Penyerahan Sertifikat Tanah Wakaf, 25 Januari 2019, di Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 15 Januari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 1.388 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Yang Mulia para Ulama, para Kiai, para Ustaz, wabilkhusus Ketua DKM,
Serta hadirin yang berbahagia, juga seluruh penerima sertifikat wakaf yang alhamdulillah pada siang hari ini kita serahkan 204 sertifikat, baik untuk masjid, musala, tempat pendidikan, pondok pesantren, dan yang lain-lainnya.

Kenapa sertifikat ini saya perintahkan kepada Menteri ATR/Kepala BPN untuk dipercepat? Karena setiap saya ke daerah, ke kampung, maupun ke desa, sering masuk suara ke telinga saya sengketa lahan, sengketa tanah. Banyak sekali tanah wakaf yang menjadi sengketa padahal sudah didirikan masjid.

Saya berikan saja contoh satu, di Jakarta, di tengah kota, masjidnya sudah berdiri megah. Dulunya harga tanah mungkin masih murah, sekarang sudah Rp120 juta per meter. Nah, mulai jadi ramai karena harga tanahnya sudah begitu sangat mahal, padahal sertifikatnya belum ada. Inilah yang kenapa tidak hanya di provinsi Jawa Barat, tidak hanya di Kota Bekasi, tapi juga sudah kita serahkan di Aceh, di Sumbar, di Riau, di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, di Sulsel karena banyaknya sengketa tanah, sengketa lahan di tanah wakaf.

Oleh sebab itu,  alhamdulillah hari ini sudah selesai 204 sertifikat, alhamdulillah patut kita syukuri. Terima kasih Pak Menteri ATR/Kepala BPN, Pak Kanwil BPN, juga Kepala Kantor BPN yang sudah bekerja keras menyelesaikan ini. Moga-moga, insyaallah dengan adanya sertifikat yang sudah dipegang oleh masjid, musala, pondok pesantren, tempat pendidikan kita harapkan tidak ada lagi sengketa-sengketa lahan.

Yang kedua, ini mumpung bertemu saya ingin menyampaikan sedikit mengenai banyaknya isu-isu. Biasanya kalau masuk ke tahun politik yang namanya isu-isu itu banyak, banyak diproduksi. Meskipun isu ini sebetulnya sudah empat tahun ini berjalan tapi sebetulnya saya tidak mau jawab. Saya diam saja tidak pernah menjawab tapi lama-lama kok makin berkembang kemana-mana. Setelah ada survei juga, sembilan juta orang percaya, sembilan juta orang lebih percaya mengenai isu-isu ini, sehingga saya perlu berbicara. Kalau kemarin ya saya hanya mendengar, mendengar, ya saya sabar, ya Allah sabar, sabar, sabar, sekarang saya jawab.

Isu apa? Satu, mengenai Presiden Jokowi itu PKI. Ada yang dengar tidak? Itu sudah empat tahun berjalan. Perlu saya sampaikan, saya itu lahir tahun ’61, 1961. PKI itu dibubarkan tahun ‘65/’66, berarti umur saya baru empat tahun, masih balita. Berarti enggak adalah yang namanya PKI balita, itu enggak ada.

Isu yang lain, mulai digoreng-goreng lagi, Presiden Jokowi itu antiulama, anti-Islam, lho lho lho lho. Yang tanda tangan Perpres Hari Santri itu siapa? Itu penghargaan kita terhadap santri, terhadap ulama karena perjuangannya dalam juga ikut andil besar dalam merebut kemerdekaan negeri ini. Saya itu tiap hari, kalau enggak tiap minggu juga keluar masuk pondok pesantren, bagaimana bisa antiulama, anti-Islam? Enggak masuk akal. Tapi ya itu yang saya kadang-kadang geleng-geleng, sembilan juta orang, sembilan juta orang lebih percaya dan saya harus menjawab sekarang.

Ada lagi antek asing, antek asing. Coba dilihat, itu yang namanya Blok Mahakam. Blok Mahakam itu sudah 55 tahun dikuasai Jepang dan Perancis. 2015 kemarin sudah kita ambil total 100 persen dan saya serahkan kepada Pertamina. Antek asingnya di mana?

Blok Rokan di Riau itu blok paling besar migas yang ada di negara ini. Blok Rokan di Riau dikelola oleh Chevron dari Amerika. Sudah 95 tahun dikelola. Untung minyaknya di bawah belum habis, masih banyak. Tahun kemarin sudah kita menangkan, sudah dimenangkan oleh Pertamina 100 persen. Ini yang patut disyukuri, tidak menuding-nuding. Apa mengambil-ambil itu mudah? Kalau mudah dari dulu dong sudah diambil alih. Malah dituding antek asing.

Terakhir, Freeport. Itu miliknya Freeport McMoran Amerika. Siapa yang berani mengambil? Itu sudah lebih 40 tahun enggak diambil. Desember kemarin sudah kita ambil mayoritas 51 persen. Mayoritas kita kendalikan nakhodanya sekarang ini, sudah. Itu malah dibilang antek asing, antek asing. Antek asingnya di mana?

Ya sudah itu saja. Nanti saya teruskan kayak marah saya nanti, tidak, padahal saya tidak marah.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru