaten/Kota, Kajari, Ketua Pengadilan Negeri Kabupaten dan Kota, Kapolres, dan Dandim se-Provinsi Riau;
Bapak-Ibu sekalian seluruh Ketua Satgas yang hadir;
Hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan ucapan selamat hari raya Idulfitri 1442 Hijriah, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Dan saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras seluruh jajaran pemerintah kabupaten dan kota, yang telah bersama-sama dengan TNI dan Polri bekerja keras dalam mengendalikan COVID-19. Tapi perlu saya sampaikan bahwa yang namanya ancaman penyebaran COVID-19 itu belum berakhir, belum berakhir. Manajemen pengendalian ini berada di Gubernur dan jajarannya, beserta Pangdam dan Kapolda dengan jajarannya, Bupati, Wali Kota, beserta Danrem, Dandim, Kapolres dan jajarannya. Ini kalau rukun, seperti tadi disampaikan oleh Panglima maupun Kapolri, kalau bergandengan di dalam koordinasi di rapat maupun di lapangan, persoalannya akan menjadi mudah.

Ini dari pengalaman kita, di tingkat nasional maupun di provinsi kabupaten dan kota, yang kita lihat dan kita amati. Kita ingat perkembangan COVID-19 nasional di awal Februari, itu kasus aktif ada 176 ribu. Coba bila kita lihat, di awal Februari atau akhir Januari 176 ribu, sudah mendekati 200 ribu. Tetapi sekarang, kita berada di kasus aktif 87 ribu, turun separuh lebih. Dari 176 ribu turun menjadi 87 ribu pagi tadi, data yang kita terima menurunnya 50,5 persen, penurunannya. Ini berkat kerja keras Bapak, Ibu dan Saudara-saudara sekalian.

Kuncinya di PPKM skala mikro yang bergerak ini di tingkat paling bawah yang kita punyai dan kita beruntung bahwa kita memiliki yang namanya babinsa, bhabinkamtibmas, ada lurah, RT, dan RW. Inilah yang harus digerakkan. Begitu ada satu kasus positif di RW langsung diisolasi, dikarantina di situ. Kalau berat, tadi disampaikan Pak Menkes, bawa ke rumah sakit. Tetapi hati-hati kalau sudah turun, jangan lengah, jangan kehilangan kewaspadaan. Jangan lengah dan jangan tunggu chaos baru kita bertindak, terlambat.

Kenapa saya datang ke Riau ini? Karena ingin mengingatkan, mengingatkan kita semuanya, betapa kita perlu bekerja bersama-sama. Jangan lengah dan ada respons yang cepat kalau ada peningkatan.

Data itu selalu tiap hari menjadi makanan sehari-hari saya, posisi setiap provinsi seperti apa, posisi nasional seperti apa, kabupaten dan kota seperti apa, kelihatan semuanya. Saya datang ke sini juga dalam rangka itu, karena angka-angkanya kelihatan.

Coba kita lihat sekarang kasus aktif di Riau, bulan Februari coba lihat masih rendah. Februari itu masih rendah, yang dulu 2020 [bulan] Agustus-September tinggi, sudah turun sebetulnya, sudah turun sudah sampai ke angka 1.071 di Februari, sudah turun. Ini ada kelengahan pasti. Begitu Maret, naik 1.300 langsung, April naik menjadi 4.800. Meskipun sekarang turun sedikit tapi masih di posisi yang tinggi, hati-hati mengenai ini. Hati-hati.

Angka kesembuhan juga sudah cukup baik di angka 89 persen tapi masih di bawah kesembuhan nasional 92 persen, sehingga ini perlu ditingkatkan. Kenapa harus setinggi-tingginya angka kesembuhan? Karena kita tidak ingin ada yang meninggal. Oleh sebab itu, tadi Pak Menkes menyampaikan kalau kurang, misalnya ventilator, segera infokan. Kalau obatnya terlambat, segera infokan, karena kunci-kuncinya ada di situ.

Angka kesembuhan per kabupaten dan kota juga kelihatan. Kita lihat yang angka kesembuhannya rendah mana? Di Kuantan [Singingi] paling bawah, di 76 persen ya. Ini hati-hati, rumah sakit hati-hati. Rokan Hilir paling baik di 91 persen, Kampar baik juga di 91 persen, Rokan Hulu baik juga di 90 persen. Yang lain, mari kita bersama-sama ditingkatkan untuk kesembuhannya. Detail kita ada seperti ini, jadi angka-angkanya tidak bisa mungkin berbeda, tapi sedikit mungkin nasional dan pemda, atau mungkin terpaut hari saja mungkin sudah berubah. Tapi, angka-angka itu perlu kita tingkatkan lagi untuk kesembuhan.

Angka kematian hati-hati, di sini tinggi, karena angka kematian kita di nasional 2,7 persen. Hati-hati Indragiri Hilir ini 5,23 persen. Ini coba dicek betul, apakah obatnya sering terlambat? Apakah tidak ada ventilator? Cek betul dan lain-lainnya. Rokan Hulu juga 4,5 persen. Coba dilihat angka-angka itu dilihat, dicatat.

Dan kalau saya tanya, mestinya semua Bupati, Wali Kota, Gubernur itu tahu posisi di tingkat kabupaten seperti apa. “Pak Bupati, berapa angka kesembuhan di sini?” Harus bisa jawab. “Berapa kasus aktif di sini?” Harus bisa jawab.

Ada saya datang ke daerah, tidak di Sumatra, saya datang ke daerah. Saya tanya, tidak tahu. Kalau angka-angka saja tidak tahu, bagaimana menyelesaikannya? Termasuk hati–hati nanti Pangdam, Kapolda ya saya tanya, kondisi kasus aktif berapa.

Kemudian perkembangan kasus aktif Riau, kita lihat per kabupaten/kota, kelihatan. Meskipun warna hijau itu lihat, coba. Sebelumnya rendah, kemudian semuanya eksponensial, meloncatnya drastis. Ini ada apa? Kelengahan kita. Tidak melihat kasus per kasus itu harian, sehingga tahu-tahu eksponensial.

Dari Maret, kemudian eksponensial naik. Memang ada 10 Kabupaten yang ini sudah turun, tetapi masih tinggi. Yang merah tadi dua, hati-hati. Tadi di Pelalawan dan yang merah satu lagi di Kepulauan Meranti. Kelihatan semuanya, jadi sekarang ini saya baca kelihatan sekali. Mana ini yang merah, mana yang hijau kelihatan semuanya dalam kurva dan grafis seperti itu. Mana yang meningkat drastis, kenapa? Kita kemarin melihat, kenapa di Dumai peningkatannya seperti itu? Apakah karena ada pekerja migran/TKI yang kembali atau tidak? Atau karena interaksi di antara, karena kota pelabuhan, interaksi di antara masyarakat di sana yang tinggi? Ternyata interaksi, sehingga hati-hati di sana memang harus diberikan perhatian. Saya tadi sudah perintah ke Pak Menkes, Dumai berikan perhatian untuk vaksinasinya sehingga jangan sampai keterusan.

Kemudian, mengenai indikator pengendalian. Ada indikator pengendalian menurut WHO, itu ada semuanya. Levelnya di Riau, untuk tadi yang disampaikan oleh Pak Panglima, merespons dengan testing, tracing, dan treatment. Itu memang standarnya dari WHO seperti itu. Level kapasitas respons itu kelihatan di situ. Bagaimana ada kasus, kita merespons, itu kelihatan.

Coba dilihat yang sebelah kanan, testing, tracing, treatment untuk Provinsi Riau. Ini dinilai kalau yang baik itu memadai, yang sedang itu nilainya sedang, kemudian yang tidak baik itu terbatas. Testing coba, levelnya terbatas artinya belum baik. Tracing juga levelnya terbatas, yang treatment itu bagus, memadai. Artinya di sini yang diberikan perhatian di testing dan tracing yang masih kurang, karena masih pada level terbatas. Seperti testing ini 37,25 persen, tracing itu juga masih kecil 0,43 persen.

Kemudian BOR, BOR di seluruh provinsi di Indonesia, Bed Occupancy Ratio. Ini hati-hati, Riau  berada di nomor kedua setelah Sumatra Utara, yang paling tinggi Sumatra Utara. Sumatra Utara 55 persen, di Riau 53 persen, meskipun tadi laporan terakhir dari Pak Gubernur sudah di angka 47 persen, sudah turun. Tapi sekali lagi, perlu diturunkan lagi karena BOR Nasional adalah 29 persen, sudah rendah sekali nasional Bed Occupancy Ratio. Sehingga, artinya apa? Yang masuk rumah sakit itu harus disegerakan untuk sembuh, supaya bed-nya kosong, supaya  keterisian rumah sakit itu bisa kosong. Sembuhkan secepat-cepatnya, perintahkan. Pak Bupati, Wali Kota, perintahkan ke RSUD yang ada. Kurangnya apa, tanya obatnya komplit atau masih kurang?

Misalnya, di Dumai karena BOR-nya tinggi atau di Indragiri Hulu di angka 93 persen, atau di Dumai 84 persen. Ini hati-hati sudah segede itu, hati-hati. Meskipun tadi rata-rata 53 persen tapi hati-hati, ada dua yang tinggi sekali; Indragiri Hulu dan Dumai. Tadi saya sudah sampaikan ke Pak Menkes, Rumah Sakit Pertamina ikut bantu. Saya sampaikan ke Pak Kapolri juga, Rumah Sakit Bhayangkara bantu. Ini sudah kayak gini, sudah lampu merah betul itu yang 93 persen, yang 84 persen, itu hati-hati. Itu dua minggu berikut, sudah bisa kolaps itu kalau enggak disiapkan

Sama seperti saat dulu RSDC Wisma Atlet, saya ingat betul. Karena saya setiap malam telepon yang namanya RSDC Wisma Atlet di Jakarta, pernah sampai lebih dari 90 persen, 92 persen. Tapi tadi pagi saya telepon, berapa RSDC Wisma Atlet saya telepon? 15 persen. Coba dari 92 persen bisa turun ke 15 persen, itu atas kerja sama tadi Pangdam, Kapolda, Gubernur, semuanya mengkonsolidasikan kekuatan yang ada.

Hati-hati, karena yang namanya COVID-19 itu menyangkut ekonomi, enggak mungkin ekonomi naik kalau COVID-19 belum beres. COVID-19 beres, orang merasa confident/percaya diri untuk konsumsi, untuk melakukan permintaan/demand. Itu yang menyebabkan ekonomi menjadi baik. COVID-19 diselesaikan dulu, otomatis nanti pertumbuhan ekonomi akan naik.

Kita ingat, masuk ke ekonomi ini, kita ingat di 2020 kuartal pertama, kita masih sebelumnya kan plus 5 persen. Kemudian masuk ke kuartal pertama 2020, kita tinggal 2,97 persen, turun. Karena mulai COVID-19 di Wuhan, mulai COVID-19 di negara lain, kita sudah menjadi pesimis sendiri turun 2,97 persen, padahal COVID-19 belum masuk Indonesia saat itu.

Begitu COVID-19 masuk di awal Maret, kuartal kedua 2020, langsung jatuh ekonomi kita menjadi minus 5,32 persen. Karena orang sudah tidak PD (percaya diri) untuk melakukan konsumsi, orang sudah tidak percaya diri untuk melakukan permintaan. Kalau enggak ada konsumsi, enggak ada permintaan, artinya apa? Produksinya juga enggak mungkin mau, setop, ndak kuat dia, dia enggak berproduksi. Kalau pabrik, industri, usaha kecil, usaha menengah enggak berproduksi, artinya apa? Ya ekonomi jatuh, kaitannya seperti itu. Tapi alhamdulillah di kuartal ketiga mulai ada peningkatan tapi masih minus, minus 3,49 persen. Tapi lebih baik dari kuartal kedua. Kuartal keempat masih minus tapi lebih baik, minus 2,19 persen, tapi masih minus. Nah, di kuartal pertama 2021 kita sudah mendekati mau positif tapi masih minus, minusnya 0,74 persen tapi masih minus.

Tapi di kuartal kedua, kuartal kedua artinya April, Mei, Juni. Saya sudah menyampaikan kepada menteri dan ini didukung oleh gubernur, bupati, dan wali kota, karena ekonomi nasional itu berasal dari agregat di kabupaten, kota dan provinsi. Kuartal kedua berarti April, Mei, Juni, target kita kurang lebih 7 persen. Bagaimana caranya? Caranya ya COVID-19 selesaikan, sehingga orang percaya diri untuk konsumsi, untuk ada demand sehingga produksinya bergerak. Hati-hati, kurang lebih 7 persen plus itu bukan barang mudah, tetapi saya meyakini insyaallah, bisa.

Kenapa saya datang ke Provinsi Riau? Saya ingin memberikan keyakinan itu. Dan untuk ekonomi, Riau masuk provinsi yang sudah positif. Ini alhamdulillah, meskipun masih kecil tapi sudah positif. Di Riau masuk 10 provinsi yang positif, sudah di 0,41 positif. Tapi masih 0,41 persen, tapi sudah positif, Pak Gub, jadi harus optimis.

COVID-19 ini diberesin, kalau diberesin melompat di atas 7 persen, kalau bisa beresin di kuartal kedua. Kuartal ketiga akan lebih mudah lagi. Hati-hati, dukungan di sini, karena ada sawit, ada kertas, ada usaha kecil yang kuat di sini. Ini memberikan dukungan, pertanian, perkebunan di sini itu sangat kuat sekali dan sekarang harga-harga komoditas pertanian, karet, sawit, kertas, semuanya pada posisi tinggi.

Jadi, saya memperkirakan insyaallah di kuartal kedua, dengan catatan COVID-19 beres, rampung Provinsi Riau, karena sudah positif. Yang lain semua provinsi negatif, Riau termasuk yang positif 0,41 persen. Angka-angka per kabupaten/kota bisa dilihat. mana yang plus, mana yang masih minus, yang masih merah-merah masih minus. Tapi sudah di angka yang minusnya kecil-kecil kok, bisa diperbaiki asal COVID-19 ini diselesaikan. Ini hanya bagaimana rakyat, dunia usaha, itu memperoleh kepercayaan diri untuk mengonsumsi untuk ada demand, untuk ada permintaan, hanya itu kuncinya. Kalau itu bisa kita selesaikan, insyaallah, ekonominya berjalan, COVID-19 tertekan.

Jadi, saya melihat tadi kurvanya di sini sudah turun sedikit, tapi yang kita butuhkan turunnya banyak. Tadi Pak Panglima, Pak Kapolri sudah memberi perintah ke Pangdam dan Kapolda, dua minggu harus turun, kelihatan. Bisa kok. Pengalaman kita dulu di Jawa Timur tinggi sekali, kita datang dan kita konsolidasi, bisa juga turun. Jauh lebih tinggi dari Riau. Ini mumpung belum terlambat, marilah kita bersama-sama menyelesaikan persoalan COVID-19 dan juga persoalan ekonominya untuk rakyat.

Saya rasa, itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Saya tutup.
Terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat/Arahan Terbaru