Penyerahan Sertifikat Tanah untuk Rakyat, 29 Agustus 2019, di GOR W.R. Supratman, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 Agustus 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 121 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Gubernur Jawa Tengah beserta Ibu, Bapak Bupati Purworejo beserta Ibu, seluruh Forkompimda Provinsi Jawa Tengah, Pak Pangdam, Pak Kapolda, Pak Kajati, Pak Ketua DPRD,
Bapak-Ibu sekalian seluruh penerima sertifikat yang pagi hari ini sudah menerima sertifikatnya.

Benar? Sampun? Bisa diangkat? Ini yang di dalam sama yang di luar jumlahnya 3.800. Jangan diturunkan dulu mau saya hitung. Baru dipegang sebentar saja mau turun. Iya dari sana, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31,…, 3.800 betul. Plus yang di luar itu 3.800.

Supaya Bapak-Ibu sekalian tahu, di seluruh tanah air kita Indonesia harusnya ada 126 juta sertifikat yang harus dipegang masyarakat, 126 juta sertifikat. 2015 yang selesai baru 46 juta sertifikat. Artinya apa? Masih 80 juta, di 2015 80 juta sertifikat. Termasuk Bapak-Ibu sekalian, yang 2015 belum dapat 80 juta. Tadi di Jawa Tengah 20 juta, betul Pak? 20 juta sertifikat yang harusnya dipegang, yang selesai baru 12 juta sampai saat ini, masih kurang delapan juta lebih. Jadi Bapak-Ibu semuanya matur nuwun, ini sudah selesai, alhamdulillah pegang sertifikat.

Kalau sudah pegang ini enak. Karena apa? Setiap saya ke kampung, ke desa, ke daerah isinya yang namanya sengketa tanah itu dimana-mana. Sengketa lahan, konflik tanah di mana-mana. Enggak di Sumatra, di Jawa, di Kalimantan, di Sulawesi, di Papua, di NTB, NTT, di Bali, semuanya. Karena apa? Masih 80 juta yang belum selesai. Jadi yang sudah pegang ini, alhamdulillah.

Bapak-Ibu sudah pegang semuanya kan? Nah, alhamdulillah kita harus bersyukur. Karena kalau sudah pegang yang namanya sertifikat, ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Panjenengan sampun ngasto sertifikat niki nggih, ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Ini nanti kalau ada, ujug-ujug nggih ada orang datang, “niki tanah kulo!” “Heh mboten, niki siti kulo. Buktine niki.” Enten buktine. Panjenengan bade teng pengadilan wantun, enten buktine. Nggih mboten? Buka di sini, ada di sini namanya ada, letaknya di desa mana ada, luasnya berapa di bawah ada semuanya, sudah. Enggak bisa yang namanya diutak-atik malih karena sertifikat niko adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki.

Dulu, satu tahun itu produksi sertifikat di seluruh Indonesia itu 500 ribu, 600 ribu per tahun. Tahun ini sembilan juta. Coba sudah berapa kali? Hampir empat belas kali lipat dari sebelumnya. Supaya apa? Masyarakat segera pegang sertifikat, sertifikat, sertifikat. BPN ya kerjanya ya pagi, siang, malam pontang-panting. Ya itu memang harus, karena memang pelayanan pada masyarakat sekarang ini harus cepat. Setuju mboten? Sinten sing mboten setuju ngacung? Saya beri sepeda. Ngacung yang mboten setuju sing cepet niku? Ngacung, sini saya beri sepeda kalau ada yang berani ngacung. Nggih mboten? Harus cepat, harus cepat.

Jadi target kita di 2025 nanti sertifikat seluruh Indonesia itu harus selesai. Caranya gimana? Itu urusannya Menteri ATR/Kepala BPN, harus rampung. Kalau kerja dengan saya ya seperti itu, ada targetnya. Sudah jadi menteri enggak ditarget enak banget. Nggih mboten? Rakyat ngenteni, ngenteni, nunggoni iki. Saya tahu karena setiap saya ke desa, saya ke kampung, ini jadi masalah di mana-mana,  sengketa antara tetangga dengan tetangga, kita dengan masyarakat, rakyat dengan pemerintah, rakyat dengan perusahaan, banyak sekali. Saya ditangisi itu, ditangisi orang sudah ratusan ribuan sudah urusan tanah. Ya tapi enggak bisa membantu kita karena tanda bukti hak hukumnya memang harus jelas. Sudah, sekarang sudah pegang sertifikat  semuanya.

Sudah diplastik semuanya nggih? Sampun? Ini supaya kalau gentingnya bocor niku sertifikatnya mboten rusak. Setuju mboten?

Kalau sudah pegang sertifikat sampai di rumah tolong difotokopi. Nanti kalau aslinya hilang, isih enten fotokopine, ngurus teng BPN gampil. Setuju? Yang asli taruh di lemari satu, yang fotokopi taruh di lemari dua. Jangan dibarengkan, hilang, hilang bareng mangke nggih. Ini kalau hilang fotokopi masih ada asli, kalau hilang asli masih ada fotokopi. Nggih.

Sekarang yang ketiga, biasanya kalau sudah pegang sertifikat penginnya disekolahkan. Nggih mboten? Mboten nopo-nopo. Tadi Pak Gub kan juga sudah menyampaikan, tidak apa-apa. Sertifikat ini disekolahkan enggak apa-apa. Tadi terbukti di Jawa  tengah melompat berapa triliun tadi? Kita bisa melihat, “oh berarti sertifikat ini dipakai oleh masyarakat untuk akses ke modal, akses ke uang, untuk mendapatkan modal.” Enggak apa-apa, mboten nopo-nopo.

Tapi kalau mau pinjam ke bank itu ya pakai kalkulasi, mau pinjam ke bank itu juga harus pakai hitungan. Bukan hanya pinjam kemudian dipakai untuk beli TV, pinjam dipakai untuk beli sepeda motor, pinjam dipakai untuk beli mobil. Hilang sertifikat mengke pun kalau dipakai untuk yang tidak produktif. Bisa dipakai untuk agunan, bisa dipakai untuk jaminan tapi tolong cek dulu, kalau mau buat pinjam ke bank, dibanding-bandingkan. Cari yang bunganya murah, BRI pinten, BPD Jateng pinten, BNI pinten, Bank Mandiri pinten, tanya. “Oh sing murah dewe BRI,” ya sudah ke BRI, ngoten.

Setelah itu dihitung dulu. Sertifikat pergi ke Bank, itu sudah harus punya hitung-hitungan saya mau pinjam berapa, mau saya pakai untuk apa, nanti mengangsurnya bisa tidak, menyicilnya bisa tidak. Jangan sekarang pegang sertifikat besok pagi langsung ke bank, tuk, tuk, tuk, langsung pinjam Rp300 juta. Wah dapat Rp300 juta, wong sertifikatnya luasnya gede, dapat Rp 300 juta. Pulang, nah ini mulai. Kalau apa-apa tanpa perencanaan, mboten enten rancangane, pulang bawa Rp300 juta, malam-malam ngimpi-ngimpi, “dinggo opo iki.” Nah sesuk ke dealer, beli mobil tapi tidak kontan bayarnya, diberi uang muka Rp100 juta. Mulih pun, gagah menyetir mobil. Ini dimulai, petaka di situ. Satu bulan selamat, dua bulan selamat iso nyicil bank, iso nyicil dealer. Begitu masuk ke bulan ke enam meng titeni, pun, sudah mulai, bank enggak bisa menyicil, nggih tho, mobil enggak bisa menyicil. Nggih niku, gagahe muter-muter kampung mung enam wulan tok. Mubeng-mubeng gagah enam wulan tok. Pun, pidados kulo. Sertifikate ical nggih, diambil sama bank dong, mobile juga ditarik sama dealer. Hilang semuanya, gagahe mung enam wulan.

Siapa yang mau pinjam ke bank? Dipakai agunan ke bank? Silakan tunjuk jari! Mboten sah, enggak usah malu-malu. Enggak apa-apa, itu  halal. Itu mboten nopo-nopo, wong dipakai untuk hal yang produktif, untuk kesejahteraan, mboten nopo-nopo. Pinjam Rp10 juta boleh, Rp25 juta boleh, disesuaikan dengan perencanaan kita mau dipakai apa, disesuaikan dengan lahan yang kita miliki. Ada ndak yang mau pinjam ke bank? Silakan tunjuk jari! Oh ada, nggih. Ada satu. Di sana kok enggak ada yang tunjuk jari tho? Yang di atas? Ada. Nah, banyak gitu kok.

Yang tidak dipakai untuk pinjam bank tunjuk jari! Yang tidak dipakai, tidak dipakai untuk ke bank siapa? Sinten? Enggak dipakai? Mboten? Ibu mboten? Mboten? Ibu? Mboten. Disimpan di rumah? Nggih. Enggak apa-apa, boleh-boleh saja.

Sekarang kembali lagi, siapa yang dipakai untuk pinjam bank tunjuk jari! Nah ini mulai banyak ini, enggak malu ini, sudah mulai. Mboten nopo-nopo. Siapa yang mau pinjam ke bank? Ya, ada? Di sini ada? Nggih, Ibu cobi maju sini.

Yang tidak dipakai untuk pinjam ke bank? Yang tidak siapa? Ibu? Bapak? Siapa lagi? Siapa yang tidak? Nggih cobi Bapak yang pakai putih, peci putih nggih ke depan. Sini, sini, monggo.

Nggih, Ibu dikenalkan dulu namanya.

Tri Nurul Hayati
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Tri Nurul Hayati
Nama saya Ibu Tri Nurul Hayati.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ibu Tri Nurul Hayati.

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saking pundi?

Tri Nurul Hayati
Saya dari Desa Wingko Tinumpuk RT2/RW3, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar-bentar, jangan cepat-cepat. Desa?

Tri Nurul Hayati
Desa Wingko Tinumpuk.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wingko?

Tri Nurul Hayati
Tinumpuk.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wingko Tinum…

Tri Nurul Hayati
Tinumpuk.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tinumpuk?

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wingko Tinumpuk.

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Desa Wingko Tinumpuk. Kecamatan?

Tri Nurul Hayati
Ngombol Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ngombol?

Tri Nurul Hayati
Nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Tebih ting mriki?

Tri Nurul Hayati
Nggih, tiga puluh menit kirang langkung.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nopo niku, tiga puluh menit niku jalan kaki, naik sepeda, atau naik sepeda motor, atau naik mobil?

Tri Nurul Hayati
Naik sepeda motor, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Naik sepeda motor tiga puluh menit.

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, nggih, nggih. Sekarang Bu Tri tadi…

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sertifikatnya berapa meter persegi?

Tri Nurul Hayati
513 meter persegi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
513 meter persegi. Wah wiyar niku nggih, wiyar nggih, luas. Mau dipakai pinjam ke bank, dipakai agunan ke bank.

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Banknya sudah tahu mau ke bank mana?

Tri Nurul Hayati
Iya karena saya dekat dengan Bank BRI, depan rumah saya, saya mau ke Bank BRI.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, mau ke Bank BRI.

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Mau pinjam berapa?

Tri Nurul Hayati
Ya, buat tambahan modal, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, ngertos. Pinten? Saya mau tanya.

Tri Nurul Hayati
Kurang lebih Rp50 (juta) Pak. Kira-kira cukup enggak kalau seluas tanah saya segini?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp50 juta? Mau pinjam…

Tri Nurul Hayati
Iya, Rp50 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mau pinjam Rp50 juta.

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Sekarang Rp50 juta, berarti mau ke BRI, “Pak, pinjam Rp50 juta,” nggih. Sudah. Pertanyaannya, mau Rp50 juta itu mau dipakai untuk apa?

Tri Nurul Hayati
Kebetulan suami saya…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kedah enten perencanaan lho nggih. Rp50 juta untuk apa saja?

Tri Nurul Hayati
Kebetulan suami saya itu dagang sepatu, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dagang sepatu.

Tri Nurul Hayati
Iya, dari kantor ke kantor.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dagang sepatu dari kantor ke kantor?

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Tapi kok… Masa sepatu sampai Rp50 juta itu dingge nopo? Dapat berapa truk itu coba? Sepatu saya ini Rp400 ribu.

Tri Nurul Hayati
Kali Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Masa bawa sepatu ke kantor sampai Rp50 juta? Nggih?

Tri Nurul Hayati
Setidaknya saya kan butuh kendaraan untuk membawa sepatu itu, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nah ini, urusan kendaraan. Boleh, boleh asal kendaraan itu produktif, jangan untuk kenikmatan. Kalau untuk mempercepat mobilitas usaha, bisa. Tapi kalau dinikmati, ini yang berbahaya. Hati-hati, itu saja. Nggih. Jadi Rp50 juta tadi dipakai apa saja? Untuk tambahan modal sepatu berapa?

Tri Nurul Hayati
Ya kurang lebih kalau misalkan buat sepatu ya Rp20 (juta)-an, kalau mobilnya sih tidak perlu terlalu cakap Pak, yang penting untuk bawa ke…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar, Rp50 juta dipakai untuk modalnya untuk beli sepatu Rp20 juta.

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus masih Rp30 juta untuk apa?

Tri Nurul Hayati
Rp30 (juta)-nya untuk beli kendaraan yang istilahnya tidak terlalu tua, tidak terlalu muda.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp30 juta untuk beli mobil itu untuk muter niku dari kantor ke kantor?

Tri Nurul Hayati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, nggih, ini berarti ada perencanaan. Terus sudah dihitung menyicilnya bisa? Mengangsurnya bisa sudah dihitung?

Tri Nurul Hayati
Ya, insyaallah Pak berusaha, semangat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dihitung lho nggih. “Oh saya jualan sepatu itu sebulan dapat income sekian, berarti keuntungan sekian, oh bisa untuk menyicil. Kedah dihitung, mboten dihitung nanti berbahaya. Tapi mobilnya, sekali lagi beli mobil tapi ini produktif supaya mobilitasnya tinggi, bukan untuk dipakai untuk muter-muter kampung, pamer, mboten. Oke nggih, sampun.

Sekarang, Pancasila.

Tri Nurul Hayati
Pancasila.
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dua.

Tri Nurul Hayati
Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Tiga, Persatuan Indonesia.
Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.
Lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Oke, pun. Sepeda. Sudah mriki, gantian.

Margomi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Nama Pak?

Margomi
Nama saya Margomi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Mar?

Margomi
Pak Margomi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Marhomi.

Margomi
Gomi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Marhomi?

Margomi
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Marhomi, saking pundi?

Margomi
Saking Desa Ketug, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kecamatan Butuh?

Margomi
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, dari Kecamatan Butuh, desanya Ketug?

Margomi
Ketug.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Desa Ketug, Kecamatan Butuh, nggih. Teng mriki pinten menit nggih Pak nggih?

Margomi
Nggih, kadosipun menawi ngangge motor nganten setunggal jam.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Motor setunggal jam, nggih. Nggih. Itu katanya setengah? Kaleh muter-muter nggih nopo-nopo setunggal jam. Iya, setunggal jam. Sekarang Bapak, Pak Marhomi ini enggak mau dipakai ke bank? Mboten.

Margomi
Mboten.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus dipakai untuk apa? Disimpan?

Margomi
Disimpan nanti untuk anak saja karena sampun sepuh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, nggih. Berarti disimpan, nanti diwariskan ke…

Margomi
Anak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Putro. Oh, nggih. Enggak apa-apa. Sudah menjadi haknya Pak Marhomi. Luas berapa Pak? Luas ini berapa

Margomi
687.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
687, nggih. 687. Pak, oh Pak Margomi, saya tadi Marhomi. Margomi, Pak Margomi, tanahnya di Desa Ketug.

Margomi
Nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Luasnya 687, nggih leres. Tidak dipakai untuk agunan ke bank, akan diwariskan ke putro, nggih pun.

Monggo, Pancasila.

Margomi
Kesupen, nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kesupen, mboten nopo-nopo. Nanti saya bimbing lah, pun.

Margomi
Pancasila.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Satu.

Margomi
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dua.

Margomi
Dua, Permanusiaan yang…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar. Dua, Kemanusiaan…

Margomi
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tiga, Persatuan…

Margomi
Tiga, Persatuan Indonesia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Empat,

Margomi
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dan Permusyawaratan…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Perwakilan.

Margomi
Perwakilan Permusyawaratan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar, sebentar. Sini Pak, mriki-mriki. Empat,

Margomi
Empat,

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kerakyatan yang Dipimpin, diulang Kerakyatan yang Dipimpin..

Margomi
Kerakyatan yang Dipimpin…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oleh Hikmat Kebijaksaan…

Margomi
Oleh Hikmat Kebijaksanaan…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Margomi
Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Lima,

Margomi
Lima,

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Keadilan…

Margomi
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nah, kurang. Diulang lagi. Lima, Keadilan Sosial…

Margomi
Lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Panjenengan nggih, panjenengan mung lenggah mriku Pancasila gampil, begitu naik panggung ke sini di dekat saya hilang semua sini. Jangan dipikir mudah. Kalau sudah di dekat saya bisa hilang. Tadi ‘Keadilan Sosial Bagi Indonesia’, ‘Seluruh’-nya hilang gitu lho.

Margomi
Soalnya sudah kembali idiot.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, monggo, matur nuwun. Sudah diambil sepedanya. Terima kasih. Silakan kembali.

Oh, ini masih ada bonus lagi, sudah dapat sepeda masih diberi bonus. Nggih, ini fotonya. Ini foto. Baru di sini lima menit fotonya sudah jadi. Ini yang namanya kerja cepat ya ini. Sekarang kita harus membudayakan kerja cepat. Semua, baik di provinsi, di kabupaten, di kota semuanya harus kerja cepat karena masyarakat menunggu pelayanan dari seluruh aparat pemerintah. Setuju mboten?

Ini juga sama tadi Bu Tri, baru di sini belum ada lima menit foto sudah jadi dalam album, nggih. Monggo Bu. Aduh, dapat sepeda, dapat foto.

Tri Nurul Hayati
Pak bisa mohon izin, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mboten. Nopo?

Tri Nurul Hayati
Nyuwun sewu, nyuwun doa nipun anak kulo bade ­cita-cita nipun dados tentara, nopo Bapak saget, istilahe nopo maringi…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iyo, kaleh Pangdam nanti, dengan Pak Pangdam niku. Pak Pangdam teng ajeng.

Tri Nurul Hayati
Nggih, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nanti bisik-bisik ke Pak Pangdam.

Tri Nurul Hayati
Mbok menawi ngonten nopo istilahe nopo…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ngonten nopo? Nopo? Ngonten nopo?

Tri Nurul Hayati
Dados grogi niki kulo Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Yang semua, semua yang berkaitan dengan rekrutmen seperti itu ada prosedurnya yang harus dilalui.

Tri Nurul Hayati
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enggak tahu, bisa delapan kali, bisa sembilan kali, saya enggak tahu karena di TNI ini anunya ketat sekali. Dan perlu saya sampaikan sampai presiden pun enggak bisa yang namanya titip-titip, mboten enten.

Tri Nurul Hayati
Nggih, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Jadi saya sampaikan, kalau jawaban saya kalau mintanya ke saya, tidak bisa, pun. Jelas?

Tri Nurul Hayati
Bukan Pak, minta doanya supaya…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh doa, kalau doa tak doain, tak doain, tak doain, pun, tak doain, nggih. Nggih, sampun.

Tri Nurul Hayati
Matur nuwun.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sami-sami. Sudah dapat sepeda, dapat foto, masih minta…

Ya, saya kira jelas semuanya. Tadi mengenai sertifikat, saya kira tidak perlu saya ulang lagi. Sekali lagi, marilah sertifikat ini kita gunakan untuk kesejahteraan keluarga kita. Dan kalau memang tidak akan digunakan, sekali lagi, disimpan baik-baik, jangan sampai hilang.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru