Pengarahan Presiden Joko Widodo pada Bintara Pembina Desa, 17 Juli 2018, di Hanggar KFX/IFX PT Dirgantara Indonesia, Kompleks Lapangan Udara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 17 Juli 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.589 Kali

Logo-Pidato2Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Syalom,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan Darat, dan seluruh jajaran perwira tinggi Mabes TNI dan Mabes Angkatan Darat,
Yang saya hormati Sekretaris Kabinet, Gubernur Jawa Barat, serta seluruh anggota Babinsa yang pagi hari ini hadir, terutamanya dari Kodam 3 Siliwangi dan juga perwakilan dari 14 Kodam yang hari ini hadir di sini,
Bapak-Ibu tamu undangan yang berbahagia.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih apresiasi yang tinggi, penghargaan yang tinggi kepada seluruh Bintara Pembina Desa (Babinsa), baik yang berada di lingkup kerja Kodam 3 Siliwangi maupun di seluruh penjuru tanah air atas pengabdian, atas dedikasi, atas kerja keras bersama-sama dengan anggota Polri menjalankan tugas negara, menjaga keamanan, menjaga ketertiban. Dan terutama dalam mengamankan jalannya pilkada beberapa minggu yang lalu sehingga pilkada berjalan dengan lancar, dengan aman, dengan damai, karena ini berkat kerja keras Saudara-saudara semuanya.

Yang kedua saya sebagai Presiden, Kepala Negara, maupun sebagai Panglima Tertinggi Tentara Nasional Indonesia, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap peningkatan profesionalisme dan terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan Babinsa. Setiap saya ke daerah bertemu dengan Babinsa selalu yang masuk ke telinga saya mengenai tunjangan kinerja Babinsa. Oleh sebab itu, setahun yang lalu saya sudah perintahkan kepada Menteri Keuangan untuk disiapkan  anggaran bagi peningkatan untuk tunjangan kinerja Babinsa, dan mulai Juli ini. Saya tidak tahu, saya ingin bertanya apakah sudah diterima kenaikan tunjangan kinerja Babinsa? Sudah? Benar sudah diterima?

Karena ini  yang tipe A dari Rp104.000 per bulan naik sekarang menjadi Rp900.000 per bulan. Benar? Karena catatan-catatan seperti ini perlu saya konfirmasi, saya dapatnya dari Menteri Keuangan. Saya sudah cek katanya Juli sudah diterima sehingga hari ini saya ingin bertanya tadi sudah diterima atau belum. Kemudian yang Babinsa tipe B ini dari Rp440.000 per bulan sekarang menjadi Rp1.200.000 per bulan. Betul Pak KSAD? Ini benar? Ini yang dari Papua, Maluku, Kalimantan benar?

Apa tujuannya kita memberikan kenaikan tunjangan kinerja ini? Karena saya tahu Babinsa adalah berada pada posisi barisan terdepan dalam menjaga keamanan, dalam menjaga kedaulatan, dalam ikut menjaga ketertiban yang ada di desa-desa. Yang kita tahu semuanya dan kita harus sadar semuanya bahwa negara ini adalah negara yang sangat besar. Kita memiliki 74.000 desa, tadi disampaikan oleh Panglima TNI memiliki 60.000 Babinsa di seluruh tanah air.

Sekali lagi saya ingin menyadarkan kepada kita semua bahwa negara kita ini negara besar, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Indonesia memiliki 17.000 pulau. Tidak ada negara yang memiliki pulau sebanyak kita Indonesia. Negara kita juga penuh dengan perbedaan, majemuk, plural. Kita memiliki 714 suku, supaya tahu semuanya, 1.100 lebih bahasa daerah/bahasa lokal, 514 kabupaten dan kota, dan 34 provinsi. Betapa negara ini adalah negara yang sangat besar, negara besar. Kita sering lupa ini, kita sering lupa ini dan melupakan ini. Kita harus bangga bahwa negara kita adalah negara besar.

Saya pernah terbang dari Banda Aceh menuju ke timur bukan di Jayapura tapi di Wamena, di atas. Berapa jam waktu yang ditempuh naik pesawat? 9 jam 15 menit. Bayangkan kalau kita jalan kaki berapa tahun? 9 jam 15 menit dari Sabang sampai ke Wamena. Itu kalau kita terbang dari London di Inggris melewati 1, 2, 3, 4, 5, 6, mungkin 7-8 negara sampai di Istanbul di Turki, 9 jam 15 menit itu. Artinya bentangan negara kita ini memang sangat besar sekali.

Dan kita dianugerahi oleh Tuhan perbedaan-perbedaan yang juga negara lain tidak miliki. Perbedaan suku, 714 suku. Bandingkan coba, saya tanya ke Duta Besar kita di Singapura, ada berapa suku di Singapura, 4. Empat, negara kita 714. Saya bertemu Presiden Afghanistan Dr. Ashraf Ghani, saya tanya ada berapa suku di Afghanistan, 7 suku,  negara kita 714 suku. Bayangkan perbedaan yang begitu sangat beragam negara ini, berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi. Inilah kekayaan yang kita miliki yang harus terus kita pelihara, yang harus terus kita rawat, yang harus terus kita jaga bersama-sama agar aset besar bangsa kita, yang tadi saya sampaikan, betul-betul terus kita jaga. Karena memang aset terbesar bangsa ini adalah persatuan. Aset terbesar bangsa kita adalah persatuan, dari sekian perbedaan itu kita bisa mempersatukan.

Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini saya ingin titip kepada seluruh anggota Babinsa yang pagi hari ini hadir, apa yang harus kita lakukan, Saya kira tadi sudah digambarkan di dalam layar sebagian tugas-tugas  yang Saudara-saudara kerjakan di lapangan karena tantangan yang kita hadapi ke depan semakin hari bukan semakin mudah tetapi semakin besar dan semakin sulit. Tantangan-tantangan yang masih kita hadapi baik itu kemiskinan, baik itu kesenjangan, baik itu infrastruktur di wilayah tadi, menyeberang sungai masih kondisinya seperti itu, ya karena kita negara besar yang masih memerlukan perbaikan-perbaikan, pembenahan-pembenahan di sana-sini.

Oleh sebab itu, kerja keras Saudara-saudara semuanya dalam ikut membangun negara ini, terutama memberikan kestabilan politik dan keamanan sangat diperlukan bagi lancarnya, cepatnya pembangunan di negara kita. Kemampuan teritorial yang Saudara-saudara miliki harus terus ditingkatkan, diperbaiki. Kemampuan temu cepat, lapor cepat, kemampuan manajemen, kemampuan penguasaan wilayah, detail satu persatu rumah per rumah harus terus ditingkatkan. Kemampuan pelayanan rakyat bagaimana meningkatkan kemampuan rakyat dalam menghadapi ancaman, bagaimana pembinaan kemampuan dalam bela negara oleh rakyat, berceramah, melatih. Karena ke depan, yang ingin saya sampaikan sekali lagi, tantangan kita bukan semakin ringan tetapi semakin berat dalam menghadapi keterbukaan global, menghadapi kompetisi global, menghadapi persaingan global. Semua informasi sekarang bisa langsung masuk jreg, masuk ke desa tanpa kita bisa menghambat apa-apa. Paham-paham terorisme hampir di semua negara berkembang, radikalisme juga berkembang. Inilah  tugas-tugas Saudara-saudara semuanya yang harus kita mengerti bahwa ancaman itu  sekarang ini bukan hanya berupa fisik, ideologi-ideologi seperti itu mengancam hampir semua negara, termasuk negara kita Indonesia.

Oleh sebab itu, Babinsa juga harus memiliki kemampuan dan komunikasi sosial, bergaul dengan seluruh komponen masyarakat, bergaul dengan sesama aparat. TNI dan Polri ini ke bawah harus solid karena menjadi kunci bagi keamanan, bagi ketertiban yang ada di desa, yang ada di masyarakat. Dan cepat, luwes, adaptasi dengan lingkungan di mana Saudara-saudara bertugas.

Kembali lagi kita sekarang ini berhadapan dengan sebuah kecepatan perubahan yang amat sangat cepat. Revolusi Industri 4.0, revolusi industri ke-4 menurut McKinsey Global Institute kecepatannya 3.000 kali lebih cepat dari revolusi industri yang pertama. Artinya apa? Ke depan ini akan ada perubahan- perubahan yang sangat cepat sekali yang hitungannya bisa hari, bisa minggu, bisa bulan tapi cepat sekali. Tentu saja perubahan-perubahan seperti ini juga akan mengubah di bidang ekonomi, sosial, politik semuanya nanti juga akan berubah karena kecepatan perubahan tadi.

Oleh sebab itu, jangan sampai kita salah mengantisipasi. Harus siap, terutama sekali lagi, Babinsa berada di barisan paling depan dalam mengantisipasi ini, radikalisme, kembali lagi, terorisme jangan sampai dibiarkan berkembang ke mana-mana. Isu-isu yang menyebabkan keresahan jangan sampai berkembang di mana-mana, bisa meresahkan masyarakat.

Saya berikan contoh yang langsung masuk menusuk ke pribadi saya, misalnya isu Presiden Jokowi itu PKI. Itu di bawah itu ada, dari survei ada itu muncul. Logikanya mestinya, Saudara-saudara juga bisa menjelaskan, PKI itu dibubarkan tahun ‘65, saya lahir tahun ’61, artinya umur saya baru 4 tahun. Apakah ada yang namanya PKI balita? Logikanya itu saja.

Tarik lagi ke isu  yang lain, orang tuanya, kakek-neneknya. Ini yang namanya politik tapi bisa meresahkan masyarakat. Gampang sekali, sekarang zamannya terbuka, zaman terbuka. Saya selalu menyampaikan cek gampang banget, masjid di dekat rumah orang tua saya, cabang NU, cabang Muhammadiyah, cabang Persis, cabang Al Irsyad, ada di lingkungan keluarga besar saya, gampang sekali. Jangan sampai isu-isu seperti ini meresahkan rakyat kita. Menjadi kewajiban kita bersama untuk menjelaskan dengan logika dan nalar-nalar yang memang itu masuk, kalau tidak akan berkembang ke mana-mana. Karena jelas PKI bahwa PKI itu menjadi organisasi terlarang, TAP MPRS-nya juga masih ada, jelas sekali.

Kembali lagi, saya kira tugas-tugas yang tadi dipaparkan di layar itu menjadikan sebuah nilai yang lebih bagi Babinsa. Yang tadi memberikan pelatihan mengenai pertanian, ya memang itu yang kita perlukan. Ikut membangun infrastruktur di desa, itu yang sangat bagus. Mungkin ide-ide dan gagasan-gagasan bisa saja komunikasi dengan kepala desa untuk membangun ini, ini. Karena kita juga tahu sekarang ada yang namanya Dana Desa.

Saya kira Babinsa tahu semuanya ada Dana Desa? Tahu?  2015 telah kita kucurkan 20 triliun, 2016 kita kucurkan 47 triliun, 2017 kita kucurkan 60 triliun, 2018 kita kucurkan lagi 60 triliun.  Artinya, sampai sekarang yang kita gelontorkan Dana Desa ke daerah-daerah, ke desa-desa, sudah 187 triliun. Jumlah yang sangat besar sekali. Ini kalau  diajak musyawarah, diajak berbicara dalam lingkup desa, baik oleh kepala desa, bermusyawarah dengan masyarakat, sampaikan hal-hal yang penting yang mungkin menurut kepala desa belum diakomodasi, bisa dimasukkan untuk kemanfaatan rakyat.

Membangun jembatan tadi untuk anak-anak sekolah. Sangat ironis sekali bahwa 187 triliun sudah kita gelontorkan ke desa tetapi masih ada jembatan seperti itu. Kalau sulit, keuangan tidak mencukupi ya sampaikan ke atas, ke atasan. Mungkin Kementerian PU bisa juga membantu langsung  ke sana. Karena, sekali lagi, negara kita ini negara besar. Kementerian PU juga sudah membangun dari yang dulunya  seperti apa kemudian sudah dibangun menjadi seperti apa. Sudah ratusan tapi yang diperlukan ini ribuan.

Infrastruktur di daerah-daerah perbatasan. Coba lihat pos lintas perbatasan kita. 4 tahun lalu yang waktu saya ke Motaain, Motamasin, ke Wini, ke Skouw, ke Entikong, ke Nanga Badau, saya bandingkan pos lintas kita. Pos lintas batas kita saya bandingkan dengan negara lain, malu kita. Saya ingat 4 tahun yang lalu saya perintahkan, saya minta kantor ini dirubuhkan. Saya beri waktu 2 minggu pada Menteri PU. Dan saya beri waktu 2 tahun untuk membangun pos ini dan saya minta 2-3 kali lebih baik dari pos lintas negara tetangga kita. Ini kebanggaan, ini martabat kita sebagai sebuah negara besar. Coba dibandingkan sebelum dan setelah. Masa kantor lintas batas kita, pos lintas batas kita seperti kantor kelurahan, tidak mau saya.

Di Motaain juga sama, saya bandingkan dengan yang di negara tetangga, kok bagus yang di sana, enggak mau saya. Ini menyangkut sebuah kebanggaan negara. Dan kita nyatanya bisa. 2 tahun kita rampungkan, di Wini, di Motaain, di Motamasin, di Skouw, di Entikong, di Nanga Badau, bisa. Kita memiliki kemampuan itu. Jangan dipikir kita tidak mempunyai kemampuan, punya kita.

Coba kita lihat di Papua misalnya, jalan masih seperti itu. Jalan di Papua. Ini jalan utama. Kita yang di Jawa tidak merasakan, coba yang di Papua, jalan seperti ini. 120 kilometer ditempuh 3 hari, bagaimana negara kita bisa bersaing dengan negara-negara lain kalau kondisinya seperti ini. Tidak. Dan kita, Kementerian PU bersama TNI membangun bersama-sama jalan-jalan di perbatasan, jalan-jalan di tempat-tempat yang sulit. Karena memang kemampuan TNI ada di situ. Dan situasi keamanan juga tidak memungkinkan kontraktor untuk membangun di daerah-daerah yang masih rawan. Nyatanya kita juga bisa membangun jalan yang baik. Ada yang sudah diaspal, ada yang belum diaspal, tidak apa-apa tapi ada dan jalannya bisa dipakai untuk truk, bus, sepeda motor, maupun mobil-mobil pribadi.

Inilah nanti yang akan memberikan daya saing terhadap negara-negara lain. Kita harus sadar semuanya sekarang ini kita sudah ditinggalkan dengan negara-negara dekat kita. Misalnya untuk investasi dan ekspor sudah kalah kita, dengan Singapura sudah kalah, dengan Malaysia kalah, dengan Filipina kalah, dengan Thailand kalah, terakhir kita dengan Vietnam kalah. Apa mau kita terus-teruskan? Saya sampaikan, tidak. Kita harus kejar ini. Kita ingin negara kita ini ada di depan bukan di tengah atau di belakang. Tapi ini butuh kerja keras, pembangunan itu membutuhkan stabilitas politik, membutuhkan stabilitas keamanan, dan itu menjadi tugas kita semuanya.

Yang terakhir, karena tahun ini dan tahun depan kita telah masuk ke tahun politik, saya ingin mengingatkan kepada seluruh anggota Babinsa untuk menjaga netralitas karena memang undang-undangnya mengatakan itu. Politik TNI adalah politik negara, politik TNI bukan politik praktis. Artinya, bahwa harus dipastikan proses demokrasi itu berjalan dengan lancar, berjalan dengan aman, dan berjalan dengan damai.

Politik negara itu politik seperti apa? Apa itu politik negara? Ya kesetiaan kepada negara. Itu sudah digariskan oleh undang-undang, kesetiaan kepada negara. Negara itu siapa? Ya rakyat. Siapa lagi? Ya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah NKRI, kemudian pemerintah yang sah, itu. Kembali lagi, politik negara itu apa? Ya kesetiaan kepada rakyat, kepada wilayah NKRI, dan kepada pemerintah yang sah. Sekali lagi, ini undang-undang. Dan untuk memastikan proses demokrasi berjalan aman dan damai, sekali lagi TNI dan Polri harus bersikap netral sehingga dapat lebih mudah merangkul setiap elemen masyarakat dan menciptakan kerja sama dalam menjaga situasi agar tetap kondusif. Dengan netralitas yang ditunjukkan oleh TNI dan Polri masyarakat akan yakin bahwa TNI dan Polri benar-benar profesional menjalankan tugasnya.

Karena sekarang ini kepercayaan publik, kepercayaan  rakyat, kepercayaan masyarakat terhadap TNI itu berada pada posisi yang paling tinggi, paling tinggi, saya ulangi paling tinggi. Jangan sampai dirusak kepercayaan itu oleh tindakan-tindakan yang menjadikan masyarakat tidak percaya sehingga menurunkan kepercayaan, jangan. Kepercayaan itu kalau dinilai dengan uang enggak bisa, enggak bisa dibeli. Ini yang terus harus kita jaga.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, saya mengucapkan selamat bertugas, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu bersama kita dalam mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat, untuk kepentingan bangsa, dan untuk kepentingan negara.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru