Pengukuhan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), 29 Februari 2020, di Gedung Sport Centre UINSA, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 Februari 2020
Kategori: Sambutan
Dibaca: 423 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin, wassalatu wassalamu’ala ashrafil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin, wa’ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Menteri Sekretaris Negara yang hadir,}
Yang saya hormati Rektor UIN Sunan Ampel beserta seluruh jajaran,
Yang saya hormati Senat Dewan Pertimbangan UIN Sunan Ampel,
Yang saya hormati Ketua Umum PBNU atau yang mewakili,
Yang saya hormati Gubernur Jawa Timur serta Wakil Gubernur,
Dan wabilkhusus Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim,}
Bapak-Ibu hadirin dan tamu undangan yang berbahagia. Di sini saya lihat yang banyak hadir kelihatannya dari Pergunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama).

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada  Bapak K.H. Asep Saifuddin Chalim atas pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Sosiologi UIN Sunan Ampel. Guru besar adalah bentuk pengakuan akademik tertinggi atas kontribusi Bapak Kiai dalam mengembangkan studi Islam, dalam mengembangkan model pendidikan yang inovatif untuk membangun umat dan membangun bangsa.

Saya mengikuti terus perjuangan beliau, Bapak Kiai Asep, dalam mengembangkan dan mewujudkan manusia unggul dan berakhlakul karimah. Bukan hanya melalui pemikiran-pemikiran yang beliau sampaikan di banyak kesempatan tetapi yang lebih penting lagi adalah melalui kiprah dan karya yang beliau ciptakan. Saya pernah membaca salah satu buku karangan Kiai Asep judulnya ‘Aswaja’, sebuah buku yang sangat apik yang menekankan pentingnya pendidikan keagamaan yang benar dalam keluarga. Supaya kita terhindar dari pemikiran dan kepercayaan yang menyimpang di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi saat ini.

Perkembangan dunia saat ini tidak hanya mempengaruhi perilaku keagamaan seseorang tetapi juga berpengaruh pada kepercayaan seseorang pada sebuah sistem ideologi tata negara dan kehidupan sosial kita.  Kita dengan mudah menyaksikan gerakan-gerakan ekstrimis muncul yang bahkan memicu peperangan dan konflik di beberapa negara.

Di sinilah pendidikan moderasi yang dianut warga NU (Nahdlatul Ulama) dan dikembangkan Kiai Asep sangat relevan untuk kita aplikasikan. Pendidikan yang mengusung nilai-nilai dan karakter tawassuth, tawazzun, i’tidal, dan tasamuh. Nilai-nilai dan karakter tersebut menjadi kekuatan pendidikan kita dalam menjaga Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, merawat persatuan dan kesatuan bangsa, serta membangun masyarakat yang madani.

Saya juga menyaksikan kiprah dan karya nyata Kiai Asep di masyarakat. Bapak Kiai membangun pesantren dari nol sampai menjadi pesantren besar seperti sekarang ini, Pesantren Amanatul Ummah di Siwalankerto dan di Pacet. Saya pernah ke sana. Dan sekarang, informasi yang saya dapatkan, sudah memiliki lebih dari 10 ribu santri. Tidak hanya itu, beliau juga mendirikan sebuah institut yang membuka layanan pendidikan sarjana dan pascasarjana, yang sebagian mahasiswanya berasal dari beberapa negara, yang memberikan banyak beasiswa, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswanya.

Yang ingin saya garis bawahi, kewirausahaan. Ini beliau yang sering sampaikan kepada saya. Hal serupa juga saya temukan pada perhatian besar beliau dalam meningkatkan kualitas guru dan pesantren. Sebagai Ketua Umum Persatuan Guru NU (Pergunu) banyak program dan inovasi yang dilakukan, seperti pengembangan metode pembelajaran dan peningkatan fasilitas pesantren, tadi beliau juga sudah banyak menyampaikan mengenai metode pembelajaran, dan dimenangkannya banyak award dari negara-negara lain kepada santri-santri yang beliau didik, serta penguatan keterampilan bagi para guru dan santri. Saya dengar anggota Pergunu juga didorong untuk membuat gerakan teacherpreneur, pemberdayaan komunitas berbasis ekonomi kerakyatan, menerapkan kearifan lokal, dan sudah memanfaatkan teknologi digital. Ini semua adalah kiprah yang layak kita apresiasi.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pemikiran, kiprah, dan karya Kiai Asep dalam membangun umat dan dalam membangun SDM (sumber daya manusia) bangsa yang unggul sangat selaras dengan agenda besar bangsa kita sekarang ini, yaitu pembangunan sumber daya manusia, pembangunan SDM. Kita ingin SDM Indonesia mampu menghadapi tantangan dunia saat ini, kita ingin SDM Indonesia semakin unggul dan kompetitif, sehingga mampu menjadi motor penggerak transformasi bangsa mewujudkan Indonesia maju.

Dalam berbagai kesempatan saya sering mengingatkan, dunia sudah berubah sangat cepat, super cepat, bahkan terdisrupsi. Cara-cara lama, cara-cara lama yang sudah usang, cara-cara lama yang cepat usang. Skill-skill baru dan cara-cara baru sangat-sangat dibutuhkan sekarang ini. Sekali lagi, skill-skill baru dan cara-cara baru sangat dibutuhkan saat ini. Di era yang semakin kompetitif, insan Indonesia harus punya kompetensi-kompetensi  baru. Tidak hanya menguasai soft skill tetapi juga hybrid skill, keterampilan teknis dan keterampilan sosial dan inovasi.  Keterampilan yang ada pun perlu di-upscaling, juga perlu di-rescaling untuk mengikuti kebutuhan baru dan teknologi baru dan sistem kerja yang baru.

Oleh karena itu, seluruh lembaga pendidikan sekolah, universitas, termasuk UIN, juga pesantren, dan madrasah harus me-review kembali kurikulum, harus membuat konten-konten pelajaran baru, harus membuat metode-metode pembelajaran baru, dan mencetak lulusan yang terampil, yang unggul, dan berakhlak mulia. Itulah yang disebut oleh Kiai Asep sebagai manusia yang unggul, yang mutu, dan berakhlakul karimah. Itulah yang menjadi perjuangan Kiai Asep yang dibuktikan dalam pemikiran-pemikiran beliau, yang dibuktikan dengan aksi-aksi yang nyata beliau.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas kontribusi Kiai Asep dalam membangun masyarakat dan dalam membangun umat. Juga terima kasih kepada UIN Sunan Ampel yang telah memberikan gelar akademik tertinggi kepada Kiai Asep sebagai Guru Besar. Terakhir yang ingin tegaskan di sini, bahwa mulai saat ini, saya akan memanggil Kiai Asep dengan gelar yang lengkap Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru