Pengarahan Presiden Joko Widodo pada Pengurus OSIS SMA/SMK dan Pelajar Berprestasi se-Jawa Barat, 24 Mei 2018, di Taman Dirgantara, Majalengka, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 24 Mei 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.231 Kali

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sampurasun.

Yang saya hormati Pak Menteri, Pak Gub, Bapak Bupati, serta anak-anakku semuanya seluruh ketua-ketua OSIS, benar? Juga dari ketua-ketua pramuka, betul? Ada juga dari rohis-rohis, betul? Mana? Mana yang rohis-rohis? Yang ketua OSIS tadi mana? Ketua osis, ketua osis, ketua osis. Yang pramuka enggak usah, kelihatan.

Baiklah anak-anakku semuanya,
Saya sangat senang, saya sangat berbahagia sekali bisa bertemu dengan anak-anakku semuanya. Saya titip, bahwa tugas kalian semuanya sekarang ini adalah belajar. Belajar. Dan saya tahu bahwa anak-anakku semuanya di sekolah adalah pemimpin-pemimpin di sekolah-sekolahnya. Ketua OSIS berarti kan jadi pemimpin di sekolahnya kan? Yang pramuka juga, yang rohis juga sama.

Saya ingin mengingatkan yang pertama mengenai penggunaan media sosial. Tolong disampaikan kepada kawan-kawan, pada teman-teman kita semuanya agar penggunaan medsos, media sosial itu digunakan untuk hal-hal yang positif. Jangan sampai saling mencela, jangan sampai saling menghujat, jangan sampai saling menjelekkan, jangan sampai saling memfitnah. Media sosial harusnya kita gunakan untuk hal-hal yang positif. Mau cari ilmu di media sosial sekarang ini juga gampang banget. Gunakan untuk hal-hal yang positif.

Yang kedua, saya kira yang ada di hadapan saya ini adalah calon-calon pemimpin, calon-calon pemimpin. Ada yang ingin jadi bupati, tunjuk jari? Ada, mau jadi bupati kayak Pak Trisno, Bupati Majalengka. Ada yang ingin jadi gubernur? Yang tegas, mana yang ingin jadi gubernur tunjuk jari. Ini bupati, gubernur mau terus ini. Ada yang mau jadi gubernur? Ada yang ingin jadi pengusaha? Mana? Bagus. Oleh sebab itu, berarti pelajaran, Pak Menteri, pelajaran entrepreneurship harus diberikan di sekolah karena ini semangatnya tinggi sekali.

Ada yang ingin jadi Pak Menteri Pendidikan? Pak Menteri Pendidikan? Ya. Apalagi anak-anak? Ada yang ingin jadi presiden? Mana? Wah, banyak banget.

Anak-anak, saya kira cita-cita anak-anakku semuanya terbentang di hadapan anak-anakku semuanya. Terbentang luas, terbentang lebar tetapi memang harus dicapai dengan kerja keras, dengan kedisiplinan, dengan melakukan hal-hal yang produktif. Karena memang ke depan itu tantangannya juga lebih besar. Kesempatannya besar tetapi tantangannya juga besar. Kesempatannya besar tetapi hambatan-hambatan di depan yang harus kita lalui juga besar. Tapi saya lihat dengan wajah-wajah cerah seperti ini, yang saya lihat wajah-wajah optimis saya meyakini insyaallah negara ini akan menjadi negara yang lebih baik dari hari ini.

Dari kalkulasi dan hitungan-hitungannya McKinsey Global Institute, dari Bank Dunia, juga dari Bappenas memang negara kita nanti di 2045, insyaallah di 2045 akan menjadi sebuah ‘Indonesia Emas’. Di mana income per kapita kita diharapkan sudah hampir 8 (delapan) kali lipat dari yang sekarang di 29.000 (dua puluh sembilan ribu) US Dollar per kapita, income per kapita kita. Artinya, kita akan menjadi 5 (lima) besar negara dengan ekonomi yang kuat. Tapi itu hanya bisa dicapai kalau kita kerja keras semuanya, bersatu, rukun, menjaga persaudaraan kita, menjaga ukhuwah islamiyah kita, menjaga ukhuwah wathaniyah kita, akan menjadi sebuah kekuatan besar dalam mencapai angka-angka yang tadi saya sampaikan.

Tidak boleh anak-anakku semuanya ada yang pesimis. Kita harus optimis menuju ke Indonesia ke depan yang lebih baik. Setuju?

Saya ingin lihat, maju 1 (satu) yang tadi ingin jadi pengusaha mana? Sebentar, saya tunjuk baru maju.

(Dialog Presiden RI dengan Perwakilan Pelajar)

Cita-cita apapun itu baik. Semuanya cita-cita itu pasti akan baik. Jadi silakan anak-anak capailah semua yang anak-anak cita-citakan dengan sebuah kerja keras, dengan belajar yang keras, dengan kedisiplinan yang kuat. Saya meyakini… Tentu saja jangan lupa selalu berdoa, sembahyang kepada Allah SWT. Dan juga supaya jiwa dan raga kita sehat juga jangan lupa berolahraga. Ini penting.

Saya rasa itu anak-anakku yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Ini ada yang tanya ndak? Ada yang mau tanya? Ya silakan bertanya, silakan bertanya. Siapa tadi yang bertanya tadi? Ini, ini yang belakang tadi. Maju saja sini, yang bertanya 2 (dua) orang sini, sini maju Ya silakan .

(Sesi tanya jawab Presiden RI dengan Perwakilan Pelajar)

Robby Darwis (SMK Negeri 1 Maja, Kabupaten Majalengka)
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Perkenalkan nama saya Robby Darwis, saya perwakilan dari SMK Negeri 1 Maja, Kabupaten Majalengka.

Yang saya mau tanyakan Pak, tadi Bapak sempat menyinggung bahwa insyaallah Indonesia pada tahun 2045 akan menjadi Indonesia yang emas. Yang saya mau tanyakan, tahun sekarang atau dari sekarang tahapan apa saja yang sudah dilaksanakan oleh para pemerintah dan rakyatnya untuk menjadikan ‘Indonesia Emas’.

Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Anzal Ibrahim (SMA Negeri 1 Terisi, Kabupaten Indramayu)
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Perkenalkan nama saya Anzal Ibrahim, asal sekolah SMA Negeri 1 Terisi, Kabupaten Indramayu. Mohon izin berbicara, Bapak.

Saya adalah penderita buta warna parsial. Pertanyaannya, mengapa sih Pak, banyak banget di Indonesia itu jurusan-jurusan yang melarang dan menghalangi buta warna itu untuk masuk. Saya sendiri sering banget kecewa, ingin masuk jurusan ini, “ah ini ada tes buta warnanya,” susah lagi Pak. Itu yang saya kecewakan sekarang Pak.

Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Begini, yang pertama tadi dari Robby ya. Memang sebagai sebuah negara besar, negara kita Indonesia ini negara besar. Kita harus sadar kita sekarang memiliki 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta penduduk di Indonesia. Penduduk di Malaysia itu 24 (dua puluh empat) juta, kalau Singapura mungkin 5 (lima) jutaan, kita 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta.

Gede sekali negara kita ini. Ukurannya gede sekali. Kita memiliki 17.000 (tujuh belas ribu) pulau, memiliki 514 (lima ratus empat belas) kabupaten dan kota, besar sekali. Kabupaten itu tidak hanya Majalengka, tidak hanya Bogor, tidak nanya Kota Bandung, 514 (lima ratus empat belas) kota dan kabupaten yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Inilah negara besar kita Indonesia.

Tahapan-tahapan apa yang sedang kita kerjakan dan harus kita kerjakan kedepan, saya kira anak-anakku semuanya lihat, fundamental ekonomi kita harus kita perbaiki sekarang ini. Yang sekarang kita garap adalah pembangunan infrastruktur. Kita sekarang berfokus membangun itu untuk apa? Agar kita bisa bersaing dengan negara-negara lain.

Enggak bisa kita jalan jelek, pelabuhan jelek, airport jelek kemudian kita bisa bersaing dengan negara lain. Enggak akan mungkin bisa, kalah kita. Sehingga ini merupakan fondasi dasar yang harus kita perbaiki dengan cepat.

Tahapan besar yang kedua adalah nanti investasi di bidang sumber daya manusia. Meng-upgrade skill dengan vocational training di politeknik, juga di universitas. Semuanya SDM-SDM, anak-anak muda kita ini harus di-upgrade, disuntik semuanya sehingga memiliki kemampuan/skill, mempunyai kemampuan ilmu yang bisa nanti bersaing dengan SDM-SDM dari negara-negara lain.

Tahapan besar ketiga, kita ingin membangun inovasi-inovasi besar, dengan teknologi-teknologi besar.

Saya kira itu tahapan besarnya ke arah itu. Dengan cara itulah kita akan menjadi sebuah negara besar, negara yang disegani, menjadi 5 (lima) besar ekonomi terkuat di dunia dan masa depan anak-anakku nanti ada di situ. Dan kita harapkan saat anak-anakku semuanya pada posisi sudah memegang peranan-peranan yang penting benar-benar Indonesia berada pada ranking 5 (lima) besar, masuk dalam 5 (lima) besar ekonomi terkuat di dunia.

Tapi itu harus dilalui dengan kerja keras, sekali lagi dengan kerja keras. Kita harus juga tahan uji, tahan cobaan, mampu menghadapi rintangan, mampu menghadapi ujian-ujian yang diberikan kepada negara ini.

Sehingga saya harap anak-anak semuanya tidak malas-malasan, tidak manja-manjaan, karena yang kita hadapi adalah sebuah tantangan-tantangan yang semakin berat. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.

Yang terakhir mengenai (persyaratan tidak buta warna), ini Pak Menteri Pendidikan apa ini, Pak. Ya jawabannya Pak Menteri Pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Muhadjir Effendy)
Izin Bapak Presiden, memang ada kebijakan dari sekolah maupun perguruan tinggi untuk bidang-bidang tertentu, program-program studi tertentu itu mensyaratkan harus yang tidak buta warna. Tetapi sebetulnya tidak hanya itu, kadang-kadang juga ada syarat yang lain karena itu berkaitan nanti kalau lulus berkaitan dengan pekerjaannya. Kalau sampai nanti tidak cakap karena ada kekurangan itu, bisa membahayakan di bidang pekerjaan itu.

Itu bukan Kemendikbud sebetulnya, itu sudah ada standar internasional. Jadi sudah ada ketentuannya di dalam bidang pekerjaan-pekerjaan itu sudah menetapkan siapa yang bekerja di situ dan syaratnya harus antara lain tidak buta warna.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tapi tidak semua bidang kan? Tidak semua bidang. Artinya banyak bidang yang juga bisa dimasuki. Jadi tidak usah khawatir mengenai itu.

Saya rasa itu anak-anakku yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, belajar yang keras, tanamkan disiplin agar kita semuanya produktif. Jangan lupa, sekali lagi, beribadah dan juga agar badan kita sehat, berolahraga. Kita ingin anak-anak ke depan semuanya sehat semuanya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.
Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru