Pengarahan Presiden Joko Widodo kepada Siswa SMA Taruna Nusantara Tahun 2019, 4 Maret 2019, di Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 4 Maret 2019
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 2.425 Kali

Logo-Pidato2-8Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Pak Menteri Sekretaris Negara, Pak Menteri Pemuda dan Olahraga,
Yang saya hormati Pimpinan dan Kepala Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara beserta Kepala SMA Taruna Nusantara,
Seluruh pamong yang hadir, seluruh perwakilan orang tua siswa yang hadir pada pagi hari ini,
Serta seluruh siswa Kelas XI SMA Taruna Nusantara yang saya cintai, yang saya banggakan.

Jangan tegang-tegang ya. Kok kayaknya tegang semuanya.

Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan global, yang berkaitan dengan perubahan dunia yang sekarang ini berjalan begitu sangat cepatnya. Dan saya ingin seluruh siswa bisa merespons dari adanya perubahan-perubahan ini.

Kita tahu keterbukaan lewat media sosial yang masuk hampir ke semua negara tidak bisa dibendung, tidak bisa dipagari sehingga terjadi disrupsi teknologi. Dan kita harus sadar, mau tidak mau, suka atau tidak suka ini sudah masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Akan tidur, kita buka medsos, masuk informasi yang datangnya tidak hanya dari negara kita sendiri tetapi juga dari luar. Bangun tidur, masih di tempat tidur, kita buka juga perubahan-perubahan itu begitu sangat cepatnya. Masuk ke dalam pikiran-pikiran kita dan itu bisa mengacaukan pemikiran-pemikiran yang mungkin sudah lama, yang sudah usang menjadi sesuatu yang baru.

Artinya apa? Akan terjadi sebuah perubahan lanskap ekonomi global, perubahan lanskap politik global, perubahan lanskap sosial global, yang nanti akan juga masuk ke dalam perubahan lanskap politik nasional, lanskap ekonomi nasional, lanskap sosial nasional kita. Interaksi yang begitu sangat cepatnya ini, sekali lagi, melanda semua negara.

Saya kira Saudara tahu sekarang yang namanya internet of thing, yang namanya artificial intelligence, yang namanya 3D printing, yang namanya virtual reality, yang namanya big data, di bidang keuangan bitcoin, cryptocurrency, ini barang-barang apa. Kita harus mengerti, kita harus tahu karena kalau tidak, kita hanya belajar rutinitas padahal perubahan di luar sudah begitu sangat cepatnya, ditinggal kita. Sepandai apapun, ditinggal kita. Ini yang harus kita mengerti, paham, dan harus kita sadari bagaimana merespons perubahan-perubahan ini.

Coba kita lihat 3D printing, membangun rumah dulunya bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sekarang bukan akan, ini sudah membangun rumah hanya dalam waktu 24 jam jadi rumah dan sudah dilakukan. Kecepatan-kecepatan seperti ini harus kita mengerti, harus kita tahu. Dunia sudah berubah, yang dulu sangat teratur menjadi teracak-acak karena perubahan-perubahan teknologi yang begitu sangat cepatnya.

Saya pernah masuk ke kampus SMA Taruna Nusantara. Bagus banget, sejuk. Masuk ke ruangan semuanya lengkap, fasilitasnya hebat-hebat, pengajarnya juga hebat-hebat. Dan saya ingin mengucapkan selamat kepada para siswa yang telah diterima di Taruna Nusantara.

Tapi sekali lagi, perubahan-perubahan itu agar para pengajar juga mulai melihat, siswa juga harus mulai dikenalkan hal-hal seperti ini. Ini tidak gampang, semua negara sekarang ini tergagap-gagap menghadapi perubahan-perubahan itu. Pendidikan kita juga harus berani mengubah, dan berani berubah, tidak hanya rutinitas bertahun-tahun. Kita terjebak pada harian rutin yang padahal sekarang ini perubahan-perubahan itu sudah datang dan bukan akan lagi. Apalagi boarding school 24 jam, ini memberi keleluasaan Saudara-saudara untuk belajar lebih banyak full 24 jam. Apalagi di era digital ini belajar bisa dari mana saja, belajar bisa dari mana saja. Sumber pelajaran, sumber belajar mudah sekali diperoleh. Mau tanya apa tinggal googling, tanya apapun yang kita enggak mengerti bisa tahu dari situ.

Sekali lagi disrupsi, perubahan-perubahan yang sangat radikal ini, dan semuanya yang tidak siap pasti bingung, ini terutama karena Revolusi Industri 4.0 yang sudah masuk, yang sudah di hadapan kita dan harus kita antisipasi.

Coba kita membayangkan advanced robotic, kalau semua nanti industri memakai robot, semuanya, bisa kita bayangkan. Kalau kita tidak siap, bisa kita bayangkan masa depan akan seperti apa kalau kita tidak mau meng-upgrade kualitas sumber daya manusia yang kita miliki. Meng-upgrade skill/keterampilan, semua yang kita miliki harus kita upgrade total.

Inilah, para siswa yang saat ini dengan adanya perubahan-perubahan itu perlu segera belajar. Yang nanti masuk ke pemerintahan harus bisa menyesuaikan mengenai e-government (e-gov), bagaimana mempersiapkan e-planning, bagaimana menyiapkan e-budgeting, bagaimana menyiapkan e-procurement.  Anak-anak harus siap, siswa-siswa harus siap mengenai ini.

Sering saya sampaikan mengenai virtual reality. Kira-kira tiga-empat tahun yang lalu saya masuk, tiga tahun yang lalu saya masuk ke markasnya Facebook. Banyak orang mungkin saat itu yang belum kenal virtual reality. Saya diberi kacamata besar begini, dipakai, langsung saya dengan Mark Zuckerberg diajak main pingpong tapi tidak ada mejanya dan tidak ada bolanya. Saudara bisa membayangkan bagaimana kita berdua main pingpong, tang sana, tung tang, tung tang, tung tang tung, tapi tidak ada bola dan tidak ada mejanya. Persis 100 persen kayak kita main bola. Saya tanya pada Mark, apakah ini bisa dipakai untuk sepak bola? “Bisa, Presiden Jokowi ini bisa dipakai untuk apa saja.” Artinya apa? Suatu saat nanti ada orang main bola tapi tidak di lapangan bola dan tidak ada bolanya tapi bisa membuat gol. Bisa untuk apa saja. Bisa untuk menyiapkan jalan tol secara detail tapi jalannya belum ada, sudah kelihatan selesainya akan seperti apa, sudah bisa kita bayangkan sebelumnya. Teknologi-teknologi seperti ini betul-betul harus kita ketahui, harus kita pelajari, harus kita mengerti.

Yang terakhir, saya ingin menyampaikan, mengingatkan kepada Saudara-saudara, ini di Taruna Nusantara ini yang dari Sabang sampai Merauke ada semuanya? Ada semuanya? Dari Aceh ada? Dari Aceh ada? Dari Papua ada? Ada? Dari Kalimantan ada? Dari Sulawesi ada? NTT ada? NTB ada? Maluku ada? Sumatra, banyak? Dari Jawa? Bali? Ada semuanya.

Saya titip, negara ini adalah negara besar. Kita harus tahu semuanya. Penduduk kita sudah 269 juta. Kita dianugerahi oleh Tuhan, oleh Allah SWT berbeda-beda, berbeda-beda. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda budaya, berbeda bahasa lokal, bahasa daerah beda-beda semuanya. Ini harus kita sadari.

Indonesia sebagai sebuah negara besar yang beragam. Dan sudah menjadi anugerah dari Tuhan, anugerah dari Allah kepada kita bangsa Indonesia. Perbedaan-perbedaan itu sudah menjadi hukum Allah, sudah menjadi sunatullah kita ini berbeda-beda. Jangan sampai karena perbedaan-perbedaan ini kita menjadi tidak seperti saudara sebangsa dan setanah air. Dan ini biasanya dimulai gara-gara urusan politik, baik itu yang namanya pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden. Kita sering diaduk-aduk karena ini. Padahal yang namanya pilihan presiden, pilihan gubernur, pilihan bupati, pilihan wali kota itu setiap lima tahun ada, karena ini adalah pesta demokrasi bangsa kita Indonesia.

Saya minta Anak-anakku semuanya, para siswa, berani meluruskan, berani merespons kalau ada kabar fitnah, kabar bohong, hoaks yang bertebaran di media sosial. Berani meluruskan, yang benar katakan benar, yang salah katakan salah. Jangan dibalik-balik, yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar. Jangan sampai karena urusan politik memecah belah kita. Jangan sampai. Negara ini negara besar. Modal dan aset terbesar kita adalah persatuan, adalah kerukunan, adalah persaudaraan di antara kita sebagai anak bangsa. Sangat rugi besar kita kalau gara-gara urusan politik, moga-moga enggak ada, antarteman enggak saling ngomong gara-gara hanya urusan pilihan bupati, wali kota, gubernur, atau presiden, jangan, jangan. Harus dipakai sebagai pendewasaan politik, pematangan politik kita, bagaimana memilih seorang pemimpin, baik di daerah, di provinsi, maupun di tingkat nasional.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Mungkin kalau ada pertanyaan. Kalau ada. Ada? Ya. Ya. Kok malah tambah terus ini? Ya. Ya. Ya. Ya tadi yang pertama saya lihat, silakan. Tadi yang di belakang mana ada tadi? Ada lagi tadi. Ada? Yang di belakang tadi. Ya, boleh. Sudah, satu-satu saja.

Ya silakan dikenalkan dulu dari mana. Ini dulu, depan dulu, ini depan dulu. Ayo, depan, depan. Ya.

Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak (Pelajar dari Jayapura)
Selamat pagi. Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Sebelumnya izin memperkenalkan diri, nama siswa Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak.

Presiden Republik Indonesia
Diulang.

Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak (Pelajar dari Jayapura)
Ribka Dorothy.

Presiden Republik Indonesia
Ribka?

Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak (Pelajar dari Jayapura)
Siap Pak. Asal Jayapura, Kelas XI.

Presiden Republik Indonesia
Ribka. Ribka dari Jayapura.

Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak (Pelajar dari Jayapura)
Siap Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ya.

Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak (Pelajar dari Jayapura)
Izin bertanya, Pak. Pada zaman ini memang emansipasi wanita sudah terjadi tetapi pada faktanya banyak sekali wanita yang minder bahkan kurang percaya diri untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk itu, saya mohon arahan dari Bapak bagaimana caranya agar wanita-wanita ini berani untuk menjadi seorang pemimpin.

Sekian dan terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Terus, yang belakang. Silakan duduk.

Karans Zimiawan (Pelajar dari Pontianak)
Izin Pak. Sebelumnya saya berterima kasih untuk memberikan kesempatan untuk bertanya. Izin Pak, memperkenalkan diri, nama siswa Karans Zimiawan, asal Pontianak.

Presiden Republik Indonesia
Siapa?

Karans Zimiawan (Pelajar dari Pontianak)
Karans Zimiawan.

Presiden Republik Indonesia
Karans?

Karans Zimiawan (Pelajar dari Pontianak)
Siap.

Presiden Republik Indonesia
Karans, dari Pontianak ya.

Karans Zimiawan (Pelajar dari Pontianak)
Siap. Izin Pak, izin bertanya. Seperti yang kita ketahui, dilema yang terjadi di era ini, yaitu terjadi kelunturan budaya yang kita miliki yang dipengaruhi oleh budaya luar. Nah izin Pak, saya ingin bertanya apakah di kemudian hari instansi pendidikan yang kita miliki ini dapat memberikan wadah dalam pembelajaran informatika serta kebudayaan yang berimbang.

Lalu Pak, izin Pak, saya yang dari Kalimantan ini merasa masih terjadi perbedaan pemerataan pendidikan, yang berada di Kalimantan dibandingkan dengan yang berada di Jawa. Apakah di kemudian harinya pendidikan yang ada di Indonesia ini bisa menjadi rata dan seimbang.

Sekian, terima kasih Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ya terima kasih, sementara dua. Tadi siapa? Ribka. Di negara kita ini ya, kita patut bersyukur bahwa kebebasan itu diberikan kepada rakyat, baik itu perempuan maupun laki-laki. Tidak ada, tidak pernah ada yang namanya perbedaan-perbedaan. Tergantung kita sendiri bagaimana meraih sebuah cita-cita, meraih sebuah mimpi, tidak ada perbedaan. Apa sih yang ada? Yang beda apanya? Bekerja di semua sektor sekarang ini perempuan dan laki-laki sama semuanya. Dokter laki-laki/perempuan banyak. Insinyur laki-laki banyak, perempuan juga banyak. Sektor apalagi? Menteri? Menteri sekarang kita memiliki sembilan berkurang satu jadi gubernur, delapan menteri, yang sebelumnya hanya tiga atau empat, sekarang sudah delapan menteri. Negara lain belum pernah memiliki presiden wanita, kita pernah memiliki presiden wanita.

Artinya tergantung Saudara-saudara sendiri, tidak ada batasan-batasan di semua pekerjaan, tidak ada. Peluang-peluang ada, ya silakan berkompetisi, silakan bersaing di antara kita. Pengusaha-pengusaha besar, wanita juga banyak. Artinya tidak ada batasan-batasan, tergantung kita sendiri, kita mau bekerja keras, kita mau belajar keras untuk meraih setiap impian. Jadi sudah tidak ada batasan lagi. Jadi sebetulnya kalau kita bicara masalah emansipasi, masalah yang berkaitan dengan gender, menurut saya, di negara kita sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, karena sudah terbuka peluang-peluang itu kepada siapapun, di pekerjaan-pekerjaan apapun, di bidang-bidang apapun.

Ribka mau jadi apa sih? Jadi menteri? Menteri apa? Masih belum tahu? Menpora mungkin ini. Mau jadi apa? Menteri apa? Menteri kan banyak. Atau mau Menteri Keuangan? Atau mau Menteri KP ganti Susi?

Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak (Pelajar dari Jayapura)
Menjadi Menteri Pendidikan, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Menteri Pendidikan? Ya sudah.

Ribka Dorothy Tamara Uli Simanjuntak (Pelajar dari Jayapura)
Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Untuk Karans tadi, yang berkaitan dengan kekhawatiran kita akan infiltrasi masuknya budaya-budaya luar ke Indonesia, kira-kira itu kan?

Karans Zimiawan (Pelajar dari Pontianak)
Siap.

Presiden Republik Indonesia
Ya sekarang di sekolah-sekolah kan sudah dilakukan pendidikan karakter, di sekolah-sekolah sudah dilakukan yang namanya pendidikan budi pekerti. Dan kalau kita sadar akan budaya kita sendiri, kita sadar akan karakter-karakter ke-Indonesia-an yang kita miliki, ya enggak perlu khawatir masuknya budaya-budaya luar ke negara kita Indonesia, enggak perlu khawatir. Kita boleh saja lihat, lihat Kpop boleh, tapi kita sendiri kan punya musik yang lebih bagus, keroncong kita punya, musik dangdut kita punya, ya kan, musik-musik di Ambon yang sangat bagus, lagu-lagu daerah dari seluruh penjuru tanah air kita juga memiliki. Enggak perlu kita itu senang dengan budaya-budaya asing. Ya kalau mau nonton silakan untuk pembanding, mau lihat juga silakan sebagai komparasi, tidak ada masalah.

Tetapi memang pendidikan-pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan mengenai kesopansantunan, pendidikan mengenai tata krama, tata krama baik ke guru, ke orang tua, ke rekan yang lebih senior, senioritas, hal seperti ini memang harus terus ditumbuhkan sejak anak di usia dini. Sehingga karakter-karakter itu tidak hilang dari kebudayaan kita, negara kita Indonesia. Saya yakin kita memiliki kekuatan yang baik dari infiltrasi budaya-budaya asing, karena juga kekuatan ideologi kita, Pancasila, juga sangat mempengaruhi sehingga kekuatan itu betul-betul sulit ditembus oleh budaya-budaya asing yang ingin masuk ke dunia kita. Sekali lagi, enggak ada masalah. Ada Kpop ke sini, mungkin para siswa mau lihat ya silakan lihat saja, oh bagus, ya sudah bagus. Tapi kita tidak terpengaruh oleh hal-hal seperti itu.

Sekali lagi, kita harus memiliki keyakinan bahwa negara ini akan menjadi negara besar, negara yang kuat ekonominya. Karena dari hitung-hitungan baik dari McKinsey Global Institute, Bank Dunia, Bappenas kita mengatakan bahwa di 2040, di 2045, Indonesia akan menjadi negara ekonomi kuat empat besar, masuk ke kelompok empat besar terbesar di dunia. Artinya ini adalah, nanti adalah Saudara-saudara dan para siswa ini yang akan memetik hasil dari perjuangan-perjuangan para pendahulu kita. Karena nanti… Sekarang umur berapa? 18? 17? Jadi tambah 20 kan masih umur-umur 37 atau 40 ya pas. Saat Saudara-saudara sudah memegang kunci-kunci di semua lini, semua bidang yang ada, semua sektor yang ada, saat itulah negara kita bisa menjadi tiga besar atau empat besar ekonomi terkuat di dunia.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan di kesempatan yang baik ini. Dan saya sudah sampaikan kepada Menteri Pendidikan bahwa contoh yang ada di SMA Taruna Nusantara bisa dipakai sebagai contoh bagi SMA/SMK yang lainnya di seluruh tanah air.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru