Penutupan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN Tahun 2023, di Jakarta Convention Center (JCC), Provinsi DKI Jakarta, 7 September 2023 

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 7 September 2023
Kategori: Keterangan Pers
Dibaca: 1.097 Kali

Keterangan Pers Presiden Joko Widodo usai Penutupan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN Tahun 2023, 7 September 2023 

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Alhamdulillah, KTT ke-43 ASEAN dan KTT lainnya terlaksana dengan baik dan lancar. Dan walaupun di tengah situasi yang sulit, Keketuaan Indonesia menghasilkan banyak hal sebagai upaya menjaga perdamaian, menjaga stabilitas, dan menjaga kemakmuran kawasan.

Di forum, memang saya sampaikan bahwa setiap pemimpin yang hadir punya tanggung jawab yang sama-sama besar untuk tidak menciptakan konflik baru, untuk tidak menciptakan ketegangan baru. Dan disaat yang sama, kita juga punya tanggung jawab untuk menurunkan tensi yang panas, untuk mencairkan suasana yang beku, untuk menciptakan ruang dialog.

Saya pastikan, dunia ini akan hancur jika konflik dan ketegangan di suatu tempat dibawa dan dijadikan tarik-menarik di tempat lain. Jika kita tidak mampu mengelola perbedaan, kita akan hancur. Jika kita ikut-ikutan terbawa arus rivalitas, kita akan hancur. Dunia ini butuh jangkar, butuh penetral, butuh safe house. Dan saya bisa pastikan bahwa sampai saat ini ASEAN telah berada pada track yang benar untuk bisa menjalankan peran tersebut, menjadi kontributor stabilitas dan perdamaian, serta menjadi epicentrum of growth.

Setelah melalui proses yang panjang dan sulit, akhirnya kita berhasil menyepakati EAS Leaders’ Joint Statement mengenai epicentrum of growth. Sekali lagi, ini bukan proses yang mudah, tarik-menarik geopolitik yang sangat kental, mengingatkan saya seperti saat di G20 di Bali, tapi alhamdulillah konsensus tercapai.

Selain itu, ASEAN sebagai bagian dari kawasan Asia Pasifik terus bekerja keras, berkolaborasi, dan mengajak seluruh pihak untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Indonesia dan ASEAN juga terus menyuarakan kepentingan negara-negara pasifik, kepentingan negara berkembang, termasuk hak untuk menyejahterakan rakyatnya melalui hilirisasi industri. Dan kesepakatan di bidang ini alhamdulillah juga berhasil kita capai untuk pengembangan end to end ekosistem EV yang didukung penuh oleh RRT, Jepang, dan Korea

Terakhir, terkait Myanmar, ASEAN akan terus melanjutkan upaya Indonesia melalui keketuaannya telah menyampaikan lima langkah ASEAN untuk membantu Myanmar, salah satunya melalui pembentukan mekanisme troika.

In the forum, I did in fact state that every leader present has an equally big responsibility to not create new conflicts, to not create new tensions and at the same time we also have responsibility to lower heated tensions, to soften frozen situations, to create space for dialogue. I can guarantee you, if we are not able to manage differences we will be destroyed. If we join the current of rivalry, we will be destroyed. This world needs a safe house and ASEAN is on the track to be able to perform those rules. And after going through difficult process, we finally agreed the EAS leaders’ joint statement on epicentrum of growth. Indonesia and ASEAN also continue to voice the interest of pacific countries, the interest of developing countries, including right to bring prosperity to their people and undertake industrial downstreaming. Thank you.

Wartawan Harian Kompas (Nina)
Pak, saya Nina dari Harian Kompas. Pertanyaan saya mengenai, apakah, saat ini kan kita menjadikan isu ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi sebagai fokus, sementara masih ada persoalan riil lain yang belum terselesaikan, seperti isu Myanmar dan Laut China Selatan, apakah itu sudah tepat? Kemudian apakah juga negara-negara mitra memahami kebutuhan ASEAN untuk memprioritaskan kerja sama ekonomi atau mereka tetap mendorong agenda masing-masing? Dan juga mengenai Bapak bilang bahwa bagaimana kita mengharapkan para pemimpin ASEAN dan negara-negara mitra itu tidak menciptakan ketegangan baru dan menurunkan tensi, bagaimana tanggapan dan bagaimana para pemimpin negara ASEAN ini dan negara-negara mitra ini bisa menerapkannya secara konkret? Terima kasih, Pak.

Wartawan Bisnis Indonesia (Akbar Evandio)
Selamat sore, Pak. Saya Akbar Evandio dari Bisnis Indonesia, mohon izin bertanya. Terkait dari komitmen yang dihasilkan dari KTT ASEAN kali ini, kira-kira apa yang akan dibawa oleh Indonesia di KTT G20 India mendatang? Serta sebenarnya apa sih manfaat yang konkret, yang bisa dirasakan oleh masyarakat terkait dengan penyelenggaraan KTT ini? Terima kasih.

Wartawan Al Jazeera (Jessica Washington)
Selamat sore, Bapak Presiden. A lot has been said about five-point consensus and the lack of progress in the implementation of that plan. Do feel that that reflects on the effectiveness of ASEAN as a whole, it is not only the responsibility of the authorities in Myanmar, but ASEAN as a bloc. Do you feel like perhaps its lack of progress reflects poorly on the relevance of ASEAN? Thank you.

Wartawan Nikkei Asia (Erwida)
Selamat sore, Bapak Presiden, saya Erwida dari Nikkei Asia. Yang ingin saya tanyakan, menurut pandangan Bapak, pencapaian yang paling penting dari segi kerja sama ekonomi sepanjang perhelatan ASEAN Summit dan East Asia Summit ini, apa saja dan boleh dijelaskan alasannya, Pak. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya, tadi pertanyaan yang pertama mengenai apakah epicentrum of growth itu sudah tepat, mengingat masih ada urusan Myanmar. Tepat, sangat tepat, karena di tengah rivalitas dan ketegangan geopolitik, dunia ini butuh poros agar tetap berputar pada jalurnya. Dan, ASEAN punya potensi besar untuk itu, karena pertumbuhan kita, growth di ASEAN di atas rata-rata dunia, bonus demografi juga ada, stabilitas politik juga terjaga. Dan, saya melihat menjadi tugas Indonesia bersama negara ASEAN lainnya memastikan bahwa, seperti saya sampaikan, kapal ASEAN harus terus berlayar.

Ya, besok siang saya berangkat ke G20 Summit di India dan komitmen apa yang akan kita bawa ke sana. Menurut saya, stabilitas dan perdamaian adalah kunci kemakmuran, bahwa dunia membutuhkan safe house, bahwa kolaborasi dan kerja sama itu harus diutamakan. Dan, Indonesia akan terus menyuarakan kepentingan negara berkembang terkait inklusivitas dan hak-hak untuk menyejahterakan rakyatnya, termasuk di dalamnya adalah industrial downstreaming, hilirisasi industri.

Dan terkait dengan Myanmar, apakah efektivitas ASEAN itu ada, karena ada yang menyampaikan tidak ada kemajuan. Perlu saya sampaikan bahwa ASEAN akan terus melanjutkan, sepakat untuk terus melanjutkan upayanya. Dan, kita dalam keketuaan Indonesia telah dilakukan 145 engagement dengan 70 stakeholders dan kita melihat sudah mulai muncul trust di antara para stakeholders, ini akan kita lanjutkan. Memang untuk menciptakan perdamaian selalu butuh waktu yang panjang, tapi tidak apa, kita harus terus melakukan, kita harus terus berjuang. Dan, ASEAN tidak akan tersandera oleh isu Myanmar. Kapal ASEAN harus terus melaju untuk mewujudkan perdamaian, mewujudkan stabilitas, mewujudkan kemakmuran.

Tadi ada yang menyampaikan mengenai manfaat ekonomi. Ada banyak keputusan yang sudah dihasilkan, termasuk tadi yang sudah saya sampaikan, Deklarasi EAS mengenai epicentrum of growth, kemudian pengembangan ekosistem EV battery, kemudian juga percepatan pelaksanaan regional cross-border payment dan local currency transaction dan untuk pelaksanaan ASEAN Indo-Pacific Forum yang telah menghasilkan, ini konkret, menghasilkan 93 project senilai USD38,2 miliar. Ini adalah sekali lagi, ini adalah kerja sama konkret yang bermanfaat untuk rakyat.

Menteri Luar Negeri (Retno Sumadi)
Bapak Presiden, teman-teman media,
Saya hanya ingin menambahkan beberapa hal dari capaian-capaian bidang ekonomi. Kalau teman-teman lihat di KTT yang ke-42, apa yang dihasilkan oleh KTT ke-42 most of them responded to the need of the people, misalnya mengenai masalah proteksi migrant workers, kemudian proteksi ABK, membuat jejaring desa, kemudian one health initiative, kemudian yang disampaikan Bapak Presiden tadi adalah membangun ekosistem EV di antara ASEAN.

Dan, di KTT ke-43 ini apa yang sudah disepakati ASEAN di KTT [ke]-42 kemudian diterjemahkan dengan kerja sama dengan para mitra kita. Makanya di APT/ASEAN Plus Three muncul kerja sama antara ASEAN Plus Three: ROK, Japan, and China, mengenai pembangunan ekosistem EV. Dan masih banyak lagi, antara lain adalah, selama keketuaan Indonesia pilar-pilar yang dapat mendukung epicentrum of growth diperkuat semuanya, misalnya ketahanan pangan, ketahanan energi, kesehatan, dan tadi Bapak Presiden sudah mengatakan mengenai masalah keuangan.

Yang kedua, yang ingin saya tambahkan dari apa yang bisa disampaikan Bapak Presiden, tadi ada pertanyaan mengenai masalah apakah pada saat Bapak meminta menyampaikan mengenai pentingnya kita menjadi bagian dari upaya menciptakan stabilitas dan keamanan perdamaian.

Bapak Presiden di dalam pidatonya menyampaikan, bahwa semua dari kita menyampaikan pentingnya perdamaian dan stabilitas. Yang diperlukan adalah bahwa kita betul-betul melakukan apa yang kita inginkan, karena setiap orang mengatakan begitu, berarti bahwa kita semua menginginkan itu. Sekarang, tinggal bagaimana kita mencapai apa yang kita inginkan.

Jadi, itulah yang disampaikan Bapak Presiden. Dan sebagai ilustrasi atau informasi bagi teman-teman, kalau di Bali sebelum kita memulai KTT, dokumen negosiasi terhadap deklarasi sudah bisa dibungkus. Di sini tadi, lima menit sebelum EAS dimulai, kita baru bisa menyelesaikan semuanya. Dan sekali lagi, di tengah perbedaan yang tajam, yang lebar, masih ada harapan, masih ada optimisme untuk bekerja sama. Dan, deklarasi yang dihasilkan, sekali lagi, mengenai epicentrum of growth yang manfaatnya adalah untuk ratusan juta orang di Asia Tenggara dan beyond. Terima kasih.

Menko Ekonomi (Airlangga Hartanto)
Terima kasih. Izin, Pak Presiden.

Jadi, salah satu juga yang menjadi andalan daripada Epicentrum of Growth  itu adalah Digital Economy Framework Agreement. Jadi, ini adalah masterplan yang dibuat di kepemimpinan Indonesia, di mana Digital Economy Framework Agreement itu mencakup sebuah perjanjian yang sangat dalam mengenai digitalisasi, termasuk digital talent, kemudian digital ID, cyber security, retraining, reskilling, infrastructure, interoperability di ASEAN. Kalau tanpa ini, ekonomi digital di ASEAN  diperkirakan tahun 2030 adalah satu triliun, nah ini bisa meningkat menjadi dua triliun. Target perjanjian ini diharapkan akan diselesaikan di tahun 2025 dan drafting-nya sudah disiapkan, dan Thailand bertugas untuk mengikuti ini sampai 2025.

Kemudian terkait dengan ketahanan energi di kaitan dengan renewable energy, salah satu yang juga dijadikan Leaders’ Declaration adalah interkonektivitas daripada energi di dalamnya memperkuat Trans-ASEAN Power Grid.

Kemudian yang terkait dengan di sektor keuangan, kita punya Chiang Mai Initiative (CMI) sekarang ada 240 billion melalui ADB, ini akan diperbaiki mekanismenya, karena mekanismenya lebih tidak sederhana dibandingkan IMF. Jadi, itu menjadi PR ke depan.

Demikian, terima kasih.

Keterangan Pers Terbaru