Peninjauan Program Mekaar Binaan Permodalan Nasional Madani (PNM), 26 Januari 2019, di Lapangan Asrama Polisi, Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 26 Januari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 1.867 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati Ibu Menteri BUMN, sudah tahu semuanya Ibu Menteri BUMN yang mana?
Yang saya hormati Pak Sekretaris Kabinet, Pak Pramono Anung,
Yang saya hormati Bapak Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Pak Anies,
Yang saya hormati Pak Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta Pak Pras, sudah kenal semuanya?
Dan yang saya hormati Pak Dirut PNM yang Program Mekaar-nya sudah bermekaran di mana-mana.
Bapak-Ibu sekalian, terutama ini Ibu-ibu, juga AO yang saya hormati yang saya cintai.

Ibu-ibu Mekaar?
(Jujur, Disiplin, Kerja Keras!)

Nah, saya mau menggarisbawahi jujur, disiplin, kerja keras. Karena itu kunci Ibu-ibu semuanya bisa sukses, dan naik nanti ke jenjang yang lebih atas. Kalau tidak jujur, ini yang kita jual, kita menjual sekarang ini yang kita jual adalah kepercayaan. Kepercayaan yang kita jual. Jadi kalau ada Ibu-ibu yang tidak jujur, kepercayaannya hilang, sulit yang namanya membangun kepercayaan lagi. Yang kita jual itu kepercayaan.

Ibu-ibu kan dapat ada yang dapat Rp2 juta, ada? Ada yang dapat Rp3 juta, ada? Tanpa agunan kan? Apa sebetulnya yang di… karena dipercaya. Jangan sampai ketidakpercayaan itu ada, sehingga Program Mekaar tidak memberikan kenaikan ke yang lebih atas lagi. Hati-hati. Sehingga Ibu-ibu agar disiplin, mengangsurnya disiplin.

Saya kemarin waktu dengan ibu-ibu Mekaar di Garut, ibu-ibu Mekaar di Bogor, ibu-ibu Mekaar juga di Jakarta, disiplin itu penting sekali. Jadi kalau bisa setiap hari sudah mulai menabung. Rp20.000 tabung, Rp20.000 tabung, Rp20.000 tabung, Rp20.000 tabung, sehingga waktu cicilan sudah enggak usah cari ke mana-mana, buka ini, nih.

Jadi disiplin itu penting sekali agar kita itu dinilai oleh Program Mekaar, oleh PNM itu nilainya baik. Kalau nilainya baik, menaikkan angka-angka dari Rp2 juta, ke Rp3 juta, ke Rp4 juta, ke Rp5 juta itu mudah. Dan yang namanya kepercayaan, yang kita jual itu juga masalah bukan hanya orang, tapi juga produk. Ibu-ibu berjualan apa, misalnya berjualan nasi goreng. Ya kualitas dari nasi goreng itu betul-betul harus dijaga betul. Jangan hari ini enak, tahu-tahu besok enggak enak. Hari ini misalnya telurnya lima, besok kurangi telurnya satu, ya terasa, yang beli terasa dong. Ya kan? Hati-hati. Menjaga kepercayaan itu penting. Kalau campuran telurnya itu misalnya kalau buat nasi goreng sepuluh, ya besok sepuluh, ya nanti sepuluh, sepuluh terus. Sehingga wah rasanya itu ada standarnya.

Tadi apa Ibu-ibu Mekaar?
(Jujur, disiplin, kerja keras!)

Nah, kerja keras. Tidak ada yang namanya usaha kita semakin gede, malas-malasan, enggak ada. Sudah, percaya pada saya. Tanpa kerja keras enggak mungkin usaha kita semakin gede, enggak mungkin. Saya dulu juga mulai dengan warungan kecil. Tapi kerja saya kalau, tanya nanti coba tanya ke Solo ke tetangga-tetangga saya, saya kerja jam berapa sampai jam berapa. Pagi subuh nanti sampai tengah malam, kadang sampai pagi subuh lagi. Ya karena memang harus kerja keras. Wong kita ini, saya merasa enggak mampu kok, anaknya orang enggak punya saya kok. Saya hanya biasa-biasa saja kayak orang-orang, berangkat jam delapan pulang  jam empat, kerjanya berangkat jam delapan pulang jam empat lagi, mana bisa saya bisa naik ke tempat yang lebih tinggi. Enggak mungkin, jangan percaya itu, enggak mungkin. Kalau biasa-biasa saja itu enggak mungkin. Ibu kerja normal, enggak mungkin. Harus kerja keras. Jadi Mekaar betul tadi.

Ibu-ibu Mekaar?
(Jujur, disiplin, kerja keras!)

Jujur, disiplin, kerja keras. Betul itu, motonya itu betul.

Kalau enggak kerja keras… saya dulu juga sama, Rp10 juta dulu dapat, tapi bukan dari Program Mekaar. Program Mekaar kan baru tahun 2015, kan baru saja ini. Program Mekaar kan program kita yang baru kita mulai 2015 yang lalu. Dulu masih tahun 1988, pinjam dapat Rp10 juta, mengangsurnya disiplin, tepat waktu. Naik lagi Rp30 juta, naik lagi Rp500 juta, naik lagi, ya begitu. Setelah gede ya sudah, sudah enggak pinjam lagi. Enggak apa-apa, sudah gede. Misalnya Ibu-ibu nanti warungnya sekarang satu, ingin gede ya warungnya jadi dua, warungnya jadi tiga. Yang enggak punya warung jadi punya warung, yang biasanya jualan di rumah jadi jualan di pasar, ada toko di pasar. Ya seperti itu. Kalau kita disiplin, kita jujur, kita kerja keras ya akan jadi. Percaya.

Ini yang dapat Rp3 juta mana, tunjuk jari. Yang dapat Rp2 juta, ada enggak? Maju sini. Tapi yang maju jangan minta sepeda, enggak boleh sekarang bagi sepeda karena mau pilpres. Katanya enggak boleh bagi sepeda ya saya malah kebenaran enggak bagi sepeda, sepeda saya enggak habis malah. Karena enggak boleh, sama KPU enggak boleh bagi sepeda.

Ya dikenalkan dulu. Kenalkan Bu, nama.

(Dialog Presiden RI dengan Penerima Program Mekaar)

Rosdianawati (dari Kemayoran)
(Mendapatkan pinjaman sebesar Rp2 juta untuk usaha berjualan kue basah. Dengan Program Mekaar usahanya berkembang dan bisa menitipkan kue di dua warung menjadi lima warung.)

Presiden Republik Indonesia
Dapat Rp2 juta masak hanya lima warung. Berarti hanya tambah tiga warung kan? Kenapa tidak bisa jadi sepuluh warung? Menyetornya ke sepuluh warung?

Rosdianawati
Enggak ada tempat lagi Pak, jauh-jauh.

Presiden Republik Indonesia
Ini. Kalau dagangannya bagus, barangnya bagus dan laku jangan mikir jauh dan dekat. Setuju ndak? Meskipun jauh tapi barang kita laku, jalani. Itu yang namanya kerja keras. Setuju ndak? Itu.

Daryuni (dari Karanganyar)
(Mendapatkan pinjaman sebesar Rp3 juta. Usahanya berkembang yang tadinya berjualan jamu keliling setelah mendapat pinjaman bertambah berjualan pempek, es campur, dan punya warung sendiri. Mengangsur Rp135.000 per minggu.)

Presiden Republik Indonesia
Ini yang kelihatan peningkatannya ini, kelihatan. Terus efek ke keluarga jadi seperti apa? Apa ada tambahan? “Pak sekarang tabungan saya tambah untuk anak,” bagaimana? Atau tetap?

Daryuni (dari Karanganyar)
Lumayanlah. Tadinya buat makan susah saja susah, sekarang alhamdulillah sama suami juga bisa makan.

Presiden Republik Indonesia
Ibu jualan dari jam berapa sampai jam berapa?

Daryuni (dari Karanganyar)
Saya bikin pempek dari jam enam, mulai buka jam sembilan, tutupnya abis isya.

Presiden Republik Indonesia
Ini, ini namanya kerja keras ya ini. Nanti insyaallah Ibu berhasil kalau kerjanya seperti ini.

Iya, sudah, silakan kembali.

Bu sini, sini. Ini tadi kan enggak saya beri sepeda, iya kan, tapi ini saya beri foto. Ini fotonya coba ada tulisannya lho di sini “Istana Presiden Republik Indonesia”. Ini yang mahal ini.

Jadi Ibu-ibu, dengan jujur, dengan disiplin, dengan kerja keras kita harapkan Ibu-ibu naik terus. Kalau nanti Program Mekaar sudah mentok, Ibu-ibu enggak bisa di Program Mekaar kita akan tarik Ibu ke Program KUR yang bisa sampai Rp25 juta sampai Rp500 juta. Bisa nanti Ibu-ibu. Saya yakin, dari yang hadir di sini, 524 yang hadir di sini, saya yakin lebih dari 100 nanti bisa naik kelas di Program KUR secepatnya. Nanti Pak Gubernur juga akan memantau terus. Pak Gub? Lihat semuanya, saya juga akan melihat siapa yang memang bisa dimajukan dan siapa yang kerja keras, siapa yang memiliki kejujuran yang baik, itu akan naik kelasnya.

Seperti tadi Ibu Yuni tadi dari jamu, mengambil, mengambil, mengambil jamu, sekarang punya warung pempek, jamu, sama es. Ini meningkat namanya. Meningkat. Memang kita ini, kalau masih kecil kita ini memang harus kerja keras, harus kerja keras. Nanti kalau sudah naik ke tingkat menengah, apa lagi ke tingkatan atas itu sudah, nanti yang bergerak berbeda lagi. Punya karyawan, sudah. Tapi untuk awal-awal memang itu saya rasakan. Tidak hanya setahun – dua tahun, saya sembilan tahun bekerja dari pagi sampai pagi, saya alami.

Ibu-ibu kan tahu kehidupan kecil saya. Tahu kan? Sudah tahu semuanya kan? Hidup di pinggir kali, susah, menderita, kesulitan, sudah makanan sehari-hari saya.

Tapi sekali lagi, jangan menyerah dengan keadaan karena yang bisa memperbaiki keadaan ya kita sendiri. Dan ini ada peluang, Ibu-ibu dapat Program Mekaar gunakan sebaik-baiknya program ini agar kita semuanya meningkat kesejahteraannya. Dan saya melihat di sini Ibu-ibu wajahnya optimis, wajahnya cerah semuanya.

Nanti setahun lagi atau dua tahun lagi mau saya lihat yang hadir di sini jadi apa. Saya ingin ada 1, 2, 3, 4, 5, 6, sampai 100 yang sudah meningkat kelasnya. Jangan dari dua warung ke lima warung. Nanti saya ketemu lagi Ibu Diana tadi, nanti sudah 200 warung ya? Ya oke, sudah begini-begini, awas nanti kalau tidak 200 warung.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru