Peninjauan Kebun Bibit Desa, 3 Februari 2020, di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 3 Februari 2020
Kategori: Keterangan Pers
Dibaca: 108 Kali

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya gini, jadi di tempat-tempat yang terjadi bencana banjir dan utamanya lagi yang tanah longsor pendekatan kita sekarang bukan hanya pendekatan-pendekatan fisik saja, bukan hanya bangunan-bangunan fisik saja, tetapi juga yang berkaitan dengan vegetatif seperti ini mulai kita dekati. Sehingga ekosistem yang ada itu tidak terganggu dan rusak karena memang kita perbaiki.

Apa yang…, misalnya saya berikan contoh di Sukajaya ini, apa yang kita siapkan sekarang ini. Tahapan pertama, kita menyiapin kurang lebih 92.000 tanaman, baik itu yang untuk sisi ekonominya, ada tadi misalnya jengkol, durian, sirsak, petai, sengon, ekonominya, tetapi juga ada yang fungsi-fungsi untuk perbaikan ekologi, perbaikan ekosistem, yaitu vetiver, sereh wangi, karena akarnya bisa sampai 3 meter, 2 meter, 4 meter. Ini yang akan terus kita dekati dengan cara-cara itu. Sehingga kita harapkan dengan 2 pendekatan ini bencana yang berkaitan dengan banjir, longsor, bisa kita selesaikan.

Tetapi untuk yang lebih luas ya kita akan siapkan lagi, dalam jumlah jutaan bibit-bibit seperti ini. Jangan sampai kita hanya, sekali lagi hanya pendekatan fisik tetapi pendekatan yang vegetatif, ekologi, ekosistem itu kita lakukan juga, ya.

Seperti tadi yang ditanam di Harkatjaya tadi, ada kemerengan-kemerengan, sudah, tanam vetiver-vetiver, ya.

Wartawan
Edukasi kepada warga sendiri bagaimana Pak, untuk punya kesadaran dalam menjaga wilayah ini terhadap bencana gitu, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya ini, ini nanti termasuk kita mengedukasi masyarakat agar tanaman vetiver atau sereh wangi ini tidak dicabut karena ada nilai ekonominya. Tetapi tolong yang dipakai untuk nilai ekonomi itu tadi, durian, sirsak, tadi ada jambu, ada jengkol, yang itu-itu. Saya kira nanti dari Kementerian LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) menanam sambil mengedukasi masyarakat karena yang nanam ini juga masyarakat, ya.

Wartawan
Disiapkan anggaran berapa Pak untuk mereboisasi ini?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, gede banget itu. Kalau di seluruh Indonesia kalau tidak keliru Rp1,9 triliun untuk 2020. Kita sudah petakan, misalnya kita tidak hanya yang terkena bencana tetapi yang airnya sudah, debit air sudah turun. Seperti Danau Toba, itu kan kita siapkan juga jutaan, kita hijaukan kembali. (Waduk) Gajahmungkur yang sedimentasinya sudah turun masuk ke waduk juga sama. Sampai kapan pun kalau kita keruk hanya sedimen-sedimen, di atasnya, di hulunya tidak ditanami ya akan setiap hari kita hanya urusan-urusan kayak gini terus, berulang-ulang, ya.

Wartawan
Pak, untuk penambangan liar dan sisa-sisa penambangan baik liar maupun yang legal…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya kira dari (Kementerian) LHK sudah ditutup.

Wartawan
Harus ditutup?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah ditutup tapi juga harus direhabilitasi lagi. Ditutup tapi direhabilitasi, ya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Siti Nurbaya)
Ditutup seluruhnya nanti.

Wartawan
Artinya, pemiliknya harus dicari dan bertanggung jawab, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apanya?

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Siti Nurbaya)
Pemeriksaannya lagi dilakukan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Baru dalam proses pemeriksaan semuanya, ya. Sudah?

Wartawan
Untuk relokasinya, Pak? Relokasi korbannya, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apanya?

Wartawan
Untuk relokasi korbannya?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini tadi saya sampaikan, agar nanti Bu Bupati, Pak Gubernur menentukan lokasi secepatnya. Kalau memang itu memakai lahan PTPN nanti itu bagian dari pemerintah pusat, akan langsung saya perintahkan kepada Menteri BUMN untuk segera diberikan, sudah. Secepat-cepatnya.

Wartawan
Untuk pembangunannya sendiri, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Begitu land clearing selesai, PU (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) langsung masuk, secepat-cepatnya. Kita siap, kita sudah siap, hanya tinggal penentuan lokasi di Pak Gubernur sama Bu Bupati, ya.

Wartawan
Pak, soal lain Pak. Soal Evakuasi WNI di Wuhan Pak, itu kan di Natuna Pak dibawanya Pak. Nah masyarakat Natuna merasa resah dengan adanya keberadaan mereka yang dari Wuhan itu, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya, kemarin kan sudah disampaikan oleh Menteri lah, saya kira itu lah… Jadi yang pertama, pertama saya sangat mengapresiasi, saya sangat menghargai apa yang sudah dilakukan oleh kerja tim bersama Kementerian Luar Negeri, TNI, Polri, Kementerian Kesehatan, BNPB, Menko PMK yang mengoordinir ini sehingga keputusan kemarin yang sudah saya lakukan, saya putuskan, evakuasi dalam waktu yang sangat singkat bisa dilakukan dengan baik, yaitu membawa dari Provinsi Hubei, Kota Wuhan, dibawa kembali ke Tanah Air. Saya mengapreasi itu. Saya juga berterima kasih kepada masyarakat Natuna yang juga sudah memberikan lampu hijau karena ini adalah saudara-saudara kita sendiri.

Dua ratus empat puluh tiga (WNI dari Wuhan) itu adalah sehat tetapi dalam protokol kesehatan itu diperlukan yang namanya tahapan-tahapan sebelum dikembalikan ke keluarga. Tahapan observasi sehingga betul-betul dinyatakan mereka clean (bersih) sehingga bisa kembali ke keluarganya masing-masing. Itu adalah protokol kesehatan yang harus kita ikuti.

Memang kemarin ada beberapa alternatif, ada yang kemarin Morotai misalnya, Biak misalnya. Karena apa? Kita memang memerlukan, untuk turun itu memerlukan landasan, memerlukan runway sehingga pesawat bisa turun. Tidak semua pulau bisa dipakai. Kemudian juga kita mengukur tingkat kesiapan dari tim kesehatan yang ada di situ, sehingga keputusan dari tim adalah di Natuna. Saya kira kita memerlukan kebesaran hati seluruh masyarakat Indonesia, apapun mereka adalah saudara-saudara kita, ya.

Wartawan
Baik. Terima kasih, Pak.

Keterangan Pers Terbaru