Penyerahan Sertifikat Wakaf, 1 Februari 2019, di Masjid Baiturrahman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 1 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 1.795 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Yang Mulia para Ulama, para Kiai, Pimpinan Takmir Masjid yang mulia,
Yang saya hormati para Menteri, Bapak Gubernur Jawa Timur, Bapak Bupati Kabupaten Ngawi,
Serta Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati.

Hari ini telah dibagikan 253 sertifikat tanah wakaf dari 7.700 yang telah diberikan di Provinsi Jawa Timur. Ini juga sudah kita berikan di provinsi-provinsi yang lain.

Kenapa sih ini diberikan dan dipercepat, baik untuk masjid, untuk tempat pendidikan, untuk musala, untuk pondok pesantren? Karena setiap saya masuk ke desa, masuk ke kampung, pergi ke daerah, suara yang masuk ke telinga saya adalah sengketa lahan/sengketa tanah. Tanah wakaf juga banyak yang menjadi sengketa.

Saya berikan contoh saja satu, ada di Jakarta. Sudah dibangun masjid besar, tempatnya strategis di tengah kota. Dulunya tidak ada masalah, tapi begitu tanah di situ sekarang harganya sudah Rp120 juta per meter, nah baru ada masalah, oleh ahli waris dituntut. Nah, kalau seperti itu pegangannya apa? Pegangannya apa kalau enggak punya sertifikat? Inilah kenapa ini dipercepat.

Tidak hanya kasus itu saja, ada juga di Sumatra, sama. Masjid provinsi gede banget, separuhnya dimasalahkan padahal sudah ada masjidnya yang magrong-magrong besar sekali. Karena tidak pegang yang namanya tanda bukti hak hukum atas tanah. Inilah kenapa kita percepat tanah-tanah wakaf agar memiliki tanda bukti hukum hak atas tanah yang namanya sertifikat.

Saya tidak ingin mendengar lagi nanti ada sengketa-sengketa yang berkaitan dengan tanah-tanah wakaf. Pak Menteri ATR/Kepala BPN ini kerjanya dengan kanwil BPN/kantor BPN kerjanya cepat sekali sekarang ini. Begitu diperintah langsung hampir di semua provinsi. Karena saya beri target. Kerja itu harus diberi target jumlah. Iya kan? Bukan hanya sertifikat tanah wakaf tapi juga sertifikat-sertifikat yang ada di desa maupun di kampung-kampung.

Seperti tahun 2017, kita telah selesaikan alhamdulillah 5.100.000 sertifikat yang biasanya sebelumnya hanya 500.000. Tahun 2018 telah diselesaikan 9.400.000 sertifikat yang sebelumnya juga hanya 500.000. Tahun ini target kita 9.000.000 tetapi insyaallah akan melebihi 10.000.000. Kalau enggak begitu, enggak rampung-rampung. Kerja itu harus diberi target biar jelas, terlampaui atau tidak terlampaui, bekerja atau tidak bekerja kita tahu. Dan konsekuensi ada, kalau enggak melampaui target, targetnya enggak ketemu, nah tahu sendiri. Ya, sudah, saya kira sudah tahu semuanya.

Saya rasa itu sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya titip yang terakhir, negara ini adalah negara besar dengan penduduk sekarang sudah 260 juta jiwa. Kita ini dianugerahi oleh Allah berbeda-beda, beraneka ragam, majemuk. Berbeda-beda suku, berbeda-beda agama, berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi, berbeda-beda bahasa daerah. Tidak ada negara seberagam Indonesia ini, tidak ada. Kita ini memiliki 714 suku yang berbeda-beda bahasa daerahnya. Negara lain paling-paling berapa sih? Singapura itu hanya empat suku, empat, Indonesia 714. Afghanistan itu ada tujuh suku, kita 714, sudah dibandingkan saja. Artinya, kita ini beragam.

Saya titip marilah kita menjaga persatuan kita, menjaga kerukunan kita, menjaga persaudaraan kita sebagai sebuah bangsa yang besar, kita jaga ukhuwah kita, ukhuwah islamiah kita, kita jaga ukhuwah wathaniyah kita. Jangan sampai karena pilihan bupati, karena pilihan gubernur, karena pilihan presiden kita menjadi tidak rukun, tidak bersatu sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Jangan sampai antarkampung tidak saling omong gara-gara pilihan bupati, antartetangga tidak saling omong gara-gara pilihan gubenur, dalam majelis taklim enggak saling omong gara-gara pilihan presiden. Padahal pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan wali kota, pilihan presiden setiap lima tahun ada terus. Apa kita enggak mau omong-omong terus? Inilah yang ingin saya ingatkan kita jaga. Sudah sunatullah, sudah hukum Allah bahwa Indonesia ini berbeda-beda. Kita jaga bersama-sama, persatuan, kerukunan, dan persaudaraan.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru