Perbaiki Infrastruktur Lunak di Sektor Pelabuhan, Indonesia Akan Hemat Rp 700 Triliun

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Maret 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 24.125 Kali
Seskab Andi Widjajanto saat menjadi keynote speaker pada Seminar Maritim, di Kemlu, Jakarta, Senin (2/3)

Seskab Andi Widjajanto saat menjadi keynote speaker pada Seminar Maritim, di Kemlu, Jakarta, Senin (2/3)

Sekretaria Kabinet (Seskab) Andi Widjajanto mengatakan tanpa perlu membangun pelabuhan baru, dan hanya dengan memperbaiki  infrastruktur lunak,  regulasi,dan  tata niaganya, Indonesia berpotensi menghemat Rp. 700 Triliun, dan meningkatkan 0,6-0,7% pertumbuhan ekonomi.

Penghematan hingga  Rp. 700 Triliun, kata Andi, dapat tercapai dengan mengintegrasikan antara custom dan karantina di pelabuhan.

“Tidak membangun dermaga baru, ini tidak membeli kapal baru, ini tidak membeli crane-crane baru dipasang di pelabuhan.  Yang diutak-utik cuma infrastruktur lunaknya, regulasi, tata niaganya,” kata Andi Widjajanto saat menjadi keynote speaker di Seminar Nasional Penanggulangan Maritime Transnational Organized Crime Menuju Visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (2/3)

Perbaikan infrastruktur ini, menurut Andi Widjajanto, merupakan komponen ketiga dari lima komponen poros maritim, yakni konektivitas maritim.

“Jadi bukan hanya hard infrastructure-nya, tapi juga soft infrastructure-nya,” tandas Andi.

Konektivitas maritim, kata Andi, selain akan menekan efisiensi,  juga diyakini akan membantu Indonesia melakukan pencegahan transnational crime di laut.

“Karena kalau standar-standarnya berbeda-beda, kalau kemudian manifest security clearance-nya berbeda-beda antar satu pelabuhan dengan pelabuhan lain, kemudian akan muncul lubang-lubang yang akan digunakan oleh organized crime. Ini salah satu fungsinya di situ,” katanya.

Tiga Perspektif

Seskab Andi Widjajanto mengemukakan, ada tiga perspektif besar untuk menyusun poros maritim ini. Yang pertama, bahwa politik luar negeri suatu negara harus relevan dengan karakter dasar geografi negara tersebut.

Yang kedua, apa yang akan menjadi sumber kekuatan (source of power) di abad ke-21, yang ingin diperjuangkan oleh Indonesia ke depan bahwa source of power ke depan bukan militer, ekonomi, tapi sesuatu yang setiap saat kita lakukan setiap hari yaitu konektivitas.

“Yang ketiga, berkaitan dengan satu konsep/gagasan klasik yang diterima semua anak sekolah ketika disebut bahwa Indonesia berada pada kawasan strategis, terletak di antara dua benua dan dua samudra,” jelas Andi.

Terkait hal itu, Seskab menjelaskan, pada saat pada menghadiri acara East Asia Summit di Beijing, Presiden Jokowi meluncurkan konsep yang lebih mendalam itu. Presiden mengatakan ada lima komponen poros maritim, yaitu: budaya maritim, ekonomi maritim, konektivitas maritim, pertahanan maritim, dan diplomasi maritim.

Menurut Seskab, konektivitas maritim menjadi kunci karena kemudian satu-satunya bagi Indonesia sekarang untuk menurunkan, secara signifikan, harga logistik itu bukan mengembangkan transportasi udara, bukan mengembangkan transportasi darat, misalnya jalan tol atau kereta api, tapi kuncinya adalah laut.

“Itu yang akan menurunkan indeks harga logistik kita secara signifikan. Sekarang indeks harga logistik kita itu di Asean paling rendah, bahkan di bawah Vietnam. Presiden menginginkan dalam waktu 3 tahun, indeks harga logistiknya bisa kira-kira mirip Malaysia,” tukas Andi.

Selain dihadiri oleh Seskab Andi Widjajanto, acara Seminar Nasional Penanggulangan Maritime Transnational Organized Crime Menuju Visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia itu juga dihadiri oleh Wamenlu AM Fachir, Mantan KSAL Laksamana Marsetio, dan Dirjen Multilateral Kemlu. (Humas Setkab/ES)

Berita Terbaru