Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tahun 2021, 8 Maret 2021, di Istana Negara, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 8 Maret 2021
Kategori: Sambutan
Dibaca: 299 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati para menteri Kabinet Indonesia Maju;
Yang saya hormati Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi beserta seluruh jajaran;
Yang saya hormati para peserta Rakernas;
Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Kita wajib bersyukur atas anugerah Tuhan berupa sumber daya alam yang melimpah. Ini patut dan wajib kita syukuri. Kita wajib menjaganya dan memanfaatkannya secara bijak untuk kesejahteraan masyarakat, untuk kesejahteraan rakyat kita. Tetapi, tanpa penguasaan dan pemanfaatan teknologi yang bijak, anugerah tersebut tidak akan memberikan manfaat yang maksimal untuk rakyat. Bahkan kita harus bergeser dari ekonomi yang berbasis komoditi menuju ekonomi yang berbasis inovasi dan berbasis teknologi.

Kita harus meningkatkan kapasitas kita sebagai produsen teknologi, harus meningkatkan kedaulatan teknologi kita. Para peneliti, para inovator, para industriawan Indonesia semuanya harus bekerja bersama-sama mengembangkan teknologi masa depan, teknologi berbasis revolusi industri jilid ke-4, teknologi hijau yang ramah lingkungan, teknologi yang menyejahterakan rakyat kita.

Bapak, Ibu, hadirin yang saya hormati,
Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan BPPT, agar bisa menjadi otak pemulihan ekonomi secara extraordinary. Pertama, BPPT harus berburu inovasi dan teknologi untuk dikembangkan dan siap diterapkan. Saya yakin ratusan ribu peneliti, ribuan lembaga riset dan teknologi di pemerintah dan swasta, dan jutaan inovator di masyarakat luas pasti memiliki banyak temuan-temuan. Mungkin, itu temuan awal yang masih perlu dikembangkan. Mungkin, temuan matang yang siap untuk diterapkan dan langsung bisa diindustrikan.

Selama pandemi ini saja, banyak inovasi-inovasi di bidang kesehatan yang ditemukan. Ini saya lihat langsung. Banyak inovasi alat kesehatan, seperti ventilator, respirator yang sangat berguna untuk para pasien COVID-19. Teknologi untuk screening penderita COVID-19 seperti GeNose yang sangat murah, sangat mudah, dan sangat cepat. Ini sudah mulai dipasang di semua stasiun kita dan beberapa lokasi-lokasi penting yang padat dan banyak interaksi serta mobilitas orang. Ada juga Rapid Diagnostic Test RI-GHA yang mampu mendeteksi adanya antibodi COVID-19, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Demikian pula temuan di bidang lain terutama pangan dan energi, juga yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi UMKM, mempermudah sinergi antara usaha kecil dan usaha besar, dan meningkatkan kualitas hidup rakyat banyak.

Yang kedua, BPPT harus menjadi lembaga akuisisi teknologi maju dari manapun. Sekali lagi, BPPT harus menjadi lembaga akuisisi teknologi maju dari manapun. Teknologi sekarang ini berjalan sangat cepat sekali dan teknologi yang kita butuhkan untuk pemulihan ekonomi nasional mungkin saja belum diproduksi di dalam negeri. Jadi strategi akuisisi teknologi dari luar negeri menjadi kunci percepatan pembangunan ekonomi kita.

BPPT harus menyiapkan strategi akuisisi teknologi dari luar yang sangat bermanfaat dan bisa diimplementasikan secara cepat. Dan kita harus memulai untuk tidak sekadar membeli turnkey technology, ini penting sekali. Ini sering kita hanya terima kunci, terima jadi. Akhirnya berpuluh-puluh tahun kita tidak bisa membuat teknologi itu. Jadi, jangan sekadar membeli mesin jadi sekaligus bersama seluruh ahlinya, tapi kita harus membuat kerja sama produksi teknologi di Indonesia. Ini tolong digarisbawahi, harus membuat kerja sama produksi teknologi di Indonesia yang melibatkan para teknolog Indonesia, sehingga transfer pengetahuan dan transfer pengalamannya itu berjalan.

Perintah ini bukan hanya untuk BPPT, tetapi kepada seluruh jajaran kabinet terutama para Menko (Menko Maritim dan Investasi, dan kepada Menko Perekonomian), kepada Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri BUMN, dan juga Kepala BKPM. Dengan kekuatan pasar raksasa yang kita miliki, kekuatan pasar besar yang kita miliki, juga dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, kita mempunyai leverage yang kuat. Pikirkan betul cara-cara cerdas untuk melakukan akuisisi teknologi ini secara murah.

Yang ketiga, BPPT harus menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia. Sekali lagi, BPPT harus menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia. Saat ini, kita berada di zaman perang AI (Artificial Intelligence). Persaingan dalam menguasai AI sudah sama dengan kayak space war di era perang dingin. Siapa yang menguasai AI, dia yang akan berpotensi menguasai dunia. Ini kita kejar-kejaran. Dan menghadapi perang AI saat ini kita memerlukan BPPT yang bisa memproduksi teknologinya sendiri.

Ini tolong, BPPT sinergikan talenta-talenta diaspora, peneliti-peneliti di universitas, startup teknologi, dan anak-anak muda yang sangat militan. Bangun mesin AI induk yang bisa memfasilitasi gotong royong antarinovator dan peneliti, memfasilitasi kecerdasan komputer dan kecerdasan manusia untuk mendukung pemulihan ekonomi yang tidak konvensional dan sekaligus efektif.

Saya berharap agar BPPT bisa menjadi lembaga yang extraordinary, terus menemukan cara-cara baru, cara-cara inovatif dan kreatif, menghasilkan karya nyata yang kontributif untuk kemajuan bangsa.

Saya rasa itu yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Rakernas Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tahun 2021 saya nyatakan dibuka pagi hari ini.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru