Perayaan Natal Nasional Tahun 2019, 27 Desember 2019, di Sentul International Convention Center (SICC) Sentul City, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 27 Desember 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 110 Kali

Shalom,
Selamat malam,
Salam sejahtera buat kita semuanya,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, yang kita kasihi bersama, Presiden ke-5 Republik Indonesia Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri.
Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga Negara yang hadir, para Menteri Kabinet Kerja, para Duta Besar negara-negara sahabat.
Yang saya hormati Ketua dan seluruh Pimpinan KWI dan PGI yang hadir.
Yang saya hormati Bapak Kardinal, para Romo, Bapak-Ibu Pendeta yang hadir.
Serta yang saya hormati Gubernur-Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ibu Bupati Kabupaten Bogor.
Yang saya hormati, yang saya kasihi seluruh umat Kristiani yang malam hari ini hadir.

Saya tadi sore deg-degan ketika Ketua Panitia, Bapak Menteri Sosial menyampaikan kepada saya bahwa acara diselenggarakan di Sentul. Saya berpikir, apakah gedungnya tidak kegedean, kalau kosong nanti seperti apa? Masa Perayaan Natal kok lengang dan tidak penuh. Tapi begitu saya tadi masuk, ternyata penuh dan banyak sekali yang hadir. Malah kebalik, kelihatannya gedungnya kurang besar.

Ini betul-betul sebuah Natal yang sangat menggembirakan bagi kita semuanya karena, sekali lagi, hadir Ketua KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Bapak Kardinal, para Uskup, Romo Pastor, Bapak-Ibu Pendeta, Pimpinan Sinode dan Tokoh-tokoh Gereja, dan tentu saja hadirin dan undangan yang berbahagia yang malam hari ini hadir.

Dan di setiap saya hadir di Perayaan Natal Nasional seperti saat ini, saya merasakan bukan hanya suasana sukacita, suasana kegembiraan, suasana keriangan tapi saya juga merasakan suasana kerukunan, suasana persahabatan, suasana persaudaraan, juga cinta kasih sebagai saudara sebangsa dan setanah air di antara kita. Karena itu, saya sangat setuju dengan pesan Natal Nasional tahun ini, yaitu “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang.”

Natal adalah momentum yang sangat indah bagi kita semuanya untuk merayakan persahabatan, momen yang sangat berharga bagi kita semuanya untuk merajut persaudaraan, kerukunan antaranak-anak bangsa, dan juga momen bagi kita bangsa Indonesia untuk mensyukuri indahnya keberagaman, indahnya kemajemukan yang menyatukan kita semuanya sebagai sebuah bangsa besar, bangsa Indonesia.

Melalui pesan Natal ini umat Kristiani diajak untuk bersama-sama merawat persaudaraan, merawat kerukunan, merawat harmoni kehidupan, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak persahabatan, yang merusak persaudaraan di antara kita, seperti ujaran kebencian, jangan, menebar fitnah, jangan, menebar hoaks, jangan, dan juga sikap-sikap intoleransi, jangan.

Kita tidak ingin tali silaturahmi, jembatan persahabatan, jembatan persaudaraan yang telah terjalin dengan sangat baik antarsesama anak bangsa sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu justru dirusak oleh provokasi-provokasi yang memecah-belah kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Hadirin sekalian seluruh umat Kristiani yang saya kasihi,
Sebagai negara yang dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa keberagaman, kemajemukan, baik itu suku, agama, dan bahasa daerah, kita selalu belajar untuk hidup dalam kebersamaan sebagai saudara, sebagai satu sahabat. Sehingga nilai-nilai persaudaraan ini telah menjadi watak asli bangsa Indonesia, bisa disebut sebagai DNA-nya rakyat Indonesia. Dan DNA itu telah hidup ratusan tahun menjadi budaya dalam masyarakat kita. Kemanapun kita pergi, ke seluruh penjuru tanah air kita akan diterima seperti sahabat, seperti saudara. Inilah budaya kita Indonesia, inilah kepribadian kita, kepribadian bangsa Indonesia.

Persahabatan sejati sudah lama menjadi roh bangsa Indonesia selama ratusan tahun nenek moyang kita hidup bersama, damai, harmonis dalam persahabatan, dalam persaudaraan yang tulus, yang sejati tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan ras. Nilai-nilai persaudaraan inilah yang mengikat ke-Indonesia-an kita di masa lalu, di saat ini, maupun di masa yang akan datang.

Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, kita akan sigap mengulurkan tangan jika saudara-saudara kita dalam kesusahan. Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, membuat kita selalu mudah menyodorkan solidaritas ketika saudara kita memerlukan bantuan. Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, membuat kita tidak ragu untuk saling mengingatkan. Dengan hidup sebagai satu saudara dan satu sahabat, juga tidak pernah sulit kita semuanya untuk bergandengan tangan, bergotong-royong, berkolaborasi untuk mencapai tujuan besar bangsa kita, Indonesia.

Umat Kristiani hadirin sekalian yang saya hormati,
Tokoh-tokoh bangsa telah memberikan banyak keteladanan kepada kita tentang indahnya, tentang berharganya persahabatan dan persaudaraan. Kita tahu pendiri Masyumi, tokoh Islam terkemuka, Mohammad Natsir bersahabat kental dengan Bapak Ignatius Joseph Kasimo sebagai seorang tokoh Katolik. Ketika Hari Raya Natal, Bapak Natsir selalu berkunjung ke rumah Bapak I. J. Kasimo. Sebaliknya, pada saat Idulfitri, Bapak I. J. Kasimo juga datang berkunjung ke rumah Bapak Natsir. Sekali lagi, inilah teladan indahnya persahabatan di antara dua tokoh bangsa.

Cerita keakraban Gus Dur dengan Romo Mangun juga bisa menjadi inspirasi bagi kita semuanya bagaimana Pancasila diwujudkan dalam persahabatan yang nyata. Mereka tidak mempersoalkan perbedaan. Mereka berbeda agama tetapi tetap bersahabat seperti bersaudara.

Namun saya juga ingatkan, bahwa dalam perjalanan sejarah kita juga sering diuji apakah kita mampu menjaga kebersamaan di antara kita, apakah kita mampu merawat persaudaraan dan persahabatan di antara kita. Dan pada momen-momen tertentu ada saja yang coba-coba mengganggu kedamaian hubungan antarsuku, antaragama, menggoyang-goyang keharmonisan hubungan kita semuanya, atau bahkan menebar kebencian dan intoleransi dalam kebersamaan kita. Tapi saya yakin, saya meyakini dengan semangat persaudaraan dan persahabatan yang sangat kuat, kita akan selalu mampu menghadapi semuanya. Saya memiliki keyakinan itu.

Dan saya tegaskan, bahwa di negeri Pancasila, negara menjamin, sekali lagi, negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah menurut agamanya masing-masing. Saya tegaskan di sini sekali lagi, negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah menurut agamanya masing-masing. Di negeri Pancasila ini kita harus saling menghormati, harus saling menghargai perbedaan dan keberagaman kita di antara sesama anak-anak bangsa dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di negeri Pancasila kita harus bersatu untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ini ada yang pengin sepeda? Enggak ada? Kalau yang pengin sepeda tunjuk jari!

Ada yang jauh dari Ambon ada? Ada yang jauh dari Nias ada? Ada yang dari Papua ada? Dari Manado? Dari NTT? Coba ada yang dari Ambon ndak? Ada? Mana yang dari Ambon? Dari Ambon maju satu, sini! Oke.

Ada yang dari Nias? Sebentar, sebentar. Ya sudah, semangat banget, sini, sini, sini. Ada yang dari NTT? Yang putih, ya itu yang lari putih tadi. Iya, yang putih tadi, atasnya putih. Tadi kok enggak pakai sepatu ini gimana? Larinya biar kenceng.

Apa? Dari mana itu? Nias? Nias sudah ada gitu kok. Sudah, nanti saja.

Ini dikenalkan dulu Bu, dikenalkan dulu. Kenalkan, nama. Benar dari Ambon?

Anna Sitaniapessy
Perkenalkan, saya Ibu Anna Sitaniapessy, dari Ambon.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Anna? Siapa tadi? Bu Anna?

Anna Sitaniapessy
Sitaniapessy, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Anna Sita?

Anna Sitaniapessy
…niapessy.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
…niapessy, dari Ambon. Kota Ambon?

Anna Sitaniapessy
Ya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya. Ditanya apa ini (dari) Ambon. Kalau ditanya ikan pasti tahu kalau (dari) Ambon. Sudah, dikenalkan dulu. Bu Anna, silakan. Dari Nias tadi ya?

Elpasti
Iya Pak, dari Nias.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dari Nias.

Elpasti
Nama saya Elpasti, saya dari Nias Barat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nias Barat.

Elpasti
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Siapa tadi? Elpasti. Pak Elpasti dari Nias Barat.

Elpasti
Nias Barat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya pernah ke Nias juga. Apa, NTT tadi?

Fiorentina
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
NTT, kenalkan.

Fiorentina
Nama saya Fiorentina Lavenia, dari NTT.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kok cepet banget. Tadi namanya siapa? Namanya? Nama pendek saja.

Fiorentina
Fiorentina.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Violen?

Fiorentina
Fioren.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Violet?

Fiorentina
Fiorentina. Eh maaf Pak, maaf.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Waduh, ini Presiden dibentak. Enggak tahu tadi mbentak atau mic-nya yang…

Fiorentina
Mic-nya, mic-nya, mic-nya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mic-nya?

Fiorentina
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh mic-nya. Siapa tadi namanya?

Fiorentina
Fiorentina. Fiorentina. Fiorentina.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Fiorentina. Fiorentina. Oke. Ini spontan, jadi saya juga bingung mau nanya apa gitu. Karena pas…

Oke. Dari NTT dulu ditanya. Ditanya sekarang yang agak sulit apa ya?

Fiorentina
Ya, jangan sulit-sulit lah, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah, sekarang kita memiliki Kabinet Indonesia Maju.

Fiorentina
Aduh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sebutkan tiga nama menteri dan jabatannya.

Fiorentina
Yang NTT bantu jawab dong!

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Satu, Pak siapa, menteri apa? Bu siapa, menteri apa?

Fiorentina
Siapa, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini di sini Menteri banyak sekali ini.

Fiorentina
Pak, namanya siapa Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tanya dulu aja lah Menteri, boleh tanya.

Menteri Sosial (Juliari P. Batubara)
Juliari, Menteri Sosial. Juliari, Menteri Sosial.

Fiorentina
Juliari, Menteri Sosial.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Siapa?

Fiorentina
Pak, Bapak Juliari.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Juliari.

Fiorentina
(Menteri) Sosial.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Menteri Sosial, betul. Pak Juliari itu, Pak Juliari Batubara.

Menteri Agama (Fachrul Razi)
Fachrul Razi, Menteri Agama.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Siapa itu? Hati-hati yang ditanya…

Fiorentina
Pak Jenderal, Menteri Agama.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jenderal siapa? Pak Menteri Agama lo, hati-hati, Pak Menteri Agama. Pak Menteri siapa?

Menteri Agama (Fachrul Razi)
Fachrul Razi. Fachrul Razi.

Fiorentina
Oh, Jenderal Fachrul Razi, Menteri Agama.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya, Pak Fachrul Razi, betul Menteri Agama.

Menteri Sekretaris Negara (Pratikno)
Pratikno, Menteri Sosial.

Fiorentina
Ih, siapa? Pratikno. Menteri? Bapak Pratikno. Menteri apa Pak?

Menteri Sekretaris Negara (Pratikno)
Sekretaris Negara.

Fiorentina
Sekretaris Negara.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Menteri Sekretaris Negara. Sudah, sini. Ya, ya saya beri sepeda dua.

Fiorentina
Tiga, buat teman saya satu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Langsung sudah sepedanya dua, gitu aja lah, sudah.

Fiorentina
Terima kasih Bapak Menteri, eh salah Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya benar, terima kasih Pak Menteri karena yang memberitahu Pak Menteri tadi.

Fiorentina
Kan Bapak yang kasih hadiah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sepedanya dua, satu untuk Fiorentina, nanti satu untuk Pak Menteri.

Fiorentina
Bapak kan ya udah gede.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya, sudah.

Bu, ini dari Ambon. Ambon itu terkenal sekali dengan kekayaan yang namanya ikan, sudah. Sebutkan lima saja nama ikan.

Anna Sitaniapessy
Dalam sebutan Ambon atau Indonesia Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya terserah, pokoknya ikan.

Anna Sitaniapessy
Satu, ikan tongkol.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya, benar, benar.

Anna Sitaniapessy
Satu, ikan tongkol.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ikan tongkol.

Anna Sitaniapessy
Dua, ikan tatihu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ikan apa?

Anna Sitaniapessy
Tatihu, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apa?

Anna Sitaniapessy
Tatihu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tatihu itu ikan apa itu? Ini yang dari Ambon ada? Benar ikan tatihu ada? Ada? Oke. Ya, sudah.

Anna Sitaniapessy
Tiga, ikan cakalang.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ikan?

Anna Sitaniapessy
Cakalang.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Cakalang. Ya, oke. Semua tahu ikan cakalang. Empat?

Anna Sitaniapessy
Empat, tuna.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ikan?

Anna Sitaniapessy
Tuna, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ikan tuna. Semuanya juga tahu ikan tuna, betul. Satu lagi?

Anna Sitaniapessy
Ikan momar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ikan?

Anna Sitaniapessy
Ikan momar, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apa?

Anna Sitaniapessy
Ikan momar, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bomer?

Anna Sitaniapessy
Momar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Momar? Ada ikan momar?

Anna Sitaniapessy
Ada.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ada. Itu lo, kalau saya tanya nama ikan pasti nama daerah, ini saya enggak ngerti kan? Ya, terima kasih Bu.

Terakhir, Nias pengin ditanya apa?

Elpasti
Saya S-1, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Hah?

Elpasti
S-1, S-1, Pak. S-1.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
S-1?

Elpasti
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lha iya, pengin ditanya apa?

Elpasti
Maaf, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ngomong S-1, saya beri pertanyaan sulit lo, awas lo.

Elpasti
Saya kurang dengar tadi, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
S-1 pertanyaannya sulit aja ini. Nias, Nias, Nias itu pulau kecil di sebelah selatan di Sumatra Utara. Di dekat Pulau Nias itu ada sebuah air terjun air tawar yang langsung masuk ke laut, yang dulu dipakai untuk film Kingkong. Benar? Benar? Benar?

Elpasti
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Benar? Benar? Tahu ndak orang Nias?

Elpasti
Saya belum pernah lihat Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Belum pernah?

Elpasti
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, padahal kalau mau nyebrang dari Nias ke daratan Pulau Sumatra, di situlah, tempatnya sangat indah sekali. Oke, pertanyaannya apalagi ini. Sudah, enggak usah ditanya, sepeda sudah langsung. Daripada saya pusing cari-cari pertanyaan juga bingung juga. Dipikir gampang cari pertanyaan.

Silakan Bu. Terima kasih semuanya. Terima kasih semuanya. Terima kasih.

Elpasti
Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya.

Bapak-Ibu sekalian seluruh umat Kristiani yang saya kasihi,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kita semuanya, umat Kristiani untuk menggunakan momen Perayaan Natal tahun ini untuk bersama-sama kita bersikap dan berperilaku dalam memaknai persahabatan. Dari hal-hal yang kecil, perilaku keseharian: menghormati satu sama lain, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan menunjukkan watak asli kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya, bangsa yang berbudi luhur.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya mengucapkan Selamat Hari Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Semoga Tuhan memberkati.

Shalom,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Sambutan Terbaru