Peninjauan Program Mekaar Binaan Permodalan Nasional Mandiri (PNM), 18 Januari 2019, di Alun-alun Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 Januari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.078 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja yang hadir,
Yang saya hormati Pak Gubernur Provinsi Jawa Barat beserta Ibu,
Yang saya hormati Pak Bupati Garut,
Yang saya hormati Dirut PNM dan seluruh manajemen PNM, para Dirut BUMN yang hadir,
Ibu-ibu sekalian seluruh penerima Program PNM Mekaar.

Sampurasun!
Baik-baik semuanya? Sae?

Apa itu? Saya bisanya hanya sampurasun. Sabalikna? Sawangsulna atau sabalikna? Sama.

Saya berbahagia sekali siang hari ini bisa bertemu dengan seluruh penerima Program Mekaar dan juga AO-nya. Yang di sana AO kan? Dan saya juga senang sekali di Jawa Barat sudah satu juta lebih penerima Program Mekaar. Di Kabupaten Garut sendiri juga sudah banyak sekali, 87 ribu yang sudah menerima Program Mekaar ini, ini khususnya ibu-ibu.

Saya tadi sudah cek, “sudah terima berapa Bu?” Sana saya cek, “Rp2 juta Pak.” Oh, Rp2 juta, ini berarti baru. Ada yang tadi di sini, “dapat berapa Bu?” “Rp3,5 juta,” pasti agak lama, sudah agak lama ikutnya. Tapi bagus, bahwa memang dimulai dulu dari bawah. Dapat Rp2 juta, rajin mengangsurnya, tepat waktu bisa naik nanti ke Rp3 juta, bisa naik lagi ke Rp4 juta, bisa naik lagi ke Rp10 juta. Kalau sudah naik, mentok, nanti pindah ke yang namanya Program KUR, yang Rp25 juta dan bisa Rp500 juta.

Kalau usahanya semakin besar kan, kalau dulu warungnya satu, naik kelas warungnya dua, naik kelas lagi warungnya tiga, naik kelas lagi bisa warungnya 100, kenapa tidak. Ya kan? Kerja keras itu pasti menghasilkan, asal disiplin, tepat waktu. Ya memang berusaha harus seperti itu. Saya dulu mulai juga seperti Ibu-ibu semuanya, sama. Mulai dari super mikro, masuk ke mikro, masuk ke kecil, naik, naik begitu.

Tadi saya senang bahwa ada lima yang sudah lulus dari Program Mekaar kemudian masuk ke Program KUR di BNI 46. Bisa juga ke BRI, bisa juga ke Bank Mandiri. Kenapa tidak? Tetapi sekali lagi, berusaha itu tidak mudah, tetapi kalau kita gigih, kita kerja keras, itu akan memudahkan dalam kita berusaha.

Tadi saya tanya di sana tadi, “jualan apa, Bu?” Bakso. Enggak apa-apa, mungkin bakso sekarang masih pakai gerobak, tapi kalau sudah naik kelas punya warung, naik kelas bisa punya restoran. Kenapa tidak? Kenapa tidak? Saya dulu juga mulai, saya mulai karyawan dua orang, karyawan jadi empat orang, kemudian ribuan, ya kenapa tidak? Ibu-ibu punya kesempatan yang sama dengan saya. Punya kesempatan yang sama. Jadi jangan berpikir tidak bisa, bisa semuanya, bisa. Allah memberikan kesempatan yang sama pada kita. Dan yang rajin, yang kerja keras, yang pantang menyerah pasti diberikan rezeki yang lebih.

Tadi saya lihat di sini semuanya cerah, semuanya, senang saya. Tadi ada yang menjual bakso, ada yang menjual aksesoris, ada yang menjual material listrik, banyak sekali. Ada lagi jualan apa? Semplak? Aduh apa? Kalau contohnya enggak diberi saya enggak mengerti. Namanya beda-beda, nanti di Aceh namanya beda, nanti di Medan namanya beda, di sini namanya beda, nanti sampai Papua namanya… Satu barang namanya bisa beda-beda, bisa kadang-kadang “apa ini?” oh ternyata kalau sudah tahu barangnya ya sama.

Coba yang sudah dapat Rp3,5 juta siapa tunjuk jari? Yang dapat Rp3,5 juta? Coba maju satu yang dapat Rp3,5 juta, ya maju satu saja.

Yang sudah mau pindah ke KUR ada? Mana? Sudah mau pindah ke KUR? Ya boleh Ibu. Ya, satu saja. Dikenalkan namanya.

(Dialog Presiden RI dengan Penerima Program Mekaar)

Heni Yuliati (Penjual Lampu)
(Heni Yuliati menyampaikan usaha lampu emergency dan LED yang dilakukannya memiliki omzet Rp300-450 per hari. Heni memperoleh pinjaman dari Program Mekaar sebesar Rp3,5 juta yang cicilannya selalu dibayar tepat waktu.)

Syifa Aryani (Penjual Sembako)
(Syifa Aryani melakoni usaha berjualan sembako dan pengreditan barang dengan omzet Rp15 juta per bulan dengan modal Rp4 juta. Syifa berencana akan pindah ke Program KUR dengan nilai pinjaman Rp8 juta)

Presiden Republik Indonesia
Modalnya Rp4 juta. Sehari bisa berjualan sampai Rp500 ribu, berarti sebulan kan Rp15 juta. Oke, ya gede sekali. Untungnya berapa kalau boleh saya tahu sebulan?

Ini kalau jualan Ibu-ibu ya, tolong dicatat ya, pengeluaran apa atau barang yang keluar apa, kita sudah mengeluarkan uang berapa, tercatat semua. Jadi nanti kalau Ibu-ibu pindah kelas itu ada pembukuan, sudah ada. Pembukuannya sudah ada. Ini diberi ndak dari AO cara pembukuan? Enggak? Diberilah, buku begitu, pembukuan sederhana, uang masuk – uang keluar, sudah begitu saja. Yang tercatat, mulai tercatat sehingga kalau pindah nanti ke bank itu memudahkan.

Jadi dari Mekaar sudah dapat Rp4 juta, terakhir. Ini mau pindah ke KUR bank, mau minta dapat berapa?

Syifa Aryani (Penjual Sembako)
Rp8 juta.

Presiden Republik Indonesia
Rp8 juta, minta Rp8 juta. Sudah diberi belum? Baru mau? Nanti bilang ke Bu Menteri BUMN, Bapak Dirut Bank BNI, dapat berapa. Tapi yakin bisa mengembalikan Rp8 juta itu? Punya hitung-hitungannya?

Syifa Aryani (Penjual Sembako)
Yakin.

Presiden Republik Indonesia
Kenapa yakin bisa? Rp8 juta itu berarti per bulan harus berapa itu Pak Dirut? Untuk tiga tahun? Rp8 juta untuk tiga tahun? Berarti hitungannya bagaimana itu perkiraan? Rp300 ribu per bulan? Oh ya mampu lah kalau omzetnya segitu. Rp300 ribu ya kecil. Oke, nangkep, jadi naik.

Jadi tolong dicontoh seperti ini. Kalau usaha kita semakin maju, pindah, lulus pindah ke BNI/BRI, pindah di situ. Ini kalau Rp8 juta pakai agunan tidak? Oh enggak pakai, tetap enggak pakai agunan ya, jadi bagus, sudah. Bisa pindah seperti itu. Tapi tetap dicek usaha Ibu itu benar tidak, omzetnya berapa, lakunya setiap hari berapa. Jangan sampai nanti, saya titip ini, dapat Rp2 juta, hati-hati ini banyak ini, tapi di sini enggak ada, dapat Rp2 juta, yang Rp1 juta untuk beli baju, biar cantik wah beli baju baru. Ini dimulai enggak bisa mengembalikan kalau sudah seperti itu. Atau dibeli untuk ini, hati-hati. Saya titip, Ibu-ibu boleh beli baju, tetapi itu dari keuntungan, jangan ambil dari pokok pinjamannya, berbahaya itu, saya titip. Jangan sampai. Karena nanti kalau sudah enggak bisa mengembalikan itu akan sulit kita. Saya titip itu saja ya.

Silakan Ibu-ibu kembali, terima kasih. Yang maju, karena saya sudah enggak boleh kasih sepeda, sampai April nanti tidak boleh sepeda, ini saya kasih foto saja. Tapi lebih bagus ini daripada sepeda. Kalau sepeda kan beli di mana-mana bisa, kalau ini enggak bisa ini. Ini di sini ada tulisannya, ‘Istana Presiden Republik Indonesia’. Tadi enggak mau maju yang lain. Ya silakan kembali.

Jadi titipan saya itu. Jadi terus bekerja keras memperbesar usaha kita dan segera bisa naik kelas, naik kelas, naik kelas. Butuh waktu, tidak usah tergesa-gesa, butuh waktu, naik kelas itu membutuhkan waktu. Tapi asal kita terus dari pagi, siang, malam bekerja, insyaallah kita semuanya akan sukses.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Masih ada yang ingin bertanya? Enggak ada? Ini sudah mau masuk ke Jumatan.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru