Penyerahan Sertifikat Tanah Untuk Rakyat, 31 Januari 2020, di Gedung Taman Budaya, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 31 Januari 2020
Kategori: Sambutan
Dibaca: 98 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju. Hadir bersama saya Pak Menteri ATR/Kepala BPN. Berdiri Pak, Pak Menteri ATR/Kepala BPN. Yang kedua, Pak Menteri Pariwisata. Yang ketiga, Pak Menteri Sekretaris Negara;
Bapak Gubernur enggak usah saya kenalin, ya? Yang saya hormati, Bapak Gubernur;
Yang saya hormati Bapak Wakil Gubernur, Bapak Bupati Kulon Progo, dan seluruh Bupati yang hadir, Pak Pangdam, Pak Kapolda, Pak Kajati.
Bapak-Ibu sekalian seluruh penerima sertifikat yang hari ini sudah pegang sertifikatnya?

Coba diangkat. Jangan diturunkan dulu mau saya hitung. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, …, 3.218, ‘mpun kalau sudah diangkat gitu ketingalnggih to? Saya kadang-kadang takut jangan-jangan yang diberi yang di depan tadi hanya 12 orang, ternyata semuanya sudah diangkat kelihatan, sertifikat sudah diterima.

Karena, Bapak-Ibu sekalian, problemnya apa? Setiap saya ke desa, setiap saya ke kampung, setiap saya ke daerah, keluhannya apa? Konflik tanah, sengketa tanah, konflik lahan, sengketa lahan selalu di kuping saya itu terus. Saya cek ini apa sih? Saya cek itu tahun 2015, ada apa kok kejadiannya seperti ini terus? Setelah saya lihat, ternyata di seluruh Indonesia, seluruh Tanah Air kita ini harusnya ada 126 juta bidang tanah yang harus disertifikatkan. Tetapi saat itu, tahun 2015 baru ada selesai 46 juta, berarti masih kurang 80 juta yang belum pegang sertifikat. Ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Ndak pegang ini akhirnya apa? Sengketa, tetangga dengan tetangga, masyarakat dengan pemerintah, masyarakat dengan swasta, masyarakat dengan masyarakat karena apa? Delapan puluh juta (tanah) belum tersertifikat.

Kenapa sebanyak itu? Karena setahun, di seluruh Tanah Air ini hanya, sebelumnya hanya, produksinya itu hanya 500 ribu per tahun. Kalau 80 juta berarti menunggu 160 tahun, nggih mboten? Setahun hanya 500 ribu, masih ada 80 juta yang belum, berarti (masih) 160 tahun. Siapa yang mau menunggu 160 tahun sertifikatnya jadi? Silakan maju, saya beri sepeda. Seratus enam puluh tahun sertifikatnya jadi, maju, saya beri sepeda sini, sini. Ada yang mau? Enggak akan ya? Enggak mau pasti karena ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki.

Kalau ada apa-apa, orang datang ke kita, datang ngaku-ngaku, “Ini tanah saya, ini tanah saya.” “Bukan, tanah saya.” Di sini ada, nama di sini, Joko Widodo ada di sini, desanya ada di sini, desanya Gumukrejo. Desa saya di Boyolali sana namanya Gumukrejo. Luasnya di sini ada, berapa luasnya. Sudah tunjukin ini, yang ngaku-ngaku tadi pasti balik. Ini karena, sekali lagi, sertifikat adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki.

Yang kedua. Saya titip, kalau sudah sertifikat jadi, diplastik semuanya, nggih? Ya, masuk plastik. Sebelum nanti disimpan, tolong difotokopi, yang ini taruh di lemari, satu, yang fotokopi taruh di lemari, dua. Kalau ini hilang, masih punya fotokopi, mengurusnya mudah. NggihPirsa, nggih? Nggih, dan kalau fotokopinya hilang, enggak apa-apa, fotokopi lagi, ngaten.

Yang ketiga, ini biasanya…, kalau sertifikatnya sudah jadi biasanya…, pasti pengin disekolahkan, nggih mbotenMboten napa-napa. Ini disekolahkan tidak apa-apa. Mau dipakai untuk agunan ke bank? Tidak apa-apa. Mau dipakai untuk jaminan ke bank? Tidak apa-apa, silakan. Seperti tadi yang disampaikan oleh Bapak Gubernur tadi, enggak apa-apa. Tapi, sebelum ini dipakai untuk jaminan ke bank, agunan ke bank, tolong dihitung dulu. Dihitung mau pinjam berapa? Pergi ke bank mana? Jangan ini dapat sertifikat langsung…, keluar dari sini langsung ke bank, “Pak, pinjam Rp200 juta”, ampun ngoten, jangan seperti…, harus dihitung, direncanakan untuk apa, bisa ngangsur atau tidak, bisa nyicil atau tidak, dihitung semuanya.

Coba tunjuk jari yang pengin memakai ini untuk agunan ke bank, tunjuk jari! Enggak usah malu. Mana coba? Yang pengin pakai ini untuk agunan ke bank. Nggih, ada, ada, nggih, nggih. Nggih cobi, maju mriki, enggak apa-apa. Nggih, maju mriki. Ada Ibu-ibu yang ingin sertifikatnya dipakai untuk agunan ke bank? Ini, “saya Pak, saya Pak,: bisik-bisik. Ada? Yang Ibu-ibu? Ah itu, yang belakang itu, yang nunjuk jarinya gini tadi. Nggih, nggih, yang anu kuning, nggih, jilbab kuning.

Ada yang pengin hanya untuk disimpan? Berarti mau dipakai untuk pinjam semua ini? Ada yang dipakai hanya untuk disimpan? Enggak apa-apa, namanya mau disimpan. Ada? Mana yang mau disimpan saja. Oh, ya banyak berarti. Nggih, nggih, nggih, nggih, nggih, mana yang mau disimpan mana, yang mau disimpan? Nggih cobi, menika yang pakai peci, tadi kan…nggih mriki, maju. Sudah. Satu saja, satu saja.

Nih, dikenalkan dari…, ‘teng mriki, jangan jauh-jauh, dekat sini. Nama (siapa), dari mana?

Heri Subianto
Nama saya Heri Subianto dari Desa Panjatan, Dusun IV Panjatan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar… Pak Heri, dari Desa Panjatan?

Heri Subianto
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tebih mboten saking mriki?

Heri Subianto
Kurang lebih 7 kilo(meter), Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tujuh kilo(meter), oh, nggih. Celak, dekat nggih. Tadi disampaikan, sertifikat mau dipakai untuk agunan, nggih

Heri Subianto
Nggih, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini berapa meter persegi?

Heri Subianto
Dua ratus meter persegi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
200 meter persegi, saya cek dulu. Nah, keliru lo.

Heri Subianto
Lebih sedikit, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, enggak boleh lo ya. Harus tahu pasti tanah kita itu berapa. Tercantum di sini 208 meter persegi. Sampeyan purun, hanya 200 (meter persegi) yang 8 meter (persegi) kula jaluk?

Heri Subianto
Mboten, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nah, mboten kan? Dua ratus delapan meter persegi. Mau dipakai untuk agunan ke bank? Jaminan ke bank?

Heri Subianto
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bank mana?

Heri Subianto
Ya, kita nanti lihat-lihat dulu, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, lihat-lihat dulu. Benar itu, lihat-lihat dulu, nggihDibanding-bandingke, nggih. Mau pinjam berapa?

Heri Subianto
Enggak banyak, Pak. Cuma Rp5 juta paling.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp5 juta, nggih. Rp5 juta dipakai untuk apa kalau boleh saya tahu?

Heri Subianto
Modal usaha Pak, sama….

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Modal usaha, modal usaha kangge menapa? Modal usaha apa? Jualan apa?

Heri Subianto
Usaha bengkel sepeda, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bengkel sepeda. Bengkel sepeda kok Rp5 juta akeh, men. Masa butuhnya Rp5 juta untuk apa saja, sih? Oke, sekarang pinjam, pinjam ke bank, dapat Rp5 juta, untuk apa saja?

Heri Subianto
Beli onderdil, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Beli onderdil pinten?

Heri Subianto
Semuanya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Semuanya untuk onderdil?

Heri Subianto
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Masa onderdil sampai Rp5 juta, sepeda…

Heri Subianto
Onderdil mahal Pak, sekarang Pak. Mahal, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tapi masa sampai Rp5 juta, nggih?

Heri Subianto
Iya Pak, itu mungkin segitu saja mungkin enggak terlalu kelihatan Pak, dagangannya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, enggak kelihatan, nggih? Percaya, saya percaya. Kalau saya jadi bank, (Pak Heri) meyakinkan. Ya sudah saya beri, begitu pasti bank, nggih pun. Bisa…, hitungannya bisa nyicil mboten? Rp5 juta ini nyicil per bulan berapa? Sudah dihitung? Dihitung lo nggih, mangke nggih.

Heri Subianto
Ya insyaallah dengan adanya pinjaman, mungkin akan lebih meningkatkan nanti, Pak. Insyaallah bisa terwujud, ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bisa pakai hitung-hitungan, nggih? Bisa nyicil per bulan, pendapatan saya berapa. Oh nyicil, oh kecil, jalankan enggak apa-apa. Tapi kalau dihitung, waduh kok berat, jangan. Hati-hati! Kalau keliru hitung, yang namanya sertifikat bisa hilang lo, nggih. Bisa diambil bank lo, nggih. Hati-hati, saya hanya titip. Rp5 juta itu ambil nanti yang namanya KUR (kredit usaha rakyat), nggih, di bank. BRI ada KUR, itu bunganya hanya 6 persen. Nggih?

Heri Subianto
Nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih. Apalagi yang mau disampaikan? Sudah? Berarti hanya untuk beli apa tadi?

Heri Subianto
Onderdil.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Onderdil. Jangan sampai…, gini lo, pinjam Rp5 juta, karena enggak punya perencanaan, pulang, malamnya mimpi, pengin beli motor baru. Waduh, ini Rp1 juta saya pakai untuk uang muka. Nah, ini mulai. Dapat sepeda motor baru, muter-muter kampung, gagah. Bulan kedua, nyicil sepeda motor sama nyicil ke bank, hati-hati 2 cicilan. Itu nggih, 6 bulan thok. Banknya enggak bisa nyicil, sertifikat ditarik bank, dealer enggak bisa nyicil, motornya ditarik sama dealer, sudah. Enam bulan, pitados kula, pun. Sertifikat hilang, sepeda motor hilang, gagahnya hanya 6 bulan, hati-hati. Jangan sampai kejadian seperti itu, saya hanya ingin mengingatkan. Nggih, Pak Heri?

Heri Subianto
Nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih.

Cobi Ibu, Bu, dikenalkan, nama.

Suhartati
Assalamu’alaikum. Nama saya Ibu Suhartati.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wa’alaikumsalam. Bu?

Suhartati
Suhartati.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Suhartati, panggilannya?

Suhartati
Bu Tati.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Tati, nggih, Bu Tati.

Suhartati
Dari Pundong, Bantul.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dari?

Suhartati
Pundong, Bantul.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bantul?

Suhartati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, nggih, dari Bantul. Tadi sertifikatnya berapa meter persegi? Masih mbuka, ini berarti belum tahu. Semua harus tahu lo, ya. Ditanya, siapapun yang tanya, harus tahu. Ini, saya tunjukin Bu Tati, nggih, desanya di Seloharjo, betul? Meter perseginya ini di bawah, 330 meter persegi, nggih. 330 meter persegi nggih, sudah. Nah, niki mboten pirsa niki berarti juga, masih membuka-buka. Banyak yang belum tahu, hati-hati. Punya tanah seperti ini harus hafal. Lo, ini mahal! Ibu mau dipakai untuk apa?

Suhartati
Insyaallah mau buat usaha….

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Untuk agunan…ini mau pinjam ke bank?

Suhartati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dipakai jaminan ke bank?

Suhartati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Berapa mau pinjam?

Suhartati
Sama, sekitar Rp5 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp5 juta. Rp5 juta mau dipakai apa?

Suhartati
Untuk usaha berdagang.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Usaha berdagang, berdagang apa?

Suhartati
Sembako.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sembako, sembako niku napa?

Suhartati
Sembilan bahan pokok.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
La nggih, napa mawon?

Suhartati
Beras, minyak….

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Beras, gula, ngoten?

Suhartati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus?

Suhartati
Gula, minyak….

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Hmmm?

Suhartati
Beras, gula, minyak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Beras, gula, minyak?

Suhartati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, napa malihMpun?

Suhartati
Sudah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ibu sekarang sudah punya warungnya?

Suhartati
Belum ada.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Belum ada, berarti ini baru?

Suhartati
Iya, baru mau mulai.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus, nanti bikin warungnya di mana?

Suhartati
Di dekat rumah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bikin warung itu pakai apa?

Suhartati
Pakai material.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pakai material lo, nggih. Materialnya didapat dari mana? Beli?

Suhartati
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih?

Suhartati
Nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp5 juta cukup mboten? Dihitung ya, dihitung, itu harus dihitung. Oh, ini untuk beli…, oh, saya enggak/belum punya warung, berarti harus bikin warung. (Bikin) warungnya berarti butuh berapa, kemudian untuk beli sembako, berasnya beli, oke (beli) beras Rp2 juta, gulanya Rp1 juta, misalnya, minyaknya Rp2 juta. Oh, Rp5 juta kok habis. Yang untuk bangun warung dari mana? Semuanya dihitung, saya titip, semuanya dihitung, hati-hati.

Pinjam ke bank itu mesti ada hitungannya, harus ada rencananya, saget nyicil napa mboten? Rp5 juta itu nyicil-nya sebulan berapa berarti kira-kira? Pirsa? Bu Tati pirsa? Belum? Nanti ke bank tanya, saya berarti nyicil berapa per bulan, Pak? Oh, segini, hitung. Oh, untung berasnya sekian, untung minyaknya sekian, untung gulanya…, “Oh masuk, berani,” Baru, “nggih, saya pinjam,” gitu sama bank. Jangan main pinjam-pinjem, pinjam-pinjem, enggak bisa mengangsur, hati-hati. Tadi berapa mau pinjam?

Suhartati
Rp5 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp5 juta, terus warungnya?

Suhartati
Warungnya pakai rumah dulu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pakai?

Suhartati
Di dalam rumah dulu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, di dalam rumah dulu. Jualan warung di rumah dulu. Oke, nggih, ya bisa juga, nggih, nggih, nggih.

Monggo, Pak. Nama.

Suhardi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wa’alaikumsalam.

Suhardi
Nama saya Suhardi, alamat Purworejo.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak?

Suhardi
Suhardi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Suhardi, nggih.

Suhardi
Purworejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sleman. Pakem, Sleman, nggih.

Suhardi
Mekaten. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebentar, belum saya tanya sudah ditutup. Saya tanya dulu. Luas ini tanahnya berapa?

Suhardi
Ada 1.065 meter persegi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Seribu enam puluh lima meter persegi, cobi. Ini enggak mau dipakai untuk pinjaman ke bank?

Suhardi
Ah, ndak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ndak, nggih. Tadi saya tanya ini yang tidak dipakai pinjam ke bank mana, tunjuk jari. Bapak kan tunjuk jari, berarti tidak dipakai? Sementara ini tidak dipakai untuk jaminan ke bank, nggihNggih, 1.068 meter persegi nggih. Ini di Hargobinangun, leres, nggih. Kenapa enggak dipakai untuk pinjam ke bank?

Suhardi
Nggih, ya karena apa ya… nah untuk…, besok jangan sampai (sertifikat) ini hilang, gitu aja.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, takut (sertifikat) ini hilang?

Suhardi
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Diambil bank?

Suhardi
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini jadi mau disimpan saja? Mau disimpan saja di rumah, ngoten?

Suhardi
Nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, pun, nggih, nggih, matur nuwun, matur nuwunNggih, matur nuwun, matur nuwun.

Sebentar, sebentar, ini ada, sebentar, sebentar, sebentar, sebentar. Pak Heri, ini saya beri foto. Ini yang namanya apa? Namanya kerja cepat. Baru berdiri di sini 5 menit, fotonya sudah jadi. Sama seperti sekarang urusan sertifikat juga sama, ada kecepatan, mungkin 20 kali lipat dibandingkan sebelumnya sekarang membuat sertifikat, cepat hingga selesai. Dan foto ini mahal. Kenapa mahal? Karena ini, coba dibaca di baliknya, ada tulisannya ‘Istana Presiden Republik Indonesia’, nggih, sebentar. Ini Bu Tati, monggo, nggih. Ini Pak Hardi, nggih, pun, monggo.

Sebentar, sebentar, ini saya dikode lagi. Sebentar, sebentar, ini masih ada kode lagi, sebentar, sebentar. Ditambah sepeda. Ambil, ambil langsung, ambil langsung saja sudah. Enggak usah…, ambil langsung. Sudah, langsung bawa ke kursi, pun.

Ini mau pulang, Pak Heri? Dapat sepeda terus dadah-dadah mau pulang, nggih, pun diasta, ke sana enggak apa-apa, taruh saja di gang itu enggak apa-apa, bawa saja ke sana. Sampun, nggih, enggak apa-apa. NapaNggih, sami-samiNgatos-atos.

Nggih, saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, gunakanlah sertifikat yang ada untuk kebaikan, kesejahteraan keluarga kita.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru