Peninjauan Proses Pembersihan/Sterilisasi dengan Disinfektan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, 13 Maret 2020, di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Provinsi Banten

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 Maret 2020
Kategori: Keterangan Pers
Dibaca: 183 Kali

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Baru saja tadi saya mengecek, mengontrol hal-hal apa yang telah dilakukan, baik di tempat-tempat publik, seperti di airport yang kita lihat, kemudian tadi pagi juga kita melihat di Masjid Istiqlal yang sudah kita mulai diberikan disinfektan. Kalau di airport, di pelabuhan, kemudian di stasiun, dan lain-lainnya, saya kira pemerintah, BUMN juga telah melakukan sebetulnya, sudah seminggu yang lalu tapi saya hanya ingin memastikan bahwa ini terus dilakukan setiap hari.

Tadi saya juga ingin memastikan bahwa yang namanya thermal scannerthermal gun itu betul-betul ada dan dipasang. Kalau kita lihat tadi, waktu kita masuk ke airport Soekarno-Hatta di kedatangan dari luar negeri checking-nya juga sangat ketat, mengisi kartu kewaspadaan kesehatan. Kemudian kalau berasal dari negara-negara yang sudah kita waspadai, masuk ke pintu yang berbeda dan dicek. Untuk yang (berasal dari) 4 negara dicek 3 kali, kalau yang dari negara di luar itu dicek 2 kali oleh thermal scanner dan thermal gun. Ini saya kira sebuah pengecekan yang menurut saya ketat.

Kemudian, sekali lagi saya sampaikan, bahwa penanganan pandemi COVID-19 terus menjadi perhatian kita. Memang ada yang kita sampaikan dan ada yang tidak kita sampaikan. Karena kita tidak ingin menimbulkan keresahan dan kepanikan di tengah masyarakat. Kita semuanya berusaha keras menangani dan mengatasinya karena virus ini, virus korona ini, tidak mengenal batas negara.

Seminggu yang lalu kita tahu, ada 88 negara yang sudah terkena epidemi (virus) korona dan pada hari ini sudah 117 negara. Satu minggu melompat dari 88 negara menjadi 117 negara. Artinya, sekali lagi, virus ini tidak mengenal batas negara. Dan per tanggal 12 Maret, di negara kita Indonesia, 34 kasus telah terkonfirmasi di Indonesia dan 2 pasien meninggal dunia. Pemerintah sekali lagi, tanpa henti mengupayakan peningkatan kesiapan dan ketangguhan negara kita dalam menghadapi pandemi ini. Ini bukan endemi tapi sudah pandemi sekarang ini.

Langkah-langkah serius telah kita ambil tetapi juga sekali lagi saya sampaikan, di saat yang bersamaan, kita tidak ingin menciptakan rasa panik, tidak ingin menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, dalam penanganan, kita memang tidak bersuara. Kita semuanya harus tetap tenang dan berupaya keras menghadapi tantangan ini.

Saya berikan contoh, misalnya untuk kasus pasien 01 dan 02. Setelah kita ketahui yang bersangkutan, dalam 2 hari saya sudah mendapatkan 80 nama yang berada di klaster ini, dalam 2 hari, dari tim reaksi cepat yang kita miliki, Kementerian Kesehatan dibantu oleh intelijen BIN, dibantu oleh intelijen di Polri, 2 hari. Tetapi kita juga tahu bahwa virus ini juga memiliki kecepatan yang sangat cepat dalam penyebarannya.

Tindakan pencegahan dan mitigasi harus kita lakukan secara bersamaan. Pemerintah telah dan akan terus melakukan contact tracking atau pelacakan, seperti tadi yang sudah saya sampaikan, yang dikoordinasi oleh BNPB mendampingi Kementerian Kesehatan, didampingi lagi oleh TNI dan Polri, terhadap orang yang telah melakukan kontak dengan pasien yang dinyatakan positif COVID-19.

Kemudian yang kedua, di bidang koordinasi, lintas kementerian dan lembaga: TNI/Polri, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah juga terus kita perkuat. Dalam 2 bulan ini, kita telah secara khusus mengadakan Rapat Paripurna mengenai korona sekali dan Rapat Terbatas sudah 5 kali, dan Rapat Internal sehari bisa 2-3 kali khusus mengenai virus korona ini.

Sinergitas juga dilakukan dalam menyikapi kondisi-kondisi, baik terkait dengan penjemputan WNI di luar negeri. Sudah kita lakukan dimulai dari penjemputan WNI kita di Wuhan, dibawa ke Natuna, kemudian penjemputan di Kapal World Dream dibawa ke Pulau Sebaru, penjemputan di Kapal Diamond Princess dibawa ke Pulau Sebaru. Dan penyiapan fasilitas rumah sakit sampai menjaga ketersediaan logistik.

Kita juga antarnegara juga terutama yang di dekat-dekat kita juga saling berkoordinasi. Tiga hari yang lalu, saya juga telah bertelepon ke PM Lee Hsien Loong, berbicara mengenai perbatasan terutama di Batam, apa yang kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan. Juga pada sore hari nanti, saya juga akan bertelepon dengan Direktur Jenderal WHO untuk mendapatkan informasi dan kita menginformasikan apa yang telah kita kerjakan.

Pemerintah juga terus berupaya menciptakan komunikasi publik yang aktif, reguler setiap hari, dan terbuka kepada masyarakat untuk mencegah kesimpangsiuran informasi. Juru bicara resmi juga telah kita tunjuk, saya kira kita tahu semuanya. Kemudian di kementerian, saya sendiri juga telah meluncurkan video-video sederhana agar masyarakat memahami virus korona ini, dan kita bisa mengambil langkah yang tepat, masyarakat juga bisa mengambil langkah-langkah yang benar dan tepat. Call center juga telah dibuat di 119. Kominfo dan Polri juga terus mengawasi dan menindak penyebaran hoaks mengenai COVID-19.

Kemudian mengenai pengawasan dan respons cepat untuk mencegah penyebaran virus yang lebih besar juga serius kita lakukan. Tadi saya sampaikan mengenai pelacakan dari klaster yang pertama dan kedua, dan itu juga membuahkan hasil. Kemarin dari 80 turun ke 20 turun ke 10 kemudian kita bisa melacak ada 4 dari klaster itu yang positif COVID-19. Pengawasan dan isolasi pasien suspect (COVID-19) juga terus dijalankan. Tadi sudah saya sampaikan, tim reaksi cepat juga telah dibentuk, dipimpin oleh Ka-BNPB Pak Doni, dan telah disiagakan di rumah sakit di tipe A.

Tadi untuk menjaga pintu negara, kita memiliki 135 pintu gerbang, baik di darat, di pelabuhan, di laut, maupun di airport. Ini protokol keamanan, protokol kesehatan, juga diterapkan seperti tadi yang saya lihat.

Kemudian mengenai mitigasi kondisi, tengah disiapkan dengan cepat dan sebaik-baiknya. Rumah sakit rujukan, saya kira telah disampaikan oleh Menteri Kesehatan, ada 132 rumah sakit, (dari) sebelumnya 100 kemudian (menjadi) 132. Kemudian kita tambah lagi 109 rumah sakit TNI, 53 lagi rumah sakit Polri, dan terakhir 65 rumah sakit BUMN, termasuk di sini pembangunan fasilitas observasi dalam skala besar di Pulau Galang. Kita harapkan minggu depan telah bisa kita selesaikan dan akan saya cek langsung. Kita juga tahu bahwa yang sembuh juga sudah ada, yaitu 5 orang yang dulu positif di (Kapal) Diamond Princess, kemudian 2 yang berada di rumah sakit di Indonesia, dan 1 orang WNI kita yang berada di Singapura.

Yang paling penting yang terakhir, saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan imunitas tubuh kita melalui olahraga yang baik dan rutin, melalui makanan yang kita makan, makanan yang bergizi. Kemudian juga jangan sampai stres karena itu mengganggu imunitas tubuh. Dan terakhir, saya mengajak seluruh komponen bangsa, elemen bangsa, mari kita bersama-sama saling bekerja keras, memberikan dukungan, memberikan energi positif kita, kita menyatukan upaya serta tekad melawan virus korona ini. Saya percaya setiap dari kita bisa memainkan peranan penting bersama-sama menghadapi tantangan ini.

Saya rasa ini yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih.

Wartawan
Pak, yang terkait dengan tablig akbar di Malaysia, ada WNI kita apakah sudah ditelusuri? Kemudian ada satu pasien (positif COVID-19) yang meninggal dunia di Solo, bagaimana Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya setiap ada klaster baru, tim reaksi cepat kita pasti langsung masuk. Tadi saya sampaikan tim reaksi cepat yang dibantu dari intelijen BIN, dibantu dari intelijen Polri dan TNI. Setiap ada yang baru pasti langsung ini bergerak.

Wartawan
Satgas Korona, Pak… (Rekaman tidak terdengar)

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sejak awal saya sampaikan bahwa organisasi task force (satgas) ini sudah ada, saya komandani sendiri, jelas? BNPB tadi mengoordinatori mengenai tim reaksi cepat. Sehingga, saya berikan contoh saat evakuasi di Wuhan, hanya dalam 2 hari kita putuskan kemudian langsung bisa disiapkan tempat-tempatnya oleh TNI di Natuna, disiapkan oleh BNPB. Saya kira kecepatan itu yang ingin saya sampaikan.

Wartawan
Pak terkait tentang pasien yang positif korona, ini kan tidak diungkapkan oleh pemerintah, padahal negara lain sudah mengungkapkan hasilnya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebetulnya inginnya kita sampaikan tetapi kita juga berhitung mengenai kepanikan dan keresahan di masyarakat, juga efek nantinya terhadap pasien apabila sembuh. Jadi, setiap negara saya kira memiliki policy yang berbeda-beda tetapi yang jelas setiap ada klaster baru pasti tim reaksi cepat kita langsung memagari mengenai itu.

Wartawan
Pak, mengenai status pandemi Pak, apakah Indonesia sudah meninjau status bebas visa, Pak? Karena kan, kemarin dikatakan negara-negara lain sudah meninjau status bebas visa, kemudian pemberian bebas visa.

Presiden Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kan sudah kita lakukan. Yang pertama terhadap RRT, yang kedua, ketiga, dan keempat: Italia, Iran, dan Korea Selatan, kan sudah kita lakukan.

Wartawan
Pak, izin Pak, apa akan ada pertimbangan dari pemerintah untuk lockdown Indonesia dari negara-negara lain?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Belum berpikir ke arah sana.

Wartawan
Pak, soal pelibatan pemda untuk membantu cek spesimen supaya mempercepat penanganan apakah sudah ada?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya, ini mengenai pengecekan. Tadi sudah saya perintahkan kepada Menteri Kesehatan agar laboratorium di luar Balitbangkes bisa juga melakukan. Kelihatannya mungkin (Universitas) Airlangga di Surabaya dan Eijkman (Institute). Nanti secara teknis tanya ke Menteri Kesehatan, akan kita libatkan, ya.

Wartawan
Pak, setelah WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi, banyak negara kan menutup negaranya, menyatakan lockdown. Apakah Indonesia mempertimbangkan untuk melakukan itu untuk memotong penularan?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Belum berpikir ke arah sana, belum berpikir ke arah sana. Tapi saya sangat menghargai kerja sama seluruh kementerian dan lembaga, termasuk juga pemerintah daerah. Saya ingin memberikan juga apresiasi terhadap daerah-daerah yang mampu mengedukasi masyarakat, memberikan penjelasan yang baik, seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Saya kira hal-hal seperti itu yang bisa menenangkan masyarakat, ya.

Wartawan
Pak, terkait kondisi saham dan rupiah yang terdampak (virus) korona ini seperti apa Pak antisipasinya? Terkait kondisi dan saham rupiah yang terdampak (virus) korona sekarang, Pak? IHSG Pak? Rupiah Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sekarang ini, pasar keuangan di seluruh dunia mengalami keguncangan, kepanikan. Kita tak bisa melawan kepanikan global ini tapi pemerintah dan otoritas keuangan akan selalu memantau dan membuat kebijakan-kebijakan cepat. Saya kira kita tahu, OJK telah memberikan relaksasi dan kelonggaran, policy-nya cepat. BI juga, saya melihat juga telah memberikan kelonggaran dan relaksasi dalam policy-policy-nya. Pemerintah tadi pagi juga telah memberikan relaksasi dan kelonggaran-kelonggaran terhadap pajak dan memberikan insentif-insentif. Jadi tanyakan secara teknis kepada menteri-menteri yang terkait atau otoritas keuangan yang ada di negara kita, OJK maupun BI.

Wartawan
Bapak, apa ada kemungkinan pemerintah daerah membuka data persebaran dari wilayah pasien yang positif (COVID-19), Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tadi sudah saya jawab.

Wartawan
Pak, apakah kita akan menambah lagi test kit terutama untuk… (Rekaman tidak terdengar).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kita memiliki banyak, sekarang kita sudah tambah lagi 10 ribu.

Wartawan
Cukup, Pak ya?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah, hanya belum kita berikan ke Kementerian Kesehatan. Ini masalah serah terima aja.

Wartawan
Terima kasih, Pak.

Keterangan Pers Terbaru