Peresmian Pasar Rakyat ‘Pasar Badung’, 22 Maret 2019, di Pasar Badung, Kota Denpasar, Provinsi Bali

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Maret 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.979 Kali

Om Swastiastu,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semuanya.

Malam hari ini saya sangat berbahagia sekali bisa hadir di tempat yang sangat-sangat indah ini.

Yang saya hormati Bapak Gubernur beserta Ibu, Bapak Wali Kota Denpasar beserta Ibu,
Bapak-bapak Bupati dari seluruh Provinsi Bali yang saya hormati,
Yang saya hormati Pak Menteri Perdagangan, Pak Sekretaris Kabinet, Pak Menteri Koperasi dan UKM,
Yang saya hormati Ketua DPRD Provinsi Bali, Pak Pangdam, Pak Kapolda beserta Ibu,
Bapak-Ibu sekalian seluruh warga Kota Denpasar, khususnya di sini, Pasar Badung.

Saya itu setiap jam ganti provinsi, setiap jam ganti kabupaten, setiap jam ganti kota. Tadi pagi masih di Jakarta, tadi siang sudah di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sore hari sudah sampai di Kota Denpasar. Diuyel-uyel dari depan sampai ke sini. Diuyel-uyel tahu ya? Semuanya pegang, ada yang pegang, ada yang pegang tangan, ada yang pegang leher, semuanya pegang.

Yang kedua, saya melihat Pasar Badung ini sangat senang sekali, karena ini adalah pasar heritage, warisan pusaka yang kalau dilihat dari depan, saya sudah berkeliling di seluruh tanah air, ini adalah pasar dengan arsitektur yang paling bagus yang pernah saya lihat. Tadi ditayangkan di dalamnya sudah bersih. Saya titip, manajemennya betul-betul detail, diatur kebersihannya setiap pagi, siang, malam. Pedagangnya juga sama, bukan hanya pasarnya yang bersih, pedagangnya juga harus bersih. Bersih pakaiannya, selalu tersenyum. Ya, kalau di Bali pasti selalu tersenyum. Dan yang paling penting, jangan sampai pasar itu becek, jangan sampai pasar itu bau, jangan sampai pasar itu kotor. Ini yang harus budaya itu kita ubah semuanya sehingga pasar rakyat bisa bersaing dengan pasar-pasar modern, bisa bersaing dengan mal, bisa bersaing dengan hypermarket, bisa bersaing dengan supermarket. Saya yakin bisa, tinggal niatnya ada atau tidak ada.

Yang kedua, saya titip, ini 26 hari lagi sudah akan pilpres dan pileg, saya ingin Bapak-Ibu sekalian, kita semuanya mengajak berbondong-bondong saudara kita, tetangga kita, handai tolan kita, teman sekampung kita, untuk datang ke TPS menggunakan hak pilihnya. Jangan sampai, jangan biarkan satu orangpun di Provinsi Bali ini ada yang golput. Karena ini menentukan arah negara ke depan. Setuju? Setuju? Setuju?

Saya titip, meskipun ini di Bali tidak ada, saya titip, sekarang ini mulai banyak di media sosial, mulai banyak dari rumah ke rumah. Apa itu? Kabar fitnah, kabar bohong, hoaks, mulai, mulai, mulai, mulai bertebaran isu-isu yang bisa memecah kita. Jangan takut, harus diluruskan, harus dilawan, harus diberi tahu. Harus berani mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah. Karena isunya sudah ke mana-mana.

Nanti pemerintah yang baru akan menghapus pendidikan agama, isu di bawah. Nanti perkawinan sejenis akan dilegalkan. Ini untuk mendiskreditkan pasangan capres dan cawapres yang ada. Oleh sebab itu, hal-hal seperti ini harus dihentikan. Ada isu kriminalisasi ulama, hal-hal seperti ini harus dihentikan. Bangsa ini adalah bangsa yang penuh etika. Bangsa ini adalah bangsa yang penuh tata krama, sopan santun, kita memiliki sebuah budi pekerti yang baik. Jangan sampai antarsaudara kita, sangat rugi besar kalau karena pilihan bupati, pilihan gubernur,  pilihan wali kota, pileg, atau pilpres kita tidak saling sapa antartetangga, antarkampung, antarsaudara. Kita lupa bahwa kita ini bangsa besar dan kita dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote adalah saudara, saudara sebangsa dan setanah air.  Saya titip itu saja.

Terakhir, dengan memohon izin Sang Hyang Widhi Wasa pada sore hari ini saya resmikan Pasar Badung, Kota Denpasar.

Om Santi Santi Santi Om.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru