Pengarahan Kepada Kepala Daerah Se-Indonesia Tahun 2021, 17 Mei 2021, dari Istana Negara, Provinsi DKI Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 Mei 2021
Kategori: Amanat/Arahan
Dibaca: 285 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati Bapak Wakil Presiden;
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju;
Yang saya hormati, para Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati, Wali Kota-Wakil Wali Kota beserta seluruh jajaran Forkopimda Provinsi, Pangdam, Kapolda, Kejati, dan Ketua Pengadilan Tinggi. Dan juga Forkopimda Kabupaten dan Kota, Kapolres, Danrem, dan Dandim, Kejari, Ketua Pengadilan Negeri beserta seluruh jajaran Sekda dan seluruh Asisten yang hadir, Ketua Satgas, Bapak-Ibu para Ketua DPRD Provinsi, Kabupaten, dan Kota;
Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Masih di bulan Syawal ini, saya ingin, saya dan Pak Wakil Presiden mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Saya dan Pak Wakil Presiden juga mengucapkan selamat merayakan Kenaikan Isa Almasih bagi umat Kristiani yang merayakannya.

Kita masuk ke pokok acara. Pascalebaran, hati-hati. Betul-betul kita harus waspada karena berpotensi, ada potensi jumlah kasus baru COVID-19. Meskipun kita telah mengeluarkan kebijakan larangan mudik tadi pagi saya mendapatkan data, data saya terima, terdapat sekitar 1,5 juta orang yang mudik dalam kurun waktu 6-17 Mei. Awal-awal dulu saya sampaikan, ada 33 persen masyarakat yang berkeinginan untuk mudik ke kampung halaman. Kemudian, ada larangan, dilarang mudik, turun menjadi 11 persen. Setelah sosialisasi, turun lagi menjadi 7 persen. Dan saat pelaksanaan, karena ada penyekatan-penyekatan, turun menjadi 1,1 persen. Memang 1,1 [persen] kelihatannya kecil sekali. Tetapi, kalau dijumlah ternyata masih gede sekali, 1,4 sekian, 1,5 juta orang yang masih mudik.

Oleh sebab itu, kita berharap, meskipun saya melihat kemarin di tempat wisata juga ramai, [yang] mudik tadi saya sampaikan 1,5 juta [orang], kita berharap kasus aktifnya, kita tidak ingin sebesar pada tahun-tahun lalu. Karena apa? Sudah terjadi penurunan kasus aktif, dari puncak kasus aktif yaitu di awal Februari, di [tanggal] 5 Februari itu puncaknya di situ, itu kasus aktif ada 176 ribu. Tetapi sekarang kasus aktif itu sudah turun menjadi 90.800, turun 48 persen. Penurunannya sekali lagi, 48 persen. Ini yang harus terus kita tekan agar semakin turun, semakin turun, semakin turun.

Kita harus memiliki ketahanan, memiliki endurance karena tidak mungkin selesai dalam waktu sebulan-dua bulan. Hati-hati, gelombang kedua, gelombang ketiga di negara-negara tetangga kita sudah juga mulai melonjak drastis. Malaysia sudah lockdown sampai Juni. Singapura juga sudah lockdown sejak Mei, dan semakin ketat pada minggu-minggu kemarin. Kita harus melihat tetangga-tetangga kita.

Dan kasus per provinsi, data-datanya sekarang kita komplet. Hati-hati provinsi yang ada di Sumatra, 15 provinsi mengalami kenaikan. Ini hati-hati. Sekarang kita terbuka. Hati-hati Aceh, hati-hati Sumut, hati-hati Sumbar, hati-hati Riau, hati-hati Jambi, hati-hati Babel, hati-hati DKI Jakarta, hati-hati Maluku, hati-hati Banten, hati-hati NTB, hati-hati Maluku Utara, hati-hati Kalteng, hati-hati Sulteng, hati-hati Sulsel, hati-hati Gorontalo. Kelihatan dalam grafisnya, kurvanya, semuanya kelihatan. Sekarang kita tandai merah dan hijau. Sebagian ada di Sumatra, sebagian besar, dan ada di Jawa dan juga ada di Sulawesi dan Kalimantan.

Ini perkembangan kasus mingguan di Pulau Sumatra. Hati-hati. Bisa dilihat, Aceh turun tetapi juga masih pada posisi yang tinggi. Sumut juga sama, naik, belum turun. Sumbar juga tinggi tetapi sudah ada penurunan, dan provinsi-provinsi yang lainnya. Sumsel juga sama, tinggi tetapi ada penurunan. Babel tinggi tapi ada penurunan. Jambi tinggi tapi ada penurunan. Tapi tetap semuanya harus hati-hati. Yang turunnya drastis hanya di Bengkulu, sehingga kita beri tanda hijau, bukan zona hijau, tapi turunnya, mingguannya, tren menurunnya kelihatan. Hati-hati Riau, hati-hati Kepri, naik, belum turun, hati-hati. Lampung tinggi tapi sudah menurun, tapi juga hati-hati.

Sekarang Bed Occupancy Ratio (BOR), rasio keterisian tempat tidur di rumah sakit, target kita sekarang harus di bawah 50 persen, ada yang masih di atas 50 persen, karena BOR nasional kita sekarang ini, rasio keterisian tempat tidur yang ada di rumah sakit secara nasional sekarang ini kita di posisi yang baik, yaitu 29 persen. Tapi ada beberapa provinsi yang di atas 29 persen, dan ada yang masih di atas 50 persen. Ini tolong semua gubernur, bupati, wali kota tahu angka-angka ini.

Tiga provinsi hati-hati. Sumut BOR-nya 56 persen, Kepri BOR-nya 53 persen, Riau BOR-nya 52 persen. Kalau yang masuk ke rumah sakit banyak, artinya memang harus hati-hati, super hati-hati, karena BOR nasional sudah turun, 29 persen. Pernah dulu di angka di atas 80 persen.

Dan juga yang sering saya pakai untuk patokan itu RSDC Wisma Atlet. Ini yang banyak menampung pasien memang Wisma Atlet. Pernah di September 2020, di atas 90 persen. Saya ingat betul, dan saya takut betul. Sudah di atas 90 persen, artinya dua minggu ke depan tidak bisa turun, sudah penuh, dan bisa kolaps rumah sakit kalau sudah di atas angka itu.  Tetapi sekarang, pagi tadi saya telepon. Saya kalau enggak telepon malam hari, pasti telepon pagi hari. Pagi tadi saya telepon Wisma Atlet, yang dulu sempat di atas 90 persen, hari ini di angka 15,5 persen.

Sehingga saya minta Gubernur, Bupati, Wali Kota, Pangdam, Danrem, Dandim, Kapolda, Kapolres, Kejati, Kejari, seluruh Sekda, Asisten semuanya tahu kondisi angka-angka itu di setiap daerahnya, sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Kalau obatnya kurang, berarti telepon Menkes untuk dikirim obat apa. Kalau vaksin masih punya kemampuan untuk disuntikkan, terutama bagi lansia, vaksinnya enggak ada, telepon Menteri Kesehatan.

Saya melihat dari grafis dan kurva yang ada, mobilitas masyarakat di hari Lebaran kemarin, di tempat-tempat wisata ini naik tinggi sekali, 38-100,8 persen. Hati-hati, dua minggu ke depan ini semuanya harus hati-hati. Karena ada kenaikan, ini artinya mobilitas indeksnya naik 38-100,8 persen.

Gubernur, Bupati, Wali Kota, hati-hati yang zonanya masih merah, zonanya masih oranye, tempat wisata itu harus tutup dulu. Yang (zona) kuning dan (zona) hijau buka, tetapi sekali lagi petugas harus ada di sana, satgas harus ada di sana, sehingga protokol kesehatan secara ketat tetap harus dilaksanakan.  Tidak boleh lepas manajemen, lepas tata kelola kita.

Kemudian, juga hati-hati masalah keterisian hotel/keterpakaian hotel. Ini kita sekali lagi menginjak gas dan remnya harus pas. Kepri ada kenaikan keterisian hotel/keterpakaian hotel dari 10 melompat menjadi 80 [persen], itu baik untuk ekonomi. Tapi hati-hati untuk COVID-19-nya, hati-hati. DKI Jakarta juga naik dari 36 [persen] melompat ke 53 [persen], juga hati-hati. Banten dari 26 [persen] ke 43 [persen], hati-hati. Lampung dari 30 [persen] ke 45 [persen], hati-hati. Sisi ekonominya baik, sisi COVID-19-nya harus dikendalikan betul.

Hati-hati protokol kesehatan. Kalau dua-duanya bisa dikelola dengan baik, dikendalikan dengan manajemen yang ketat, ya ini baik-baik saja mengenai keterisian kamar-kamar hotel. Tetapi kalau tidak bisa mengendalikan, hati-hati.

Kemudian terakhir, dari WHO menyampaikan bahwa indikator pengendalian pandemi COVID-19, terutama bagian kita, ini indikator kapasitas respons. Ini penting sekali, yang berkaitan, terutama pemerintah pusat dan pemerintah daerah, ini harus bersama-sama, urusan yang berkaitan dengan testing, semakin banyak semakin baik. Kemudian yang kedua, berkaitan dengan tracing, ini hati-hati. Jadi kalau ada satu orang yang positif, dan itu harus dilacak betul dia kontak dengan orang lain lebih dari 15 menit dan jarak minimalnya kurang lebih satu meter, berapa orang itu yang harus segera dicek betul, isolasi, dikarantina. Ini kelemahan kita ada di sini, yang di nomor dua, di-tracing. Baru ke perawatan, di-treatment. Saya kira Saudara-saudara tahu mengenai ini. Oke, sekarang urusan COVID-19 sudah.

Kemudian saya akan tambah sedikit mengenai ekonomi. Kita tahu di kuartal I-2020 kita masih tumbuh positif 2,97 persen. Kemudian di kuartal II Maret awal, kita ketemu dua orang yang pertama terkena COVID-19. Kemudian kuartal II, April-Mei-Juni, kuartal II-2020 turun menjadi minus 5,32 [persen]. Masuk ke kuartal III-2020, lebih baik, pertumbuhan ekonomi kita minus 3,49 [persen]. Dan di kuartal IV, kita masih minus 2,19 [persen]. Masuk ke 2021, kuartal I berarti Januari-Februari-Maret, sudah ada perbaikan tetapi kita masih di angka minus 0,74 [persen], masih minus. Hati-hati, kuartal I kita masih minus 0,74 [persen].

Target kita, ini target ekonomi nasional ini didapat dari agregat kumpulan pertumbuhan ekonomi yang ada di provinsi, kabupaten, dan kota. Jadi, seluruh gubernur, bupati, dan wali kota memiliki tanggung jawab yang sama dalam berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional kita. Target kita di kuartal II, saya sudah memberikan target, kurang lebih harus di atas 7 persen. Bayangkan, dari minus 0,74 [persen], saya minta di atas tujuh persen. Tetapi indikasi ke arah sana ada, tergantung kerja keras kita bersama.

Tadi pagi, saya mendapatkan laporan periode Idulfitri itu ada peredaran uang kartal itu Rp154,5 triliun. Dibandingkan Idulfitri 2020, ada kenaikan 41,5 persen, 41 persen kenaikannya. Ini positif, ini menambah optimisme kita. Tetapi hati-hati masalah COVID-19.

Kemudian, kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kuartal I per provinsi semuanya negatif, yang positif hanya Riau, Riau itu positif 0,41 [persen], kuartal I ini; Papua, ini positif 14,28 [persen], ini memang paling tinggi Papua, 14,28 [persen]; Sulteng 6,26 persen; Yogyakarta 6,14 persen; Ini yang saya sampaikan yang positif-positif; Sulut 1,87 persen; Sultra 0,06 persen; NTT 0,12 persen; Papua Barat 1,47 persen; Bangka Belitung 0,97 persen; Maluku Utara 13,45 persen. Yang lain masih negatif semuanya. Berarti yang positif tadi ada 1-2-3-4-5-6-7-8-9-10…10 provinsi yang positif, artinya yang 24 masih negatif semuanya.

Kita harus bekerja keras [dan] optimis, agar di kuartal II target kita kurang lebih di atas tujuh persen tadi bisa kita peroleh. Semua provinsi kita harapkan sudah positif di kuartal II ini. Tapi hati-hati, urusan COVID-19 tetap harus ditekan. Jangan hanya melihat satu sisi ekonomi, tidak melihat sisi kesehatan Dua-duanya harus dijalankan beriringan.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan sekali lagi, apa yang saya sampaikan tadi supaya menjadi basis data dan menjadikan kita semangat semuanya dalam menyelesaikan baik persoalan ekonomi maupun persoalan COVID-19.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat/Arahan Terbaru