Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tahun 2019, 23 Juli 2019, di Istana Negara, Provinsi DKI Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 23 Juli 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 468 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menko, para Menteri, seluruh Pimpinan Lembaga yang hadir.
Yang saya hormati Kepala BMKG beserta seluruh Pejabat Kepala Balai dari seluruh wilayah tanah air,
Yang saya hormati para Gubernur yang berkesempatan hadir,
Para Rektor Perguruan Tinggi,
Bapak-Ibu hadirin undangan yang berbahagia.

Kita tahu bahwa negara kita Indonesia adalah termasuk negara yang paling rawan bencana, kita tahu semuanya. Dan ini harus kita berikan pemahaman, kesadaran kepada masyarakat, kepada rakyat kita. Dan dalam rangka mengurangi risiko-risiko yang ada, kebijakan nasional dan daerah ini harus bersambungan, harus sensitif semuanya, harus antisipatif semuanya terhadap kerawanan bencana yang kita miliki.

Kita tahu semuanya kita berada di dalam ring of fire, di dalam kawasan cincin api. Kita tahu semuanya kita memiliki gunung-gunung berapi yang aktif. Banjir, longsor juga selalu setiap tahun ada. Inilah fungsi-fungsi yang harus kita perankan agar masyarakat tahu, masyarakat memahami, masyarakat sadar bahwa kita ini berada dalam situasi-situasi yang tadi saya sampaikan.

Risiko-risiko yang kita miliki ini bisa diminimalkan, bisa dikurangi apabila ada peringatan-peringatan dini terhadap daerah-daerah yang rawan bencana, terhadap lingkungan-lingkungan yang rawan bencana. Dan saya melihat sekarang kalau ada gempa, misalnya 5,5 skala richter atau di atasnya, langsung di TV keluar ada tidaknya potensi tsunami yang dulu-dulunya enggak pernah. Ini sudah, saya kira sebuah sebuah lompatan kemajuan yang sangat baik dari BMKG.

Kalau ada tsunami diterangkan, ada yang menerangkan di TV, biasanya Bu Ketua langsung beserta jajarannya. Kita melihat gitu ya, jelas penjelasannya, gamblang penjelasannya. Ini yang diperlukan sehingga masyarakat juga tidak resah dan tidak khawatir. Kalau kira-kira potensi tsunaminya sudah enggak ada, sudah setop, juga disampaikan. Tapi sekali lagi, ini bencana yang, potensi bencana yang kita hadapi seperti yang lalu-lalu sekali lagi memerlukan sebuah sensitivitas dan responsif dari baik aparat maupun alat-alat yang kita miliki.

Yang kedua, juga jalinan hubungan yang baik dengan pemerintah daerah. Tolong beritahukan apa adanya, supaya setiap pembangunan itu juga mengacu. Kalau daerah-daerah yang rawan bencana ya beritahukan, sampaikan kepada daerah, “ini rawan gempa, lokasi ini rawan banjir, jangan dibangun bandara, jangan dibangun bendungan, jangan dibangun perumahan.” Tegas-tegas harus disampaikan. Jangan sampai kita mengulang-ulang sebuah kesalahan yang sudah jelas. Di situ jelas garisnya garis lempengan tektonik kok dibangun perumahan besar-besaran? Sampaikan apa adanya bahwa ini tidak boleh, ini lokasi ini merah. Harus berani menyampaikan itu kepada pemerintah daerah, baik kepada gubernur, maupun bupati dan walikota.

Dan juga kita yang ketiga, harus secara besar-besaran memberikan edukasi pada masyarakat bahwa daerah kita memang rawan bencana. Harus intensif, baik itu pada anak-anak kita di SD, SMP, SMA, di perguruan tinggi sampaikan juga apa adanya. Seperti kemarin ada agak ramai mengenai potensi megathrust, ya sampaikan apa adanya, memang ada potensi kok. Bukan meresahkan, tapi sampaikan kemudian tindakan apa yang harus kita lakukan, step-step-nya seperti apa. Itu mengedukasi, memberikan pembelajaran pada masyarakat. Lama-lama kita akan terbiasa.

Seperti di Jepang yang kita lihat kalau ada gempa, sirene enggak bunyi ya tenang-tenang saja, makan-minum tetap makan-minum. Tapi begitu sirene bunyi, maka larinya ke mana, arahnya ke mana sudah jelas semuanya. Rute jalur evakuasi jelas semuanya. Ini nanti juga yang harus dikerjakan oleh BNPB dan BMKG sehingga menjadi jelas semuanya. Dan daerah dan pemerintah pusat, kita kerjakan bersama-sama sehingga setiap kejadian atau akan ada sebuah potensi kejadian, antisipasinya jelas, step-step tindakannya juga jelas, bukan bingung setelah ada kejadian. Manajemen seperti itu harus kita biasakan ada, baik di pusat, daerah, maupun di lembaga-lembaga yang kita miliki.

Saya melihat, sekarang juga tadi sudah dipaparkan mengenai inovasi-inovasi dari BMKG, peralatan-peralatan yang dimiliki. Saya kira ya ke depan memang harus banyak hal yang harus diperbarui di BMKG, peralatannya tetapi juga kalau sudah beli, sudah dipasang, tolong dilihat, dikontrol, dicek terus. Jangan sampai baru dipasang dua hari barangnya hilang, baru dipasang seminggu sudah enggak ada barangnya. Kejadian-kejadian seperti itu.

Titipkan sajalah, dititipkan pada aparat keamanan setempat bahwa ini adalah barang yang sangat penting sekali untuk memantau kerawanan bencana, baik itu longsor, baik itu tsunami, baik itu gempa bumi sehingga semuanya ikut menjaga. Rakyat ikut menjaganya, masyarakat menjaganya, aparat kita juga ikut menjaganya. Karena juga banyak yang enggak tahu itu barang apa enggak mengerti. Tulisi yang gede-gede saja “SANGAT PENTING”. Untuk apa? Jaga bareng-bareng.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya sangat mengapresiasi Rakornas BMKG pada hari ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, secara resmi saya buka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BMKG Tahun 2019.

Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru